Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.
Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.
Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.
Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.
Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Pilihan Sang Istri
Keheningan di ruang makan itu begitu pekat hingga suara detak jam dinding antik terdengar seperti palu godam.
Mata Angeline terpaku pada surat cerai di hadapannya. Tanda tangan di sana akan mengakhiri penderitaannya. Ia bisa kembali hidup mewah, dihargai, dan perusahaan yang ia bangun susah payah akan selamat.
Di seberang meja, Victor Han tersenyum tipis. Ia sudah menang. Tidak ada wanita waras yang akan memilih sopir miskin dibanding dirinya.
Angeline mengangkat pena emas yang disodorkan ayahnya. Tangannya gemetar.
"Bagus, Nak," kata Demian lembut, nada suaranya berubah drastis menjadi penuh kasih sayang palsu. "Tanda tangani. Besok semua masalahmu akan hilang."
Angeline menarik napas panjang. Bayangan Jay melintas di benaknya. Pria yang memunguti pecahan piring demi dirinya. Pria yang membelikan makan siang saat ia kelaparan. Pria yang, meski dihina satu dunia, tidak pernah sekali pun menuntut apa pun darinya.
Kalian pikir nilai seorang pria hanya ditentukan oleh apa yang ada di dompetnya?
Kata-kata Jay tadi bergema di kepalanya.
PRAK!
Angeline membanting pena emas itu ke atas meja. Tinta hitam memercik, menodai kertas putih surat cerai itu.
Senyum Victor lenyap. Mata Demian terbelalak.
"Tidak," suara Angeline bergetar, tapi matanya menyala.
"Apa maksudmu 'tidak'?!" bentak Demian.
Angeline berdiri. "Aku bukan aset perusahaan, Ayah. Dan Jay... dia bukan sampah. Dia satu-satunya orang di ruangan ini yang memperlakukanku sebagai manusia, bukan sebagai alat tukar investasi."
Angeline mengambil tas tangannya.
"Aku tidak akan menceraikannya. Jika perusahaan bangkrut, biarkan bangkrut. Aku bisa membangunnya lagi dari nol. Tapi aku tidak akan menjual harga diriku pada..." Angeline menatap Victor dengan jijik, "...pada pria yang bahkan tidak tahu cara menghargai orang lain."
"Angeline!!" Elen menjerit histeris. "Kau gila?! Kau mau membuang masa depanmu?!"
"Keluar!!" teriak Demian, wajahnya merah padam. "Kalau kau melangkah keluar dari pintu itu, kau bukan lagi putriku! Jangan harap kau dapat satu sen pun dari harta Severe! Semua fasilitasmu kutarik malam ini juga!"
"Silakan," jawab Angeline dingin. "Aku sudah muak dengan 'keluarga' ini."
Angeline berbalik dan berjalan cepat keluar, meninggalkan kekacauan di ruang makan. Victor Han menatap punggung Angeline dengan rahang mengeras. Tangannya meremas gelas wine di tangannya hingga retak.
Di Luar Gerbang Mansion.
Hujan mulai turun rintik-rintik. Jay bersandar di kap mobil sedannya, merokok sebatang. Asap putih mengepul ke udara malam.
Ia melihat pintu depan terbuka. Angeline berlari kecil ke arahnya. Wajahnya basah campuran air hujan dan air mata.
Jay mematikan rokoknya, membuangnya ke tong sampah, lalu membuka pintu mobil untuk istrinya.
Begitu masuk ke dalam mobil yang hangat, tangis Angeline pecah. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Maafkan aku, Jay... Maafkan aku..." isaknya. "Kita tidak punya apa-apa lagi sekarang. Ayah mengusirku. Mobil, kartu kredit, semuanya akan ditarik besok."
Jay tidak langsung menyalakan mesin. Ia menatap wanita di sampingnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa hormat yang mendalam di matanya.
"Kau menolak mereka?" tanya Jay pelan.
Angeline mengangguk di sela isakannya. "Aku memilihmu. Aku bodoh, kan?"
Jay tersenyum. Kali ini senyum yang tulus, hangat, dan menenangkan. Ia mengulurkan tangan, menghapus air mata di pipi Angeline dengan ibu jarinya yang kasar.
"Kau tidak bodoh, Angel. Kau baru saja membuat investasi terbaik dalam hidupmu," bisik Jay. "Mulai hari ini, aku yang akan menanggung semuanya. Kau tidak perlu takut."
"Tapi gajimu..."
"Cukup untuk kita makan," potong Jay. "Tidurlah. Kita pulang."
Jay menyalakan mesin dan melaju pelan meninggalkan kawasan Diamond Hill.
Namun, perjalanan pulang itu tidak sunyi.
Lima menit setelah keluar dari kompleks perumahan, mata Jay menangkap pantulan lampu high beam yang menyilaukan dari spion tengah.
Sebuah SUV hitam besar membuntuti mereka dengan jarak sangat rapat. Tidak ada pelat nomor.
Jay melirik Angeline. Istrinya sudah tertidur karena kelelahan emosional yang luar biasa, kepalanya bersandar di jendela.
Bagus. Dia tidak akan melihat ini, batin Jay.
Jay memutar kemudi, berbelok tajam ke arah jalan pintas yang melewati area konstruksi jembatan tua. Area ini gelap, sepi, dan jauh dari CCTV.
SUV hitam itu mengikuti, masuk ke dalam jebakan.
Jay menghentikan mobilnya di tengah jalan berbatu yang dikelilingi tumpukan beton. Ia mematikan mesin, tapi membiarkan lampu depan tetap menyala.
"Tunggu sebentar ya, Sayang. Ada suara aneh di ban belakang," bisik Jay pelan, memastikan Angeline tidak bangun.
Jay keluar dari mobil, menutup pintu dengan sangat pelan. Ia berdiri di tengah jalan, di bawah guyuran hujan yang semakin deras.
SUV hitam itu berhenti sepuluh meter di depannya. Empat pria bertubuh kekar dengan setelan jas hitam keluar. Mereka bukan preman jalanan seperti di terowongan tadi. Dari cara mereka berdiri dan memegang baton listrik, Jay tahu mereka adalah bodyguard profesional terlatih.
Salah satu dari mereka, pemimpinnya, melangkah maju.
"Tuan Han titip salam," kata pria itu dingin. "Dia bilang, dia ingin melihat kakimu patah supaya kau sadar posisimu."
Jay menyugar rambutnya yang basah ke belakang. Wajahnya terlihat bosan.
"Victor Han..." gumam Jay. "Dia benar-benar tidak sabar ingin mati muda."
"Banyak omong! Habisi dia!"
Keempat bodyguard itu menyerang serentak. Gerakan mereka taktis. Dua menyerang kaki, dua mengincar kepala.
Jay tidak mundur.
Saat baton listrik pertama mengarah ke wajahnya, Jay menangkap pergelangan tangan penyerang itu dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
KRAK!
"Aaaargh!"
Tanpa melepas pegangannya, Jay menarik tubuh penyerang itu dan menjadikannya tameng hidup untuk menangkis serangan tiga rekannya yang lain.
BUGH! BUGH!
Jay menendang lutut penyerang kedua hingga tertekuk ke arah yang salah. Lalu dengan gerakan berputar, sikunya menghantam rahang penyerang ketiga hingga gigi-giginya rontok berhamburan ke aspal basah.
Hanya tersisa si pemimpin. Pria itu mundur selangkah, matanya terbelalak ngeri. Dalam hitungan lima detik, tiga anak buah terbaiknya lumpuh total.
"Si... siapa kau?" suaranya gemetar.
Jay berjalan mendekat. Langkah kakinya tenang, tapi bagi si pemimpin bodyguard, itu seperti langkah malaikat maut.
Jay mencengkeram leher pria itu, mengangkatnya dengan satu tangan hingga kakinya menggantung di udara.
"Sampaikan pesan ini pada majikanmu," bisik Jay, matanya menyala merah dalam kegelapan. "Dia baru saja menumpahkan anggur ke celanaku. Tapi jika dia berani membuat istriku menangis satu kali lagi... aku akan menumpahkan darahnya ke seluruh kota ini."
Jay melempar tubuh pria itu ke kap mesin SUV hingga penyok parah.
"Pergi. Sebelum aku berubah pikiran."
Pria itu merangkak ketakutan, menyeret teman-temannya yang pingsan masuk ke mobil, dan tancap gas meninggalkan tempat itu.
Jay berdiri di tengah hujan, mengatur napasnya agar kembali normal. Ia membersihkan sedikit noda darah di tangannya dengan air hujan, lalu kembali masuk ke mobil sedannya.
Angeline menggeliat kecil dalam tidurnya. "Jay? Sudah selesai?"
"Sudah, Sayang," jawab Jay lembut, menyalakan mesin mobil. "Cuma ada kerikil di ban. Sekarang jalannya sudah mulus."
Mobil tua itu melaju perlahan menembus malam, membawa sepasang suami istri itu menuju rumah kontrakan kecil mereka.