Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.
Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.
Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.
"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Realita untuk Nadira
Tubuh Nadira lemas. Matanya menatap kosong ke arah Arga, masih memproses informasi yang didengar. Bibir terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu namun suaranya tercekat di tenggorokan.
"Aku sudah menceraikan kamu, Nadira. Kamu nggak lupa, kan?"
Arga menatap mantan istrinya dengan prihatin. Namun, setelah malam lamaran itu, dia sudah memutuskan semua hubungan dengan masa lalu, termasuk berhenti berharap pada Nadira.
Air mata Nadira mengalir tanpa bisa dicegah. Dadanya terasa sesak. "M-mas..."
Nadira melihat ruangan tiba-tiba berputar. Tubuhnya limbung dan tergeletak lemah di lantai. Sebelum kehilangan kesadarannya, terdengar suara Andini yang berteriak memanggilnya.
"Ibu!"
Beberapa detik kemudian, semuanya menjadi gelap. Nadira jatuh pingsan karena realita yang tak sesuai dengan harapannya.
Andini menangis sambil menggoyangkan tubuh Nadira. Sementara Rini dengan gesit memeriksa kondisi perempuan itu.
"Mas," panggil Rini saat melihat Arga yang hanya diam membatu tanpa melakukan apapun. Ia menggelengkan kepala dan fokus menangani Nadira.
Arga mengepalkan tangan di atas lutut. Ia ingin membantu, namun bersikeras menahan diri. Akhirnya, pria itu memilih keluar dari rumah dan duduk di teras sambil menatap menerawang jauh.
Di dalam rumah, Rini berusaha menyadarkan Nadira dengan mendekatkan minyak angin ke hidungnya.
"Ibu, ibu Dini nggak papa, kan?" tanya Andini sembari menangis kencang.
Rini mengusap punggung Andini dengan lembut. "Nggak papa. Ibu kamu hanya kecapean. Sebentar lagi juga sadar."
Andini mengangguk mengerti. Ia memeluk tubuh Nadira dengan erat. "Dini udah lama nggak ketemu ibu. Kenapa ibu malah sakit?" isak gadis itu.
Rini tertegun. Ia menatap Andini dan Nadira secara bergantian. Sebuah perasaan bersalah menyelinap. "Kalo aku nikah dengan Mas Arga, bukankah itu sama aja aku menghancurkan keutuhan keluarga mereka?" batin Rini.
"Sekarang, Mbak Nadira sudah kembali. Apa Andini masih akan membutuhkan aku?" Ia menatap cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Kalo udah bangun, panggil Ibu ya, Din. Ibu di depan sama Ayah," pesan Rini dan segera beranjak dari ruangan.
Rini berdiri di ambang pintu dan memperhatikan Arga yang tenggelam dalam lamunan. "Mas Arga pasti sekarang bingung. Mbak Nadira sudah kembali dan besok dia akan menikah denganku."
"Mas..."
Rini menyentuh bahu Arga, menarik kesadaran pria itu.
Arga menoleh, ia tersenyum tipis. Tangannya yang kekar dan kasar spontan menyentuh tangan Rini di bahunya.
"Gimana? Dia udah sadar?" tanya Arga lembut.
Rini menggeleng. "Mbak Nadira kayaknya bukan pingsan hanya karena syok, tapi juga kelelahan. Jadi, biarin aja dia istirahat dulu. Andini nemenin dia di dalam," jawab Rini lalu duduk di samping Arga.
Arga menghela napas. "Dia memang sering begitu sejak dulu. Aku sudah terlalu sering tertipu alasan sakitnya."
"Giliran disuruh berobat, uangnya malah dipake belanja." Ia tersenyum pahit, mengingat kebohongan Nadira yang selalu dia maklumi saat itu.
"Tapi, kondisi Mbak Nadira sekarang terlihat nggak baik-baik aja, Mas. Wajah dan tubuhnya kurus kering. Matanya cekung, tangannya lecet-lecet."
"Dia pasti menghadapi hidup yang sulit selama di kota," ucap Rini prihatin.
"Itu pilihan dia, Rini. Kalo dengan ucapan lembut tidak membuat dia sadar, mungkin memang harus seperti itu dulu, baru dia mengerti," jawab Arga cepat.
"Mas..." Rini mengerti, calon suaminya itu memendam luka yang yang teramat dalam.
"Sudahlah. Tidak perlu dipikirkan. Lebih baik kamu pulang dan beristirahat, besok kita akan menikah!" pungkas Arga.
"Kamu yakin mau melanjutkan pernikahan kita, Mas?" Rini menatap Arga dengan tatapan ragu.
Kening Arga berkerut dalam. "Apa maksud kamu, Rini? Tentu saja aku yakin. Kita sudah mempersiapkannya beberapa minggu ini."
"Tapi, Mbak Nadira udah kembali, Mas. Apa kamu nggak berniat rujuk lagi dengannya?" tanya Rini, mengungkap keresahannya.
Arga menggeleng tegas.
"Demi Andini, Mas?" tanya Rini lagi, memastikan.
"Rini, kamu ini bicara apa? Kita akan menikah besok, bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu?" tanya Arga heran.
Ia bangkit berdiri, berusaha menekan emosi. Bukan karena marah pada Rini, tapi takdir yang seolah mempermainkannya.
Rini ikut bangkit dan menatap punggung suaminya. "Aku nggak mau Andini tumbuh dan suatu hari membenciku karena merasa aku merebut ayahnya."
"Kamu tidak merebutku, Rini!" tegas Arga sambil memutar tubuh.
"Sejak awal dia sendiri yang menginginkan rumah tangga ini berakhir!" lanjutnya dengan yakin.
"Aku sudah pernah menunggu dan berharap dia pulang. Sekarang aku sudah berhenti berharap. Lagipula, aku sudah menceraikan dia. Surat cerainya juga sudah keluar," tutur Arga berusaha meyakinkan.
"Kamu ini kenapa bisa berpikir aku akan kembali bersamanya?"
Rini menunduk dalam.
Arga meriah tangan Rini dan menggenggamnya erat. "Andini udah sayang sama kamu, Rin. Kamu yang ada di saat dia membutuhkan sosok seorang ibu. Dia begitu antusias memamerkan kamu pada semua orang."
"Apa kamu tega mengecewakan hatinya?"
"Tapi, Mas… bagaimana kalau Andini berharap kalian kembali bersama?"
Ketakutan itu terpancar jelas di mata Rini. Ia tidak ingin jadi perusak, tapi, dia juga tidak ingin kehilangan Arga dan Andini yang sudah menjadi pelengkap dalam hidupnya.
"Ibu! Ayah! Ibu Nadira udah bangun...," panggil Andini sembari berlari keluar.
Rini menatap mata Arga, ia pasrah pada keputusan pria itu.
Bersambung...
bagusan tu nadira pergi jauh2 deh dr hidup arga
guntur deketin nadira aj di larang arga,hawatir yg berlebih bisa memicu kecemburuan bidan rini.
bibit" clbk nh