NovelToon NovelToon
Sendiri Di Tengah Ramai

Sendiri Di Tengah Ramai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.

Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.

Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.

Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.

Selamat membaca. Jangan kaget kalau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 Aku Ngerjain Proposal Sendirian.

Bukan karena disuruh. Bukan juga karena pengin dipuji. Lebih ke… kebiasaan. Hari itu pulang sekolah, yang lain langsung bubar. Ada yang ke kantin, ada yang nongkrong, ada yang pulang cepet karena capek. Aku masih duduk di ruang pramuka, ngerapihin kertas. Jam di dinding udah nunjuk setengah empat sore. Rara berdiri di pintu.

“Nay, aku duluan ya. Nanti aku lanjut baca di rumah.”

“Iya,” jawabku. “Aku masih di sini bentar.”

“Oke.”

Dia pergi. Langkahnya ringan, kayak orang yang nggak kepikiran apa-apa lagi hari itu. Aku nutup pintu ruang pramuka, duduk lagi. Laptop aku buka. File proposal masih kosong di beberapa bagian. Kerangka udah ada, tapi isinya belum rapi. Anggaran masih berantakan.

Jadwal juga masih tumpang tindih. Aku tarik napas panjang. Sebenernya bisa aja aku kerjain bareng Rara. Tinggal bilang, “Ayo kita kerjain sekarang.” Tapi kalimat itu nggak keluar. Dari dulu juga nggak pernah keluar.

Aku lebih nyaman ngerjain sendiri dulu. Nanti kalau udah setengah jadi, baru aku kasih. Itu pola yang tanpa sadar aku pelihara. Jam lima, Faris lewat depan ruang pramuka. Dia nengok.

“Kamu belum pulang?”

“Belum.”

“Ngapain?”

“Proposal.”

“Oh. Jangan kelamaan.”

“Iya.”

Itu aja. Dia jalan lagi. Aku balik ke layar. Aku mulai dari bagian kegiatan. Aku tulis satu-satu, rinci. Jam berapa, siapa ngapain, di mana. Aku cek lagi buku agenda. Coretan kecil yang sering aku bikin akhirnya kepake. Capek? Iya. Tapi capek yang masih bisa aku tahan.

Jam enam, adzan magrib kedengeran. Aku nutup laptop sebentar, sholat di mushola sekolah. Habis itu balik lagi ke ruang pramuka. Sekolah udah sepi. Lampu-lampu banyak yang mati. Tinggal beberapa yang nyala di koridor. Aku nyeduh kopi sachet dari termos kecil yang aku bawa. Duduk lagi. Lanjut.

Bagian anggaran bikin dahi berkerut. Aku hitung ulang. Konsumsi, sewa tenda, alat-alat, transport. Aku coba masukin angka yang masuk akal, nggak terlalu mepet, tapi juga nggak lebay. Sesekali aku berhenti, mantengin layar tanpa ngetik apa-apa. Pikiran kosong. Badan pegal. Kenapa aku ngerjain ini sendirian? Pertanyaan itu muncul pelan. Nggak nyentak. Kayak bisikan kecil.

Aku jawab sendiri dalam hati: karena kalau nggak aku yang kerjain, nanti ada yang kelewat. Jawaban itu selalu cukup buat nutup pertanyaan lain. Jam delapan lewat, HP-ku bunyi. Pesan dari Devi.

Devi: Nay, proposal udah dibagi belum sih?

Aku: Lagi aku kerjain.

Devi: Oh oke. Semangat yaa.

Aku senyum tipis. Lanjut ngetik. Aku nggak cerita ke siapa-siapa kalau aku ngerjain sendirian. Nggak ke Rara. Nggak ke Faris. Nggak ke Tara. Bukan rahasia besar. Cuma nggak kepikiran buat cerita.

Jam sembilan malam, aku berhenti sebentar. Leher pegal. Mata perih. Aku senderin kepala ke tembok. Di ruangan sepi itu, tiba-tiba aku ngerasa capek banget. Bukan capek fisik doang. Tapi capek yang bikin dada agak berat. Aku tutup mata beberapa detik. Buka lagi. “Dikit lagi,” gumamku sendiri.

Aku lanjut sampai jam sepuluh. Proposal hampir beres. Tinggal rapihin bahasa dan cek ulang. Aku simpan file, matiin laptop, beresin tas. Waktu aku keluar dari ruang pramuka, sekolah udah gelap. Satpam nanya dari pos.

“Masih di sekolah aja, Naya?”

“Iya, Pak. Baru selesai.”

“Rajin banget.”

Aku senyum. Nggak jawab apa-apa. Jalan ke gerbang. Di motor, angin malam kena muka. Badan dingin, tapi kepala masih panas. Isi proposal muter-muter di otak.

Sampai rumah, aku langsung mandi. Makan seadanya. Abis itu buka laptop lagi di kamar. Cuma buat cek ulang. Kebiasaan buruk, tapi aku lakuin. Aku kirim pesan ke Rara.

Aku: Ra, proposalnya lagi aku rapihin. Besok aku bawa ya.

Rara: Oke. Makasih ya Nay.

Makasih lagi. Aku tutup laptop. Rebahan. Badan rasanya kayak habis diperas.

Besoknya, aku datang lebih pagi. Printer ruang TU masih kosong. Aku print proposal. Lembar demi lembar keluar. Aku susun rapi, masukin map biru. Di ruang pramuka, Rara datang.

“Udah jadi?” tanyanya.

“Udah. Nih.”

Dia nerima map, buka sekilas. “Wah, rapi.”

Aku senyum. “Nanti kalau ada yang mau diubah, bilang.”

“Iya.”

Kami duduk satu meja. Dia baca. Aku nunggu. Nggak ada deg-degan, cuma nunggu.

“Ini anggarannya aman?” tanyanya.

“Aman. Udah aku itung ulang.”

“Oke.” Dia nutup map. “Nanti aku yang jelasin ke Bu Santi ya.”

“Iya,” jawabku tanpa mikir. Kalimat itu keluar lancar. Terlalu lancar. Aku nggak mikir apa-apa. Nggak kepikiran soal nama. Nggak kepikiran soal siapa yang kelihatan kerja. Di kepalaku cuma satu: proposal kelar.

Hari itu berjalan normal. Latihan, bercanda, ribet kecil. Aku ketawa kayak biasa. Rara juga biasa. Siang hari, aku duduk bareng Tara di kantin.

“Kamu kelihatan capek,” katanya lagi. Aku ngelirik dia. “Kelihatan terus ya.”

“Iya.”

Aku nyeruput es teh. “Habis ngerjain proposal.”

“Sendirian?”

Aku diem sebentar. “Iya.”

“Kenapa nggak bareng?”

Aku bahu. “Kebiasaan.” Tara nggak komentar. Dia cuma ngangguk pelan. “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya.

“Kenapa nanyanya gitu?”

“Soalnya kamu bilang ‘nggak apa-apa’ dengan nada orang capek.” Aku ketawa kecil. “Aku beneran nggak apa-apa.” Dan saat itu, aku percaya sama kalimat itu.

Beberapa hari setelahnya, Rara bolak-balik ke ruang guru. Bawa proposal. Minta tanda tangan. Aku tahu prosesnya. Aku nggak ikut. Aku sibuk sama hal lain: nyiapin latihan, ngatur jadwal. Suatu sore, Devi datang ke aku. “Katanya proposalnya udah masuk ya?”

“Iya.”

“Rara keren ya.”

Aku ngangguk. “Iya.” Nada suaraku biasa. Tapi ada sesuatu yang nyangkut di dada. Kecil. Tipis. Aku geser jauh-jauh. Aku nggak merasa diambil. Aku nggak merasa dirugikan. Aku ngerasa… ya sudah. Emang begitu dari awal.

Malamnya, aku buka lagi file proposal di laptop. Cuma buat lihat. Namaku ada di situ, di struktur kepanitiaan. Wakil ketua. Jelas. Aku tutup laptop.

Di titik itu, aku sama sekali nggak nyangka apa-apa. Aku nggak curiga. Nggak waspada. Nggak merasa bakal ada masalah. Aku cuma capek. Capek yang masih bisa ditoleransi. Capek yang aku pikir wajar. Dan karena aku ngerjain semuanya diam-diam, aku juga diem waktu pelan-pelan mulai ada yang bergeser. Waktu itu, aku belum sadar.

1
@fjr_nfs
makasih yaaa... kamu jugaa...
Zanahhan226
kamu merasa semuanya harus sempurna, tapi juga ogah ribet. mirip aku, pen ada di setiap detail spya gk ada yg kelewatan. tapi lama" emg kerasa capeknya. bukan krna kerjaannya, tp krna dianggap nggak ngaruh.
Zanahhan226
dulu juga ijut pramuka, tpi bukan siapa" dan bukan apa"..
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
Zanahhan226
aku baca ini karna agak relate sama judulnya, entah ceritanya nanti ada yg relate juga atau enggak..
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
Zanahhan226
tulisannya lebih rapi dari novel yg kubaca seblumnya..
semangat trs utk berkarya, yah..
Zanahhan226
aku tim datang mepet pokoknya..
🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!