NovelToon NovelToon
Father'S Beloved Adopted Daughter

Father'S Beloved Adopted Daughter

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Roh Supernatural / Fantasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: sky tulip

Ada yang bilang anak perempuan itu kesayangan ayahnya
tapi, Anisa bukan putri kandung keluarga ini
Ia anak adopsi yang kebetulan bertemu dengan James Arthur didepan panti asuhannya.
Pertama kali melihat Anisa James langsung membawanya.
Anisa menjadi kesayangan James saja nyawanya hampir dalam bahaya.
Karena Anisa sadar ia kesayangan pria yang dianggapnya ayah sekarang semua bahaya itu ia tantang seperti masalah kecil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terlalu tega atau tidak ya

Kejadian beberapa bulan lalu yang James mulai dengan menyelidiki tentang Rosa Alba tiba-tiba terbuka lagi karena keluarga Australis yang tiba-tiba membuat kekacauan dalam rapat kerja sama nya di rapat yang tidak James hadiri hanya di hadiri oleh Silva bersama dengan Rudolf.

Anisa melihat James yang mau mengajaknya pulang dari tempat belajar tiba-tiba saja serius saat menelpon seseorang.

"Dia kenapa, Paman?" Tanya Anisa pada Silva yang hanya bisa tersenyum canggung tak bisa menjawabnya begitu saja.

"Melirik Anisa menunggunya berdiri memperhatikan beberapa anak di jemput walinya.

James menyudahi telponnya dan mendekat mengambil tangan kiri Anisa.

"Ayo pulang. "

Tanpa banyak bicara Anisa juga ikut saja ayahnya masuk kedalam mobil. Diam dan membiarkan ayah ya sibuk dengan benda-benda yang ada di pangkuannya.

Di saat macet lampu merah hujan Turan deras. Anisa yang tiba-tiba bosan merasa harus menanyakan sesuatu pada ayahnya.

"Memangnya perempuan dan laki-laki tidak boleh berteman dekat kenapa ayah?"

James seperti di sambar petir padahal hanya hujan saja di luar. Pekerjaan nya langsung di sudahi dan di simpan.

"Ayah tidak perlu kaget juga ya, ayahkan kemarin bilang kalo aku tidak boleh dekat-dekat teman laki-laki. "

James berdehem.

"Tidak ada tuh yang melarang berteman tapi, kamu terlalu cepat mengerti dan kamu selalu berpikir lebih cepat dari umurmu. "

"Kan anak-anak harus berlatih hidup lebih mandiri dan dewasa. " Jawaban apa Danya wajahnya polos.

"Iyaa kamu benar tapi, pemikiran mu lari sprint nak umurmu baru sepuluh tahun. "

James gemas rasanya.

"Ohw begitu ya, hemmm ayah heheh. "

" Kamu seperti mau buang air besar?"

"Ayah aku sedang merayu tahu!"

"Aku tidak terbujuk rayuan jelek mu. "

"A~ayah!"

Pertikaian dimulai mobil jadi lebih ramai.

"Ayah tinggal bilang seperti ini, iyaa anakku boleh saja berteman dengan siapapun harusnya kamu pintar menjaga dirimu, karena kamu perempuan, ayah tidak selalu ada didekat mu. "

"Itu sudah kau katakan. " Jawaban James membuat Anisa semakin marah.

"Itu contoh dasar tidak pengertian!"

"Aku tidak perlu memberi nasehat kau sudah paham, apa ku bilang pikiranmu lebih dewasa dari umurmu. "

"Iyaa memang benar sih Huft!" Lelah berteriak.

"Batrei mu habis. "

"Ayah aku tidak mau bercanda sekarang. " Anisa sedikit lesu tiba-tiba.

"Kepalamu pusing lagi?" James bertanya karena Anisa yang tiba-tiba memegang kepalanya.

"Aku hanya ingin memiliki teman laki-laki tidak seperti ayah temannya laki-laki sampai dewasa ayah ini tidak hepuummh. "

"Ahemmmphm. "

James menutup mulut putrinya sebelum melewati batasan kata yang tidak boleh terucap dari anak sepuluh tahun sepertinya.

"Kau harus menjaga bahasamu, kau sudah belajar bukan di tempat belajar?" James bertanya menyelidik dengan sorot mata tajamnya yang pastinya seram bisa membuat siapapun takut.

"Iya. " Suara di balik bekapan mulut yang mulai melonggar.

Di lepaskan tangannya dari mulut Anisa dan kembali menghirup nafas banyak-banyak.

"Berlebihan. " Ejeknya pada putrinya yang seperti di tutup juga hidungnya.

"Tangan ayah itu besar menutupi hidungku juga tahu!"

"Tidak sebesar itu untuk memukul rahang pria kurang ajar yang suka melecehkan putriku."

Kaget, gantian yang tersambar petir Anisa.

"Ayah! Lihat Paman Silva ayahku sangat kurang ajar dan posisi, begitu teganya membiarkan anaknya yang cantik dan baik hati ini harus hidup sendiri tanpa teman laki-laki yang baik."

Bingung Silva dan Theo harus ikut bicara atau tidak, sepertinya sedikit senyum dan diam tanpa suara itu menyelamatkan nyawa mereka masalahnya yang di adukan nona mereka Tuan mereka berdua sudah memerah kilat-kilat di matanya.

"Mengadu pada mereka tak ada gunanya."

"Iyaa karena ayah itu atasan mereka kalo mereka bertindak ayah itu sudah pasti akan memecatnya."

Tersenyum bangga karena punya banyak uang dan segala kekuasaan. Anisa melihat wajah dengan banyak tulisan sombong di kepalanya.

Anisa diam bukan sedang pusing ia hanya berpikir bagaimana ayahnya bisa sangat berbeda ketika serius dan ketika mengajaknya berdebat ribut tak karuan dan ayahnya juga tak marah kalo ia menjawab seenaknya.

"Ayah.. Apa ayah tidak pernah memarahi aku kalo salah?"

"Bukannya sering, kamu juga sering menjawab."

Hah!

****

Mobil yang terjebak macet akhirnya sudah berjalan lancar dan kini sebentar lagi sampai dirumah.

"Ayah apa manusia itu selalu punya perubahan di hatinya, kalo misalnya Anisa benar-benar sangat kurang ajar apa ayah akan benar-benar membuang ku."

Tangan James terulur mengangkat putrinya ke pangkuannya.

"Pemikiran mu sudah tentang pergi dari rumah, kamu belum setahun di rumah ku dan itu juga rumah mu anakku tersayang."

Anisa terkekeh.

James melihatnya senang sekali wajahnya yang selalu serius selalu tersenyum begitu cerah memperlihatkan kalo tidak hanya wajah serius yang tampan ternyata wajah tersenyum manis tak kalah tampan berkali-kali lipat nya.

"Aku hanya mengetes ayah, aku bosan aku diam saja dan bingung, kalo aku tidak hati-hati bicara saat ayah kerja itu akan membuat ayah marah nantinya, puji aku ayah... Aku 8ni pengertian dan juga baik hatinya heumm."

Mencium pipi Anisa sampai geli terkekeh.

"Anaku sudah pintar menyombongkan dirinya ya?"

"Jelas lah aku ini anaknya James Arthur Oceanus !" Melebarkan tangannya di atas kepalanya secara heboh menjelaskan siapa nama ayahnya.

James menepuk nepuk pucuk kepalanya.

Keduanya sangat akur sampai mata kedua bawahannya saling bertemu dan bicara lewat batin.

Hanya Nona Anisa yang bisa membuat Tuan James seperti manusia umumnya dan normal.

Stelah membawa masuk Anisa kedalam rumah dan melangkah masuk ke ruang kerjanya.

"Aku akan mandi dan makan malam dengan ayah ya!" Teriaknya sat di tuntun Mina dan Nena masuk kedalam kamarnya. James mengangguk dan masuk saja ke ruang kerja nya.

"Beberapa kerusakan harus di mintai biaya dari mereka, berani-beraninya membuat hancur pekerjaan orang lain."

*****

Grey Alba yang merasa puas karena membuat orang-orang tak bisa bekerja menurutnya mendapatkan hal yang membuatnya senang.

"Kemalangan itu hanya milik kalian yang tak mau melayaniku dengan baik, aku hanya ingin di jamu dengan baik. "

Melempar gelas kopi pada seorang petugas kebersihan kantor dan itu benar-benar terjadi didepan mata James.

Silva sampai menggeleng dengan mata terpejam.

"Sepertinya keluarga Australis menyukai masalah bagimana jika aku yang jadi masalahnya, kalian pasti lebih menyayanginya bukan?"

"Tu-Tuan James..."

Bergetar seluruh tangannya melihat keberadaan James benar-benar didepan matanya. Masih pagi ia sudah berhadapan dengan James.

"Ayah.. Aku boleh ikutan?"

Ya, hari ini Anisa merengek ingin bolos karena bosan dan James terpaksa mengizinkannya karena rayuan maut Anisa tak biasa.

Kejadian sebelum datang memeriksa kejadian.

"Ayah~ oh ayah, aku merasa kurang semangat sudah seminggu aku belajar hari Minggu kemarin juga ada kegiatan dan aku lelah, boleh ya... Ayah ku tercinta aku ikut ayah bekerja, boleh ya boleh lahh iyaa ya yaaa~"

James merasa tersudut dengan keimutan Anisa kali ini.

"Siapa yang mendandanimu secantik ini?"

"Wah iya kah?" Turun dari kursi depan meja makan dan memutar tubuhnya.

"Ini adalah pilihan ku dan Mina membantu memilih hiasan apa yang cocok dan pintanya juga senada dengan gaun ku hari ini, aku memakai celana panjang tau yah.."

James terkekeh.

"Baik baik, ayo ikut."

Kembali ke kantor didepan Grey Alba.

"Iyaa kamu boleh ikutan apa yang mau kamu lakukan padanya, jangan terlalu kasar ia sudah tu ya."

James menyentuh hidung Anisa yang membuatnya tersenyum.

"Paman itu membuat paman yang itu terlihat hina seharusnya jangan sombong hanya karena butuh pelayanan terbaik dan anda juga merusak beberapa properti yang ayah bilang ganti ruginya tidak murah Paman!" Memberitahu dengan tegas di gendongan James membuat Grey sedikit kesal.

James menurunkannya membiarkan Anisa mendekati Grey.

"Paman tahukan apa yang terjadi pada putrimu waktu itu, seharusnya paman belajar menjadi orang baik dong.

Seketika itu tubuhnya tak bisa di gerakkan dan semua staf sudah tidak ada di lantai ini hanya ada Silva, James dan Anisa dengan Grey didepannya.

"Mau membunuhnya ?"

Grey tersentak kaget.

"Atau mencabik-cabik nya, jangan di kantor karena sulit membereskannya."

Anisa berbalik menatap ayahnya keheranan.

"Ayah kondisikan bahasa itu didepan anak kecil itu tak baik."

James tersenyum.

"Baiklah," ucapnya sambil mendekat berdiri di belakang Anisa.

"Terlalu tega tidak, ya?" Melihat Grey sudah hampir kehabisan nafasnya dan Anisa seolah sedang mempermainkannya.

"Jangan di bunuh dia harus membayar hutangnya dulu."

"Oh iya, ayah benar."

Silva yang ada disana merasa seperti mirip dengan tembok.

Mereka apa tak merasa kalo Silva juga bis terpengaruh kejutannya hanya saja Tuan James membantu menetralkan kekuatan Anisa didekatnya.

Mereka benar-benar keterlaluan.

1
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
jangan kasih ampun
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
hajarrr
Jijah Atul
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!