Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kue, Sekolah Dan Ketegaran( Bg Randi)
Hari-hari tetap berjalan, tetapi tanpa arah yang jelas. Sejak ayah pergi, rumah kami seperti kehilangan nadinya. Pintu rumah selalu terbuka setiap pagi, seolah berharap langkah itu kembali terdengar. Namun yang datang hanyalah angin dan debu jalanan yang masuk pelan, lalu pergi tanpa jejak. Ibu mulai bangun lebih awal, tidur lebih larut, dan tersenyum lebih sering—senyum yang kelak kami pahami sebagai cara paling sunyi untuk menutupi lelah dan rindu. Sejak hari itu, kami belajar hidup dengan satu kekosongan yang tak pernah disebutkan, tetapi selalu terasa di setiap sudut rumah.
Walaupun Bang Randi tak pernah benar-benar merasakan kasih sayang ayah sepenuhnya, kepergian itu tetap meninggalkan kehilangan. Ada ruang yang tiba-tiba kosong, ruang yang tak bisa diisi siapa pun. Tak ada lagi sosok yang berteriak saat ia berlari-larian di halaman rumah, tak ada suara keras yang biasanya membuatnya berhenti sejenak sebelum tertawa lagi. Kehilangan itu mungkin tak bernama, tetapi ia hadir—diam-diam menekan dada, membuat napas terasa lebih pendek dari biasanya.
Sejak ayah pergi, ibu menjadi pusat dari segalanya. Ia bangun sebelum fajar, menyiapkan hari kami dengan langkah yang tak pernah benar-benar ringan. Di matanya, Bang Randi sering melihat lelah yang disembunyikan rapi—lelah karena harus kuat sendirian, karena rindu yang tak sempat ditangisi. Namun ibu tak pernah benar-benar mengeluh. Ia memilih terus bergerak, seolah dengan bekerja tanpa henti, rasa takut dan cemas bisa diredam sebelum sempat tumbuh lebih besar.
Hari-hari ibu kemudian diisi dengan membuat kue. Dapur kecil kami tak pernah benar-benar sepi. Bau adonan dan minyak panas menjadi bagian dari pagi kami. Kami, anak-anaknya, ikut membantu sebisanya—mengaduk adonan, membungkus kue, atau sekadar menemani ibu bekerja dalam diam. Yang bertugas menjajakan kue keliling kampung adalah Kak Rita, Bang Al, Bang Ari, dan Bang Randi. Sebelum pukul tujuh pagi, mereka harus sudah kembali ke rumah. Habis atau tidak habis, dagangan tetap ditinggalkan, karena masih ada kewajiban lain yang menunggu: sekolah.
Kak Rita dan Bang Randi yang masih duduk di sekolah dasar sering membawa sisa dagangan ke sekolah. Awalnya Kak Rita mengira itu hal biasa—sekadar membantu ibu. Namun Bang Randi segera tahu, sekolah tak selalu ramah pada anak-anak yang membawa beban rumah ke dalam tas mereka.
Suatu sore, sepulang sekolah, Bang Randi duduk di samping Kak Pipi di teras rumah. Baki kue yang ia bawa masih menyisakan beberapa potong, dingin dan tak lagi menarik. Ia tak banyak bicara. Matanya menunduk, bahunya terlihat lelah. Kak Pipi memperhatikannya lama sebelum akhirnya bertanya pelan,
“Di sekolah kenapa, Ran? Kok kelihatan capek sekali?”
Bang Randi diam sebentar. Tangannya memainkan ujung baju, napasnya ditarik dalam-dalam, seolah sedang mengumpulkan keberanian.
“Mereka ngetawain aku, Kak,” ucapnya akhirnya, suaranya pelan.
Kepada Kak Pipi, Bang Randi bercerita bagaimana saat jam istirahat ia berdiri di sudut halaman sekolah, menawarkan kue dengan suara yang dibuat sekuat mungkin. Beberapa teman membeli, tetapi lebih banyak yang menertawakan. Ada yang memanggilnya pedagang kecil, ada yang menirukan caranya menawarkan kue dengan nada mengejek, bahkan ada yang sengaja memanggil teman-temannya hanya untuk menunjuk dan tertawa.
“Ayahmu nggak kerja, ya?” tanya salah satu dari mereka sambil terkekeh.
Bang Randi tak menjawab. Ia hanya menunduk, berharap bel segera berbunyi dan semua itu cepat berakhir.
Ia bilang pada Kak Pipi, yang paling menyakitkan bukan ejekan mereka, melainkan tatapan-tatapan itu—tatapan yang membuatnya merasa berbeda, seolah lebih rendah hanya karena harus menjual kue. Ia ingin marah, ingin menangis, tetapi yang keluar hanyalah diam. Ia takut jika melawan, kue-kue itu tak akan laku sama sekali.
Kak Pipi tak langsung menjawab. Ia hanya menepuk pundak Bang Randi pelan, seolah ingin menyalurkan kekuatan lewat sentuhan kecil itu.
“Kamu kuat, Ran,” katanya akhirnya, meski matanya berkaca-kaca. “Kamu melakukan ini bukan karena kamu lemah, tapi karena kamu berani bantu ibu.”
Malam itu, Bang Randi berbaring sambil menatap langit-langit rumah. Tubuhnya lelah, tetapi hatinya jauh lebih letih. Ia ingin seperti anak-anak lain—datang ke sekolah tanpa beban, pulang tanpa rasa malu. Namun hidup tak memberi banyak pilihan. Dan sejak hari itu, ia tahu, masa kecil mereka perlahan berubah bentuk—menjadi lebih keras, lebih sunyi, dan penuh pelajaran yang datang terlalu cepat.