Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.
Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.
“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”
Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
“Ayah mengira aku akan diam saja setelah Ayah mematahkan satu-satunya harapan Ibu untuk bebas?”
Bocah itu berdiri di ambang pintu ruang kerja pribadi Damian yang berlapis baja. Di paviliun belakang, suara hantaman palu para pengawal yang sedang memasang papan segel di pintu studio Alisha masih terdengar lamat-lamat. Damian tidak menoleh. Ia tetap duduk di kursi kulitnya, menatap layar monitor yang menampilkan grafik saham Sagara Group yang fluktuatif.
“Kembali ke kamarmu, Arka. Ini urusan orang dewasa,” sahut Damian tanpa emosi.
“Urusan orang dewasa yang Ayah selesaikan dengan cara pengecut?” Arka melangkah masuk tanpa rasa takut.
Damian akhirnya berbalik. Ia menatap putranya dengan dahi berkerut. “Jaga bicaramu. Aku melakukan ini untuk melindungi kalian dari Elvira Wirawan. Dia bukan klien, dia adalah predator.”
“Ayah mengunci ibu karena takut dia lebih dikenal dunia daripada namamu.” Arka tidak mundur satu langkah pun.
“Ayah tidak sedang melindunginya, tapi sedang menguburnya hidup-hidup.”
Damian terdiam. Ia melihat api kemarahan di mata Arka, sesuatu yang sangat mirip dengan sorot mata Alisha saat ia marah. Damian menarik nafas panjang dan menunjuk ke arah papan catur yang terletak di meja samping.
“Duduk!” perintah Damian. “Jika kau ingin berdebat denganku tentang kebebasan, buktikan kau cukup cerdas untuk memenangkan permainan ini.”
Arka menarik kursi kayu berat itu dengan suara decitan yang memilukan. Ia menatap bidak-bidak catur yang sudah tertata rapi.
Damian memegang pion hitam, sementara Arka memegang putih. Permainan dimulai dalam kesunyian yang mencekam. Di luar, kilat menyambar, menerangi wajah Damian yang tampak seperti patung batu yang tak punya hati.
“Dalam setiap langkah, kau harus memikirkan pengorbanan,” ujar Damian sambil menggerakkan kudanya. “Sama seperti aku mengorbankan studio ibumu untuk memastikan Wirawan tidak memiliki celah untuk masuk ke rumah ini.”
“Pengorbanan itu hanya sah jika orang yang dikorbankan setuju, Ayah.” Arka menggerakkan menterinya dengan cepat. “Jika tidak, itu namanya perampokan.”
Damian tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang penuh pengakuan. Selama satu jam berikutnya, ruang kerja itu menjadi saksi bisu peperangan strategi antara ayah dan anak. Damian mulai mengajari Arka tentang bagaimana cara membaca gertakan lawan dan bagaimana cara menyembunyikan rasa takut di balik wajah yang tenang. Ia ingin membentuk Arka menjadi pemimpin yang kuat, namun ia tidak menyadari bahwa ia sedang mengasah pedang yang akan berbalik arah kepadanya.
“Kau terlalu fokus pada pertahanan luar, Ayah,” gumam Arka saat permainan mencapai puncaknya.
“Pertahanan luar adalah segalanya jika musuhmu memiliki tentara yang besar,” sahut Damian yakin.
“Tapi Ayah lupa bahwa musuh yang paling berbahaya adalah musuh yang sudah berada di dalam sistemmu.” Arka menatap layar komputer Damian yang masih menyala di belakang ayahnya.
Tiba-tiba, ponsel Damian bergetar hebat di atas meja. Sebuah panggilan darurat dari tim IT pusat. Damian mengerutkan kening dan mengangkat telepon itu.
“Tuan, sistem server pribadi Anda baru saja ditembus.” Suara di seberang sana terdengar panik.
“Seseorang menggunakan akses administratif dari dalam kediaman Anda sendiri.”
Damian membeku. Ia perlahan menurunkan ponselnya dan menatap Arka. Bocah itu masih menatap papan catur dengan tenang, namun tangan kirinya sedang memegang sebuah alat kecil, sebuah pemancar sinyal jarak pendek yang ia rakit sendiri.
“Arka?” Suara Damian terdengar parau.
“Aku tidak butuh izinmu untuk melihat kebenaran.” Arka mendongak. “Dan sistemmu memang selemah yang aku duga.”
Damian segera berbalik ke arah monitor besarnya. Ia melihat layar itu berkedip-kedip sebelum menampilkan sebuah folder yang terkunci dengan enkripsi tingkat dewa.
Nama folder itu adalah Mawar Jakarta.
Arka telah berhasil mem-bypass protokol keamanan biometrik Damian saat sang ayah sedang asyik memberikan ceramah tentang strategi catur.
“Jangan buka itu, Arka!” teriak Damian sambil mencoba meraih papan ketik.
“Sudah terlambat,” bisik Arka.
Layar monitor itu meledak dalam ribuan jendela foto yang terbuka secara otomatis. Damian terpaku. Rahasianya yang paling gelap kini terpampang nyata di depan mata putranya. Folder itu berisi ribuan foto Alisha selama enam tahun terakhir. Bukan sekadar foto, tapi laporan spionase yang sangat mendalam.
Ada foto Alisha saat baru melahirkan Arka di sebuah klinik desa yang kumuh. Ada laporan tentang setiap butir beras yang Alisha beli di pasar tradisional. Ada catatan tentang suhu tubuh Alisha saat wanita itu jatuh sakit karena kelelahan bekerja.
Foto-foto itu diambil dari jarak jauh, dari balik semak-semak, dari dalam mobil yang gelap, dan dari atas atap rumah tetangga mereka di pesisir.
“Laporan Investigasi Subjek A.” Arka membaca judul salah satu dokumen dengan suara yang bergetar.
Damian merasakan dunianya seolah berhenti berputar. Ia melihat foto Alisha yang sedang tersenyum menatap laut, tanpa tahu bahwa di belakangnya ada laras lensa tele yang sedang merekam setiap helai napasnya.
Damian selama ini selalu mengaku baru menemukan mereka melalui detektif swasta beberapa bulan lalu. Namun folder ini membuktikan kebohongan besar itu.
“Ibu tidak pernah benar-benar pergi.”
Arka menoleh ke arah Damian dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh kebencian.
“Tapi Ayah membiarkan dia menderita di desa itu. Kau membiarkan dia menangis karena tidak punya uang untuk membelikan aku susu, hanya agar kau bisa menontonnya dari kejauhan?”
“Arka, dengarkan Ayah... itu untuk memastikan kalian tetap aman dari Raina.” Damian mencoba membela diri, namun suaranya terdengar hampa.
“Aman?” Arka tertawa getir. “Kau adalah monster yang paling menakutkan, Ayah. Kau membiarkan kami hidup di dalam kandang yang tidak terlihat selama enam tahun. Kau membiarkan Ibu berjuang sendirian hanya untuk memuaskan rasa hausmu akan kontrol.”
Arka menarik nafas panjang dan mengklik satu dokumen lagi di bawah folder tersebut. Isinya adalah bukti transfer rahasia ke butik-butik kecil tempat Alisha biasa menitipkan jahitannya di desa. Damian ternyata adalah pembeli bayangan yang selama ini menyokong hidup Alisha secara anonim, memastikan Alisha tidak akan pernah bisa benar-benar mandiri tanpa campur tangannya yang tak terlihat.
“Dia bukan cintamu, Ayah,” ujar Arka dengan nada yang sangat dingin.
“Tapi dia adalah koleksimu.”
Damian terdiam seribu bahasa. Skakmat yang sebenarnya bukan terjadi di atas papan catur, melainkan di dalam hati nurani yang baru saja dipreteli oleh anaknya sendiri. Ia melihat Arka berdiri dan berjalan menuju pintu.
“Mau ke mana kau?” tanya Damian lemah.
Arka berhenti di ambang pintu. Ia menoleh sedikit, memberikan tatapan yang akan menghantui Damian selama sisa hidupnya. "
“Aku akan pergi menemui Ibu. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkanmu menjadi pahlawan palsu di hadapannya lagi.”
“Arka, jangan lakukan itu!” Damian bangkit, namun kakinya terasa sangat berat.
“Ayah bilang ksatria harus menjaga mahkotanya, bukan?” Arka tersenyum pahit. “Sekarang Ayah akan tahu bagaimana rasanya saat mahkota itu sendiri yang memilih untuk menghancurkan kerajaannya.”
Arka melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Damian sendirian di tengah ribuan foto Alisha yang memenuhi layar.
Di luar, badai semakin mengamuk, seolah alam sedang ikut meratapi terbongkarnya sebuah kebenaran yang terkubur selama enam tahun. Damian jatuh terduduk di kursinya, menyadari bahwa ia baru saja kehilangan hal yang paling ia takuti, rasa hormat dari putranya sendiri.
Di koridor yang gelap, Arka bertemu dengan Alisha yang sedang berdiri dengan wajah pucat. Alisha ternyata sudah berada di sana cukup lama untuk mendengar percakapan mereka. Air mata mengalir di pipi Alisha saat ia menatap Arka yang kini memegang tablet berisi data Mawar Jakarta.
“Ibu,” bisik Arka sambil memeluk pinggang ibunya erat-erat.
Alisha tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap pintu ruang kerja Damian yang masih terbuka. Ia menyadari bahwa tembok-tembok mansion ini tidak hanya dibangun untuk melindunginya, tapi juga untuk menyembunyikan kenyataan bahwa ia adalah tawanan yang tidak pernah diberi tahu bahwa gerbangnya selalu terbuka, namun selalu diawasi oleh mata yang sama.
“Ayo pergi ke kamar, Sayang,” ujar Alisha dengan suara yang sangat dingin.
Malam itu, di kediaman Sagara, perang yang sebenarnya baru saja pecah. Bukan perang melawan musuh di luar sana, melainkan perang di dalam satu atap yang kini terasa lebih dingin dari kuburan manapun di Jakarta.