NovelToon NovelToon
Di Manja Suami Om-Om

Di Manja Suami Om-Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta setelah menikah / Cintamanis
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Hari yang dinantikan akhirnya tiba.

Pernikahan Nara dan Arkan digelar di sebuah hotel mewah di pusat kota. Tidak ada pesta besar-besaran seperti yang sering muncul di media sosial. Undangan hanya sekitar seratus orang, keluarga kedua mempelai dan beberapa sahabat dekat Arkan.

Namun bagi Arkan, itulah bentuk kesederhanaan yang ia inginkan. Bagi Nara, hari itu terasa seperti dongeng.

Gaun putih yang membalut tubuh Nara membuatnya tampak begitu anggun. Kainnya jatuh lembut mengikuti setiap langkahnya, berkilau terkena cahaya lampu kristal. Saat Arkan menyematkan cincin di jari manisnya, Nara hampir menitikkan air mata. Berlian kecil itu memantulkan cahaya indah, seindah perasaan yang kini memenuhi dadanya.

Nara resmi menjadi istri Arkan.

Orang tua Nara menatap dari kursi tamu dengan perasaan campur aduk. Terutama ayahnya. Ada penyesalan yang tidak bisa disembunyikan dari sorot matanya. Dulu ia sempat meragukan masa depan Nara, merasa putrinya terlalu polos dan bermimpi terlalu tinggi.

Kini, Nara berdiri cantik di samping pria mapan dan terhormat. Bahagia. Dicintai. Dihormati.

Acara berlangsung singkat, sesuai keinginan Arkan. Tidak ada pesta panjang hingga malam. Setelah sesi foto keluarga dan ucapan selamat, satu per satu tamu mulai pamit.

Keluarga Nara pun bersiap pulang lebih dulu. Ayah Nara memeluk putrinya erat, matanya berkaca-kaca.

“Tetap ingat sama ayah, ya,” ucap Ayahnya Nara lirih.

“Kalau sempat, jenguk ayah sama ibu. Jadi istri yang baik, nurut sama suami.”

Nara mengangguk sambil menahan haru. “Iya, Yah.”

Arkan ikut mendekat dan menunduk hormat.

“Saya janji akan menjaga Nara sebaik mungkin,” kata Arkan mantap.

Ayah Nara menepuk bahu Arkan, kali ini dengan senyum penuh kepercayaan.

Setelah keluarga Nara pergi, Nara menatap ruangan yang mulai sepi. Kemarin ia masih seorang mahasiswi sederhana. Sekarang, ia telah menjadi istri seorang pria yang mengubah hidupnya dalam waktu singkat.

Arkan menggenggam tangan Nara erat. “Mulai hari ini,” ucap Arkan pelan,

“kamu milik aku. Dan aku tanggung jawab atas hidup kamu.”

Jantung Nara berdebar. Ia tersenyum bahagia.

Hidupnya benar-benar telah memasuki bab baru. Menjadi istri dari orang yang belum sepenuhnya ia kenal.

***

Nara berdiri terpaku di tengah kamar hotel yang sangat luas.

Lampu-lampu hangat memantul di dinding kaca besar, memperlihatkan pemandangan pusat kota yang berkilau seperti lautan bintang. Tempat tidur king size dengan seprai putih rapi tampak begitu empuk, apalagi di atas kasur ada bunga yang bertebaran khas kamar pengantin. Sementara sofa elegan dan meja kecil di sudut ruangan membuat Nara merasa seperti masuk dunia lain.

Nara belum pernah masuk ke hotel, hanya sekali dulu, saat study tour waktu SMK, ia pernah menginap di hotel. Hotel kecil. Satu kamar berisi empat orang. Kasurnya keras dan jendelanya menghadap tembok.

Sekarang, Ia berada di kamar hotel mewah sebagai istri Arkan. Perubahan hidupnya terasa tidak masuk akal.

“Suka?” Suara Arkan terdengar lembut di belakang Nara. Tangan pria itu melingkar di pinggang Nara, menariknya ke dalam pelukan hangat yang membuat jantung Nara langsung berdegup lebih cepat.

“Suka banget…” jawab Nara jujur sambil tersenyum.

Arkan terkekeh kecil, dagunya menyentuh pundak Nara.

“Kapan mulai libur kuliah?” tanya Arkan.

Nara berpikir sebentar. “Dua minggu lagi.”

“Hmm…” Arkan mendekatkan bibir ke telinga Nara, suaranya dibuat lebih pelan.

“Jadi… sudah tahu mau honeymoon ke mana?”

Nara merinding seketika. Bukan karena takut, tapi karena cara Arkan mengucapkannya terlalu dekat, terlalu hangat.

Nara terdiam. Seumur hidupnya, Nara hampir tidak pernah pergi liburan. Pantai saja hanya ia lihat dari televisi. Gunung hanya lewat foto teman. Ke luar kota pun jarang. Ke mana ia harus memilih?

“Aku… belum tahu,” ucap Nara akhirnya jujur.

“Nara belum pernah jalan-jalan jauh. Bingung mau pilih yang mana.” kata Nara lagi.

Arkan memutar tubuh Nara agar menghadapnya. Tatapan pria itu penuh senyum, lembut sekaligus penuh arti.

“Berarti tugas aku sebagai suami,” kata Arkan pelan,

“memperkenalkan dunia ke kamu.” kata Arkan lagi yang membuat pipi Nara langsung memanas.

“Kita bisa ke mana pun kamu mau. Paris, Jepang, Korea, Turki, Maldives, atau keliling Indonesia dulu juga boleh.”

Mata Nara membulat. “Itu… jauh banget semua,” gumam Nara tak percaya.

Arkan tertawa kecil. “Sekarang semua itu bukan mimpi buat kamu lagi.”

Nara menelan ludah. Hidupnya terasa benar-benar berubah sejak mengenal Arkan.

“Kalau aku mau yang sederhana dulu?” tanya Nara ragu.

“Pantai aja, yang airnya biru, pasirnya putih.”

Arkan mengangguk tanpa ragu. “Oke. Kita ke pantai dulu. Honeymoon pertama harus yang bikin istri aku tenang dan bahagia.”

Kata “istri aku” membuat hati Nara bergetar manis.

Arkan kembali memeluk Nara, “Tapi sebelum mikirin honeymoon,” bisik Arkan, suaranya lebih dalam,

“sekarang kita nikmati malam pertama kita sebagai suami istri.”

Nara refleks menahan napas. Wajahnya merah padam, jantungnya berdetak begitu kencang.

Di luar jendela, lampu kota terus berkelip. Di dalam kamar mewah itu, kisah cinta mereka resmi dimulai, bukan lagi sebagai dua orang asing, tapi sebagai pasangan yang baru saja mengikat janji seumur hidup.

***

Nara membuka mata, dan pemandangan yang pertama kali Nara lihat adalah wajah tampan suaminya, Nara tersenyum malu mengingat apa yang baru saja dia lakukan dengan suaminya, pandangan Nara beralih ke dada bidang milik suaminya, meskipun tinggal satu rumah, tapi ini pertama kali Nara melihatnya, "ternyata mirip punya aktor china." Bisik Nara di dalam hati, karena saat ini Nara sedang hobi menonton drama China.

"Sudah bangun?" Pertanyaan Arkan membuat Nara kaget, apalagi mata Arkan masih terpejam.

Nara mengangguk sebagai jawaban, dan Arkan kembali membawa tubuh istrinya kedalam pelukan.

"Ada yang sakit? Atau tidak nyaman?" Pertanyaan Arkan membuat Nara malu.

"Apa sih." Jawab Nara yang terdengar sangat malu.

Arkan hanya tertawa kecil, karena benar-benar mendapatkan jackpot, gadis baik-baik dan Arkan tahu ini yang pertama bagi Nara.

Nara menunduk, menyembunyikan wajahnya di dada Arkan yang hangat. Jantungnya masih berdetak cepat, bukan karena lelah, tapi karena rasa malu yang bercampur bahagia.

Arkan membuka satu matanya, menatap istrinya yang kini resmi menjadi bagian hidupnya.

“Kenapa sembunyi?” goda Arkan lembut.

Nara menggeleng kecil. “Pak Arkan bikin aku malu terus…” jawab Nara.

Arkan tertawa pelan, suaranya berat khas orang baru bangun tidur.

“Kamu lucu banget kalau malu, dan kamu tadi panggil apa?” ujar Arkan sambil mengusap rambut Nara dengan penuh sayang.

Nara menggigit bibirnya, tidak tahu harus memanggil suaminya dengan sebutan apa.

“Sekarang sudah jadi istriku, jadi panggilan juga harus di ganti.” kata Arkan.

Nara memberanikan diri menatap wajah suaminya. Dari jarak sedekat ini, Arkan terlihat semakin tampan, bukan tampan yang dingin, tapi hangat, menenangkan.

“Aku masih nggak nyangka,” gumam Nara jujur. “Kemarin aku cuma anak yang hidup pas-pasan… sekarang bangun tidur sudah jadi istri orang kaya.”

“Kamu baik, jadi aku ngga mau kehilangan kesempatan untuk aku nikahi,” Arkan menimpali lembut.

“Aku menikahi Nara yang baik, pekerja keras, dan bikin rumah terasa hidup.”

Hati Nara langsung menghangat. Arkan mengecup keningnya pelan.

“Mulai sekarang, apa pun yang kamu mau capai, kuliah, mimpi, cita-cita, aku di belakang kamu.”

Mata Nara terasa panas.

“Terima kasih sudah memilih aku, padahal Pak Arkan bisa dapat perempuan yang lebih sempurna.”

Arkan menggeleng tegas.

“Buat aku, kamu sudah lebih dari cukup.”

Arkan memeluk Nara lebih erat, seolah takut kehilangan.

"Tapi kalau kamu memanggil aku bapak lagi, maka aku akan menghukum kamu." kata Arkan.

"Jadi aku harus panggil apa?" tanya Nara.

"Coba kamu cari panggilan yang tepat." kata Arkan.

"Suamiku." jawab Nara yang membuat Arkan tersenyum dan menarik selimut untuk kembali menutupi tubuh mereka.

"Kamu mau apa?" teriak Nara dari dalam selimut dan Arkan tidak menjawab.

1
Risma Surullah
alurnya bagus
Mita Paramita
hempaskan pelakor 🤣🤣🤣
Drama Queen
lanjut
piah Hasan
1001 ya cara pwrempuan mau jadi pelakor..
Uthie
keep dulu ya 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!