Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.
Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.
Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.
Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Gembala dan Ternak
Tangga kayu berderit saat Li Shen menuruni anak-anaknya dengan langkah cepat. Pedang Langit sudah berada di tangannya, setengah terhunus meski masih terbungkus rapat. Keributan di bawah terdengar terlalu keras untuk sekadar keributan biasa.
“Berikan aku sepuluh wanita… tidak! Dua puluh!” teriak seseorang dengan lantang. “Aku akan menaklukkan naga petir dengan satu tangan! Bahkan hanya dengan sepasang sumpit sekalipun! Akulah, kaisar baru di Hongluo!”
Li Shen membeku di tengah tangga. Di pintu utama Selendang Merah, sebuah gentong arak kosong tergeletak miring. Isinya sudah tak bersisa. Seorang pria kurus dengan jubah kusut berdiri sempoyongan di sampingnya, wajah merah padam, mata berkilat tak fokus.
Dia tak lain adalah Luo Pang.
Ia menenggak sisa tetesan terakhir dari gentong itu, lalu melemparkannya ke samping dengan tawa keras. Beberapa pelayan dan wanita penghibur yang sedang beres-beres pagi menjerit-jerit, ada yang menutup wajah, ada pula yang tertawa geli.
“Wahai dunia!” Luo Pang membuka tangan lebar-lebar. “Saksikan! Seorang pria sejati lahir hari ini! Berikan aku semua arak di gudang itu! Lalu berikan aku wanita! Aku akan—”
“Mesum!” jerit seorang pelayan.
“Tak tahu malu!” sahut yang lain.
Luo Pang justru tertawa makin keras. “Kalian tak mengerti seni kehidupan!”
Saat itulah Hua’er muncul dari sisi lorong. Ia menenteng ember kayu besar berisi pakaian kotor, jelas hendak menuju sungai. Wajahnya dingin seperti biasa, tidak peduli kebodohan apalagi yang muncul pagi itu.
Namun Luo Pang melihatnya dan segalanya pun berhenti.
Matanya melebar, merah oleh arak. Ember di tangan Hua’er seolah menjadi kabut di matanya. Ia menjatuhkan diri berlutut, lututnya menghantam lantai kayu. “Dewi Malam… .” suaranya bergetar. “Akhirnya aku bisa melihatmu di bawah sinar mentari setelah semalaman mencarimu.”
Hua’er berhenti setengah langkah, alisnya berkedut.
Luo Pang merangkak maju. “Engkau bagai bintang yang jatuh di dunia fana! Rambutmu lebih gelap dari malam tanpa bulan, langkahmu lebih anggun dari angin musim gugur—”
Beberapa wanita penghibur menutup mulut menahan tawa.
“Bisakah kau menjauh dari pintu?” kata Hua’er singkat, tanpa emosi.
Tapi Luo Pang justru makin semangat. “Aku, Luo Pang, pria yang akan menaklukkan takdir, melamarmu di hadapan dunia! Aku tak punya emas, tak punya rumah, tapi—” Ia meraih kaki jenjang Hua’er dan bersujud.
Langsung saja, alas kaki Hua’er melayang lurus dan menghantam wajah Luo Pang tanpa ragu. Tubuhnya terlempar ke belakang, menghantam lantai, lalu pingsan.
Gelak tawa pecah di mana-mana.
Li Shen berdiri terpaku di tangga, menatap tubuh Luo Pang yang tumbang dengan wajah merah padam dan arak yang menguap dari pori-porinya.
Madam Luo sudah berdiri tak jauh dari sana sejak tadi. Ia berpegangan santai di pembatas lantai dua, mengipasi wajahnya sambil tersenyum seolah sedang menonton sandiwara pagi yang telah menjadi rutinitas di tempatnya. “Jadi itu pemabuk yang kau maksud?” ujarnya santai. “Sepertinya kau lupa satu hal kecil setelah mengurungnya di gudang. Stok minuman kita menipis dalam waktu kurang dari semalam.”
Li Shen menelan ludah. “Apakah… dia masih hidup?”
Madam Luo melirik sepintas ke arah Luo Pang. “Selama wanita cantik masih ada di dunia ini, orang seperti dia akan sulit mati.” Ia bangkit berdiri dan menoleh ke Li Shen. “Ikut aku sebentar, Li Shen.”
Li Shen mengangguk, masih sempat menoleh sekali lagi ke tubuh Luo Pang yang kini jadi bahan tertawaan para pelayan.
Mereka berjalan keluar melalui pintu samping, menyusuri jalur batu menuju taman belakang Selendang Merah. Sebuah pohon besar berdiri di tengah taman, akarnya menjalar seperti ular. Sungai kecil mengalir jernih di sampingnya, dengan dua jembatan kayu membentang di atasnya. Sedangkan suasana masih sepi karena pagi baru saja dimulai.
Madam Luo berdiri di tepi sungai. “Dulu… Lianzhou bukan wilayah jajahan.”
Li Shen diam, mendengarkan.
“Jing’an adalah kota perdagangan bebas. Para kultivator, pedagang, dan pengelana datang tanpa takut mandat menekan leher mereka. Tidak ada Paviliun Tianlu. Tidak ada pajak keamanan. Orang kuat melindungi yang lemah karena kehormatan, bukan karena upeti.” Ia tersenyum kecil. “Setidaknya, itu yang kudengar dari dongeng orang-orang tua.”
“Tapi sekarang,” Madam Luo mengipasi wajahnya perlahan, “kehormatan dijual, sementara perlindungan dipatok harga. Hongluo bukan lagi bagian dari kota, melainkan peternakan. Dan Paviliun Tianlu adalah gembalanya. Mereka memasang ‘Formasi Pengawas’ yang membuat setiap aliran qi di kota ini tercatat. Kau tidak bisa bernapas tanpa mereka tahu.”
Seolah menjawab ucapannya, suara keributan terdengar dari jalan tak jauh dari taman.
Seorang pedagang tua didorong ke tembok oleh dua pemuda berjubah biru. Lambang Paviliun Tianlu tersemat jelas di dada mereka.
“Pajak keamanan bulan ini,” ujar salah satu dengan nada malas, sambil mengetuk sebuah buku catatan kecil bersampul biru yang menggantung di pinggangnya. “Akan naik dua kali lipat. Gulungan Mandat mencatat tokomu menyerap residu qi lebih banyak dari yang diizinkan.”
“A-aku sudah bayar minggu lalu! Itu hanya qi alamiah!” pedagang itu gemetar ketakutan.
“Kau pikir keamanan itu murah?” pemuda lain tertawa. “Kami harus menyetor Batu Meridian ke Jingdu. Merepotkan untuk mengurus administrasi ampas fana sepertimu.”
Li Shen melangkah maju tanpa berpikir. Dua murid Paviliun Tianlu itu menoleh, menilai cepat. Tatapan mereka turun ke pinggang Li Shen yang kosong, karena dia lebih dulu meninggalkan pedangnya di losmen.
“Hah?” salah satu menyeringai. “Tangan kosong?”
“Fana biasa?” yang lain mencibir. “Atau cacat kultivasi yang sok berani?”
Pedagang tua itu memanfaatkan celah untuk mundur tertatih, bersembunyi di balik tong kayu.
Adapun Li Shen berhenti tiga langkah dari mereka. Tangannya kosong. Bahunya rileks. “Aku tidak ingin ribut,” ujarnya dengan tenang. “Pergilah.”
Kedua murid itu saling pandang, lalu tertawa.
“Dengar itu?” kata yang lebih tinggi. “Dia menyuruh kita pergi.”
“Apa kau tahu siapa kami?” Murid satunya melangkah maju. “Satu panggilan, dan kau—”
Ia tak sempat menyelesaikan kalimatnya. Li Shen melangkah ke samping, tubuhnya berputar ringan. Saat murid itu mengayunkan tangan, Li Shen sudah berada di dalam jangkauan, meraih pergelangan tangan orang itu, lalu memelintirnya ke arah yang berlawanan dari seharusnya. Teriakan pun muncul, mengerang kesakitan.
Sebelum yang kedua bereaksi, Li Shen menendang lututnya dari samping. Bukan tendangan kuat, tapi tepat. Sendi itu sampai-sampai mengeluarkan suara. Tubuh itu tumbang menghantam tanah dengan bunyi berat.
Li Shen menunduk, meraih kerah jubah murid pertama yang masih terhuyung, lalu mendorongnya ke tembok. Bukan dengan qi, melainkan dengan posisi, sudut, dan tekanan.
“Pergi,” ulang Li Shen, suaranya tetap datar.
Wajah murid itu pucat. Ia melihat mata Li Shen dari jarak dekat.
“D-dia… dia tak pakai qi,” gumamnya gemetar.
“Monster,” bisik yang lain dari tanah.
Mereka pun segera bangkit terpincang-pincang, berlari terbirit-birit ke arah jalan utama.
“Kita laporkan ke Senior!” teriak salah satu. “Ke… ke pengawas Han!”
Madam Luo masih berdiri di sisi taman. Wajahnya tegang sejak awal. “Ini buruk,” lirihnya sambil mendekati Li Shen yang selesai menerima ucapan terima kasih dari pedagang tua tadi. “Orang yang mereka sebut barusan… aku mengenalnya.”
Li Shen menoleh.
“Dia kuat,” lanjut Madam Luo. “Dan sangat perhitungan.”
Li Shen menarik napas, lalu membungkuk singkat. “Maaf. Aku membuat masalah di wilayahmu.”
Madam Luo mendengus. “Masalah akan datang cepat atau lambat. Kau hanya mempercepatnya.” Ia melirik sekeliling. “Masuk. Bersembunyilah di kamar. Aku bisa mengulur waktu.”
Li Shen menggeleng. “Tidak.”
Madam Luo menoleh tajam. “Apa maksudmu tidak?”
“Aku yang memulainya,” jawab Li Shen. “Aku yang akan menghadapinya. Aku akan ke Paviliun Tianlu cabang Hongluo.”
“Kau gila?” Madam Luo membentaknya. “Kau tahu apa yang mereka lakukan pada orang seperti—”
“Aku tahu,” Li Shen mendahului. “Justru itu.”
Ia menatap Madam Luo lekat-lekat. “Aku berjanji, Selendang Merah tidak akan menanggung akibatnya. Jika mereka datang dengan kemarahan, aku yang akan berdiri di paling depan.”
Madam Luo hanya bisa terdiam. Jari-jarinya mencengkeram kipasnya lebih erat. “Anak bodoh,” gumamnya.
Li Shen sudah berbalik. “Aku harus kembali ke losmen untuk mengambil pedangku.”
Madam Luo membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia tahu tak ada gunanya menahan orang seperti Li Shen. “Pergilah,” ujarnya. “Jika kau mati, jangan menghantui tempatku.”
Li Shen berhenti sejenak, menoleh. “Aku akan kembali.”
Ia melangkah pergi, meninggalkan taman Selendang Merah yang mulai dipenuhi aktivitas warga Hongluo, sementara Madam Luo berdiri memandangi arah Paviliun Tianlu dengan wajah penuh kekhawatiran.