NovelToon NovelToon
Suamiku Kuli Bangunan ~ Penyesalan Setelah Bercerai

Suamiku Kuli Bangunan ~ Penyesalan Setelah Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nelramstrong

Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.

Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.

Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.

"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerjaan untuk Nadira

"Mbak, aku pergi cari kerja sendiri aja. Mbak Sri bisa pergi nyari rongsokan," kata Nadira.

Mereka sudah berdiri beberapa meter sebelum pintu masuk pasar.

"Kamu yakin mau pergi sendiri? Biar saya kenalkan pada temen saya. Siapa tahu dia ada pekerjaan yang cocok untukmu," ujar Sri menawarkan.

"Nggak perlu, Mbak. Aku pergi sendiri aja."

Tanpa menunggu jawaban, Nadira segera melangkah pergi meninggalkan Sri.

"Aku cari kerja ke mana, ya?" gumam Nadira menyusuri jalanan di pasar.

Tatapannya tertuju pada seorang penjual ikan yang nampak sibuk melayani pembeli. Lapaknya terlihat ramai. Melihat itu, Nadira tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia segera mendekat.

"Bu, butuh asisten nggak? Saya sedang cari kerja," ucap Nadira tak sabaran.

Penjual ikan itu tidak merespon karena terlalu sibuk melayani pembeli.

Nadira berdecih. "Bu, saya melihat ibu kerepotan. Boleh saya bantu?!"

Nada suaranya naik, menarik perhatian beberapa pembeli yang menatapnya sinis sebelum kembali sibuk dengan ikan yang mereka beli.

"Bu..."

Nadira hendak kembali berkata, namun tanpa diduga penjual ikan itu justru menggebrak meja.

"Berisik! Mau kamu apa sih?!" bentak penjual ikan itu, melotot pada Nadira.

Nadira seketika mundur, nyalinya menciut. "S-saya sedang cari kerja, Bu. Saya melihat ibu kerepotan melayani pembeli. Jadi, saya pikir ibu butuh..."

"Saya nggak butuh. Pergi sana!" usirnya sambil mendorong tubuh Nadira yang hampir terjengkang ke belakang.

"Ganggu konsentrasi saja!"

Nadira, merasa malu karena jadi tontonan banyak orang memilih pergi meninggalkan lapak itu.

"Aku harus cari ke mana lagi?" gumamnya sambil mengusap keringat di kening.

Kini, dia mengerti. Tidak mudah mendapatkan pekerjaan.

Nadira kembali menyusuri jalan sambil melihat kiri-kanan. Beberapa orang yang dia lewati, tampak memperhatikan dan membicarakannya.

"Dia perempuan yang pingsan kemarin, kan? Ngapain lagi dia ke sini?"

"Mungkin mau jadi pengemis."

Nadira memeluk tubuhnya yang lemah, berusaha mengabaikan tatapan merendahkan dari semua orang meksipun dia ingin meledak. Tenaganya terkuras habis hanya untuk berjalan dari rumah Sri ke pasar. Dan kini, dia sangat lapar.

Ia tidak makan tadi pagi, karena nasi sudah habis dia makan tadi malam.

Langkah Nadira berhenti di depan sebuah warung makan sederhana yang nampak ramai dari luar. Dia mendekat dan celingukan mencari pemiliknya.

"Bu, ada yang mau beli!" seru salah seorang pembeli yang duduk di bangku.

Seorang perempuan bertubuh gempal muncul dari balik tirai pintu, lalu menghampiri Nadira dengan langkah tegas.

"Mau beli apa, Mbak?" tanyanya dengan nada tinggi.

Nyali Nadira kembali jatuh ke mata kaki. Ia mengusap lehernya gugup. Apalagi melihat tatapan semua orang yang aneh padanya.

"I-itu, Bu... Sa-saya sedang cari kerja. Apa ibu butuh orang untuk bantu-bantu? Saya bisa masak," ujar Nadira hati-hati.

Perempuan bertubuh gempal itu mengamati penampilan Nadira sambil melipat tangan di dada. "Kamu bisa kerja apa saja selain masak?"

"Apa saja, Bu. Saya bisa mengerjakan pekerjaan rumah," jawab Nadira cepat, setitik harapan muncul dalam hatinya.

Perempuan itu tiba-tiba memukul lengan Nadira sedikit keras. "Tanganmu kuat nggak? Soalnya kerja di sini, lumayan berat juga."

Nadira terdiam sesaat untuk memproses maksud ucapan perempuan itu. "Kuat, Bu. Saya biasa mengerjakan pekerjaan yang berat-berat," jawab Nadira meskipun tidak mengerti maksud kalimat berat yang dikatakan perempuan itu.

"Bagus. Kalo gitu kamu bisa mulai kerja di sini sekarang. Siapa nama kamu?"

"Nadira, Bu."

Perempuan itu manggut-manggut. "Ya udah, pergi ke dapur dan cuci tangan. Setelah itu bantu saya masak!"

Mata Nadira berbinar. "Saya beneran diterima, Bu?"

"Iya. Tapi saya cuma bisa kasih kamu upah 50.000 sehari, dan makan satu kali sehari. Gimana? Mau?"

"Mau, Bu. Mau!" angguk Nadira tanpa pikir panjang.

"Panggil saya Dewi. Cepat masuk!" titah perempuan bernama Dewi itu.

Nadira mengikuti Dewi masuk ke sebuah ruangan yang penuh dengan peralatan masak.

"Aku sudah yakin, takdirku baik karena mendapat pekerjaan dengan mudah," batin Nadira.

Ia melihat beberapa kompor berjajar dan menyala, tengah memasak sesuatu. Nadira segera mencuci tangan dan mulai membantu Dewi.

"Isi air di ember ini!" titah Dewi sambil menyerahkan ember bekas cet berwarna putih pada Nadira.

"Saya isi airnya di mana, Bu?"

"Di belakang. Di sana ada sumur."

Nadira menarik ember itu keluar lewat pintu belakang. Tubuhnya seketika membeku melihat sebuah sumur tua, dan...

"Bagaimana caranya aku mengambil air?" Ia mengintip ke dalam dan melihat air yang jauh dari jangkauannya.

Tatapan perempuan itu tertuju pada seutas tali yang melingkar dan ember berukuran kecil berwarna hitam. "Jangan bilang aku harus nimba air? Di desa aja aku nggak pernah lakuin ini," keluh Nadira.

"Nadira, cepat! Airnya mau dipake!" teriak Dewi.

Meskipun merasa enggan, namun Nadira tidak memiliki pilihan. Ia menjatuhkan ember berwarna hitam itu untuk mengambil air lalu menariknya dengan sekuat tenaga.

"Demi kembali ke desa aku sampai melakukan hal seperti ini. Tau begini, kenapa aku malah pergi dari sana," gerutunya sambil menahan bulir air mata yang hampir menetes.

"Mas Arga bahkan tidak pernah membiarkan aku angkat ember cucian. Dia pasti membawakannya keluar untuk aku jemur," gumam Nadira.

Setiap tarikan tali, ia seolah bisa melihat perjuangan Arga yang tak pernah membiarkan ia lelah. Dada Nadira terasa sesak, ember itu jatuh ke air. Tangannya menggenggam tepian sumur.

"Kenapa bisa-bisanya aku bodoh meninggalkan suami dan putriku? Padahal, hanya mereka yang tak pernah berkomentar sekalipun aku nggak masak, dan hanya tidur seharian."

"Nadira! Kamu sedang apa? Kenapa lama sekali?" Dewi menyusul keluar.

Nadira dengan cepat meraih tali ember itu. "Sebentar lagi, Bu. Ini udah hampir penuh," jawabnya tanpa menolehkan wajah.

"Cepat! Saya butuh airnya!"

"Andini... tunggu ibu pulang, ya," bisiknya dengan napas terengah-engah karena lelah. Ia mulai merasakan perih di telapak tangannya.

---

Sore harinya. Arga pamit pulang sebentar untuk menemui putrinya yang berada di rumah Rini.

"Andini!"

"Ayah, Ayah udah pulang?"

Andini keluar dari rumah bidan Rini lalu merentangkan tangan ke arah ayahnya.

Arga dengan cepat menggendong tubuh gadis itu. "Ayah hanya pulang sebentar buat liat kamu. Nanti Ayah harus balik lagi."

"Loh, kenapa, Ayah? Kan udah sore?" Andini mengecup pipi Arga lalu menatap pria itu dengan tatapan penuh keingintahuan.

"Biar cepat selesai. Nanti uangnya buat nikahin Bu bidan," jawab Arga sambil tersenyum lebar, lalu menurunkan tubuh putrinya.

Andini tertawa sambil membekap mulutnya mendengar ucapan ayahnya.

"Bu bidan mana?" tanya Arga sambil celingukan ke dalam rumah.

"Lagi periksa pasien."

Arga duduk di kursi, melepas lelahnya.

"Ayah mau minum? Andini ambilin, ya. Sebentar!" Gadis itu melesat masuk ke dalam rumah, tak seberapa lama, ia kembali dengan sebotol air minum dingin dari kulkas.

"Ini, Ayah. Dini ambil di kulkas, biar seger. Bu bidan punya kulkas bagus. Jadi bisa nyimpen makanan dan minuman dingin. Nanti, Dini juga mau beli es krim ah. Dini bakal simpen di freezer," tutur Andini bercerita dengan semangat.

Arga tidak banyak menanggapi. Ia meraih sebuah plastik yang dia bawa lalu diserahkan pada putrinya. "Ambil ini. Kamu makan bareng Bu bidan, ya."

"Apa ini, Ayah?" tanya Andini sambil mengintip ke dalam plastik.

"Nasi padang sama pisang. Tadi, Ayah disuruh beli di pasar buat makan pekerja, sekalian aja Ayah juga beli buat kalian," jawab Arga sambil mengusap rambut putrinya.

Andini mengangguk mengerti.

"Anak ayah nggak nakal, kan? Nggak buat Bu bidan repot?" tanya Arga sambil mengamati wajah Andini yang terlihat lebih ceria.

"Enggak dong, Ayah. Andini nggak nakal. Tadi, Andini pulang sekolah langsung mandi. Terus, Bu bidan kasih baju buat Andini, katanya bekas adiknya. Masih bagus-bagus."

"Ayah liat deh! Andini cantik, kan?" Andini berputar menunjukan gaun bermotif bunga warna pink yang dia pakai.

"Bilang makasih nggak sama Bu bidan?" tanya Arga sembari mencubit pipi putrinya.

"Iya dong. Dini kan pinter."

"Mas Arga sudah pulang? Kenapa di luar?" Rini menghampiri mereka.

"Andini, ajak ayah kamu masuk."

"Nggak usah. Saya nggak lama kok, cuma mau liat Andini aja. Takutnya dia repotin kamu," tolak Arga halus.

Rini tersenyum tipis. "Mas, kita sebentar lagi akan jadi keluarga. Kenapa masih sungkan kayak gini sama aku? Andini bentar lagi jadi anak aku loh," kata Rini mengingatkan.

Arga tersenyum kikuk. "Maaf, Rin. Cuma khawatir aja Andini bikin kamu susah, terus kamu merasa sungkan negur dia."

Rini menghela napas. "Nggak kok, Mas. Andini anaknya patuh. Kita tadi baru selesai belajar perkalian. Andini pinter banget."

Arga bangkit dari duduknya. "Syukurlah kalo gitu. Aku lega. Aku titip Andini lagi, ya. Kemungkinan aku pulang malam nanti."

"Iya. Mas Arga tenang aja. Dini aman sama aku. Emang kerjanya sekarang sampe malam ya, Mas?" tanya Rini ekspresinya berubah cemas.

"Iya. Biar cepet selesai. Bentar lagi mau masuk musim penghujan, kan," jawab Arga.

"Kamu jangan lupa pake baju anget, Mas. Jangan sampe masuk angin," pesan Rini penuh perhatian.

Arga terdiam sejenak, perhatian kecil itu saja sudah cukup membakar semangatnya. Ia menunduk lalu mengalihkan pandangan pada Andini.

"Ayah pergi dulu, nanti malam Ayah jemput. Kamu makan nasinya sama Bu bidan, ya," pesan Arga pada Andini.

Ia melempar senyuman tipis ke arah Rini sebelum pergi meninggalkan dua gadis itu.

"Ayah bilang, dia harus cari banyak uang buat nikahin Bu bidan," bisik Andini

Bersambung...

1
Wanita Aries
cuit cuit bu bidan di lamar 🤭
Wanita Aries
ya kerja lah nadira jgn berpangku tangan
Nelramstrong: keenakan dikasih 😆
total 1 replies
Wanita Aries
deritamu nadira mau aja di bodohi
Nelramstrong: 🫢🫢🫢 jangan diketawain, kak. kasihan
total 1 replies
Wanita Aries
haduhh nadira nasibmu makin ngenes
Nelramstrong: nasibbbbb, kak 🤭🤭
total 1 replies
Wanita Aries
nah nah makin seru
Wanita Aries
arga makin sukses, nadhira makin nelangsa
Nelramstrong: itu karma baik dan buruk buat mereka, kak 😄
total 1 replies
Wanita Aries
suka thor gk bosen bacanya
Nelramstrong: aaaa... Makasih, kak
total 1 replies
Wanita Aries
kyknya nadira korban selanjutnya
Wanita Aries
nah lhoo siap2 aj nadira menyesal nntinya
Nelramstrong: harus sih 😄
total 1 replies
Wanita Aries
bagus thorr
Nelramstrong: terima kasih 🙏
total 1 replies
Wanita Aries
mampir thor
Nelramstrong: hai, kak. terimakasih sudah mampir, ya 🙏
total 1 replies
Arema Nia
semoga sukses untuk penulisnya
Arema Nia
ceritanya bagus dan lancar
Ani
nahkan pasti Mamanya Bima juga dijadikan pembokat sampe stroke.
Ani
bau baunya Si Nandira mau dijadikan pembokat sekalian pengasuh mamanya Bima nih...
Nelramstrong: lanjut baca yuk, kak. terima kasih sudah mampir 🙏
total 1 replies
Arema Nia
bagus danenarik
Nelramstrong: Terima kasih ulasannya, Kak. Ditunggu bab selanjutnya, ya 😁
total 1 replies
Arema Nia
pertama baca bagus ceritanya ...sukses selalu
Nelramstrong: Terima kasih, kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!