"Ketika kebenaran dibungkam paksa, ketika keadilan dipaksa untuk diam, beberapa orang terpaksa beraksi. "
Cinta rahasia Xiao Fei dengan Yu, aktor papan atas yang dipuja, berakhir dengan tragis. Publik meratapi "kematian karena overdosis" yang menyayat hati, namun duka Fei berubah menjadi teror murni saat sebuah kiriman video anonim tiba. Di dalamnya, Yu bukan hanya dibunuh—ia disiksa, dilecehkan secara keji, dan dikorbankan dalam sebuah ritual mengerikan oleh sekelompok individu bertopeng. Kematian Yu bukanlah akhir, melainkan awal dari neraka yang nyata.
Didorong oleh cinta dan dahaga akan kebenaran, Fei harus meninggalkan identitasnya yang aman dan menyusup ke dalam dunia glamor industri hiburan yang beracun. Akhirnya Xiao Fei dengan beberapa orang yang bertemu secara tak sengaja mengambil peran utama sebagai penegak keadilan. Mampukah aksi mereka menunjukkan keadilan yang kini berubah menjadi Keheningan Keadilan. Silence of Justice akan menuntun kita pada aksi mereka. Berhasilkah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black _Pen2024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Menyentuh Yang Terlarang
Kunci kuningan tua dengan ukiran angka '22' terasa dingin di genggaman Meylie. Ini bukan sekadar kunci, melainkan sebuah janji. Janji yang Yu pernah titipkan pada Sung He, asistennya yang kini hancur, dan kini diteruskan kepadanya. Ini adalah kunci menuju kebenaran yang terkubur, rahasia yang menjadi motif pembunuhan kekasihnya. Malam itu, di bawah langit yang gelap, Meylie mengendarai mobil sewaan menuju Jalan Merpati Nomor 17, alamat apartemen sederhana Yu yang kini disegel polisi.
Persona Ling ia kenakan dengan sempurna—pakaian serba gelap yang elegan namun fungsional, rambut terikat rapi, dan ekspresi wajah yang tenang, tanpa jejak ketakutan. Namun di balik topeng itu, jantung Xiao Fei berdebar kencang. Ia akan memasuki tempat yang paling intim bagi Yu, tempat di mana kekasihnya mencari perlindungan dari dunia yang akhirnya merenggut nyawanya.
Apartemen Yu berdiri di antara bangunan-bangunan tua lainnya, tampak tidak mencolok, seolah menyatu dengan kegelapan malam. Jendela-jendela gelap, tirai-tirai tertutup rapat, dan garis segel polisi yang melintang di pintu utama menjadi satu-satunya tanda bahwa tempat ini telah menjadi saksi bisu sebuah tragedi. Aroma pengawet yang samar, yang biasa digunakan polisi untuk menjaga TKP, terasa menusuk hidung Meylie bahkan dari luar.
Meylie memarkir mobilnya beberapa blok jauhnya, di sebuah jalan yang sepi dan minim penerangan. Ia keluar dari mobil, mengenakan sarung tangan hitam tipis, dan mulai berjalan perlahan menuju gedung apartemen. Setiap langkahnya dilakukan dengan hati-hati, matanya memindai sekeliling, mencari tanda-tanda pengawasan: kamera tersembunyi, mobil yang mencurigakan, atau bahkan bayangan yang terlalu lama diam. Ia tahu musuhnya mengawasinya, kartu gagak hitam itu adalah buktinya. Ia tidak boleh ceroboh.
Ia mendekati pintu utama gedung. Segel polisi di sana masih utuh, menunjukkan bahwa tidak ada yang berani masuk sejak Yu meninggal. Meylie mengeluarkan sebuah alat kecil dari sakunya—sebuah alat pembuka kunci yang ia beli secara daring dan latih dengan tekun. Dengan keahlian yang baru ia pelajari, ia berhasil membuka kunci pintu gedung tanpa merusak segel. Ia menyelinap masuk, memastikan tidak ada suara yang terlalu keras.
Di dalam, lorong apartemen terasa dingin dan lembap. Udara pengap, berbau debu dan kesedihan yang membeku. Meylie menyalakan senter kecilnya, menggunakan filter cahaya merah agar tidak terlalu menarik perhatian. Ia berjalan perlahan menyusuri lorong, mencari unit apartemen Yu.
Unit Yu berada di lantai tiga. Segel polisi yang sama membentang di pintu kayunya. Meylie mengamati segel itu. Ia tidak bisa merusaknya, karena itu akan menjadi bukti bahwa seseorang telah masuk. Ia harus menemukan cara untuk masuk tanpa meninggalkan jejak. Ia memeriksa kusen pintu, engsel, dan celah-celah di sekitar.
Akhirnya, ia menemukan sebuah celah kecil di bingkai pintu yang sedikit longgar. Dengan hati-hati, ia menggunakan sebuah kartu plastik tipis untuk menggeser kunci dari dalam, lalu ia mendorong pintu perlahan. Sebuah bunyi "klik" yang nyaris tak terdengar. Ia berhasil masuk. Segel polisi masih utuh, tampak tidak tersentuh.
Meylie melangkah masuk ke dalam apartemen. Udara di sana terasa lebih dingin, lebih pekat dengan aroma pengawet dan kesepian. Ia menyapu senternya ke sekeliling ruangan. Semuanya tertutup terpal putih, seperti hantu-hantu yang menjaga rahasia. Perabotan, lukisan, barang-barang pribadi Yu—semuanya diselimuti kain putih, membeku dalam waktu.
"Yu," bisiknya, suaranya bergetar. "Aku di sini."
Ia mematikan senternya, membiarkan matanya beradaptasi dengan kegelapan. Sedikit cahaya bulan menembus celah tirai, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di dinding. Meylie bergerak pelan, menyingkap terpal dari beberapa perabotan. Sofa tempat Yu sering membaca, meja kopi tempat mereka berbagi tawa, rak buku yang penuh dengan koleksi novel Yu.
Ia mulai mencari "tempat aneh" yang disebutkan Tuan Chen dan Sung He. Yu adalah pria yang cerdas, ia tidak akan menyimpan rahasia penting di tempat yang jelas terlihat. Meylie ingat bagaimana Yu selalu menyukai teka-teki, bagaimana ia suka menyembunyikan benda-benda kecil di tempat yang paling tidak terduga.
Ia memeriksa di bawah lantai, di balik lemari, di dalam laci yang terkunci. Tidak ada apa-apa. Hanya barang-barang pribadi Yu yang biasa. Ia membuka beberapa buku di rak, memeriksa apakah ada sesuatu yang terselip di dalamnya. Nihil.
Frustrasi mulai merayapi dirinya. Waktu adalah musuhnya. Setiap detik yang ia habiskan di sini meningkatkan risiko ketahuan.
Ia kembali ke rak buku. Yu sangat menyukai buku. Mungkin petunjuknya ada di sana. Ia mengusap punggung buku-buku, merasakan tekstur kertas dan kulit. Kemudian, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Salah satu bagian rak buku terasa sedikit longgar.
Meylie menekannya. Tidak ada reaksi. Ia mencoba menariknya. Juga tidak ada reaksi. Ia memindai rak itu dengan senter merahnya. Tidak ada tombol tersembunyi, tidak ada celah yang terlihat.
Ia mengingat kembali percakapan dengan Tuan Chen: "menyimpan barang-barang di tempat yang aneh." Yu selalu cerdas. Yu selalu suka hal-hal yang tidak konvensional.
Meylie menatap rak buku itu lagi. Bukan hanya rak buku, tapi dinding di belakangnya. Dinding itu terlihat sedikit lebih tebal, sedikit lebih padat daripada dinding lainnya.
Ia menekan beberapa buku, lalu mencoba menggeser seluruh bagian rak. Dengan sedikit usaha, dan bunyi "kresek" yang pelan, rak buku itu bergeser ke samping, menampakkan sebuah ruang kosong di belakangnya. Sebuah dinding palsu.
Jantung Meylie berdebar kencang. Ini dia.
Di dalam ruang tersembunyi itu, ada sebuah kotak kayu kecil yang usang. Kotak itu tidak digembok, hanya ditutup rapat. Meylie meraihnya dengan tangan gemetar. Ia membukanya perlahan.
Di dalamnya, tergeletak sebuah buku catatan kulit tua. Warnanya cokelat gelap, permukaannya terasa kasar, dan ada ukiran samar di bagian depan: sebuah simbol yang menyerupai burung gagak dengan sayap terentang dan mata tunggal. Simbol yang sama persis dengan yang ia lihat di video dan di kartu ancaman.
Meylie merasakan darahnya mengalir dingin. Ini bukan hanya buku catatan biasa. Ini adalah sesuatu yang Yu lindungi dengan nyawanya.
Ia membuka buku catatan itu. Halaman-halamannya penuh dengan tulisan tangan Yu, namun bukan tulisan biasa. Ini adalah kode. Deretan angka dan huruf yang acak, simbol-simbol aneh, dan beberapa sketsa yang tidak jelas. Di beberapa halaman, ada stempel kecil yang ia kenali: sebuah stempel dari "Perusahaan Berlian Hitam."
Ini adalah buku catatan terenkripsi Yu. Ini adalah informasi vital yang menjadi motif pembunuhannya. Ini adalah "daftar hitam" yang Yu coba jual.
Rasa kepuasan yang luar biasa membanjiri diri Meylie. Ia berada di jalur yang benar. Setiap pengorbanan, setiap ketakutan, setiap langkah berbahaya yang ia ambil, kini terasa sepadan. Yu tidak mati sia-sia. Kebenaran ada di tangannya.
Namun, di tengah euforia singkat itu, sebuah bunyi "bip" yang sangat halus tiba-tiba terdengar dari sudut ruangan.
Meylie membeku. Bunyi itu sangat pelan, nyaris tak terdengar, namun cukup untuk membuat bulu kuduknya berdiri. Itu adalah alarm. Sebuah alarm kecil, mungkin sensor gerak yang sangat sensitif, yang ia lewatkan. Mungkin dipasang oleh polisi, atau bahkan oleh musuh yang mengawasi.
Batasan waktu yang ketat. Alarm itu pasti akan memicu respons. Ia harus segera pergi.
Meylie dengan cepat menyelipkan buku catatan itu ke dalam tasnya, menutup kotak kayu, dan mendorong kembali rak buku ke posisi semula. Ia memastikan tidak ada jejak yang tertinggal. Jantungnya berdebar kencang, memompa adrenalin ke seluruh tubuhnya.
Ia bergerak cepat menuju pintu keluar, matanya memindai ruangan untuk terakhir kalinya. Tidak ada yang terlihat aneh. Segel polisi masih utuh.
Ia membuka pintu apartemen, melongok ke lorong. Kosong. Ia menyelinap keluar, menutup pintu perlahan, dan memastikan segel itu masih tampak tidak tersentuh. Ia berlari kecil menuruni tangga, bergerak secepat mungkin tanpa membuat suara.
Keluar dari gedung, Meylie tidak melihat siapa pun. Jalanan masih sepi, diselimuti kegelapan malam. Ia bergegas menuju mobilnya, membuka kunci, dan masuk. Ia menyalakan mesin, meletakkan buku catatan itu di jok penumpang, lalu melaju pergi, meninggalkan apartemen Yu di belakangnya.
Ia berhasil. Ia mendapatkan buku catatan itu.
Saat mobilnya melaju di jalanan sepi, ponselnya tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk.
Meylie meliriknya. Itu adalah nomor tak dikenal. Jantungnya mencelos.
Ia membuka pesan itu.
Yang pertama muncul adalah sebuah foto. Sebuah foto dirinya. Diambil dari sudut atas, agak buram, tetapi jelas terlihat dirinya sedang berdiri di dalam apartemen Yu, memegang buku catatan kulit tua itu di tangannya. Foto itu pasti diambil dari kamera tersembunyi yang ia lewatkan, atau mungkin dari gedung seberang.
Di bawah foto itu, sebuah teks singkat menyertainya:
“Lupakan. Atau kau akan menyusulnya, tanpa meninggalkan jejak yang lebih baik.”
Notifikasi Kematian.
Darah Meylie mengering. Mereka tahu. Mereka tidak hanya mengawasinya, mereka ada di mana-mana. Mereka melihatnya masuk. Mereka melihatnya menemukan buku catatan itu. Ancaman itu nyata. Dingin. Mematikan.
Napasnya tercekat. Rasa takut yang menusuk kembali menyerang, lebih kuat dari sebelumnya. Namun, di tengah ketakutan itu, sebuah bara api menyala lebih terang. Buku catatan di sebelahnya, bukti di tangannya, adalah jawabannya. Mereka mengancamnya karena ia telah menemukan sesuatu yang penting. Sesuatu yang bisa menghancurkan mereka.
Mata Meylie menatap kosong ke jalan di depannya. Tidak ada lagi keraguan. Ancaman ini hanya memperkuat tekadnya. Ia tidak akan melupakan. Ia tidak akan mundur.
Yu, kekasihnya, telah meninggal tanpa meninggalkan jejak yang lebih baik, terkubur di bawah narasi palsu. Tapi Meylie atau Ling, tidak akan. Ia akan memastikan bahwa kematiannya, jika itu harus terjadi, akan menjadi sebuah ledakan yang menghancurkan seluruh jaringan kekejaman ini.
Perburuan telah berubah menjadi pertarungan hidup dan mati. Dan Meylie, dengan buku catatan terlarang di tangannya, siap untuk menghadapi badai yang akan datang.