NovelToon NovelToon
Cuz I'M Your Home

Cuz I'M Your Home

Status: tamat
Genre:Menjadi Pengusaha / Cintamanis / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:661
Nilai: 5
Nama Author: Hyeon Gee

Karena pertumbuhan anak laki-laki terkadang memang sedikit lambat dari anak perempuan. Dan tinggi 182 sentimeter setelah 20 tahun berlalu, sudah lebih dari cukup untuk tidak membuat malu pemilik tinggi 160 sentimeter dengan kecentilannya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

“Kalian di sini, ya. Sengaja aku pisah biar dr. Saputri sama Pak Irfan bisa sekalian honeymoon. Aku mesti ke kantor. Kalo ada apa-apa bel aja kamar depan. Itu kamarku sama Min Gyu. Terus password pintu kalo mau di ganti, ganti aja. Aku tinggal dulu.”

Segera setelah Garra menyelesaikan penjelasannya dan membantu meletakkan barang bawaan Echa serta teman-temannya ke sebuah apartemen mewah dengan dua kamar, dia pun pergi diiringi Min Gyu dan Joo Heon.

“Haaa…definisi nge-trip sambil nyambi cuan ini,” celoteh Firdha.

“Emang di gaji, Kak?” tanya Dewinta.

“Eh, iya. Emang di gaji?” tanya Jeni.

Ketiganya pun menatap lekat Echa yang tengah meminum air dingin yang baru ia ambil dari kulkas.

“Apa?” tanya Echa dengan kening berkerut.

“Kita di gaji, Tri?” tanya Jeni dengan wajah serius.

“Mana tau, Hun,” sahut Echa tak kalah serius.

“Haaa…janda gila. Tidur, lah, dulu kita. Bubar, bubar. Yok, Dew, kau sama aku aja.”

Omelan Firdha tidak sedikitpun membuat Jeni dan Echa tertawa namun, Dewinta yang mengiringi langkahnya ke salah satu kamar hanya tersenyum geli. Sementara, di tempat yang berbeda, Garra tampak serius dengan pekerjaannya. Sampai sebuah panggilan membuat fokusnya teralih.

“Halo, Cha? Kenapa? Gak istirahat?”

“Aku mau nanya, emang di perjalanan yang ini kita di gaji?”

Mendengar pertanyaannya, ada senyum geli yang ia tahan.

“Mmm…iya, di gaji. Tapi, cuma seperempat dulu, ya. Karena belum mulai pelatihan. Itu pun cuma untuk kalian berenam. Emang buat apa duitnya?”

“Mereka mau belikan oleh-oleh, sih. Kan, kamu tau sendiri gaji di klinik yang sekarang gak seberapa. Aku sendiri pun berharap, soalnya pas pulang pasti gak punya pegangan lagi,” ujar Echa melemah diakhir kalimatnya.

“Iya, Cha. Realistis aja, sih. Kan, kalian juga belum kerja. Belum tanda tangan kontrak. Perjalanan ini juga semua aku biayai penuh. Jadi, ya, cuma bisa ngasi seperempat. Sekitar dua juta won.”

“Astagaaa, banyak betul itu seperempat.”

Mendengar celotehnya, dia pun tersenyum.

“Bonus. Aku kerja dulu. Nanti malam aku ke apart, kita diskusi sama ketua klinik sini.”

Mungkin dulu, uang sebesar itu bagiku begitu berharga. Tapi, sekarang hal itu terlihat sangat remeh untuk orang yang kuharapkan senyumnya. Mungkin…itu salah satu alasan Tuhan atas pertemuan ini…

🎐🎐🎐

“Udah beres semua buat pulang besok?”

Sesaat, Echa meneguk Latte panasnya sambil menatap datar kearah Sungai Han, sebelum kemudian tersenyum mengalihkan pandangan pada Garra yang sudah menatapnya lebih dulu.

“Udah. Makasih, ya.”

“Apa?” ujar Garra bingung.

“Makasih udah kasi aku penghiburan.”

Sejenak, Garra tersenyum geli.

“Kita gak deket. Tapi, seolah kamu kaya penyelamat buatku sama Rouwheen,” ujar Echa tulus.

“Gak apa-apa. Seenggaknya aku juga dapet penghiburan dari kamu sama temen-temen random-mu. Dari mereka juga aku bisa liat kamu kaya apa.”

“Kaya apa aku?”

“Lucu. Apa adanya. Gak gengsi buat ngelakuin apa aja. Kaya Si Paling Penghibur padahal kamu yang lagi Paling Hancur.”

Untuk sesaat Echa diam, kembali menatap Sungai Han diikuti Garra yang juga memandangi hal yang sama.

“Kupikir duniaku udah baik-baik aja, Cha. Kehilangan David di 2013, aku ngerasa gak bisa sama sekali bangkit. Belum selesai kepingannya kubetulkan, aku udah harus nanggung tanggung jawab besar yang sebelumnya David pegang di perusahaan. Aku yang biasanya cuma jadi Tim Hore, tiba-tiba aja harus mikirin perusahaan sebesar itu,” jelas Garra yang kemudian menghela napas pelan dan meneguk sedikit Americano panasnya, “sebenernya sudah hampir sembuh. Tapi, yang bener-bener jadi duniaku selama ini juga ninggalin aku.”

“Istrimu?” tanya Echa dengan kening berkerut.

“Bukan. Mama sama Bapak.”

Kening Echa pun berkerut namun, Garra hanya tersenyum sinis.

“Di Desember 2012, Ko Sandyo nikah sama istri blasterannya dan pindah ke Paris. Netap jadi pilot di sana. Sementara, di September 2013, Ce Siryl nikah sama pacar Jepangnya. Aku sendiri milih netap di Korea. Nikah di Maret 2015 yang pada akhirnya pisah di Juli 2015. Terus nikah lagi sama jodohan Bapak sebulan abis itu tapi, cuma bertahan sampai September 2015. Abis itu, aku milih sendiri.”

Lagi, kening Echa berkerut.

“Tunggu. Jadi, waktu kita ketemu terakhir kali, kamu udah Duda?” tanya Echa tak percaya dan langsung menatap Garra yang hanya tersenyum mengiyakan, “kok, gak bilang?”

Sesaat ledakan tawa Garra terdengar diantara keramaian pengunjung di tepi Sungai Han malam itu.

“Kok ketawa?” tanya Echa kesal.

“Gaaak…ngapain juga aku ujug-ujug abis sekian lama gak ketemu terus obrolan pertama yang aku bahas, “Cha, aku duda, lho.”, agak gelap, Cha. Udah gitu jelek banget lagi, dalam setahun dua kali ganti istri, gagal keduanya pula. Hahaha…”

Mendengar jawabannya, Echa pun hanya bisa memanyunkan bibirnya dan membuat Garra menghela napas cukup keras setelah tawanya reda. Dia hanya mengusap lembut puncak kepala Echa yang tampak kesal.

“Terus duniamu yang hilang apa?” tanya Echa ketus sambil kembali memandangi Sungai Han.

Senyum sesaat, Garra pun ikut kembali memandangi hal yang sama.

“Bapak…sama Ibuku kembali ke Tuhan di hari yang sama. Tiga bulan sebelumnya Bapak telepon minta kami bertiga balik ke Malang karena Ibu kepleset di kamar mandi. Kami pulang, sebulan pertama Ibu baik-baik aja, bahkan sempet pulang ke rumah. Tapi, baru aja kami balik ke habitat masing-masing, sehat selama dua minggu di rumah, Ibu tiba-tiba aja gak bangun sama sekali, padahal biasanya Ibu bangun paling pagi. Bapak kembali manggil kami buat pulang ke Malang, sampai di sana, Bapak bilang, kalau Ibu mati batang otak.”

Tampak Echa meneguk ludah kuat, jantungnya berdebar kencang. Sempat ia melirik dan dilihatnya Garra hanya menatap kosong usai tersenyum sinis.

“Di tanggal 14 Juli 2022, Ko Sandyo video call dan bilang bakal balik ke Malang nemani Ibu di tanggal 15. Dan di tanggal 16, Ko Sandyo datang. Tepat tengah malam pergantian hari setelah Ko Sandyo bilang, dia sayang sama Ibu dan janji bakalan jaga aku sama Cece, di tanggal 17 Juli 2022, jam 12.05 tengah malam, Ibu ngehembusin napas terakhir. Hari itu, duniaku runtuh.”

Tampak Echa menghela napas pelan dan diam untuk kembali mendengar cerita Garra yang wajahnya terlihat memerah.

“Kami ngurus seluruh keperluan Ibu. Gak ada perasaan apa-apa, semua fokus sama Ibu termasuk Bapak yang sama sekali gak nangis dari Ibu dinyatakan meninggal. Setelah mandi’in jenazah Ibu, Bapak ijin mau istirahat sebentar ke kamar. Tapi, abis semua selesai dan aku manggil Bapak buat nyium Ibu. Yang kudapati Bapak keliatan tidur nyenyak banget. Muka beliau tenang banget, yang waktu itu kurasakan badan Bapak masih anget, cuma detak nadinya ilang. Aku usaha buat tenang tapi, ternyata setelah Cece masti’in nadi beliau dibantu sama sepupuku, Djiwan, yang profesinya dokter. Ternyata detik itu, duniaku gak runtuh. Duniaku hancur, bahkan bisa dibilang abis kejadian itu, sekarang aku berdiri pun kaya gak nginjak apa-apa karena pijakanku udah abis.”

Terdengar Garra menghela napas keras dan Echa pun meletakkan gelas Latte-nya, dia meraih tangan Garra dan menggenggam keduanya setelah meletakkan gelas Americano Garra. Dia menepuk pelan tangan Garra hingga runtuh pertahanan dan akhirnya, pria yang tampak sangat amat tangguh dengan punggung bidang itu menangis dalam diam. Dan sempat terlintas perbincangannya dengan Garra di rumah David.

“Makasih hadiahnya, ya. Bakalan aku pergunakan dengan baik. Kamu ultah kapan?”

“Aku? Mau ngasi apa emang?” tanya Garra dengan senyum geli.

“Buku tulis buat sekolah,” sahut Echa ketus.

“Hahaha…17. Aku ultah, 17 Juli.”

Dan…dunianya hancur tak bersisa di hari ulang tahunnya…

1
Amiera Syaqilla
beautiful story💕
goyangi13: thank u 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!