NovelToon NovelToon
Aku Terlahir Kembali Sebagai Bayi Jahat

Aku Terlahir Kembali Sebagai Bayi Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Isekai / Rebirth For Love / Time Travel / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Arvella terlahir kembali sebagai bayi dengan kesadaran dari kehidupan sebelumnya. Dengan ingatan masa lalunya, ia mampu melihat bahaya dan mencegah masalah sebelum terjadi. Sebagai anak tunggal dalam keluarga kerajaan, Arvella belajar menghadapi dunia yang penuh intrik, rahasia istana, dan tanggung jawab besar meski tubuhnya masih kecil.
Seiring tumbuhnya Arvella, ia menemukan lorong rahasia, ramalan kuno, dan misteri yang mengancam kerajaan. Ia belajar memecahkan masalah sosial, menghindari bencana, dan menghadapi intrik politik dengan kecerdasannya yang luar biasa.
Di tengah semua itu, sosok laki-laki misteriusKsatria Anjing kerajaan yang kelak menjadi bagian penting hidupnya muncul secara samar, membangkitkan rasa penasaran dan ikatan takdir yang halus. Bersama ingatan masa lalu dan insting alaminya, Arvella perlahan menemukan kekuatannya, belajar tentang kepercayaan, cinta, dan akhirnya menentukan jalannya sendiri dalam menghadapi takdir yang telah menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Bahaya Api di Dapur Istana

Pagi itu, aroma roti panggang, kue manis, dan rempah-rempah segar memenuhi seluruh lorong istana, merayap hingga ke aula besar.

Arvella duduk di pangkuan Liora, tangannya mungil menepuk kain, matanya merah bersinar, mengamati seluruh dapur yang sibuk.

Para tukang masak menggerakkan wajan dan panci dengan ritme cepat, sementara pelayan menata meja, membawa nampan berisi buah, dan menyiram bunga segar di sepanjang lorong.

Setiap suara—dari gemericik air, desingan api, hingga derap langkah pengawal—terasa begitu hidup, seperti simfoni yang hanya bisa dipahami Arvella dengan cara yang berbeda dari manusia dewasa.

Arvella mencondongkan tubuh, matanya merah menyala, tangannya menunjuk ke arah tungku besar di sudut dapur.

Api di dalam tungku tampak terlalu liar untuk ukuran bayi, dan beberapa potongan kayu bakar mulai jatuh mendekati panci berisi minyak panas.

Liora menoleh, sedikit terkejut, “Apa kau melihat sesuatu lagi, Arvella?”

Bayi itu menepuk kainnya, matanya menatap tajam ke arah tungku.

Liora segera menahan pelayan muda yang sedang berjalan terlalu dekat ke api, menarik panci agar tidak terguling.

Seorang koki tua menatap Arvella dengan kagum, “Bayi ini… rasanya bisa membaca apa yang akan terjadi sebelum orang dewasa menyadarinya.”

Tetapi bahaya sesungguhnya muncul ketika seorang pelayan yang baru belajar hampir menyalakan kayu bakar terlalu dekat dengan minyak panas.

Arvella mencondongkan tubuh lagi, matanya merah bersinar, menepuk kain Liora.

Liora segera menghentikan pelayan itu, menegur dengan lembut tapi tegas, “Hati-hati, jangan sampai terjadi percikan.”

Kael yang berdiri di dekat pintu dapur mengamati situasi, matanya biru, tubuhnya tegap.

Ia tersenyum samar, kagum pada insting bayi itu, “Arvella, sepertinya kau bisa merasakan bahaya lebih cepat daripada kita semua.”

Ketegangan meningkat ketika seorang tukang masak tergelincir karena lantai yang licin akibat tumpahan minyak.

Arvella mencondongkan tubuh, tangan kecilnya menunjuk ke arah tukang masak itu.

Liora segera memegangnya, menarik dari arah yang salah, sementara Kael menahan panci berisi minyak agar tidak jatuh.

“Bayi ini… sungguh luar biasa,” gumam Kael, matanya biru menatap Arvella dengan campuran kagum dan perhatian.

Arvella mencondongkan tubuh, matanya bersinar, tangannya menunjuk ke arah sudut lain dapur—tanda bahwa ancaman masih tersembunyi.

Beberapa menit kemudian, percikan api dari tungku besar mulai menyebar ke tumpukan kain dapur yang kering.

Seorang pelayan kecil yang panik hampir menabrak vas berisi rempah-rempah kering.

Arvella mencondongkan tubuh, tangannya menunjuk ke arah vas itu, memberi isyarat agar segera dipindahkan.

Liora segera bergerak cepat, mengangkat vas dan menata ulang meja, sementara Kael menyalurkan ember berisi air ke dekat api untuk berjaga-jaga.

“Ini seperti latihan menghadapi bencana,” bisik Kael pelan, tersenyum tipis.

Arvella mencondongkan tubuh lagi, matanya merah bersinar, seperti memberi pengakuan: “Benar, tapi kita harus lebih cepat.”

Tiba-tiba, suara gaduh terdengar dari pintu dapur.

Seorang pelayan berlari masuk, memberi tanda bahwa api mulai menjalar ke beberapa panci lainnya.

Arvella mencondongkan tubuh, tangan kecilnya menunjuk ke arah api, matanya merah menyala.

Liora segera mengatur pelayan, menyuruh mereka menjauh dari titik panas, sementara Kael bergerak sigap, memadamkan percikan api dengan ember dan kain basah.

“Awas, jangan sampai api menyebar ke gudang rempah!” teriak Liora, napasnya terengah.

Arvella mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar, membaca energi dapur, gerakan pelayan, dan arah percikan api.

Kael menatap bayi itu, tersenyum tegang, “Arvella, kau memang luar biasa. Instingmu menyelamatkan banyak nyawa hari ini.”

Setelah api padam, asap masih mengepul di sudut dapur.

Arvella mencondongkan tubuh, tangannya menunjuk ke arah beberapa panci yang masih panas.

Liora dan Kael segera menyingkirkan semua panci itu, memastikan tidak ada bahaya tersisa.

Seorang pelayan kecil tersedak karena asap, dan bayi itu mencondongkan tubuh, menepuk kain Liora—tanda agar anak itu segera dikeluarkan dari bahaya.

Liora menggendong pelayan itu dengan hati-hati, Kael memastikan jalan keluar aman.

Ketegangan belum sepenuhnya hilang.

Seorang bangsawan yang baru datang ingin melihat persiapan hidangan, tidak menyadari risiko api.

Arvella mencondongkan tubuh, tangan kecilnya menunjuk ke arah bangsawan itu.

Kael segera menahan bangsawan dengan sopan, membimbingnya ke tempat aman.

Bayi itu menggeliat, matanya merah bersinar, puas—ancaman berhasil dicegah lagi.

Sementara itu, Arvella mencondongkan tubuh ke arah sudut dapur yang gelap.

Ada bayangan samar seorang pelayan yang tampak gugup, dan beberapa tumpukan kain yang masih terlalu dekat dengan api.

Liora segera mengatur ulang semuanya, Kael membantu memindahkan peralatan.

Arvella mencondongkan tubuh, tangannya menepuk kain—tanda bahwa semuanya harus diperhatikan sampai detail terkecil.

Saat malam tiba, aula besar telah dihias indah dengan lilin yang menyala, musik lembut mengalun, dan tamu duduk dengan tertib.

Arvella mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar, membaca energi tamu-tamu yang datang.

Beberapa tamu tampak gelisah—potensi konflik yang bisa muncul jika tidak segera dikendalikan.

Liora dan Kael bekerja sama, menenangkan situasi, mengatur tamu, dan tetap memperhatikan bayi kecil yang luar biasa ini.

Di tengah malam, Arvella mencondongkan tubuh ke arah lorong gelap di dapur, matanya merah bersinar, menandakan ada potensi bahaya yang belum muncul.

Kael menatap bayi itu, matanya biru bersinar, tersenyum samar, “Sepertinya peranmu akan lebih besar dari yang kubayangkan.”

Bayi itu menggeliat, puas, matanya tetap bersinar—bukan karena takut, tapi karena siap menghadapi tantangan dan misteri yang menunggu di malam berikutnya.

1
Passolle
lanjut ka
LOL #555
Hebat banget ,baru lahir udah bisa buka mata ,mendengar, ngendaliin kekuatan magis , serba bisa , kayak budak koporat
LOL #555: gak sih kak , biasanya juga kalau reinkarnasi gini ,baru lahir udah bisa ngalahin naga 🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!