Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.
Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.
Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.
seorang dukun yang diminta untuk membantu nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Keheningan di Balik Kabut Pagi
Pagi itu, suasana rumah masih diselimuti kegelapan. Jarum jam baru saja melewati angka lima, dan langit di luar jendela masih berwarna biru tua pekat, nyaris hitam. Kabut tipis merayap di sela-sela ventilasi, membawa hawa dingin yang menusuk tulang.
Secara mengejutkan, Colette terbangun. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar dalam remang. Biasanya, jika hari Sabtu tiba, ia akan mengunci diri di bawah selimut hingga matahari tepat di atas kepala—sebuah cara untuk mematikan waktu agar ia tidak perlu menghadapi kenyataan. Namun pagi ini berbeda.
Perutnya terasa sangat perih, melilit karena rasa lapar yang menuntut. Mungkin karena semalam ia hampir tidak menyentuh makanan sama sekali di tengah kericuhan pesta, atau mungkin karena jiwanya sedang mencari pengalihan dari trauma semalam melalui rasa lapar yang nyata.
Dengan langkah pelan dan tanpa suara, Colette menuruni anak tangga kayu yang sesekali berderit. Ia tidak menyalakan lampu ruang tengah, membiarkan dirinya berjalan dalam kegelapan yang sudah sangat ia kenali.
Sesampainya di dapur, ia menyalakan lampu kecil di atas kompor. Cahaya kuning temaram langsung menyiram ruangan itu, menciptakan bayangan panjang di dinding. Colette berdiri mematung sejenak, menatap deretan peralatan masak ibunya.
Ia berniat ingin memasak sesuatu. Sesuatu yang sederhana. Namun, tangannya berhenti di udara saat hendak mengambil panci.
Keheningan pagi ini terasa sangat asing bagi Colette. Di tengah kesunyian itu, ingatannya kembali berputar pada kejadian semalam. Ia teringat bagaimana Jude menjaganya dengan begitu tulus, namun ia juga tidak bisa menghapus bayangan dukun muda yang duduk santai dengan lutut terangkat itu.
Kenapa aku bangun sepagi ini? batinnya heran.
Biasanya, mimpinya selalu penuh dengan bayangan hitam yang mengejarnya, membuatnya ingin terus tertidur agar tidak bangun dalam keadaan lelah. Tapi pagi ini, rasanya seolah ada sesuatu yang "membangunkannya". Seolah ada sepasang mata yang mengawasinya dari kejauhan, memaksanya untuk tetap waspada bahkan di rumahnya sendiri.
Colette mulai memecahkan telur ke dalam mangkuk kecil. Suara denting garpu pada porselen terdengar sangat nyaring di rumah yang masih terlelap itu.
Colette bergerak secara mekanis, seolah-olah aktivitas di dapur ini adalah bentuk meditasi untuk menenangkan saraf-sarafnya yang masih tegang.
Ia membuka pintu kompartemen pembeku dan mengeluarkan sepotong daging sapi yang membeku keras. Dinginnya daging itu merembes ke telapak tangannya, memberikan rasa sakit yang nyata—sesuatu yang ia butuhkan untuk memastikan bahwa ia benar-benar sudah terjaga, bukan lagi terjebak dalam mimpi buruk semalam.
Di atas wajan datar, daging itu mulai mengeluarkan suara mendesis saat bersentuhan dengan mentega panas. Aroma gurih yang kuat perlahan memenuhi ruangan dapur yang sempit. Sembari menunggu dagingnya terpanggang, Colette menuangkan susu putih ke dalam gelas tinggi. Warna putihnya yang murni tampak kontras dengan kegelapan di luar jendela.
Sesekali ia menyesap susu hangat itu, membiarkan cairannya yang lembut melapisi tenggorokannya yang kering. Di tengah kesunyian pagi yang belum pecah oleh suara burung ataupun kendaraan, Colette merasa sedikit berkuasa atas hidupnya sendiri. Di dapur ini, tidak ada yang mengejeknya, tidak ada yang menyentuhnya tanpa izin, dan tidak ada ramalan kematian yang menghantuinya.
Namun, saat ia membalikkan potongan dagingnya, bayangan smirk dukun muda itu kembali terlintas. Ia teringat bagaimana pria itu tampak begitu hidup dan berkuasa meski berada di gubuk yang kotor.
"Setidaknya aku kenyang sekarang," bisiknya lirih pada dirinya sendiri, suaranya terdengar asing karena ia begitu jarang berbicara.
Pagi itu bukan hanya sekadar sarapan pagi yang langka, melainkan sebuah momen di mana kesadaran Colette perlahan-lahan merembes keluar dari balik cangkang traumanya.
Sambil mengunyah potongan daging panggang yang ia buat, Colette tertegun. Suara bisikannya tadi—"Setidaknya aku kenyang sekarang"—masih terngiang di telinganya. Ia menyadari betapa asingnya getaran pita suaranya sendiri. Selama ini, suaranya terkubur di bawah tumpukan rasa takut, membuat lidahnya kelu dan tenggorokannya seolah tersumbat debu masa lalu. Mendengar suaranya sendiri pagi ini memberikan sensasi aneh; seperti mendengar suara orang asing yang tinggal di dalam tubuhnya.
Setelah menghabiskan susu putihnya, Colette tanpa sengaja menyentuh wajahnya. Ia merasakan helaian rambut yang kasar dan tebal menjuntai di depan matanya.
Selama bertahun-tahun, Colette menolak untuk berkaca. Baginya, cermin adalah musuh. Cermin hanya akan memantulkan sosok gadis yang hancur, mata yang mati, dan bekas-bekas luka yang ia percayai masih terlihat jelas meskipun secara fisik sudah memudar. Ia lebih memilih buta terhadap penampilannya sendiri daripada harus melihat "monster" yang ia bayangkan ada di sana.
Karena ketakutan itulah, ia tidak pernah sadar bahwa rambut depannya sudah tumbuh sangat panjang. Rambut hitamnya itu kini menjuntai, menutupi kedua matanya seperti tirai yang rapat. Ia telah lama melihat dunia melalui celah-celah rambutnya, seolah-olah ia sedang bersembunyi di dalam hutan kecil yang ia ciptakan di kepalanya sendiri.
Secara impulsif, Colette berjalan menuju wastafel dapur. Di atasnya, terdapat sebuah cermin kecil yang sudah agak buram dan berdebu.
Tangannya gemetar. Jantungnya berdegup kencang, seolah ia akan melihat hantu. Namun, entah kekuatan dari mana—mungkin karena pertemuannya dengan dukun muda semalam yang menatapnya seolah ia adalah "permata"—Colette perlahan mengangkat wajahnya.
Ia menggunakan jari-jarinya yang masih berbau mentega untuk menyisir rambut yang menutupi matanya ke samping.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Colette melihat matanya sendiri. Mata yang besar namun redup, dikelilingi oleh kulit pucat yang hampir transparan. Namun, di balik keremangan pagi itu, ia menyadari sesuatu yang mengejutkan: ia tidak terlihat seperti monster. Ia hanya terlihat seperti gadis yang tersesat.