Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Udara Bali yang hangat dan beraroma garam menyambut Alana begitu ia melangkah keluar dari pintu pesawat. Berbeda dengan Jakarta yang terasa mencekik, angin di sini seolah memberikan ruang bagi paru-parunya untuk mengembang sempurna.
Pradipta berjalan di sampingnya, langkahnya tegap namun tidak terburu-buru. "Kita tidak ke hotel dulu, Alana. Tim lapangan sudah menunggu di lokasi proyek. Kamu keberatan?"
Alana menggeleng mantap. Ia justru butuh kesibukan untuk mengalihkan sisa-sisa sesak di dadanya. "Tentu tidak, Pak. Saya siap."
Sebuah mobil jemputan membawa mereka menyusuri jalanan Bypass Ngurah Rai menuju kawasan tebing di daerah Uluwatu. Di sana, sebuah resor mewah sedang dalam tahap konstruksi awal—proyek ambisius yang akan menjadi portofolio terbesar Alana jika ia berhasil mengelolanya.
Begitu sampai, Alana segera mengganti sepatu hak tingginya dengan sepatu boots proyek dan mengenakan helm pengaman putih. Ia melangkah ke area terbuka yang menghadap langsung ke Samudra Hindia. Debu konstruksi beterbangan, suara mesin paku bumi menderu, tapi bagi Alana, kebisingan ini jauh lebih jujur daripada kebisingan di meja makan rumahnya.
"Bu Alana, ini laporan progres fondasi zona A," seorang pengawas lapangan memberikan map tebal.
Alana membukanya. Jemarinya menelusuri angka-angka yang biasanya membuatnya pusing karena harus menyisihkan sebagian untuk cicilan Rian. Namun sekarang, angka-angka itu adalah senjatanya. Ia mulai memeriksa efisiensi material, jadwal buruh, dan alokasi dana dengan ketajaman yang luar biasa.
Pradipta berdiri beberapa meter di belakangnya, memperhatikan bagaimana Alana memberikan instruksi pada tim lapangan. Alana yang biasanya ragu dan selalu meminta persetujuan berulang kali, kini tampak berbeda. Ia bicara dengan nada rendah namun penuh otoritas.
"Saya ingin laporan pengeluaran semen minggu depan sudah ada di meja saya setiap hari Senin jam delapan pagi," ujar Alana tegas kepada salah satu staf. "Tidak ada toleransi untuk keterlambatan administrasi. Kita punya tenggat waktu yang ketat."
Pradipta mendekat saat Alana selesai berbicara. "Kamu terlihat sangat natural dengan helm itu, Alana. Seperti memang dilahirkan untuk memimpin, bukan untuk melayani."
Alana tersenyum tipis, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. "Mungkin karena di sini saya tahu apa yang saya kerjakan, Pak. Tidak ada variabel 'perasaan bersalah' dalam rumus anggaran ini."
Saat matahari mulai turun, menciptakan warna jingga yang memukau di atas laut, ponsel Alana di saku celananya bergetar hebat. Ia sempat mengabaikannya, namun getaran itu tak kunjung berhenti.
Ia menepi sebentar untuk melihat layar. Sepuluh panggilan tak terjawab dari Rian. Dan satu pesan WhatsApp dari Ibu:
Ibu: Rian mengurung diri di kamar karena malu motornya mau ditarik leasing. Tetangga semua melihat orang leasing datang tadi sore. Kamu benar-benar mau menghancurkan keluarga sendiri, Al? Ibu nggak sangka kamu sekejam ini setelah sukses.
Dulu, pesan ini akan membuat Alana gemetar di tempat kerja, merusak fokusnya, dan membuatnya segera mentransfer uang. Tapi sekarang, ia hanya menatap layar itu dengan datar. Ia mengambil foto pemandangan tebing dan laut di depannya, lalu mengetik balasan:
Alana: Bagus kalau dia malu, Bu. Itu artinya dia masih punya nurani. Biar dia belajar tanggung jawab. Alana sedang bekerja di lokasi proyek, tolong jangan ganggu jam kerja Alana kalau bukan urusan darurat medis.
Alana menyimpan kembali ponselnya. Ia merasakan kepuasan yang aneh—sebuah rasa merdeka yang kecil namun sangat berarti.
"Keluarga lagi?" tanya Pradipta, yang rupanya sudah berada di dekatnya.
"Hanya... suara-suara dari masa lalu, Pak," jawab Alana tenang.
Pradipta menatap laut luas di depan mereka. "Biarkan suara itu tertelan ombak di bawah sana. Malam ini, setelah ini selesai, saya akan mengajakmu makan malam. Bukan sebagai atasan, tapi sebagai rekan yang ingin merayakan keberanianmu hari ini."
Alana menatap profil samping Pradipta. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu memakai topeng "wanita kuat" di depan pria ini. Karena Pradipta telah melihat retakannya, dan anehnya, pria itu justru menyukai cahaya yang keluar dari retakan tersebut.
"Saya akan sangat senang, Pak," jawab Alana tulus.