Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Pertanyaan
Dokter membuka hasil pemeriksaan, "Dari hasil observasi, penyumbatan pada pembuluh darah Pak Robihot sudah berhasil distabilkan. Aliran darahnya sekarang jauh lebih baik dibandingkan saat pertama."
Naya menahan napas, "jadi, ayah saya sudah boleh pulang, Dok?"
"Boleh," jawab dokter sambil mengangguk. "Tapi dengan beberapa catatan penting."
Ibunya langsung duduk lebih tegak.
"Penyumbatan pembuluh darah ini tidak bisa dianggap sepele. Kalau pola hidupnya tak dijaga, bisa memberikan risiko yang lebih berat."
Naya menggenggam tangan ibunya, "Apa yang harus kami lakukan?"
Dokter menjelaskan satu per satu.
"Beliau harus rutin minum obat pengencer darah dan tekanan darah. Lalu aktivitas fisik berat harus dihentikan dulu. Untuk sementara, hindari pekerjaan yang terlalu melelahkan."
Dokter berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Pola makan juga harus diubah. Kurangi gorengan, makanan berlemak dan yang terlalu asin. Perbanyak sayur, buah dan makanan rendah kolesterol. "
Ia kemudian menatap mereka dengan lebih serius.
"Yang paling penting, kontrol rutin. Minimal sebulan sekali di awal. Kalau muncul keluhan seperti pusing berat, mati rasa, atau sesak, segera bawa ke rumah sakit."
Ruangan menjadi hening.
Ibu Naya berusaha mengingat semua penjelasan dokter itu.
"Selama dijaga dengan baik, " tambah dokter dengan nada menenangkan, "Kondisi beliau tetap bisa stabil . Tapi sekarang tubuhnya butuh waktu untuk pulih."
Naya mengangguk pelan, rasa lega bercampur tanggung jawab memenuhi dadanya.
Keesokan harinya, Naya akhirnya kembali berangkat ke kantor setelah satu hari izin. Langkahnya masih terasa sedikit berat, namun setidaknya pikirannya tidak lagi dipenuhi kecemasan.
Pagi itu kantor sudah ramai seperti biasa. Naya meletakkan tasnya di meja, ada suara langsung menyapanya.
"Nay, akhirnya kamu masuk juga."
Naya menoleh dan melihat Nadira berdiri di samping mejanya dengan wajah berbinar.
"Aku kira kamu bakal nambah cuti, tau." lanjut Nadira sambil menyilangkan tangan, tapi senyumnya jelas menunjukkan rasa lega.
Naya tersenyum kecil. "Ayah sudah lebih baik. Sudah boleh pulang juga."
Wajah Nadira langsung berubah hangat.
"Betul? Syukurlah..... "
Ia lalu menarik kursinya dan duduk setengah bersandar di meja Naya, "kemaren rasanya kantor sepiiiiii banget tanpa kamu."
Naya tertawa pelan, "Lebay... tapi makasih ya....sudah perhatian."
Nadira mengangkat bahu santai, "Ya iyalah. Sahabat siapa dulu."
Naya kembali bekerja seperti biasa, Ia baru kembali dari ruang fotokopi sambil membawa beberapa berkas di tangannya. Pagi itu kantor sibuk, para karyawan berlalu lalang mengejar pekerjaan masing-masing.
Ia berjalan cepat melewati koridor utama, berusaha kembali ke mejanya sebelum dipanggil supervisor.
Namun saat berbelok di dekat area lift eksekutif, langkahnya mendadak melambat.
Beberapa karyawan di depan tiba-tiba berdiri lebih tegak.
Suasana berubah hening.
CEO perusahaan itu berjalan keluar dari lift, didampingi asistennya. Langkahnya tenang, namun membuat orang-orang otomatis memberi jalan.
Naya refleks menepi ke sisi koridor, menunduk sopan seperti karyawan lain.
"Pagi, Pak." ucap beberapa staf hampir bersamaan.
Naya ikut menyapa hormat, "selamat pagi, Pak."
Ia tidak berharap diperhatikan. Sebagai staf administrasi, keberadaannya nyaris tak terlihat di antara banyak karyawan lain.
Namun saat melewatinya, langkah CEO itu sempat melambat. Tatapannya sekilas jatuh pada Naya.
Sangat singkat, hampir seperti kebetulan.
Lalu ia kembali berjalan tanpa mengatakan apa pun.
Naya menghembuskan napas kecil setelah pria itu menjauh. Tangannya tanpa sadar merapikan map yang sebenarnya sudah rapi.
"Deg-degan banget tiap dia lewat," gumam salah satu karyawan di belakangnya.
Naya hanya tersenyum tipis dan melanjutkan langkah.
Telepon meja supervisor tiba-tiba berdering. Supervisor mengangkatnya cepat.
"Administrasi, selamat pagi." Ia langsung duduk lebih tegak.
"Baik, segera kami kirim."
Telepon ditutup.
Supervisor itu memandang sekeliling ruangan, matanya berhenti pada Naya yang sedang menyusun dokumen di mejanya.
"Naya."
Naya langsung menoleh, "Saya, Bu."
"Tolong antar berkas ini ke lantai atas. Ruang CEO."
Naya sedikit terkejut mendengar ruang CEO itu.
"Sa-saya, Bu?" tanyanya refleks.
"Iya, " jawab supervisornya sambil menyerahkan map tebal. "Asisten pak CEO minta langsung sekarang."
Naya menerima map itu dengan hati-hati.
Beberapa rekan kerja melirik yang diam-diam, termasuk Nadira. Nadira mengangkat alis, jelas penasaran.
Naya berdiri, merapikan pakaiannya secara refleks sebelum berjalan menuju lift.
'Kenapa harus aku?' pikirnya.
Pintu lift terbuka di lantai eksekutif. Suasananya jelas berbeda.
Ia berhenti di depan meja resepsionis kecil.
Seorang pria berpakaian rapi, asistennya CEO menatapnya.
"Saya dari administrasi, Pak." kata Naya sedikit gugup.
Asistennya mengangguk singkat, "tunggu sebentar."
Ia mengetuk pintu besar di belakangnya, lalu membuka sedikit.
"Pak, dokumennya sudah datang."
Naya berdiri kaku di tempatnya, tidak tahu harus melihat kemana.
Beberapa detik berlanjut, asistennya menoleh kembali, "silahkan masuk."
Jantung Naya langsung berdegup lebih cepat.
Ia melangkah masuk perlahan. Disanalah CEO itu berdiri di balik meja kerjanya.
"Permisi, Pak. Ini dokumennya." katanya pelan.
Suara itu jelas dikenal oleh dia, membuatnya menoleh. Tatapannya memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
Naya melangkah mendekat dan menyerahkan map di tangannya dengan hati-hati.
CEO itu menerimanya tanpa tergesa dengan tangannya, dia tetap memperhatikan wajah Naya.
Naya berbalik dengan wajah tertunduk.
"Ayahmu, bagaimana kondisinya sekarang?"
Langkah Naya langsung terhenti. Ia jelas terkejut, berbalik lagi tanpa menatap CEO itu.
"Sa- sudah lebih baik, Pak." jawabnya gugup.
"Sudah pulang dari rumah sakit."
CEO itu mengangguk kecil, matanya kembali pada dokumen di depannya.
"Kalau begitu, saya permisi, Pak." ucap Naya akhirnya.
Asistennya berdiri menunggu di tempat yang sama, jelas mendengar yang mereka bicarakan.
"Mari, saya antar." katanya sopan.
Mereka berjalan menuju pintu, namun ada pertanyaan yang muncul di kepala Naya, tentang kedatangannya ke rumah sakit kemaren.
Langkahnya melambat, menoleh kembali ke belakang.
"Pak?" panggilnya spontan.
Asisten itu berhenti, mengira Naya berbicara kepadanya. "Iya?"
Naya tampak ragu. Namun kesadarannya kembali.
"Maaf, Pak. Tidak ada." katanya cepat sambil menggeleng kecil.
Asisten itu memperhatikan sejenak, sedikit heran.
"Apa masih ada yang perlu dibantu?"
Naya buru-buru menggeleng. "Tidak, Pak. Sudah cukup."
Naya menunduk sopan sebelum meninggalkan tempat itu.
Naya kembali duduk di meja kerjanya, mencoba menata fokus setelah dari lantai atas. Ia menarik napas pelan.
Nadira memperhatikan Naya, "Nay, aman?"
Naya menghembuskan napas pelan, "aman, Dir. Sedikit nervous aja. Biasalah." katanya tersenyum.
"Pak Adrian saat menerima dokumen gimana tadi?" tanya Nadira penasaran.
Naya menatap wajah Nadira yang terlihat serius dengan pertanyaan itu, "Emang kenapa, Dir?"
Nadira langsung memalingkan wajahnya sambil merapikan poni rambutnya, "Engga apa-apa sih, Nay."
"oh... biasalah, Pak CEO kan selalu terlihat dingin." jelasnya.
Ia melanjutkan pekerjaannya, mengetik laporan. Hingga ia sampai pada bagian tanggal laporan. Perlahan ia menuliskan angka itu. Jemarinya berhenti, ia menatap tanggal yang baru saja ia ketik. Dadanya mendadak terasa kosong.
Hari dimana ulang tahun Damar.