Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.
Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?
Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JALAN PAGI
Pagi itu, langit masih menyisakan rona jingga tipis di ufuk timur. Udara terasa seperti air es yang membasuh wajah—begitu murni, tajam, dan sama sekali belum ternoda oleh pekatnya asap knalpot atau debu pembangunan kota.
Dea merapatkan jaket rajutnya, menghirup napas dalam-dalam hingga dadanya terasa penuh oleh kesegaran yang menenangkan. Di sampingnya, Vhirel berjalan dengan langkah santai, tangan kirinya terbenam di saku celana pendek, sementara tangan kanannya sesekali mengayun pelan, tanpa atau dengan sengaja menyentuh punggung jemari Dea yang berada di sampingnya.
Sungguh, sentuhan singkat itu membuat langkah Dea sempat tersendat sepersekian detik. Jemarinya menegang, lalu refleks merapat ke sisi tubuh—bukan untuk menghindar, melainkan seolah menenangkan diri sendiri. Ia menelan ludah, membiarkan napasnya kembali teratur, meski detak di dadanya tak lagi setenang udara pagi.
Dea hanya pura-pura fokus pada jalan setapak di depan mereka. Matanya menangkap dedaunan yang basah oleh embun, lampu-lampu rumah yang masih temaram, dan pagar-pagar rendah yang berderet rapi. Namun perhatiannya berulang kali terpecah, kembali pada kehadiran Vhirel di sampingnya—terlalu dekat untuk sekadar diabaikan.
Dea kemudian menarik napas pelan, lalu menghembuskannya perlahan. Sudut bibirnya terangkat samar, seiring senyum kecil yang tak ia niatkan. Ada rasa hangat yang menjalar, bukan meledak-ledak, melainkan menetap yang membuat pagi ini terasa jauh lebih ringan.
Sekilas, ia melirik ke arah Vhirel, cepat-cepat kembali menatap lurus ketika mendapati pria itu pun menoleh.
“Pagi ini enak, ya,” Ucap Dea akhirnya, berusaha terdengar biasa. Namun dalam hati, Ia tahu—yang membuatnya terasa istimewa bukan hanya udara segar atau langkah santai itu, melainkan kebersamaan yang berjalan sunyi di antara mereka.
"Enak, apa enak...?" Goda Vhirel. "Biasanya juga, di ajak jalan kayak gini sering nolak. Kenapa sekarang semangat banget?"
Mendadak, langkah Dea nyaris tersandung. Ia segera menstabilkan posisinya dan membuang wajah ke arah deretan pohon mahoni di sisi lintasan.
"Ih, apaan sih Kak Vhirel!" Ketus Dea, berusaha menutupi kegugupannya yang mendadak muncul. "Aku tuh bangun pagi karena emang hidup sehat. Kebetulan aja Kak Vhirel juga mau lari, jadi ya... barengan. Jangan ge-er deh!"
Vhirel tertawa lepas, suara tawanya memantul di antara pepohonan yang sepi. Ia kembali berbalik dan berlari bersisian dengan Dea, kali ini dengan jarak yang sedikit lebih rapat.
"Oh, hidup sehat ya? Kirain karena aku." Celetuk Vhirel. Di saat yang masih sama, ia meraih punggung jemari Dea dan membuat langkah kaki gadis itu melambat sambil menoleh menatapnya. "Kenapa harus ada gengsi lagi, kalau perasaan itu udah jelas?"
Dea tertegun. Langkah kakinya benar-benar terkunci, bukan hanya karena tarikan lembut di jemarinya, tapi karena serangan telak dari kalimat Vhirel. Ia merasakan sensasi hangat yang menjalar dari punggung tangannya, merayap naik hingga membuat dadanya terasa sesak.
"Malam itu..." Vhirel mendekat, membisikkan kalimat ke telinga Dea. "... saat aku menciummu, kita melakukannya dengan sangat sadar, bukan?"
Dea membeku. Udara di sekitarnya mendadak terasa tipis, seolah kata-kata Vhirel baru saja menyedot seluruh oksigen di ruangan itu. Kehangatan napas pria itu masih tertinggal di telinganya, meninggalkan sensasi geli yang kontras dengan debaran jantungnya yang menggila.
Ia ingin membantah. Ia ingin mengatakan bahwa malam itu hanyalah kekhilafan, hasil dari suasana remang kamar atau emosi yang sedang meluap. Namun, tatapan Vhirel—yang kini hanya berjarak beberapa inci darinya, di antara sorot mentari yang mulai turun—mengunci segala pembelaan yang sudah di ujung lidah.
"Kak Vhirel, itu..." Dea memulai, suaranya sedikit bergetar.
"Jangan katakan itu kesalahan," potong Vhirel lembut namun tegas. Ia mundur selapis, memberi Dea ruang untuk bernapas, tapi matanya tetap menuntut kejujuran. "Kesalahan tidak dirasakan sedalam itu. Kita berdua ada di sana, sepenuhnya sadar akan siapa yang kita sentuh."
Dea mengalihkan pandangannya ke arah jalanan, di mana kendaraan mulai berlalu lalang melesat kilat di aspal yang luas dan mulus. Ia teringat bagaimana jemari Vhirel menangkup wajahnya malam itu, dan bagaimana ia sendiri tidak sedikit pun berniat untuk menjauh.
"Kenapa Kakak mengungkit lagi?" Tanya Dea akhirnya, suaranya kini lebih stabil, meski masih ada nada rapuh di sana.
Vhirel tersenyum tipis, sebuah senyum yang sulit diartikan—antara rasa lega dan tantangan. "Karena aku lelah berpura-pura bahwa keheningan di antara kita sejak malam itu adalah hal yang normal. Dan, sekarang aku ingin tahu ... apa kamu masih ingin berpura-pura, atau kita akan berhenti berlari?"
Dea menyunggingkan senyum tipis, sebuah ekspresi samar yang tampak selaras dengan Ketenangan pagi. Langkah kakinya yang semula tak beraturan kini benar-benar berhenti. Di bawah sebuah pohon besar yang menjadi peneduh dari cahaya matahari yang mulai merangkak naik, ia kemudian memilih untuk duduk di sebuah bangku beton. Sedangkan Vhirel, yang sejak tadi mengekor di belakang, tak kalah cepat mengambil posisi. Ia duduk di samping Dea, menjaga jarak yang cukup dekat namun tetap menghargai ruang gadis itu.
Perlahan, Dea menengadah. Matanya menatap langit pagi yang luas dan cerah, di mana warna biru pucat mulai menyapu sisa-sisa fajar. Ia menarik napas panjang, menghirup udara pagi yang bersih sedalam mungkin ke paru-parunya, lalu mengembuskannya perlahan. Ada kelegaan yang dilepaskan bersama hembusan napas itu, seolah ia baru saja meletakkan beban berat yang selama ini dipikulnya sendirian.
Di sisi lain, dunia Vhirel tidak tertuju pada cakrawala. Ia justru terpaku pada profil wajah Dea dari samping. Dalam diam, Vhirel mengamati bagaimana sinar matahari pagi menyentuh ujung hidung dan helai rambut Dea, menciptakan pendar keemasan yang lembut. Ia hanya diam, menatap dengan kesetiaan yang tak tergoyahkan—sebuah tatapan yang seolah berjanji bahwa ia tidak akan pergi ke mana pun.
"Kakak pasti gak percaya atau benar-benar mengejekku, kalau aku... belum pernah ngerasain gimana seseorang bisa aku cintai dan mencintai aku." Jelas Dea kemudian. "Di mata aku, cinta itu gak lebih dari sekadar teori di dalam buku novel atau bumbu drama di serial TV," lanjut Dea, suaranya sedikit merendah, nyaris tertelan bising kendaraan di sekitar mereka.
"Semua orang bicara seolah-olah cinta itu oksigen, sesuatu yang otomatis ada dan kita butuhkan buat napas..." Sambung Dea mendesis. "... tapi buat aku? Cinta itu kayak bahasa asing yang gak pernah diajarkan ke aku. Aku tahu itu ada, aku dengar orang mengucapkannya, tapi aku gak paham maknanya."
Dea mendongak, ia mulai kembali menatap kakaknya yang tanpa ia sadari memandangnya penuh keseriusan. Ya. Kali ini, pria itu tidak tertawa. Tidak juga mengejek seperti yang ditakutkan olehnya.
Dea tertegun. "Kak Vhirel..."
"Dengar," Vhirel memulai, suaranya berat dan bergema pelan. "Banyak orang terjebak karena mereka mengejar cinta seolah itu adalah sebuah tujuan, sebuah piala yang harus didapat biar kelihatan 'lengkap' di mata dunia. Tapi sebenarnya..."
Vhirel menjeda, mengambil napas dalam-dalam.
"Cinta itu bukan tentang seberapa cepat kamu menemukannya, tapi tentang seberapa siap kamu mengenali diri sendiri saat ia datang..." Sambung Vhirel. "... kamu nggak perlu merasa 'kosong' hanya karena detak jantungmu nggak sama dengan apa yang ditulis di buku. Karena pada akhirnya, cinta yang paling jujur bukan yang meledak-ledak seperti kembang api, tapi yang tenang seperti rumah tempat kamu pulang tanpa perlu berpura-pura."
Dea tersenyum, menahan decak kagum oleh kalimat Vhirel yang bijak dan dewasa. Didekat lelaki itu, ia merasa seperti memiliki sosok pelindung. Yang jelas, lebih dari sebatas seorang kakak untuk menjaga adiknya.
"Jangan paksa dirimu untuk paham bahasa yang belum ingin kamu pelajari, Dea." Sambung Vhirel. "Kadang, hidup cuma mau kamu duduk tenang sampai seseorang datang dan menerjemahkan semuanya tanpa kata-kata."
Dea mengangguk. "Dan, Kakak tahu?"
Vhirel menggeleng tanpa suara.
"Aku telah lama duduk tenang, sampai seseorang itu akhirnya datang dan menerjemahkan semuanya." Ujar Dea perlahan, ia menatap penuh wajah Vhirel hingga mereka saling menatap dalam. "Entah sudah berapa lama aku diam. Bahkan, sampai aku gak peduli siapa orang yang mencintai aku dan yang aku cintai..."
Dea menyunggingkan senyum. Tanpa permisi, ia meraih rahang Vhirel yang terasa lembab oleh keringat. "... yang aku harapkan sekarang adalah... ketika cinta itu akhirnya saling memahami, kini waktunya untuk cinta itu saling menguatkan dan bertahan. Tanpa peduli, apapun yang akan terjadi nantinya."
Vhirel menelan ludah dengan susah payah, jakunnya naik-turun seiring degup jantung yang kian berpacu. Ia membiarkan keheningan menyela sejenak, tak langsung menyambar ucapan Dea. Perlahan, ia meraih jemari yang sempat singgah di rahangnya, menuntun tangan itu bergeser perlahan menuju sudut bibir. Di sana, ia mendaratkan kecupan lembut yang sarat akan kesungguhan. "Aku janji," Lirihnya lembut namun penuh penekanan.
****
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,