Karena terus diteror ibunya supaya tidak lama-lama menganggur, Aditi nekad terima tawaran tetangganya, Baskara, untuk jadi guru ABK. Padahal ilmunya, NOL besar.
Baskara adalah cinta monyet Aditi, seorang duda beranak satu bernama Malini. Dari awal, naksir tipis-tipis sama Aditi, tapi jadi baper berat setelah Malini nempel seperti perangko pada Aditi. Pokoknya Aditi harus jadi ibu sambung Malini, pikir Baskara.
Murid pertama dan satu-satunya Aditi bernama Kavi. Penyandang autis yang cuma responsif pada Aditi. Membuat ayahnya, Sagara, bucin berat. Bagi Sagara, Aditi adalah kunci harapan untuk hidup Kavi dan dirinya.
Jadilah Baskara dan Sagara bersaing untuk mendapatkan perhatian dan cinta Aditi.
Masalahnya, Baskara dan Sagara bersahabat.
Apakah Aditi berhasil menjadi guru ABK?
Bagaimana nasib persahabatan Baskara dan Sagara?
Siapa yang Aditi pilih, sang duda cerai, Baskara atau sang duda mati, Sagara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Siang Bersama, Kembali
Baskara menelepon Suci via ponsel. Ia mengikuti keinginan Aditi supaya anak buahnya itu mau ikut makan siang bersamanya.
"Ci, lunch bareng yuk." Baskara mendengar jawaban Suci. "Nggak... ada si Gara juga, sama... Diti."
Kembali Baskara terdiam untuk memberikan kesempatan Suci berbicara. "Kenapa lo nggak mau ikut? Biasanya lo mau kalau gue ajak lunch."
Sagara memiringkan bibirnya. Ia berjalan keluar ruangan. Langkah Sagara terhenti di depan ruangan Suci. Ia mengetuk pintu sekali, membuka kemudian menguncinya dari dalam.
Suci yang baru saja memutus percakapannya dengan Baskara terkejut melihat kedatangan Sagara, dan aksinya mengunci pintu. Ia langsung berdiri.
"Apa-apaan lo Gara? Mau ngapain lo?"
"Mau nanya sama lo. Jadi lo lebih suka Gara jalan maksi sama si Diti berdua aja? Yakin lo nggak sakit hati?" Sagara bersedekap.
"Apa maksud lo?" Mata Suci tampak nyalang.
"Cuma orang bodoh macam Baskara yang nggak pernah sadar sama ngehargain lo dan perasaan lo. Gue aja bisa ngerasa."
Suci terhenyak. Kakinya lemah tak mampu menopang tubuhnya. Ia terduduk dalam keadaan terpaku.
Suci mempertanyakan sejelas itukah perasaannya sehingga seorang Sagara saja bisa merasakannya. Mengetahuinya.
"Gue nggak pernah ngomongin ini sama Baskara. Jadi gue rasa si nggak punya perasaan itu ampe sekarang juga masih aja buta.
Dengan kondisi dia sekarang, harusnya bisa jadi kesempatan lo. Tapi malah lo sia-siain.
Lo malah biarin dia jalan ama Diti terus-terusan. Ayo, sekarang ikut, Ci." Suara Sagara terdengar melunak.
Suci tercenung. Ia berdiri setelah sebelumnya meraih ponsel dan dompet. Ia berjalan ke arah pintu dan membuka kunci. Sagara tersenyum simpul dan mengekor sang supervisor.
"Ayo Diti, kita jalan. Kalo nggak, nanti malah kesiangan. Biarin aja si Gara ngilang kemana." Baskara berdiri dan menghampiri Aditi yang menunduk.
"Maaf Mas. Aku nggak bisa ikut kalo Kak Suci nggak ikut." Aditi menengadah ke arah Baskara.
Tiba-tiba pintu terbuka dan suara bariton Sagara terdengar. "Bas, nih si Suci bisa ikut maksi. Yuk, jalan."
Suci memandang ke arah Baskara dan Aditi. Hatinya panas melihat adegan Baskara berdiri di samping Aditi yang terduduk.
Pemandangan Baskara menunduk sementara Aditi tampak mendongak, terlihat intim, menurut Suci. Membuat dirinya terbakar cemburu.
Baskara menghela napas. Bukan makan siang semacam ini yang ia harapkan.
Tapi apa mau dikata, sudah telanjur ia memaksa Aditi dan Suci setuju untuk ikut serta. Ternyata ada andil Sagara di dalamnya.
Kedua pasang lelaki dan perempuan itu berjalan ke arah parkiran. Mereka sepakat menggunakan mobil Baskara.
Baskara membuka kunci otomatis. Ia masuk ke dalam kursi kemudi.
"Ci, lo depan ya." Sagara membuka pintu belakang, sejajar dengan Baskara. Ia tersenyum pada Aditi yang membuka pintu dari arah berlawanan.
Sagara yang bertubuh tinggi besar mendominasi jok mobil, membuat porsi duduk Aditi tampak seperti celah. Apalagi duduknya, ia pepetkan ke arah Aditi.
"Pak, geser dikit. Saya mepet ke pintu ini. Kebuka dikit, jatoh ngejeblag saya." Aditi merengut. Sagara terkekeh dan bergeser menjauh, sedikit.
Baskara merapatkan giginya. Ia dapat melihat kelakuan Sagara dari kaca spion. Suci hanya bisa menggeleng. Sagara benar-benar gila siang ini.
"Diti, kamu mau makan apa?" tanya Baskara.
Suci memalingkan muka ke jendela samping. Ia menopang dagunya dengan tangan kiri yang bertumpu ke bagian bawah jendela.
"Bebas, Mas." Suara Aditi terdengar mencicit. Sesak dipepet Sagara.
"Kita ke tempat kemaren aja. Tapi nanti cari makan berdua aja yuk," bisik Sagara.
Dih, napa si Somse, sok akrab banget mau berduaan ama gue? Males ah, ribet.
"Nggak enaklah Pak, sama Mas Bas." Aditi ikut berbisik.
"Ck, biarin aja dia sih." Sagara agak membesarkan suara berbisiknya.
"Gara, berisik lo," tegur Baskara.
"Hahaha, sori Bas, sengaja." Sagara menatap Baskara melalui kaca spion.
Baskara menggelengkan kepala. Ia memilih tak menanggapi Sagara.
"Suci, lo mau makan apa? Nih, gue wakilin Baskara." Sagara mengulum senyum.
"Serah," jawab Suci.
"Ck, cewek-cewek lagi jadi cewek tulen hari ini ya. Ditanya, nggak mau jawab jelas." Sagara aktif sekali siang ini. Banyak bicara.
Baskara melihat papan nama restoran Sunda dari kejauhan. "Resto Sunda, gimana?"
"Ide bagus, Bas," jawab Sagara. Hanya ia yang menanggapi secara lisan.
Suci malas menjawab. Aditi sibuk menggeser Sagara yang makin memepetnya.
"Pak, geseran sih," bisik Aditi.
Aditi kemudian mendorong lengan Sagara menggunakan dompet panjang yang ia genggam. Sagara tergelak.
Adegan itu dapat Baskara tonton melalui kaca spionnya. Ia menggenggam kemudi erat. Suci melirik namun kembali memilih melihat keluar jendela.
Sagara langsung turun dan menyejajari langkahnya dengan Aditi ketika tiba di parkiran restoran. Prinsipnya, pepet Aditi terus, salip Baskara. Aditi merengut karena risih.
Mereka berempat berjalan menuju satu pondok lesehan. Suci melirik ke arah Baskara. Ingin mengetahui bagaimana kondisi sang sahabat.
"Diti, sini dulu deh. Aku mau nanya sesuatu," ujar Baskara.
Aditi dan Sagara yang sudah berjalan mendahului jadi terhenti. Aditi pun menghampiri Baskara.
Baskara menunjuk konter yang menjual produk seperti kripik tempe dan sejenisnya. "Pilihin buat mama aku sama ibu kamu." Baskara berdiri di samping Aditi.
"Makan aja belum, Mas. Udah milih oleh-oleh aja," cetus Aditi.
"Nggak apa-apa mumpung lewat." Baskara tersenyum.
"Eh, pada mau beli apaan? Mau lah." Sagara menghampiri. Baskara dan Aditi tak mengacuhkannya.
Sagara ikut berdiri di samping Aditi. Ikut memilih makanan kering yang dijual. Aditi jadi diapit oleh kedua sahabat itu.
Suci menghela napas. Mempertanyakan untuk apa keberadaanya di sana. Ia memilih langsung ke pondok lesehan terdekat.
"Lo beli buat siapa, Gar? Kavi kan nggak bisa makan gituan," tanya Baskara pada sahabatnya.
"Yaa, buat gue lah. Ama buat Diti juga. Lo kan udah beliin buat ibunya. Lengkep kan jadinya?" Sagara menjawab dengan tenang.
Baskara menggelengkan kepala. Ia kemudian menoleh ke Aditi yang sedang memilih.
Duh, kenapa sih ni dua manusia, mepet-mepet mulu? Puyeng gue jadinya. Mana gue udah laper.
"Ini aja deh, Mas." Aditi memilih keripik tempe, keripik tahu dan keripik singkong, masing-masing dua bungkus. Mereka menuju kasir.
Sagara memilih pilihan yang sama, masing-masing sebungkus ditambah keripik pisang.
"Titip bayar bareng, Bas. Ntar gue ganti. Males antri." Sagara meletakkan pilihannya ditumpuk dengan pilihan Aditi.
Baskara merapatkan giginya. Jengah melihat kelakuan sang sahabat. Mereka bertiga kemudian berjalan ke pondok yang sudah dipilih Suci.
Kedua duda itu berjalan mengapit Aditi. Ketika hampir sampai, Aditi tiba-tiba berlari ke arah pondok, ia langsung duduk di sebelah Suci.
Baskara dan Sagara terhenyak melihat aksi sang terapis. Suci menahan tawanya. Aditi hanya diam, merengut.
"Kak, dirimu udah laper belum? Kayaknya ngarepin bapak-bapak itu lama ya? Kita pesen aja nggak sih, yang paketan gitu," bisik Aditi.
Suci terdiam sesaat. "Aku juga udah laper. Bener Dit, kita pesen aja. Mereka pasti ribet."
Suci memanggil pelayan. Ia kemudian memesan paket untuk empat orang. Minuman disamakan semua, es teh manis.
Sagara dan Baskara yang datang bersamaan dengan pelayan terheran melihat Suci sudah memesan makan siang. "Kok, udah mesen aja sih, Ci?" tanya Baskara.
"Lo berdua lama, ribet banget. Gue sama Diti udah laper." Aditi mengangguk-angguk kencang. "Kalau ada yang kurang, nambah aja sih," pungkas Suci.
Tak lama makanan datang. Terlihat ada nasi liwet satu wadah bambu kecil, empat potong besar ayam kampung goreng, satu piring sayur toge, satu piring tahu tempe goreng, empat mangkok kecil sambal, lalapan dan empat gelas es teh manis.
Sagara yang berhasil duduk di depan Aditi karena menyalip Baskara saat masuk ke dalam pondok, tersenyum melihat Aditi mulai makan. Terlihat jinak, menggemaskan.
"Padahal pesen gurame sih Diti. Kita bandingin, gurame di sini sama masakan kamu kemaren di rumah kamu, enakan mana," seloroh Baskara.
Suci memelankankan kunyahannya. Sudah seintens itu Baskara mendekati Aditi? Tanya Suci dalam hati.
Sagara memiringkan bibir. "Mau dong Diti, dimasakin juga. Aku siapin deh ikan guramenya." Ia menggigit tahu goreng yang telah dicocol sambal.
"Nggak bisa Pak, chefnya lagi sibuk. Mabok resume." Diti menelan makanan dalam mulutnya.
"Eh, Kak Suci maaf, maksudnya resume penting. Harus diduluin." Aditi meringis ke arah sang supervisor. Ia menutup mulutnya.
Sagara dan Baskara tergelak. Suci tersenyum miring, menahan tawanya.
"Nggak nyangka Diti, pinter masak ya kamu?" Sagara memperpanjang topik pembicaraan.
"Jadi anak Bu Indri, harus bisa menguasai segala unsur. Jangankan masak, benerin genteng aja aku bisa. Nasib emang." Aditi meneguk es teh manisnya.
Sagara terperangah. Semakin merasa Aditi adalah sosok unik yang menarik. Baskara terkekeh. Suci mencebikkan bibir.
"Kamu paket lengkap Diti." Baskara tersenyum pada Aditi sambil ikut meminum es teh.
Sagara mencebikkan bibir mendengar pujian gombal Baskara. Suci merasa makanannya tersangkut di kerongkongan. Ia juga ikut minum.
"Lebih ke paket hemat kayaknya Mas. Karena kata Ibu, tukang itu mahal, hahaha..."
Semua tertawa karena gurauan Aditi, termasuk Suci. Tawa kecil.
Selesai makan Aditi berbisik ke Suci. Ia menutupi mulutnya dari kedua duda menggunakan telapak tangan.
"Kak Suci, pulangnya duduk di belakang sama aku ya. Males aku, dipepet sama Pak Gara."
Suci kembali terdiam sejenak. Akhirnya ia mengangguk pelan. Aditi tersenyum lega.
"Hayo Diti, bisik-bisik apa?" tanya Baskara. Aditi hanya meringis pada sang bos.
"Karena si Baskara udah jadi sopir. Makan gue yang bayar. Yuk, Diti temenin bayar." Aditi merengut mendengar ajakan Sagara.
"Gue temenin juga, Gar," ucap Suci. Ia bangkit dari duduknya. Yang lain pun ikut bangkit.
"Dih, kenapa jadi ramean? Lo ama Baskara duluan aja ke mobil," protes Sagara.
Kedua perempuan itu tak mengindahkan Sagara. Mereka berjalan bersisian menuju kasir. Baskara jadi ikut mengekor.
Aditi dan Suci masih jalan bersisian menuju parkiran. Sagara tak kalah akal, ia pepet Aditi dari sisi yang kosong. Baskara menggeleng. Ia kini tertinggal di belakang.
Baskara membuka kunci otomatis. Aditi langsung menarik tangan Suci, berlari ke arah mobil dan langsung membuka pintu belakang dari kedua sisi.
Kedua perempuan itu tertawa terpingkal-pingkal di dalam mobil. Sagara kesal melihat apa yang Suci lakukan.
"Ke depan lo, Ci!" perintah Sagara. Suci mengggeleng sambil mencebikkan bibir.
Bagi Sagara, Suci tak tahu terima kasih padanya. Suci juga ia anggap bodoh karena tak bisa memanfaatkan keadaan.
Sagara tak habis pikir, Suci malah bersekutu dengan Aditi, membuat ia tak bisa memepet Aditi lagi. Sagara membuka pintu depan dengan wajah kusut.
Baskara terkejut melihat keakraban mendadak antara Suci dan Aditi. Namun, ia mensyukurinya karena hal itu menghindarkan Aditi dari invansi pepetan maut Sagara.