Katarina Ayudia adalah siswi genius penerima beasiswa yang hidup sederhana, sementara Alarick Valerius adalah putra tunggal konglomerat sekaligus ketua geng motor yang ditakuti. Cinta mereka yang membara harus menghadapi tembok besar bernama Victoria Valerius, ibu Alarick, yang merancang fitnah keji untuk memisahkan mereka. Victoria mengancam masa depan Kate dan memanipulasi Alarick hingga pria itu percaya bahwa Kate adalah gadis oportunis yang telah mengkhianatinya dengan banyak pria.
Perpisahan pahit selama bertahun-tahun meninggalkan luka mendalam, Kate hidup dalam kemiskinan dan kerja keras demi bertahan hidup, sementara Alarick tumbuh menjadi CEO dingin yang menderita trauma psikologis berupa rasa mual hebat setiap kali menyentuh Kate karena bayangan fitnah masa lalu.
langsung baca aja dear😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alarick & Kate
Alarick merasa dunia benar-benar berada di genggamannya. Restu palsu dari ibunya adalah potongan terakhir dari puzzle kebahagiaan yang selama ini ia cari. Ia merasa tidak perlu lagi bersembunyi di balik bayang-bayang. Baginya, Kate bukan lagi sekadar rahasia di balkon lantai dua, melainkan takdir yang telah ia kunci rapat-rapat dalam dekapannya.
Namun, di balik senyum kemenangannya, Alarick tetaplah sang pemangsa yang haus akan kehadiran Kate. Malam itu, ia membawa Kate ke apartemen pribadinya yang terletak di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit, sebuah ruang privasi yang bahkan orang tuanya pun tidak boleh memasukinya.
Suasana apartemen itu hanya diterangi oleh temaram lampu kota yang menembus jendela kaca raksasa dari lantai hingga langit-langit. Aroma kayu cendana dan parfum maskulin Alarick memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang menyesakkan sekaligus candu bagi Kate.
Alarick melepaskan jasnya, membiarkan kemeja hitamnya terbuka di dua kancing teratas. Ia berdiri di belakang Kate yang sedang terpaku menatap gemerlap lampu kota dari ketinggian. Tangannya yang besar dan hangat melingkar di pinggang Kate, menarik punggung gadis itu hingga menempel sempurna di dadanya yang bidang.
"Kamu terlalu cantik malam ini, Kate," bisik Alarick tepat di telinga Kate, membuat gadis itu bergidik. "Restu Ibu tadi... itu membuatku merasa bisa memiliki segalanya. Termasuk kamu. Seutuhnya."
Kate berbalik dalam dekapan Alarick, menatap mata gelap cowok itu yang kini berkilat oleh gairah yang sulit diredam. "Al, semuanya terasa terlalu cepat. Ibu kamu... dia sangat baik, tapi aku merasa ada yang aneh."
Alarick meletakkan jari telunjuknya di bibir Kate, membungkam kekhawatiran gadis itu. "Jangan dipikirkan. Ibu menyukaimu karena aku mencintaimu. Itu cukup."
Alarick mulai mengecup dahi, pipi, lalu turun ke leher Kate dengan gerakan yang lambat dan menyiksa. Setiap sentuhannya membakar akal sehat Kate. Percakapan mereka mulai mengalir abstrak, terjebak dalam pusaran emosi yang meluap.
"Kate... kamu tahu apa yang paling gila dari mencintaimu?" tanya Alarick, suaranya kini serak dan berat.
"Apa?" bisik Kate, tangannya merambat naik ke rambut hitam Alarick yang berantakan.
"Aku merasa seperti ingin menghancurkanmu sekaligus melindungimu. Aku ingin dunia tahu kamu milikku, tapi aku juga ingin mengunci kamu di sini, supaya tidak ada satu mata pun yang bisa melihat betapa indahnya kamu saat kamu memanggil namaku seperti ini."
Alarick menuntun Kate menuju tempat tidur besar yang berada di tengah ruangan. Ia membaringkan Kate dengan sangat hati-hati, seolah gadis itu adalah porselen yang bisa pecah kapan saja. Namun, tatapan matanya berkata lain, ada api yang tidak bisa padam di sana.
"Alarick..."
"Ssh," desis Alarick. Ia menindih tubuh Kate tanpa memberikan beban penuh, menatap wajah gadis itu dengan intensitas yang memabukkan. "Malam ini... aku ingin kamu benar-benar tahu siapa aku. Bukan Alarick sang ketua geng, bukan Alarick si anak kaya. Hanya Alarick, milikmu."
Tangan Alarick perlahan turun, menjamah lekuk tubuh Kate yang tertutup gaun merah marun itu. Ia membisikkan kata-kata yang membuat wajah Kate memanas hingga ke ujung jari kaki.
"Nanti malam, saat purnama pertama kita benar-benar terjadi... aku tidak akan memberimu ruang untuk bernapas, Kate. Aku akan membuatmu lupa bagaimana caranya berdiri tegak. Aku akan membuatmu sangat susah berjalan esok hari, karena setiap inci dari tubuhmu akan mengenal bagaimana caraku mencintaimu tanpa ampun."
Kate merasakan jantungnya berhenti berdetak sejenak. Keberanian Alarick selalu mengejutkannya, namun kali ini ada sesuatu yang lebih dalam. Alarick menarik tangan Kate, membimbing jemari mungil gadis itu turun menuju bagian bawah tubuhnya yang sudah menegang di balik celana kain mahalnya.
"Lihat ini, Kate," bisik Alarick, suaranya penuh dengan kepemilikan yang gelap. "Kenalkan, ini junior yang akan menjadi penguasamu kelak. Dia sudah mengenali aromamu sejak malam pertama aku melompat ke kamarmu. Dan mulai malam ini, sampai selamanya, dia hanya milikmu. Tidak ada wanita lain, tidak ada Elara, tidak ada siapa pun. Hanya kamu yang punya hak untuk menyentuhnya, memilikinya, dan membuatnya tunduk."
Kate menarik napas panjang, matanya terkunci pada mata Alarick. Di tengah kebahagiaan semu yang diciptakan oleh ibunya, Alarick memberikan kejujuran yang paling telanjang. Gairah mereka meledak di bawah temaram lampu apartemen, sebuah cumbuan yang lebih panas dari biasanya, seolah mereka sedang mencoba menelan satu sama lain sebelum dunia luar kembali mencoba memisahkan mereka.
Alarick menciumi setiap inci kulit Kate, memberikan tanda-tanda baru yang tidak akan bisa ditutupi oleh plester medis mana pun. Di malam yang panjang itu, di atas ketinggian kota, Alarick benar-benar mengklaim Kate sebagai dunianya, tanpa menyadari bahwa di bawah sana, ibunya sedang menandatangani dokumen yang akan mencabut beasiswa Kate dan menghancurkan masa depan gadis yang baru saja ia beri mahkota itu.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading😍😍😍