NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Tuan Ammar

Istri Kontrak Tuan Ammar

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Nikah Kontrak
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: hermawati

Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.

Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?

Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.

Sementara di sisi lain.

Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.


Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fakta Lain seorang Janda

Nina tak mendapati tas miliknya berada di kamar yang kemarin dia tempati. Padahal dirinya sudah terlanjur mandi dan kini hanya mengenakan bath rob serta handuk yang melilit di kepalanya.

Setiap bagian kamar, sudah Nina periksa. Tapi semua nihil. Travel bag berwarna biru tua berharga murah itu, tak jua dia temukan.

"Siapa yang pindahin? Apa mungkin di kamar Tuan Ammar? Tapi kayaknya nggak mungkin deh." Nina bermonolog.

Baju gamis dan dalamannya tadi, tidak mungkin bisa dikenakan lagi. Masa Nina harus mengenakan baju yang basah.

Beberapa menit, Nina hanya bisa mondar-mandir di kamar. Dia bingung harus bagaimana.

"Apa nanya ke Tuan Ammar aja ya? Tapi aku nggak enak." Nina menggigit ujung kuku jari telunjuk kanannya. "Tapi masa aku harus tidur sama baju anduk kayak gini, dan nggak pake celana dalam." Rasa cemas melanda, namun Nina bingung hendak berbuat apa.

Pada akhirnya, setelah sebelumnya memikirkan matang-matang. Nina memberanikan diri keluar kamar, dan berharap agar tidak bertemu dengan empunya Penthouse. Dia merasa sungkan, apalagi setelah kejadian tadi dan kemarin.

Baru saja menyapa suami kontraknya, Nina justru mendapati Ammar berteriak dengan kata yang dia tak mengerti. Jelas saja Nina terkejut, dia sampai memegangi dadanya.

Namun tak ada pilihan lain, Nina harus tetap menanyakan soal tas miliknya. Atau malam ini dia tidak tidur dengan menggunakan dalaman. Kalau ada serangga masuk, bagaimana? Membayangkannya saja membuatnya ngeri.

Tapi apa mungkin di tempat semewah ini ada serangga?

"Maaf Tuan! Saya tidak bermaksud mengganggu anda." Nina masih berdiri di depan pintu kamar.

Jarak mereka mungkin lebih dari lima meter. Ammar masih duduk di sofa yang sama, sejak Nina berpamitan untuk istirahat terlebih dahulu. "Saya hanya ingin menanyakan keberadaan tas milik saya." Dia meremas tali Bath rob berwarna putih yang melilit pada pinggang rampingnya. Sebenarnya Nina sedikit ngeri, apalagi tatapan Ammar begitu tajam padanya.

Belum ada tanggapan, Ammar hanya terus menatapnya dengan tatapan tajam namun sulit diartikan.

Merasa diabaikan, sepertinya Nina harus menyerah. Mungkin saja, tadi yang menyimpan tas miliknya itu Mister Damian, sehingga Tuan Ammar tidak mengetahuinya.

Khusus malam ini, sepertinya Nina harus tidur tanpa memakai dalaman. Semoga saja tidak ada serangga dan sejenisnya.

"Kalau begitu saya akan segera istirahat, Tuan! Maaf telah mengganggu anda." Nina menunduk sejenak dan kemudian berbalik. Dia merasa, keberaniannya sia-sia. Ammar mengabaikannya.

"Tunggu ..."

Perkataan Ammar membuat tangan Nina menggantung di udara. Sebenarnya dia hendak meraih gagang pintu, tapi urung dia lakukan. Lalu Nina berbalik, namun alangkah terkejutnya dia mendapati Ammar berdiri tak kurang berjarak dua meter tepat dibelakangnya.

Seingat Nina, lelaki itu tadi masih duduk di sofa. Perasaan nggak kedengaran suara langkah kaki.

"Iii ... Yaaa, Tu-an!"

"Kamu tadi tanya apa?" Ammar berpura-pura bodoh. Dia yang pengusaha sukses, mana mungkin lupa hal sepele seperti itu.

"Ehmm ..." Mendadak ada sesuatu yang terasa mengganjal di kerongkongannya. Tapi sebisa mungkin Nina berusaha menjawab, walau rasanya dirinya dilanda gugup. Aura mengintimidasi Ammar begitu kuat dan membuat perempuan nyali Nina, seketika ciut. "Saya mencari tas. Apa anda melihatnya?" Tanyanya tak yakin. Dia juga tak berani menatap lelaki jangkung itu.

Bayangan besar menutupi pandangannya, mata cokelat Nina menangkap sandal rumahan milik si empunya Penthouse. Dengan kata lain, Ammar kini berdiri tepat di depannya. Mungkin berjarak kurang dari setengah meter, karena dari tempatnya berdiri. Indera penciuman Nina menghirup aroma parfum maskulin, khas sekali pria itu.

Dagunya terangkat, jemari panjang Ammar yang melakukannya. Otomatis tatap mereka bertemu.

"Biasakan kalau berbicara, lihat orang yang kamu ajak bicara. Apa kamu tidak tau etika dasar?" Sebenarnya tindakan Nina itu justru benar, dengan kata lain menjaga pandangan. Tapi Ammar merasa tak rela jika perempuan ini tak menatapnya. Harga dirinya terluka karenanya. "Kamu bicara apa tadi?" Ini bukan telinga Ammar bermasalah, tapi dia sengaja melakukannya. Ingin saja menjahili istri barunya.

"Apa anda melihat tas milik saya, tuan?" Tanyanya. Keduanya masih saling bertatapan.

Ibu jari Ammar menyentuh bibir merah muda milik Nina. Terasa kenyal di ujung jarinya, bagaimana jika Ammar kembali mencicipinya? Toh dia berhak melakukannya.

Nina menangkap pergelangan tangan besar di depannya. "Maaf Tuan, saya tidak jadi bertanya. Saya akan istirahat saja." Setelahnya jemari itu terlepas dari dagunya. Nina langsung berbalik, berniat meraih gagang pintu.

Tapi sebelum meraihnya, pinggangnya direngkuh oleh tangan besar yang masih berbalut kemeja putih itu.

"Mau kemana kamu?" Suara Ammar memberat.

Nina berusaha memberontak, dia melepaskan tangan yang merengkuhnya. Sialnya, Ammar terlalu kuat dan sepertinya tak berniat melepaskannya.

"Diam lah, Nina! Atau aku akan melakukannya di sini." Ammar berbisik, seraya menggigit kecil daun telinga milik Nina.

Jangan tanyakan soal handuk yang melilit rambut Nina, gara-gara pemberontakannya tadi. Handuk di kepalanya terlepas dan tali bath rob nya mengendur.

"Tolong lepaskan saya, Tuan! Saya mohon." Nina mengiba. Matanya mulai berkaca-kaca, dia merasa takut. "Bukankah kita tak perlu berhubungan intim? Saya hanya perlu melakukan tindakan medis untuk mengandung pewaris anda." Meski panik, Nina berusaha memikirkan cara untuk lepas dari dekapan lelaki kekar itu.

"Apa kamu tidak dengar perkataan Damian? Lebih baik, kita melakukan proses alami." Ammar memejamkan matanya, begitu aroma wangi sabun yang tercium dari tubuh istrinya. Ini membuatnya mabuk. Hasratnya semakin menggebu-gebu.

"Tapi Tuan, saya lebih setuju kesepakatan awal." Tak apa jika harus kesakitan, saat melalui tahap inseminasi. Yang penting, Nina bisa terbebas dari pelampiasan nafsu pria ini.

Saat pemeriksaan tempo hari, dokter sempat menjelaskan apa saja yang dilakukan jika melakukan metode inseminasi. Lalu Nina juga sempat mendengar dari seorang ibu yang sudah berhasil melakukan metode tersebut, ketika dirinya menunggu Damian berbicara dengan dokter.

Tenang saja, Nina sudah terbiasa merasakan sakit. Baik fisik maupun psikis. Bedanya jika nanti dia menjalani metode tersebut, kali ini rasa sakitnya dibayar mahal dengan masa depan cerah dia dan si kembar.

"Di sini aku yang memiliki uang, aku membayar kamu untuk mengandung pewaris ku. Jadi terserah aku mau bagaimana metodenya." Ammar mengendurkan rengkuhannya, bukan untuk melepaskan. Tapi membuat Nina berbalik menghadapnya.

"Tuan ... Saya mohon, lepaskan saya." Pintanya dengan mata berkaca-kaca. Nina benar-benar merasa takut, apalagi postur tubuh lelaki didepannya begitu kekar. Berbeda dengannya yang bertubuh mungil. Tingginya hanya seratus lima puluh tujuh.

Ammar menggeleng tak setuju. Lalu tak ingin mendapatkan penolakan dari istri barunya, Ammar langsung membungkam bibir yang sedari tadi terus menolaknya.

Ini benar-benar sesuai dengan apa yang dibayangkan beberapa saat lalu. Bibir Nina rasanya manis. Hanya berciuman saja, sudah berhasil membuat tubuh Ammar terasa panas.

Namun setelah semenit kemudian, Ammar melepaskan ciuman itu. Dia merasa ada yang kurang. "Kamu pernah menikah, seharusnya aku tidak perlu mengajari cara berciuman. Kenapa kamu kaku sekali?" Dengusnya kesal.

Nina menggeleng kencang, "lepaskan saya Tuan!"

Bukannya melepaskan, Ammar justru mengangkat perempuan mungil itu, menggendongnya dan membawanya menuju sofa. Dengan kata lain, Nina sekarang duduk diantara kedua paha Ammar.

"Kapan terakhir kamu berciuman?" Tanyanya. Sebelum menikah dengan Leticia, Ammar pernah beberapa kali menjalin hubungan dekat dengan perempuan. Dan semuanya bisa menerima serta membalas ciumannya. Tapi kenapa Nina yang Notabenenya seorang janda, terasa kaku sekali. Seperti anak remaja saja.

"Mungkin lebih dari empat belas tahun." Nina ragu sekaligus malu. Dulu dia hanya menjalani rumah tangga atau tinggal bersama mantan suaminya. Hanya dengan hitungan bulan. Bahkan ketika si kembar lahir, mereka sudah pisah rumah. Lalu bercerai setelah si kembar berumur beberapa bulan.

"Apa???" Ammar terkejut bukan main. "Jadi kapan kamu terakhir berhubungan intim?" Dia ingin memastikan.

"Kurang lebih sama." Nina menunduk malu.

"Jadi selama ini, kamu tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun selain mantan suami kamu?" Ammar benar-benar tak habis pikir. Di zaman serba digital dan bebas seperti ini, ada perempuan yang masih bisa menjaga diri.

Nina mengangguk.

Ammar melirik ke arah belahan diantara bath rob yang dikenakan Nina, jakunnya naik turun membayangkan andai wajahnya tenggelam di sana. Tapi kemudian sisi kewarasan yang tersisa mengingatkannya untuk menahannya sebentar. Setidaknya dia harus mendengar penjelasan dari istri barunya itu soal masa lalu.

Ammar bukan tipe orang yang mempermasalahkan masa lalu seseorang, baginya masa depan lebih utama. Seperti ketika memutuskan bersama Leticia. Namun khusus Nina, Ammar merasa wajib mengulik lebih dalam.

Tidak lucu bukan, ketika mereka berhubungan intim nanti. Nina berteriak kesakitan layaknya perawan yang baru mengalami malam pertama. Apalagi ukuran icik bos mantan suami Nina, bisa jadi jauh lebih kecil darinya.

Supaya malam pertama mereka mengesankan, setidaknya Ammar harus menyesuaikan diri dan sedikit mengerem ketika melakukan kegiatan panas tersebut. Agar istrinya tidak kesakitan.

1
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
siapa ya? apakah ammar atau ibu tuti? lanjut kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
up lg kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
jangan jatuh cinta ya nina, karena jatuh cinta sendirian itu sakit...
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
mudah mudahan nina hamil
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
cerita nya bagus, update nya jangan lama2 kak🙏
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀: aamiin,, cepat sembuh kak🤲🏼
total 2 replies
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
nina apa sofia kak
Mareeta: maaf banget ya, aku typo Mulu.
agak nggak konsentrasi. ngerjainnya kadang malam dan nggak sempat edit.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!