Lanjutan dari "Pesona Si Kembar (Ada Cerita Di Balik Gerbang Sekolah)"
Rachel dan Ronand menapaki jenjang pendidikan kuliah. Jurusan yang mereka ambil pun berbeda. Ronand dengan sifat serius dan sikap misteriusnya membuat banyak orang penasaran. Sedangkan Rachel, dengan gaya selengekannya namun selalu mencengangkan tentang prestasinya.
Di balik gerbang kampus, mereka mengukir cerita yang baru. Dimulai dari kekeluargaan, persahabatan, dan percintaan yang rumit. Semua akan menjadi satu padu dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelompok
Sekolah telus,
Napa sih halus ada sekolah?
Padahal enak ndak sekolah lho,
Mana gulu-gulunya galak semua,
Ndak ada gitu yang gulunya lemah lembut kaya Oma Chiala?
Di kediaman keluarga Roberto, seorang bocah cilik terus menggerutu karena disuruh sekolah oleh orangtuanya. Janice yang juga berada di rumah Oma dan Opanya, pagi ini mengurus Mika sendiri. Membangunkan anaknya yang susah bangun dan segera memandikannya. Setelah memakai seragamnya, Mika berjalan keluar kamar sambil menghentakkan kakinya. Ia pergi ke ruang makan, diikuti oleh Janice di belakangnya.
"Mereka galak karena kamu jahil, usil, dan nakal. Kamu juga nggak disiplin, sering terlambat sekolah." ucap Janice yang mendapatkan laporan dari wali kelas Mika bahwa anaknya sering terlambat datang sekolah. Bahkan berulangkali Mama Martha meminta ijin agar cicitnya dimaklumi oleh pihak sekolah. Hal itu membuat Janice stress karena Omanya selalu memanjakan dan menuruti keinginan Mika.
"Atulan dibuat untuk dilanggal, Ma. Lagian itu sekolah PAUD apa sekolah militel? Telambat satu menit saja, diusil. Padahal kita bayal lho," ucap Mika dengan lirikan sinisnya pada Janice.
"Janice, bukannya Oma mau ikut campur dengan caramu ingin mendidik Mika. Coba kamu lihat Rachel itu. Dia sudah diomeli atau sering dapat panggilan dari sekolah, nggak mempan. Kalau dasarnya begitu mah ya sudah. Yang penting, mereka tidak melakukan tindakan kriminal atau membuat keluarga ini malu." ucap Mama Martha memberikan saran di tengah perdebatan sengit antara Janice dan Mika.
"Lagian Mika itu masih PAUD. Dunia mereka ya bermain sambil belajar. Bukan full belajar di kelas. Ya mana betah anak seusia segitu disuruh duduk berjam-jam," lanjutnya.
"Benar kata Nenek gayung, Kak. Yang penting nanti otaknya itu encer dan Mika banyak prestasinya. Minat dan bakat seseorang itu nggak cuma muncul dari belajar di dalam kelas aja, Kak. Mungkin Mika sama dengan Achel, yang nggak terlalu suka belajar serius." ucap Rachel yang baru saja datang dengan tas selempang di tangannya.
Betul itu. Mama nih halus belajal lagi jadi anak kecil agal tahu keinginan Mika,
Janice yang disudutkan oleh tiga orang pun hanya bisa menghela nafasnya pelan. Sedari kecil, ia terbiasa disiplin dengan aturan banyak dari orangtua dan sekolah. Setelah bertemu Rachel, dia dan saudaranya yang lain jadi sering berkumpul juga bermain. Sebelumnya, dunia mereka hanya belajar. Bahkan mereka sudah disiapkan sebagai penerus perusahaan karena waktu itu Papa Fabio dan Mama Martha belum tahu jika mempunyai cucu laki-laki.
"Baik lah, terserah kamu saja. Asalkan jangan sampai kamu terluka saat bermain," ucap Janice yang pasrah kalau anaknya menganggap sekolah PAUD itu sebagai arena bermain sepenuhnya.
Holeee...
"Pindah sekolah kan, Ma? Ndak suka Mika di sekolah itu. Atau ndak, Mika langsung kuliah saja kaya Onty boncel dan Uncle Onand." ucap Mika dengan antusiasnya meminta pindah sekolah pada Janice.
Heh... Kurcaci cadel,
"Umurmu itu belum mencukupi. Tinggimu juga masih setinggi tongkat kasti gitu kok mau langsung kuliah," ucap Rachel sambil berkacak pinggang.
"Umul dan tinggi emang belum cukup, tapi soal otak. Hmm... Jangan pelnah lagukan Mika,"
"Buktinya Mika bisa jawab satu tambah satu sama dengan sebelas. Hebat kan Mika ini?" ucap Mika sambil menepuk dadanya dengan bangga.
Seakan Mika tengah menyombongkan dirinya sendiri kalau bisa berprestasi dan langsung masuk kuliah dengan hitung-hitungan. Sedangkan Janice, Rachel, dan Mama Martha menatap tak percaya pada Rachel. Ajaran sesat siapa itu satu ditambah satu sama dengan sebelas? Janice sepertinya hanya bisa pasrah saja jika anaknya kelak tidak pandai dalam hal akademik.
Sudah lah, Janice pusing.
Sama, Achel juga pusing. Padahal Achel selalu ajarkan matematika setiap malam lho,
Ndak lho, Onty boncel tiap malam ajali Mika hitung duit yang masuk ke lekening.
Heh...
Rachel...
Hehehe...
Yang penting pintar hitung duit, Nenek gayung.
***
"Ronand, kamu mau ikut masuk kelompoknya siapa?" tanya Reza yang ditunjuk sebagai koordinator kelas oleh dosen.
Baru saja Ronand masuk ke kelasnya dan duduk, sudah ditodong permasalahan kelompok. Ronand melihat ke arah isi kelasnya yang ternyata para mahasiswa sudah berkumpul dengan kelompoknya masing-masing. Hanya Reza yang mendekatinya karena memang tugasnya memastikan semua mahasiswa mendapatkan kelompoknya.
"Sama kita aja, Ronand." Kaira melambaikan tangannya ke arah Ronand agar bergabung dengan kelompoknya.
"Sorry... Nggak bisa, Kai. Kelompokmu udah penuh," Reza tak setuju dengan keinginan dari Kaira. Beberapa mahasiswa juga ingin Ronand menjadi anggota kelompok mereka. Namun mereka sadar bahwa Ronand pasti ingin memilih kelompoknya sendiri.
"Terserah, Za. Yang penting anggotanya pada bisa diajak kerja dan berpikir," ucap Ronand yang seakan memberi syarat untuk kelompoknya nanti.
"Duh... Susah,"
Reza sendiri belum mengenal lebih dalam tentang karakter mahasiswa di kelas itu. Mereka baru bertemu beberapa hari yang membuat Reza belum paham karakter masing-masing dari mahasiswa. Reza menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil cengengesan. Ia tadi membuat kelompok itu sesuai keinginan masing-masing mahasiswa ingin dengan siapa.
"Ya udah, yang masih kurang anggotanya kelompok mana?" tanya Ronand sambil melihat beberapa kelompok di kelasnya.
"Kelompokku masih kurang dua orang. Kelompok Akbar, kurang satu orang. Terserah mau pilih masuk kelompok mana," ucap Reza memberitahukan kelompok yang belum lengkap anggotanya.
"Aku ikut kelompokmu aja," putus Ronand yang kemudian Reza menganggukkan kepalanya.
Ronand pun mendekati kelompoknya untuk berdiskusi. Kaira tampak kecewa karena tidak bisa satu kelompok dengan Ronand. Sedangkan Reza begitu senang karena satu kelompok dengan Ronand. Setidaknya nanti dia bisa belajar dari Ronand yang ilmunya lebih banyak dibandingkan dirinya. Reza menunggu beberapa mahasiswa yang belum datang untuk melengkapkan anggota kelompok lainnya.
"Mending kita bagi aja ini cari materinya. Kalau semua orang cari materi yang sama, nggak akan selesai-selesai." ucap Danial yang menjadi anggota kelompok dari Reza dan Ronand.
"Benar. Ini kan ada 4 sub bab. Per satu sub bab, dua orang cari materinya. Harus lengkap dan disertakan sumbernya," ucap Reza membuat mereka menganggukkan kepalanya setuju.
"Nanti kita bahas sama-sama kalau materi sudah terkumpul." lanjutnya.
Semua menganggukkan kepalanya setuju. Banyak tugas mata kuliah lain yang sudah mulai bermunculan, sehingga mereka tak bisa hanya fokus pada ini saja. Ronand bersama Danial menjadi satu kelompok untuk mencari materi. Ronand lebih banyak diam seperti saran dari Arvan. Beruntungnya, semua anggota kelompoknya mau bekerja.
Aku cari lewat jurnal ilmiah aja,
Jangan yang bahasa Inggris, Nand. Aku belum terlalu fasih,
Aman,
Ternyata kamu tak seburuk dan seegois yang terlihat beberapa hari ini, Nand.
Aku egois untuk mempertahankan harga diriku, Dan.
Ini kalau nggak selesai, buat laporannya di luar kampus aja ya?
Oke,