NovelToon NovelToon
Variabel Yang Mencari Nilai Sejati

Variabel Yang Mencari Nilai Sejati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Ketos
Popularitas:296
Nilai: 5
Nama Author: Erna Lestari

Oskar Biru Arkais sorang pemuda yang berusaha mencari arti cinta Sejati,
Dan Si Mahira Elona Luis si Gadis Tomboy yang Tak Pernah Percaya akan Adanya cinta Sejati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

"Aku menyukai caramu tertulis

Disetiap Baris ada senyum

Disetiap jeda ada rindu

Dan disetiap makna ada namamu

Yang menetap pelan dihatiku"

_Oskar Biru Arkais_

pov Biru

Hujan mulai mengguyur lebih deras saat aku melangkah keluar dari gedung olahraga. Jas hujan yang selalu kubawa di dalam tas sudah aku pasangkan dengan cepat, tapi sebagian celana panjangku tetap terkena percikan air hujan. Langkahku tetap teratur seperti biasa, meskipun pikiranku sudah melayang jauh.

Aku menyeberangi lapangan sepak bola yang sudah tergenang air di beberapa titik. Suara langkahku menginjak genangan air terdengar pelan di tengah deru hujan. Saat melintas di bawah tiang lampu yang mulai menyala karena kegelapan yang datang lebih cepat, bayangan Elona tadi muncul lagi di benakku – rambut pendek sebahunya yang biasanya rapi kini lepek menempel di dahi dan lehernya karena keringat dan sedikit percikan air dari pintu yang kubuka. Wajahnya yang biasanya penuh semangat dan cuek tadi sedikit memerah karena kesal dan mungkin sedikit panik.

Aku mengangkat bibirku sedikit, membentuk senyuman kecil yang tidak akan pernah kutunjukkan di depan orang lain. Kelakuannya tadi memang cukup lucu – berteriak marah pada pintu, lalu tiba-tiba menjadi terkejut seperti anak kecil ketika kubuka pintunya. Bahkan dia hampir menabrak diriku, seolah tidak menyadari bahwa aku berdiri tepat di depan pintu.

“Tidak perlu. Ini hanya tanggung jawab sebagai ketua OSIS untuk membantu siswa yang kesusahan.”

Kata-kataku itu terdengar dingin dan formal seperti biasa, tapi sebenarnya aku tahu bahwa alasan itu hanya penutup. Aku sudah sering memperhatikan dia jauh sebelum hari ini – Mahira Elona Luis, atau yang lebih akrab disapa Elona. Rekai, temanku sejak kelas VII yang juga sepupunya, sering bercerita tentangnya setiap kali kita kumpul.

“Elona lagi latihan pramuka sampe larut malam lho, Biru. Dia bener-bener serius banget sama tugasnya,” ucap Rekai waktu itu saat kita sedang mengerjakan tugas kelompok di rumahnya. Saat itu aku baru melihat Elona untuk pertama kalinya – dia datang ke rumah Rekai membawa makanan yang dibelikan neneknya, mengenakan celana panjang dan kaos dengan logo pramuka, rambutnya yang pendek dipotong rapi, wajahnya sedikit berkeringat tapi tersenyum lebar saat menyapa Rekai.

Sejak saat itu, aku tidak bisa tidak memperhatikannya setiap kali ada kegiatan sekolah. Ketika dia memimpin barisan pramuka pada upacara hari Senin, ketika dia dengan sigap membantu membersihkan lapangan setelah acara olahraga, bahkan ketika dia berdebat dengan teman laki-lakinya tentang strategi permainan sepak bola di kantin. Dia selalu terlihat penuh semangat, tidak pernah menyerah, dan meskipun gaya berpakaiannya lebih ke arah tomboy, dia punya keanggunan sendiri yang tidak bisa kubayangkan pada gadis lain di sekolah ini.

Biru sampai di halte bus sekolah yang sudah sepi. Tak seorang pun ada di sana selain dirinya sendiri. Dia duduk di bangku yang sudah agak basah, menyaksikan hujan yang terus mengguyur jalan raya di depan mata. Pikirannya kembali ke momen tadi ketika dia ingin membayar budi ku dengan es batu atau apa saja. Wajahnya yang sedikit memerah karena sungguh ingin memberikan balasan itu membuat hatiku terasa sedikit hangat – sesuatu yang jarang kudapatkan dari interaksi dengan orang lain.

Orang-orang bilang aku dingin dan tidak mudah dekat. Mungkin itu benar saja. Aku memang lebih suka menjaga jarak dan fokus pada tugas sebagai ketua OSIS. Tapi dengan Elona… rasanya berbeda. Aku tidak tahu mengapa, tapi setiap kali melihatnya aktif atau bahkan hanya bersandar di pagar sekolah sambil berbincang dengan temannya, aku merasa ingin tahu lebih banyak tentang dia.

Rekai pernah bilang bahwa Elona tidak percaya pada cinta. Katanya itu karena dia melihat bagaimana hubungan orang tuanya yang tidak harmonis hingga akhirnya berpisah. Dia bilang Elona lebih suka fokus pada hal-hal yang bisa dia kendalikan, seperti prestasi pramuka atau merawat neneknya yang tinggal bersamanya.

Bus sekolah akhirnya datang dengan lampu sein yang berkedip-kedip di tengah hujan. Biru berdiri dan naik ke dalam bus yang sepi. Saat duduk di kursi dekat jendela, aku melihat cermin di depan dan melihat senyuman kecil yang masih tetap ada di wajahku. Aku segera menghilangkannya dan kembali menampilkan wajah yang biasa kutinggalkan – dingin dan tidak terpengaruh.

Tapi di dalam hati, aku tahu bahwa pertemuan tadi di ruang ganti bukanlah akhir dari segalanya. Mungkin suatu hari nanti, aku akan punya alasan yang lebih baik untuk berbicara dengannya lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!