Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Pertemuan tidak terduga
Kini Liora berdiri di depan Touchscreen Monitor. jemarinya bergerak lincah mengoperasikan layar sembari menjelaskan setiap poin presentasinya dengan nada suara yang tenang namun penuh keyakinan.
"Di daerah sebelah utara ini, terdapat pemukiman masyarakat ekonomi rendah. Kita tidak bisa hanya memberikan kompensasi berupa uang untuk tempat tinggal mereka." ucap Liora dengan nada suara yang tenang namun penuh penekanan.
Ia menatap satu per satu orang yang berada di ruang rapat, termasuk Kevandra. "Bagi mereka, itu bukan sekadar bangunan, tapi kehidupan dan perlindungan. Saya harap, melalui proyek ini, kita bisa turun langsung ke lapangan. Kita harus memberi pemahaman bahwa pembangunan perusahaan ini adalah untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi mereka."
Liora menjeda sejenak untuk mengganti slide presentasinya. "Selain itu, saya menambahkan poin penting: kita tidak bisa memindahkan mereka begitu saja hanya dengan uang tunai. Kita harus membangunkan perumahan yang layak terlebih dahulu sebelum mereka direlokasi. Mengingat di sana masih banyak anak kecil dan balita, kita punya tanggung jawab moral untuk memastikan mereka memiliki atap di atas kepala mereka."
Lima belas menit berlalu. Setelah Liora menjelaskan seluruh proyeksinya dengan detail dan lugas, ia menutup presentasinya lalu kembali duduk di kursinya.
Sementara itu, Kevandra tertegun. Pandangannya tidak lepas dari Liora. Penjelasan gadis itu baru saja menampar sisi pragmatisnya. Liora tidak hanya memikirkan bagaimana perusahaan berjalan dengan baik, tapi ia juga memikirkan konsekuensi kemanusiaan. Kevandra menyadari bahwa mereka tidak bisa mengambil keputusan sepihak tanpa memikirkan nasib masyarakat yang akan dipindahkan dari lahan yang—meski secara hukum bukan milik mereka—sudah menjadi rumah bagi mereka selama bertahun-tahun.
"Wah, saya selalu suka dengan hasil kerja yang Anda tampilkan, Nona Liora." ujar salah satu petinggi perusahaan dengan nada kagum yang tak disembunyikan.
Liora tetap tenang, ia hanya tersenyum tipis dan mengangguk rendah dengan sangat sopan. "Terima kasih banyak. Saya sangat menghargai jika usul dan presentasi saya bisa diterima dengan baik."
"Tapi Nona Liora." petinggi itu kembali bersuara. "saya tidak ingin proyek sepenting ini diambil alih oleh orang lain dalam pelaksanaannya. Bagaimana jika Anda sendiri yang turun langsung untuk melakukan penyuluhan kepada masyarakat di sana?"
Liora tampak berpikir sejenak, lalu melirik sopan ke arah bosnya. "Tentu tidak masalah bagi saya, Pak. Asalkan saya mendapatkan izin dari atasan saya."
"Bagaimana Pak Bagaskara? Apakah diperbolehkan jika Liora langsung turun ke lapangan?" tanya salah satu rekan bisnis di ruangan itu.
Sementara itu, Kevandra masih bergeming. Ia terdiam, menyimak setiap kata dengan saksama, sementara tatapannya masih terkunci pada sosok Liora.
Pak Bagaskara mengangguk mantap dan mengerti dengan usulan para rekan kerjanya.
"Baiklah, jika kalian memang menginginkan perwakilan dari perusahaan kami yang langsung terjun, saya akan mempersilakan Liora." ucap Bagaskara selaku bos Liora, memberikan persetujuan penuh.
Namun, tepat setelah Bagaskara selesai bicara, sebuah suara dingin dan datar menyita perhatian seluruh anggota yang berada di dalam ruang rapat.
"Kalau begitu, saya sendiri yang akan menemani Nona Liora turun ke lapangan."
Seketika seluruh ruangan senyap. Liora terpaku, namun dalam hatinya ia bergumam sambil tersenyum tipis, sebuah keberuntungan untukmu Liora!
Suara itu milik Kevandra. Semua orang di ruangan itu tersentak, termasuk Liora. Tak ada yang menyangka bahwa seorang Kevandra yang sangat sibuk dan berkuasa mau meluangkan waktunya untuk urusan penyuluhan di lapangan.
Setelah rapat yang melelahkan akhirnya rapat besar itu berakhir, Kevandra dan Bagaskara selaku bos Liora, mengajaknya untuk makan siang bersama di sebuah restoran kelas atas yang tak jauh dari kantor. Suasana restoran itu sangat mewah, dengan alunan musik klasik yang lembut dan aroma hidangan mahal yang menggugah selera.
Liora berjalan dengan anggun di samping Kevandra dengan jarak aman dan sopan. Namun, langkah Liora seketika melambat saat matanya menangkap siluet dua orang yang sangat ia kenali di sudut ruangan.
Salsa dan Raka.
Dua orang yang telah mengkhianatinya itu sedang duduk berduaan, tampak sedang menikmati makan siang mereka. Liora bisa merasakan darahnya sedikit berdesir, namun ia segera menguasai diri. Sebuah smirk tipis yang nyaris tak terlihat muncul di bibirnya.
"Kebetulan yang sangat manis." batin Liora.
"Ada apa, Liora? Kenapa berhenti?" tanya Bagaskara.
Liora segera menoleh dan tersenyum sangat manis, seolah tidak terjadi apa-apa. "Ah, tidak apa-apa, pak. Saya hanya merasa melihat seseorang yang saya kenal, tapi mungkin saya salah lihat."
Kevandra, yang sejak tadi berjalan beriringan dengan mereka, memperhatikan perubahan raut wajah Liora. Matanya yang tajam mengikuti arah pandang Liora dan berhenti tepat pada sosok Raka dan Salsa. Tatapan Kevandra berubah dingin: ia merasa ada sesuatu yang tidak beres, namun ia memilih untuk diam dan mengamati terlebih dulu.
Saat mereka berjalan menuju meja yang telah dipesan—yang kebetulan harus melewati meja Raka dan Salsa—Salsa mendongak. Matanya membelalak seketika saat melihat Liora dan Kevandra secara bersamaan.
"Liora?" gumam Salsa pelan, suaranya mengandung nada tidak percaya dan sedikit ketakutan.
Raka pun ikut menoleh. Ia tersentak, hampir menjatuhkan garpu yang ia pegang saat melihat Liora tampil begitu cantik dan berwibawa, apalagi di sampingnya berdiri sosok Kevandra—pria yang tingkatannya jauh di atas Raka.
Liora menghentikan langkahnya tepat di samping meja mereka. Ia menatap Salsa dan Raka dengan tatapan yang sangat tenang, seolah ia tidak pernah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.
"Hai Sa!. Hai Rak!. Ternyata kalian di sini juga?" sapa Liora dengan suara yang begitu lembut namun terasa sangat dingin di telinga mereka.
"Li, kenapa kamu bisa bersama Kevandra?" tanya Raka dengan nada dingin, mencoba menutupi kegugupannya dengan sikap posesif yang tak beralasan.
Liora tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat tulus namun penuh sindiran.
"Kami baru saja selesai meeting, Raka." jawab Liora dengan nada suara yang begitu tenang dan stabil.
Liora menjeda sejenak, membiarkan keheningan itu menekan mental Raka sebelum ia melanjutkan, "Seharusnya aku yang bertanya padamu, Rak. Kamu bilang seharian ini akan berada di apartemen saja... tapi kenapa sekarang ada di sini bersama Salsa?"
Pertanyaan itu meluncur dengan halus, namun efeknya seperti bom yang meledak di tengah meja makan mereka. Wajah Raka seketika pucat pasi, sementara Salsa tampak gelagapan dan membuang muka, tak berani menatap kedua mata Kevandra yang seakan meminta penjelasan.
"Kita hanya kebetulan bertemu di sini." jawab Raka cepat, suaranya sedikit bergetar karena panik. Ia berusaha mengatur raut wajahnya agar terlihat meyakinkan, namun matanya terus melirik ke arah Kevandra yang masih berdiri seperti gunung es di belakang Liora.
Liora tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat merdu namun sangat menyakitkan bagi siapa pun yang mendengarnya. "Kebetulan? Wah, semesta baik sekali ya, Rak. Bisa mempertemukanmu dengan Salsa di saat kamu seharusnya sedang beristirahat di apartemen."
kentang banget ini 😭
cepet banget dia bersimpati dan ada tanda peduli lebih
kalau posisinya dibalik dia pun berpotensi selingkuh juga kaya Raka hadehhh...
ku tak jadi kibarkan bendera hijau
padahal sempet simpati sama dia ni 😏
bahaya ga jadi green flag