⚠️Area yang khusus orang besar. ^_^ nak kecil hus hus...
Kisah cinta slow-burn antara siswi petakilan dengan guru muda PJOK yang terlalu cool untuk jadi nyata. Isinya 30% latihan fisik, 70% adu mekanik perasaan.
Mulai dari drama salah kirim stiker WhatsApp ke grup kelas, sampai momen panas di gudang sekolah yang hampir bikin profesionalitas Pak Radit runtuh.
Ini cerita tentang masa transisi jadi dewasa, di mana batas antara guru dan murid cuma sebatas "status" yang siap dihapus setelah hari kelulusan.
"Pak, lari keliling lapangan saya sanggup. Asal finish-nya di pelaminan kita." — Gia, 18 tahun, pejuang remedial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 (Part 2)
...□■□■□...
Lab biologi lama itu letaknya di pojok sekolah, deket gudang olahraga yang jarang dilewati orang karena katanya angker. Baunya khas: debu, formalin yang udah menguap, dan kayu tua yang lapuk.
Gia masuk dengan langkah ragu. "Halo? Siapa di sana?"
Seorang perempuan berbalik dari balik meja praktikum yang penuh mikroskop tua. Dia lagi mainin ujung rambut bobnya.
"Gue kira lo nggak bakal berani dateng, Gianna," suara itu lembut, tapi bikin bulu kuduk berdiri.
Bu Sarah. Guru magang baru itu.
Gia melongo. "Maksudnya apa, Bu? Foto itu... Ibu yang ambil?"
Sarah ketawa kecil. Dia jalan mendekat ke arah Gia, langkah sepatunya bunyi tok, tok, tok di lantai semen. "Panggil Sarah aja, kita kan nggak lagi di kelas. Dan soal foto itu... anggap aja itu hobi sampingan gue. Gue suka memotret hal-hal yang 'salah' pada tempatnya."
"Mau Ibu apa?! Bapak Radit nggak salah! Saya yang maksa dia!" teriak Gia, mencoba berani padahal lututnya udah kayak jeli.
Sarah berhenti tepat di depan Gia. Dia lebih tinggi sedikit dari Gia, bikin Gia ngerasa makin kecil. "Gue nggak peduli siapa yang maksa siapa, Gia. Yang gue tau, Radit itu terlalu berharga buat disia-siain sama bocah ingusan kayak lo. Lo tau nggak? Gue kenal Radit lebih lama dari lo. Gue satu almamater sama dia. Gue yang harusnya ada di posisi itu, bukan lo, dan bukan Siska yang nggak punya otak itu."
Gia tersentak. Oh, jadi ini motifnya. Obsession. "Jadi Ibu sengaja magang di sini cuma buat stalking Pak Radit?"
"Gue di sini buat 'bersihin' jalan dia," kata Sarah sambil mengelus pipi Gia pakai ujung jarinya yang dingin. "Dan sampah pertama yang harus gue buang adalah lo. Jauhin Radit. Berhenti bersikap seolah-olah lo itu spesial buat dia. Lo itu cuma remedial yang nggak bakal pernah lulus, Gia."
"Kalau saya nggak mau?" tantang Gia, suaranya bergetar.
Sarah nunjukin HP-nya. Jari jempolnya udah siap di atas tombol Send ke grup email yayasan. "Foto ini bakal nyebar dalam satu detik. Dan lo tau kan apa artinya? Radit bakal kehilangan lisensi mengajarnya. Namanya bakal hitam di seluruh instansi pendidikan. Lo mau hancurin mimpi cowok yang lo 'cintai' itu?"
Gia bungkam. matanya memerah. Dia kalah telak.
"Pinter," puji Sarah sinis. "Sekarang pulang. Hapus nomor dia. Dan besok, lo harus bikin dia benci sama lo. Bikin skenario kalau lo udah bosen main-main sama dia. Kalau nggak... lo tau apa yang bakal terjadi."
...
Gia nggak makan malem. Dia cuma tiduran sambil liatin langit-langit kamar. Caca berkali-kali nelfon tapi nggak diangkat.
Gia ngerasa dunianya hancur. Kenapa sih, mau suka sama orang aja sesusah ini? Kenapa orang dewasa itu rumit banget?
Dia buka WhatsApp. Dia liat foto profil Pak Radit—foto punggung dia lagi liat laut. Gia ngetik sesuatu, jari-jarinya gemetar hebat.
Gia: Pak... maafin Saya.
Delivered.
Gia langsung blokir nomor Pak Radit. Dia nggak sanggup liat balesannya. Dia nggak sanggup denger suaranya. Dia harus jadi "jahat" biar Pak Radit aman.
...
Besoknya, Pak Radit mendadak dateng ke sekolah buat ambil beberapa berkas yang ketinggalan. Dia nggak sengaja papasan sama Gia di depan perpustakaan.
Wajah Pak Radit kelihatan lebih cerah, seolah-olah dia punya berita bagus buat Gia. Dia mau nyamperin Gia, tapi Gia langsung masang muka paling jutek yang pernah dia punya.
"Gia, tunggu—"
Gia berhenti, tapi dia nggak noleh. "Apalagi sih, Pak? Masih kurang ya urusan kita di ruang Kepala Sekolah?"
Pak Radit mengernyitkan dahi, bingung sama perubahan sikap Gia yang tiba-tiba 180 derajat. "Kamu kenapa? Saya tadi cuma mau bilang kalau—"
"Gini ya, Pak," Gia berbalik, natap Pak Radit dengan tatapan kosong yang dia paksa-paksa. "Saya udah pikir-pikir. Ternyata deket sama Bapak itu capek banget. Banyak drama, banyak yang ngintip, terus saya juga dapet poin disiplin. Jujur aja, saya cuma gabut kemarin. Saya pikir seru aja deketin guru ganteng, tapi ternyata vibes-nya boring."
Pak Radit mematung. Kata-kata Gia kayak peluru yang nembus tepat di dadanya. "Gabut? Kamu bilang semua itu cuma karena kamu... gabut?"
"Iya. Lagian Bapak terlalu serius buat saya yang masih pengen party dan main sama cowok-cowok seumuran saya. Jadi, tolong jangan cari saya lagi ya, Pak. Anggap aja kita nggak pernah ada apa-apa. Move on aja, Pak, kayak Bapak move on dari Siska."
Gia langsung jalan pergi secepat mungkin. Dia nggak mau Pak Radit liat matanya yang udah mulai banjir. Dia nggak mau liat muka Pak Radit yang sekarang kelihatan hancur banget.
Di ujung koridor, Sarah berdiri sambil bersandar di dinding, tersenyum puas sambil megang segelas kopi. Dia ngasih jempol ke arah Gia.
Gia masuk ke kelas, langsung ambruk di pelukan Caca dan nangis sejadi-jadinya tanpa suara.
"Gi, lo kenapa?! Lo diapain sama Pak Radit?!" tanya Caca panik.
Gia nggak bisa jawab. Dia cuma bisa ngerasain hatinya yang bener-bener pecah berkeping-keping. Dia baru aja nyelametin karier orang yang dia sayang, tapi dengan cara ngebunuh perasaannya sendiri.
Tapi yang Gia nggak tau, Pak Radit nggak segampang itu percaya sama drama "gabut"-nya Gia.
Pak Radit berdiri di koridor itu cukup lama, mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia tau ada yang nggak beres. Dia tau mata Gia nggak bisa bohong.
Dan satu hal yang Sarah lupakan, Pak Radit itu guru olahraga yang terbiasa menganalisis gerakan lawan. Dan dia baru saja mencium bau "taktik kotor" di udara.
.
.
.
[To be continued ke Episode Selanjutnya ]
Thor bikin Gia jangan ngejar2 nih guru lagi,Bikin gia cuekin nih guru biar tau rasa dia..