"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."
Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.
Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.
Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.
Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.
Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Menjadi Bagian dari Mesin
Bab 25: Menjadi Bagian dari Mesin
Jakarta di pagi hari adalah sebuah medan pertempuran bagi para pencari kerja. Di depan gedung bertingkat di kawasan Sudirman, Anindya berdiri dengan kemeja putih yang sudah mulai menguning di bagian kerah, namun ia menyetrikanya dengan sangat rapi hingga lipatannya setajam silet.
Ia menatap pantulan dirinya di kaca gedung PT Mega Konstruksi. Wajahnya tampak lebih tirus, matanya menyimpan keletihan yang mendalam, namun binar tekad di sana tidak pernah padam.
Ia memegang map plastik berisi ijazah Paket C miliknya dan beberapa sertifikat kursus akuntansi daring yang ia ambil secara ilegal dengan meretas akses perpustakaan kota. Ia tahu, di gedung semewah ini, ijazah Paket C adalah sebuah penghinaan. Namun, Anindya tidak datang untuk meminta belas kasihan; ia datang untuk menawarkan sebuah senjata.
"Selanjutnya, Anindya," panggil seorang staf HRD dengan nada bosan.
Anindya melangkah masuk ke ruang wawancara. Di sana duduk seorang pria paruh baya bernama Pak Arman, manajer operasional yang dikenal bertangan besi. Pak Arman melihat berkas Anindya, lalu melemparkannya ke meja dengan suara plak yang meremehkan.
"Paket C? Kamu sadar kamu melamar di salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia?" Pak Arman tertawa kecil, menyulut rokoknya tanpa peduli pada tanda dilarang merokok di ruangan itu.
"Kami biasanya hanya menerima lulusan universitas negeri ternama. Kamu bahkan tidak punya latar belakang pendidikan formal yang layak."
Anindya tidak menunduk. Ia menatap langsung ke mata Pak Arman. "Pendidikan formal mengajarkan orang cara mengikuti aturan, Pak. Pengalaman hidup mengajarkan saya cara memenangkan persaingan saat aturan itu dilanggar oleh lawan."
Pak Arman menaikkan alisnya, tertarik oleh keberanian gadis di depannya. "Apa maksudmu?"
"Saya tahu PT Mega Konstruksi kalah dalam tiga tender besar terakhir melawan Wijaya Group. Saya juga tahu bahwa selisih penawaran harga Anda hanya terpaut 0,5% dari mereka," Anindya memajukan tubuhnya. "Itu bukan kebetulan, Pak. Itu berarti ada kebocoran data di dalam departemen estimasi Anda, atau Wijaya memiliki akses ke server Anda."
Suasana ruangan seketika berubah menjadi tegang. Pak Arman mematikan rokoknya. "Bagaimana kamu tahu hal itu? Itu rahasia perusahaan."
"Saya menghabiskan tiga malam di warnet untuk membedah pola kemenangan Wijaya Group selama lima tahun terakhir. Jika Bapak memberikan saya posisi sebagai staf administrasi di bagian arsip—posisi yang paling dianggap remeh tapi memegang semua aliran dokumen—saya akan menunjukkan kepada Bapak di mana letak kebocoran itu dalam waktu dua minggu."
Pak Arman terdiam cukup lama. Ia melihat sesuatu yang berbahaya sekaligus menguntungkan dalam diri Anindya. "Jika kamu salah, aku tidak hanya akan memecatmu, tapi aku akan memastikan kamu tidak akan pernah dapat kerja di Jakarta lagi."
"Dan jika saya benar, Bapak harus menaikkan gaji saya tiga kali lipat dan memberi saya akses ke ruang arsip digital," jawab Anindya tanpa ragu.
"Mulai besok pagi, jam tujuh. Jangan terlambat."
Anindya keluar dari gedung itu dengan tangan yang gemetar karena adrenalin. Ia berhasil. Ia telah masuk ke dalam mesin yang akan menjadi kendaraannya untuk menghantam Tuan Wijaya. Namun, perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai.
Sepulang dari kantor, Anindya mampir ke pasar tradisional untuk membelikan obat jantung tambahan untuk ayahnya. Saat ia sedang menghitung uang receh di tangannya, ia merasakan seseorang mengikuti langkahnya. Ia masuk ke dalam gang sempit yang menuju ke penginapan melatinya.
Srak!
Seseorang menarik tasnya dari belakang. Anindya berbalik dengan cepat, siap memberikan perlawanan dengan kunci motor yang ia genggam di kepalan tangannya sebagai senjata tajam darurat. Namun, langkahnya terhenti.
Itu bukan perampok. Itu adalah seorang pria tua dengan pakaian compang-camping yang ia lihat di arsip koran tempo hari. Bapak Suroso.
"Kau... kau yang mencariku di perpustakaan?" suara Suroso parau, penuh dengan ketakutan.
Anindya menurunkan tangannya. "Pak Suroso? Bagaimana Bapak bisa tahu?"
"Orang-orang Wijaya masih mengawasiku! Kau gila mencari namaku di arsip publik! Kau akan membuat kita berdua terbunuh!" Suroso menarik Anindya ke balik tumpukan kardus bekas. "Dengarkan aku, Nduk. Jangan teruskan ini. Wijaya bukan hanya seorang pengusaha, dia adalah iblis yang punya mata di mana-mana."
"Dia sudah menghancurkan hidup saya, Pak. Dia membuat Ayah saya lumpuh dan menjadikan saya budak selama delapan tahun," ucap Anindya dengan suara rendah yang bergetar karena amarah. "Bapak tahu sesuatu tentang kebakaran gudang tahun 2005 itu, kan? Bapak adalah saksi kuncinya."
Suroso gemetar hebat. "Kebakaran itu... itu bukan kecelakaan. Wijaya yang menyuruh orang membakarnya untuk mencairkan klaim asuransi karena perusahaannya hampir bangkrut saat itu. Tapi bukan itu yang paling parah. Di dalam gudang itu, ada tiga orang buruh yang sedang lembur. Mereka tidak bisa keluar karena pintu dikunci dari luar."
Anindya menutup mulutnya dengan tangan. "Jadi... dia membunuh mereka demi uang?"
"Dan aku dipaksa diam karena dia memegang nyawa keluargaku. Sekarang pergilah! Jangan pernah cari aku lagi!" Suroso kemudian lari menghilang ke dalam kegelapan gang, meninggalkan Anindya yang terpaku dengan informasi yang sangat mengerikan itu.
Anindya kembali ke penginapan dengan pikiran yang berkecamuk. Ia menemukan ayahnya sedang mencoba duduk di pinggir tempat tidur.
"Nin, tadi ada yang menitipkan surat ini di bawah pintu," ucap Pak Rahardian sambil menyerahkan sebuah amplop putih bersih.
Anindya membukanya. Di dalamnya tidak ada tulisan, hanya sebuah kunci loker stasiun dan sekuntum mawar hitam yang sudah kering. Anindya tahu persis siapa pengirimnya. Satria.
Mawar hitam adalah kode yang mereka gunakan saat kecil ketika sedang bermain sembunyi-sembunyi di taman belakang rumah Wijaya. Kode yang berarti: Bahaya sedang mendekat, bersembunyilah.
Anindya segera menuju stasiun kereta terdekat malam itu juga. Ia menemukan loker nomor 214 dan membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah ponsel model lama dan sebuah buku catatan kecil berisi daftar nama pengawal pribadi Tuan Wijaya beserta rute patroli mereka di sekitar kawasan tempat tinggal Anindya yang lama.
Ponsel itu berdering.
"Jangan kembali ke penginapan itu, Nin," suara Satria terdengar sangat mendesak di seberang sana.
"Ibu sudah tahu posisi bapakmu. Dia tidak akan mengirim polisi, dia mengirim orang-orang dari organisasi gelap yang biasa dipakai Ayah untuk membereskan 'masalah' di lapangan."
"Satria, kenapa kau terus melakukan ini?" tanya Anindya.
"Karena aku tidak ingin melihatmu menjadi korban untuk kedua kalinya. Pergilah ke alamat yang kukirim lewat SMS. Itu apartemen milik temanku yang sedang berada di luar negeri. Di sana ada sistem keamanan yang tidak bisa ditembus orang biasa.
Cepat, Nin! Mereka sudah bergerak!"
Anindya menutup teleponnya. Ia tidak punya waktu untuk berdebat. Ia segera kembali ke penginapan, menggendong ayahnya keluar lewat pintu dapur, dan memesan taksi daring ke alamat yang diberikan Satria.
Hanya sepuluh menit setelah mereka pergi, dua mobil hitam tanpa plat nomor berhenti di depan penginapan melati tersebut. Empat pria berbadan besar masuk dengan paksa, namun mereka hanya menemukan kamar yang kosong dan sisa kompres air hangat yang masih terasa suam-suam kuku.
Di dalam apartemen baru yang mewah namun terasa seperti penjara kaca bagi Anindya, ia duduk di lantai balkon sambil memandangi kelap-kelip lampu Jakarta. Ia merasa seperti pion yang sedang digerakkan oleh dua pemain besar: Tuan Wijaya yang ingin menghancurkannya, dan Satria yang—entah tulus atau tidak—sedang mencoba menyelamatkannya.
Anindya membuka buku catatan dari Satria. Di halaman paling belakang, ada sebuah catatan kecil: “Ayah sedang merencanakan proyek besar di Kalimantan. Jika kau bisa menyabotase dokumen lingkungannya di PT Mega Konstruksi, kau akan memukulnya tepat di jantungnya.”
Anindya tersenyum pahit. Satria memberinya umpan. Entah itu jebakan agar ia tertangkap basah melakukan spionase industri, atau memang jalan pembuka untuk membalas dendam.
"Kau pikir aku akan mengikuti permainanmu begitu saja, Satria?" gumam Anindya.
Ia akan menggunakan informasi dari Satria, tapi ia akan mengolahnya dengan caranya sendiri. Ia akan bekerja di PT Mega Konstruksi, mengumpulkan bukti kejahatan Wijaya, mencari keberadaan keluarga buruh yang tewas dalam kebakaran, dan di saat yang sama, ia akan memastikan Satria tidak benar-benar mengendalikannya.
Malam itu, Anindya mulai menuliskan rencananya di sebuah aplikasi terenkripsi di ponsel barunya.
Langkah 1: Menguasai arsip PT Mega Konstruksi.
Langkah 2: Menghubungi keluarga korban kebakaran 2005.
Langkah 3: Mencari tahu apa sebenarnya motif Satria membantu.