Karena terus diteror ibunya supaya tidak lama-lama menganggur, Aditi nekad terima tawaran tetangganya, Baskara, untuk jadi guru ABK. Padahal ilmunya, NOL besar.
Baskara adalah cinta monyet Aditi, seorang duda beranak satu bernama Malini. Dari awal, naksir tipis-tipis sama Aditi, tapi jadi baper berat setelah Malini nempel seperti perangko pada Aditi. Pokoknya Aditi harus jadi ibu sambung Malini, pikir Baskara.
Murid pertama dan satu-satunya Aditi bernama Kavi. Penyandang autis yang cuma responsif pada Aditi. Membuat ayahnya, Sagara, bucin berat. Bagi Sagara, Aditi adalah kunci harapan untuk hidup Kavi dan dirinya.
Jadilah Baskara dan Sagara bersaing untuk mendapatkan perhatian dan cinta Aditi.
Masalahnya, Baskara dan Sagara bersahabat.
Apakah Aditi berhasil menjadi guru ABK?
Bagaimana nasib persahabatan Baskara dan Sagara?
Siapa yang Aditi pilih, sang duda cerai, Baskara atau sang duda mati, Sagara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menunggu Terbangun
"Pak, kalo abis meltdown, Kavi tidurnya berapa lama?" tanya Aditi.
"Hhmm, bisa 1 sampe 3 jam. Tergantung meltdownnya gimana," jawab Sagara.
"Kalau liat kejadian tadi, sekarang kayaknya bisa agak lama Dit. Soalnya tidur itu cara isi baterai setelah cape meltdown," Baskara menambahkan.
Januar telah selesai melakukan interogasi. Ia dan sang istri masuk ke dalam rumah. Menyisakan tiga orang di teras mungil nan asri.
Aditi menghela napas. Ia berharap ayahnya berkenan Kavi tidur selama itu di rumah mereka.
"Hei, mikirin apa?" Baskara menjentikkan jari di depan wajah Aditi.
"Pengen naek pohon," jawab Aditi. Baskara tergelak. Sagara menatap kedua orang di depannya.
"Kenapa tiba-tiba pengen naik pohon? Kebiasaan banget," ujar Baskara. Sagara mengerutkan alis mendengarnya.
Aditi mengusap wajah dengan kedua tangannya. "Aku ngerasa Ayah nggak suka ama situasi ini, Mas."
"Aku penyebabnya, Diti. Kok, nggak ngomong sama aku juga?" ucap Sagara.
Aditi menoleh pada Sagara. "Iya Pak. Kan yang nanya tadi Mas Bas, bukan Bapak."
Si somse keadaan kayak gini, masih sempet aja sensi nggak jelas.
Sagara membuang muka ke arah samping kanan. Baskara menggaruk alis.
"Kemungkinan terburuk ayah kamu apa?" tanya Baskara.
"Aku takut nggak boleh lanjut kerja di AIC." Aditi menundukkan kepala.
"Aku yang bakal maju kalau itu kejadian," tukas Sagara.
"Semoga nggak sejauh itu. Mungkin ayah kamu kaget, ngeliat kamu tadi kayak gimana. Beliau mikirnya, tiap hari kamu bakal kayak gitu." Baskara menipiskan bibir.
"Kamu tuh coping stressnya naik pohon ya? Waktu itu, yang abis resign, naik pohon juga?" Baskara terkekeh.
"Iya, Mas. Aku curiga ada turunan beruk. Nggak tau dari ayah apa ibu." Baskara tertawa mendengar jawaban Aditi. Sagara mengulum senyum.
"Nggak cuma naek pohon doang sih, obat stress aku. Makan juga, sama belanja kalo lagi ada duit. Sama nonton, jalan-jalan. Suka naek pohon soalnya itu gratis."
Baskara kembali tertawa mendengar ucapan Aditi. Sagara menahan tawanya, melipat bibir sambil menggelengkan kepala.
"Ya udah, sana gih," kata Baskara.
"Nggak ah, malu. Ada kalian." Aditi tersipu. Baskara dan Sagara sama-sama tersenyum.
"Bisa malu juga kamu," tukas Sagara.
"Ya iya dong, Pak. Masih manusia." Aditi merengut.
"Apa mau makan baso? Yuk, kita beli," ajak Baskara.
Aditi tersenyum, "Gas Mas!"
"Eh, pada mau ke mana? Kalau Kavi bangun gimana? Nggak ya. Lo beli aja sendiri, Bas. Diti di sini sama gue."
Hadeuh si somse, ganggu mulu.
"Kan kata Bapak, Kavi bisa tidur minimal sejam. Ini baru setengah jam. Masih ada waktu setidaknya setengah jam lagi," ucap Betari.
"Ya kan, kita nggak tau. Namanya dia di tempat asing. Bisa aja kan bangun lebih cepet. Ya kan Bas?" Sagara menoleh pada sahabatnya.
"Ya, bisa jadi sih. Cuma karna tadi abis meledak banget, bisa jadi bakal lama sih, Gar. Kecapekan banget dia," papar Baskara.
"Tuh Pak, aman. Bentaran doang ditinggal. Pake motor aku aja, Mas." Aditi berdiri.
Mendengar kata motor, Sagara langsung bereaksi. "Dibilang jangan ya jangan. Bas, lo aja sih yang beli sendiri. Kan ide dari lo."
"Yah, buat hiburan si Diti juga sih, Gar. Lo nggak kasian ama dia, udah kayak gimana tadi?"
Sagara terdiam mendengar ucapan Baskara. "Ya udah, jangan lama-lama tapinya."
Aditi masuk ke dalam rumah, mengambil kunci motor dan meminta izin pada Januar. Ia keluar dengan wajah berseri. Sagara menatap tak suka.
Baskara dan Aditi menaiki motor dalam mode baju rumahan. Baskara dengan kaus putih dan celana kargo coklat selutut. Aditi menggunakan kaos putih tangan panjang dan celana kain berwarna khaki. Terlihat serasi. Keduanya memakai sandal jepit.
Sagara menatap tajam kepergian kedua orang itu. Pandangannya tak putus hingga motor menghilang. Sagara berdecak.
Mata Sagara sesekali melihat jam tangannya. Kedua kakinya bergoyang. Ia mengecek layar ponselnya namun segera ia tutup kembali.
Sagara berdiri, melangkah ke muka pagar. Ia berdiri tegak di depan rumah Januar sambil bersedekap.
Sekitar 15 menit kemudian, duo tetangga itu datang. Terlihat plastik putih di tangan Aditi.
Dih, si somse ngapain depan pager? Mana gayanya kaya jin botol gitu.
Sagara bergeser memberi jalan pada Baskara memasukkan motor. Ia melangkah kembali ke teras.
"Mas, bentar ya aku ambil mangkok sekalian ngasih punyanya ayah sama ibu," ujar Aditi sambil turun dari motor. Baskara mengangguk. Ia merapikan rambutnya yang tertiup angin.
"Lama banget, Bas," protes Sagara.
"Nggak nyampe 20 menit, Gar. Wajarlah. Kan tadi ngantri juga. Dikit," jawab Baskara sambil duduk di kursi rotan.
Aditi membawa nampan berisi tiga mangkok, tiga pasang sendok garpu dan tiga gelas. Ia letakkan di atas meja.
Plastik berisi bakso juga Aditi letakkan di tempat yang sama. Ia kembali ke dalam dan muncul dengan teko plastik berisi sirup melon dingin.
Aditi angsurkan mangkok serta sendok garpu di depan masing-masing tamu di rumahnya. Ia kemudian mengisi ketiga gelas dan meletakkannya di samping mangkok. Baskara dan Sagara sama-sama memperhatikan itu.
"Ayo, Mas, Pak, dimakan. Laper apa gimana? Pada bengong gitu. Harus juga aku yang nuangin gitu?" seloroh Aditi.
"Nggak lah Dit." Baskara mengambil satu plastik bakso dan menuangnya.
"Boleh, saya mau dituangin," jawab Sagara.
Aditi langsung mencebik. "Malu Pak ama Kavi. Nggak mandiri banget."
Baskara tergelak mendengar perkataan Aditi. Sagara memiringkan bibir. Ia ambil jatah bakso miliknya, kemudian menuangnya.
Aditi mulai meracik bakso dengan resep andalannya. Sedikit kecap, sedikit saos dan sambal cabe yang melimpah. Seketika kuah baksonya menjadi keruh kemerahan.
"Mari makaan, bismillah." Kepala Aditi bergoyang ketika lidahnya mencecap sensasi gurih bakso.
Kedua duda melihat adegan itu. Keduanya tersenyum. Senyum Baskara lebar. Senyum Sagara versi BPJS, hemat.
"Bae-bae sakit perut, Diti. Sambelnya banyak banget," kata Baskara sambil menyeruput kuah bakso.
"Baso ya enaknya kayak gini, Mas. Pedes, kayak mulut Pak Gara, eh, hahahah... Canda ya Pak Gara, silakan dimakan basonya." Aditi meringis sambil menoleh pada Sagara.
Sagara menatap malas sambil mengaduk kuah bakso. Baskara tersenyum, ia menelan mie kuning yang telah ia kunyah.
"Ini baso dari dulu nggak berubah ya Mas rasanya," kata Diti.
"Iya. Dari bapaknya muda ampe ubanan, konsisten enak," timpal Baskara.
Sagara yang tak tahu apa-apa hanya bisa menipiskan bibirnya. Ia akui bakso yang mereka makan memang enak.
"Semoga lanjut ya bapaknya, ampe anak cucu usahanya. Berpahala, bikin orang enak, nggak stress, heu..."
Diti mengunyah bakso uratnya. Gurih di mulutnya makin meningkat.
"Lebaayy," Sagara menimpali.
"Nah kan, pedes, hahaha..." Diti menutup mulutnya, khawatir menimbulkan suara bising bagi Kavi.
Baskara tersenyum sambil menggeleng. Ia memakan bakso telurnya.
"Kamu pinter bersyukur sama hal kecil Diti. Bagus kayak gitu." Aditi tersenyum mendengar pujian Baskara.
Sagara merapatkan giginya. "Lho kok, saya dibeliinnya baso telor, Diti? Saya maunya baso urat. Kamu sih, beli maen jalan aja. Nggak nanya saya maunya apa."
"Lah, kata Mas Bas, Bapak sukanya baso telor. Ya saya beliinnya baso telor."
"Yaa, tapi saya maunya sekarang makan baso urat. Minta separo dong Diti. Tuker." Sagara memotong dua baso telurnya.
"Ih, saya nggak suka baso telor. Bersukur aja ama yang ada sih, Pak." Aditi buru-buru menghabiskan bakso uratnya.
"Payah ah kamu, sama tamu." Sagara mencebikkan bibirnya.
Baskara memelankan kunyahan baksonya. Ia mulai menyadari keanehan sahabatnya. Kenapa Sagara dari tadi bersikap kekanakan?
"Emang Bapak nggak jijik berbagi baso ama saya?" tanya Aditi.
"Hhmm, nggak sih..." Sagara akhirnya memakan bakso telurnya.
Baskara memandang sang sahabat. Ia tahu perkataan Sagara tadi tidak benar. Sagara mana mau berbagi makanan yang sudah termakan. Kalau belum dimakan, mungkin ia mau.
"Yah, punya saya udah abis, Pak. Anda kurang beruntung, coba lain waktu, hehehe..." Aditi menyuap bakso terakhirnya.
Sagara kembali mencibir. Baskara masih memperhatikan. Ia memikirkan kemungkinan satu hal, tapi ia ragu.
"Abiss... Ih, cowok-cowok pada lambat banget makannya. Lagian makan baso pada banyak bengongnya. Makan sih yang bener."
Aditi meletakkan mangkuk bakso di atas meja. Ia meminum sirupnya.
Di kamar Aditi, Kavi terlihat bergerak kecil. Kepalanya bergoyang ke kanan. Kaki kirinya menggesek seprai kasur Aditi.