Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor
Elvan Bagaskara
CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.
Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .
Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12
Tanpa mereka sadari.
Tak jauh dari meja mereka, Albian kebetulan berada di restoran yang sama untuk bertemu dengan teman-temannya .
Ia tidak sengaja melihat Dira.
Tertawa.
Makan banyak.
Dan sesekali menyuapi Elvan.
Tangannya yang memegang gelas sedikit mengencang.
Ia tidak mendekat.
Tidak menyela.
Hanya melihat dari jauh.
Untuk pertama kalinya, rasa cemburu itu bukan sekadar kecil.
Tapi nyata.
***
Setelah hampir semua makanan habis (dan memang hampir semuanya habis), Dira bersandar puas.
“Ah, hidup terasa damai.”
Elvan menatap piring kosong di depannya.
“Kamu benar-benar menghabiskan semuanya.”
“Jangan remehkan perut bar-bar ku om ”
Elvan tertawa kecil. Sangat kecil, tapi nyata.
Dira berhenti.
“Om ketawa.”
“Aku manusia.”
“Aku jarang lihat.”
Hening sebentar.
Lalu Elvan berkata pelan,
“Aku suka melihatmu seperti ini.”
Dira mengedip.
“Seperti apa?”
“Bahagia tanpa beban.”
Kalimat itu membuat Dira terdiam beberapa detik.
Lalu ia tersenyum lembut.
“Kalau gitu sering-sering ajak aku makan banyak om ”
Elvan mengangguk pelan.
“Itu permintaan yang mudah.”
Dan malam itu, untuk sesaat—
Tidak ada rahasia.
Tidak ada masa lalu.
Tidak ada cemburu.
Hanya CEO dingin yang diam-diam gemas melihat gadis bar-bar makan dengan sangat serius.
***
Mobil melaju pelan meninggalkan restoran. Kota malam terlihat lebih tenang dari biasanya.
Dira bersandar di kursi penumpang dengan wajah puas.
“Aku bahagia banget.”
Elvan melirik sekilas. “Hanya karena makan?”
“Jangan meremehkan kekuatan makanan om ”
Hening beberapa detik.
Suasana di dalam mobil berbeda dari biasanya. Tidak terlalu ribut. Tidak terlalu serius.
Lampu jalan memantul di kaca jendela, membuat bayangan lembut di wajah Dira.
“Om..” panggilnya pelan.
Elvan sedikit terkejut. Biasanya ia memanggil dengan nada lebih heboh.
“Ya?”
“Om capek nggak sih… ngadepin aku?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Elvan tidak langsung menjawab.
“Kenapa tanya begitu?”
“Soalnya aku ribut. Banyak maunya. Makan banyak. Datang ke kantor om terus. Kadang bikin masalah.”
Mobil berhenti di lampu merah.
Elvan menoleh sepenuhnya ke arahnya.
“Aku justru capek kalau kamu tidak ribut.”
" Dan takut kamu pergi " Sambung elvan dalam hatinya
Dira mengerjap.
“Kantor jadi terlalu sunyi.”
Lampu berubah hijau. Mobil kembali melaju.
Jantung Dira berdetak sedikit lebih cepat.
Beberapa menit kemudian, suasana makin hening.
Dira yang awalnya banyak bicara mulai terdiam.
Perut kenyang. Udara mobil hangat. Musik pelan mengalun.
Tanpa sadar… kepalanya miring bersandar di sisi pintu mobil.
Elvan menoleh perlahan.
Dira sudah setengah tertidur.
“Om…” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. “Jangan jutek lagi ya…”
Elvan menahan napas.
Ia mengurangi kecepatan mobil, memastikan perjalanan tetap halus.
“Aku akan belajar,” jawabnya lirih.
Dira tidak menjawab. Sudah benar-benar tertidur.
Di lampu merah berikutnya, ia menatap wajah Dira yang tertidur damai.
Pipi yang tadi penuh semangat makan kini terlihat lembut.
Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis.
“Gadis bar-bar,” gumamnya pelan.
***
Saat mobil berhenti di depan rumah, Elvan tidak langsung membangunkannya.
Ia hanya duduk diam beberapa detik.
Menikmati momen yang jarang ia miliki.
Tiba-tiba motor berhenti tak jauh dari mobil.
Kenzo.
Ia baru pulang dari pertemuan klien.
Tatapan mereka bertemu melalui kaca mobil.
Kenzo melihat Dira tertidur pulas dalam mobil Elvan.
Wajahnya tetap tenang.
Tapi matanya berbicara banyak.
Elvan membuka pintu perlahan
" Bangunkan dia?” tanya Kenzo pelan
Elvan mengangguk kecil.
Dira terbangun dengan wajah bingung.
“Hah? Udah nyampe?”
Ia melihat posisi kepalanya tadi.
Wajahnya langsung merah.
" Astaga. Aku nggak ngiler kan om ?”
Elvan menjawab tenang, “Tidak.”
Kenzo hanya menahan senyum tipis.
Dira cepat turun dari mobil.
“Yaudah aku masuk dulu ya om ! Makasih makanannya!”
Ia hampir lari ke dalam rumah bahkan tak melihat keberadaan abangnya .Memang dasar dira .
Tinggal dua laki-laki itu berdiri dalam diam.
Kenzo akhirnya bicara pelan.
“Dia kelihatan bahagia.”
Elvan menatap pintu rumah yang sudah tertutup.
“Iya.”
Hening.
“Tapi kebahagiaan itu jangan sampai dibangun di atas rahasia,” lanjut kenzo
Elvan tidak menjawab.
Karena ia tahu…
Kalimat itu benar.
Bersambung......