NovelToon NovelToon
TUKAR JODOH (SUAMIKU KAYA)

TUKAR JODOH (SUAMIKU KAYA)

Status: tamat
Genre:CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:102.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_va

Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.

Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.

Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.

Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.



Simak cerita selengkapnya 🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

"Apakah Pak Radit boleh minum teh manis?" tanya Sania ragu-ragu dan sungkan.

Mungkin saja Radit menjaga asupan makan karena masa pemulihan. Walaupun sudah terlihat sehat dan segar. Sania tahu mengenai Radit yang tidak bisa mengingat kejadian baru, sehingga disarankan untuk mencatat.

"Boleh, gulanya satu sendok kecil saja," sahut Radit.

"Bang Orie mungkin mau kopi?" Sania menawarkan.

Orie yang menunggu di teras, menggelengkan kepalanya dan menolak secara sopan.

"Cahya, ikut Oma." Sania melambaikan tangan kanannya. Cahya langsung berlari ke belakang.

Nina yang duduk di kursi kayu, tidak berani memandang maupun bertanya. Kedua jari jemarinya bertautan di atas pangkuan.

"Besok malam, bekerjalah kembali, Nina," kata Radit.

"Saya...." Nina mendongak.

"Bagaimana dengan Nyonya Sekar dan istri Anda, Pak? Saya tidak ingin bekerja di bawah tekanan. Maksudnya, tidak ingin menyebabkan pertengkaran."

"Aku akan menambah tiga puluh persen dari gajimu." Radit melihat foto di dinding. Foto keluarga lama. Nina sepertinya masih usia remaja.

Nina dilema, butuh kerja tapi tidak ingin ribut dengan Bianca. Kalau tidak kerja, uangnya makin menipis.

"Aku tunggu sampai besok sore," kata Radit.

"Pak Radit, sepertinya saya nggak bisa." Nina menyahut pelan.

"Aku tunggu sampai besok sore," ulang Radit.

Sania keluar membawa nampan kecil, Cahya mengekor di belakang. Cangkir teh itu diletakkan di meja kecil.

"Silakan diminum, Pak Radit." Sania mundur satu langkah, duduk di kursi yang kosong. Memberanikan diri meminta maaf atas perbuatan Nina.

"Jika menimbulkan polemik, lebih baik tidak bekerja lagi, Pak. Kasihan Nina, hidupnya sudah cukup berat," kata Sania.

Radit memegang gagang cangkir. Meminum teh yang terasa hangat di tenggorokan.

"Aku yang mempekerjakan Nina kali ini." Cangkir teh kembali mendarat di meja. Radit merogoh ke dalam saku jaketnya, ada buku catatan kecil yang selalu dibawa. Mencatat apa yang telah dikatakan.

Nina dan Sania memperhatikan Radit yang sedang menulis.

"Siapa tadi nama ponakanmu?" Radit mendongak. Menatap gadis kecil yang bersandar di paha Sania.

"Cahya, Pak," jawab Nina.

Setelah menulis nama Cahya, Radit menyimpan kembali buku catatannya.

"Terima kasih untuk tehnya, Bu Sania."

"Sama-sama, Pak. Terima kasih telah berkenan datang ke rumah kami yang sederhana," balas Sania.

"Orie...." panggil Radit.

Orie paham, mengangguk pada Sania dengan takzim. Lalu mendorong keluar kursi roda.

Nina berjalan di belakang Orie, menunggu di dekat pagar. Ketika mobil sedan itu pergi, Nina masuk ke dalam rumah.

"Apa kamu akan kembali kerja menjadi penjaga Pak Radit?"

"Entahlah, Ma." Nina mengedikkan kedua bahunya.

"Nyonya Bianca itu judes banget. Bahkan sebelum aku ketahuan."

"Mama tidak memaksamu bekerja di sana. Semoga ada pekerjaan lain."

Memang ada pekerjaan lain, menjaga kedai kecil es teh jumbo. Tetapi gajinya kecil, kisaran satu juta. Tidak cukup untuk makan empat orang. Nina realistis bukannya tidak bersyukur.

"Tante, jadi beli kado?" Pertanyaan Cahya membuyarkan lamunan Nina.

"Ayo... kita beli kado." Nina menggandeng tangan Cahya.

"Kami ke toko Cik Dinda, Ma."

"Ya!" sahut Sania yang berada di kamar.

***************

Sampai di rumah, Radit ditunggu Bianca di dekat pintu kamar. Istrinya itu terlihat marah karena Radit mengabaikan telepon dan pesannya. Juga karena pulang terlambat. Bianca memarahi Orie, yang tidak mau mengatakan tujuan Radit setelah terapi fisioterapi.

"Kami dari perpus....."

"Aku bertemu Nina, menyuruh dia kembali kerja. Itu kalau dia mau." Radit menyela ucapan Orie. Di dalam mobil, dia membaca ulang catatannya.

Bianca tertawa getir. "Kamu mendukung kriminal. Jelas-jelas Nina membohongi kita. Seharusnya dituntut. Gimana sih!?"

"Aku hanya ingin memberikan kesempatan kedua. Menyingkir lah dari pintu," perintah Radit.

"Astagaaaa!!! Kesempatan kedua!!??" Suara Bianca sangat lantang.

"Pembunuh juga akan diberikan kesempatan kedua??"

"Beda kasus." Radit menghela napas.

"Minggir, Bianca!"

Bianca terpaksa menyingkir dari ambang pintu. Mendesis mirip ular karena sangat marah.

"Lebih membela perempuan penipu daripada istrimu sendiri? Perempuan yang telah melahirkan anak untukmu?" Bianca mengikuti Radit masuk kamar.

"Bagaimana dengan dirimu?"

"Apa maksudmu?"

"Entahlah ...." Radit meminta tolong Orie membantu dirinya pindah ke kasur.

"Aku ingin istirahat. Tolong kalian semua keluar kamar."

"Mas Radit." Rahang Bianca mengeras. Bianca setengah berlari ke luar kamar. Mencari keberadaan ibu mertuanya.

Sekar berada di ruang dekat teras, sedang merajut bersama Jia.

"Ma...."

"Ya?" Sekar tidak mengalihkan perhatian dari benang rajut.

"Apa kamu suka warna pink? Aku ingin membuat sweater untuk Nindy."

"Mama tahu......."

"Aku tahu kamu bertengkar dengan Radit masalah Nina," sela Sekar menghentikan gerak tangannya. Memandangi Bianca yang tampak kesal.

"Masalahnya Nina penipu," sahut Bianca.

"Bagaimana kalau setelah bekerja dan diberikan kesempatan, dia akan mencuri perhiasan atau benda berharga lainnya?"

"Bagaimana denganmu? Apakah kamu tidak pernah menipu?" Sekar masih menatap menantunya itu.

Bianca tampak gugup. Tapi dia segera menutupi dengan kemarahan.

"Apakah masalah Rama? Aku tidak pernah berbohong."

"Sudahlah, nanti mama yang akan bicara dengan Radit," ujar Sekar, melanjutkan merajut.

Bianca meninggalkan ruangan itu, masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Menelepon Karina, mencaritahu apakah Sekar masih memata-matai.

"Tidak. Ibu mertuamu hanya bertemu detektif tua yang mudah sekali dibodohi. Setelah itu, tidak pernah melakukan apapun. Makanya kamu harus hati-hati."

"Iya, Ma. Karena terus menerus mengungkit masalah Rama."

"Jangan khawatir, semua aman terkendali. Sampai sejauh ini, tidak ada yang tahu siapa kamu sebenarnya. Untuk sementara kita jangan bergerak dulu. Jika Radit kita lukai lagi. Akan banyak kecurigaan."

Bianca menyimpan ponselnya di laci lemari. Untuk menelepon hal penting, dia menggunakan ponsel lain. Menghindari penyadapan.

Kepala Bianca menoleh ke kanan kiri. Khawatir ada alat penyadap atau kamera tersembunyi. Tapi papanya setiap seminggu sekali memeriksa kamarnya.

**************

Gita menyambut kedatangan Amel, teman dekatnya yang datang ke rumah bersama lelaki yang diperkenalkan sebagai suami.

"Bang Kemil namanya. Kami menikah enam bulan yang lalu," kata Amel tersenyum bangga.

"Mulai bulan depan kami pindah ke kota ini."

Gita memperhatikan Kemil yang ganteng. Tidak setinggi Dewa atau Rama, mungkin 170 cm. Bisa jadi kurang.

"Bang Kemil. Senang berkenalan," ucap Gita tersenyum ramah.

"Saya juga, Mbak."

"Aduh, jangan formal banget," ujar Gita.

Kemil tidak lama-lama, meninggalkan istrinya di rumah Gita.

Amel menceritakan kalau suaminya sangat pengertian. Bahkan tidak mempermasalahkan tidak bisa masak.

"Dari dulu kita nggak bisa masak ya, Git. Eh lebih tepatnya nggak mau masak. Apa suamimu minta dimasakkan?"

"Enggak, dong. Mas Dewa sangat pengertian. Pembantu yang masak," jawab Gita.

"Bang Kemil juga gitu. Nggak pernah ribut. Kami bicara dari hati ke hati. Hingga bisa saling memahami," kata Amel terdengar bangga sekali.

Boro-boro saling memahami. Dewa malah cenderung memaksa. Gita jadi iri pada Amel.

"Bang Kemil itu act of service banget...."

"Mas Dewa kurang sih act of service-nya. Love language dan physical touch yang bikin meleleh." Gita tersenyum palsu. Lama-lama muak dengar cerita Amel.

Di tempat lain, Nara sedang memilih-milih buah alpukat di toko buah. Rama memilih jeruk. Keduanya menikmati jalan-jalan sore.

Dua kilo alpukat dan satu kilo jeruk dimasukkan ke dalam tas belanja yang dibawa dari rumah. Rama membawa tas itu di tangan kanan. Tangan kiri menggandeng istrinya. Kadang gandengan tangan terlepas karena trotoar yang mereka lewati terhalang pedagang kaki lima.

Rama berhenti melangkah karena ponselnya bergetar. Dirogohnya perangkat elektronik tersebut dari saku celana.

"Mas, kok nggak diangkat?" tegur Nara karena suaminya hanya memandangi ponsel.

"Mas Radit yang telpon ...." gumam Rama.

Ia teringat bagaimana Radit sangat membabi buta menghajar dirinya. Kemarahan yang mengerikan. Mati saja kau! Kata terakhir yang Rama dengar saat itu.

1
Komsiyah Komsiyah
Rama kok berubah ubah namanya jadi Panji
Shiro Oni Weapon Master
baru mampir
Teh Yen
aku udh otw Thor 😁 seru critanya
Teh Yen
trim kasih othor 🙏🤗 sukses.trus ke depannya yah
Teh Yen
yaah udh tamat aj itu anknya Radit blom brojol.thor.cwok.apa.cewek.tuh hehe 😁
Teh Yen
Alhamdulillah Nina udh Hamil.yah
Teh Yen
c Gita mah engg ada kapoknya masa iya satpam apartemen jg d embat yah astagfirullah
Teh Yen
itu pasti.c Gita wah mukanya.hancur.dong eng cantik lagi kena pecahan kaca mobil yah iih ngeri
Teh Yen
sabar yah Nina baru jg nikah berpa.minggu hehe usah aj terus Nina
Teh Yen
lah.mobilnya d curi orang git ,, padahal itu harta terakhir kamu yg paling mewah yah sayang sekali 🥺
Teh Yen
Nina biasa kerja keras skrng jd istri seorang.ceo malah bingung kagak ngapa"in yah Nina 🤭
Teh Yen
haha engg pa pa mas Rama biar membulat bersama kan adil 🤭🤭
Uthie
Baca sedikit cerita nya aja pasti gak kalah bagus dehhh sama yg sekarang sy baca 👍👍👍😘😘😘😘🤩
Uthie: 😘😘😘😘😘😘
total 2 replies
Uthie
Terimakasih atas karyanya yg senang banget bacanya 👍👍👍🤩🤩🤩

Aslii lohhhh.. ini sedari awal mampir langsung maraton dan gak pindah ke lain hati dulu, sampai pada akhir cerita ini 👍👍👍🤩🤩🤩🤩🤩🤗🤗
Tri Wahyuni: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
Uthie
Yaaa....udahan 🤩🤩🤩🤩
Uthie
senang nya 👍👍👍
Uthie
nyebelin cowok banci macam si Andre yg adem ayem sama selingkuhan nya dan gak inget sama anak yg dulu dia buat pada mendiang istrinya 😡😡
Uthie
sukkkkaaa BANGETTT 👍👍👍
Uthie
😂😂😂😂😂😂😂
Uthie
dasar mulut lemes 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!