Di ambang keruntuhan Majapahit dan fajar menyingsingnya Islam di Nusantara, seorang pemuda eksentrik bernama Satya Wanara berkelana dengan tingkah laku yang tak masuk akal. Di balik tawa jenaka dan tingkah konyolnya, ia membawa luka lama pembantaian keluarganya oleh kelompok rahasia Gagak Hitam. Dibekali ilmu dari seorang guru yang lebih gila darinya, Satya harus menavigasi dunia yang sedang berubah, di mana Senjata bertemu doa, dan pedang bertemu tawa.
Daftar Karakter Utama:
Satya Wanara (Raden Arya Gading): Protagonis yang lincah, konyol, namun mematikan.
Ki Ageng Dharmasanya: Ayah Satya, Panglima Telik Sandi Majapahit (Almarhum).
Nyai Ratna Sekar: Ibu Satya, keturunan bangsawan yang bijak (Almarhumah).
Eyang Sableng Jati: Guru Satya yang konyol dan sakti mandraguna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suryamuda di Balik Kabut Trowulan
Berita kekalahan Kebo Anabrang II menyebar seperti api yang ditiup angin kencang di sepanjang koridor istana Trowulan. Di dalam Balairung Agung, suasana mencekam. Prabu Brawijaya V duduk di singgasananya, matanya menatap tajam pada sosok raksasa yang kini bersimpuh dengan kepala tertunduk lesu di hadapannya.
"Kau kembali tanpa membawa kepalanya, Anabrang?" suara Prabu Brawijaya terdengar berat, bergema di ruangan yang luas itu. "Bahkan Gada Mega Mendung-mu tak mampu menyentuh kulitnya?"
Kebo Anabrang II hanya diam, tangannya mengepal di atas lantai marmer. "Hamba mohon ampun, Gusti Prabu. Pemuda itu... dia bukan sekadar pendekar sableng. Ia bergerak bersama angin, dan toyanya memiliki nyawa sendiri. Namun yang paling menyesakkan adalah, ia melepaskan hamba karena menganggap hamba hanya diperalat."
Di sudut ruangan, Patih Gajah Pradoto tampak geram, kumisnya bergetar menahan amarah. Namun, di balik kemarahan itu, terselip kegelisahan yang coba ia sembunyikan. Kekalahan Kebo Anabrang adalah tamparan bagi otoritas militer yang ia banggakan.
Malam di Kediaman Senopati
Sementara itu, jauh dari keriuhan istana, malam di kediaman Senopati Rangga Gading terasa sangat sunyi. Sang Senopati duduk di amben bambu di teras rumahnya, memandangi kepingan logam bermotif matahari yang diberikan Satya Wanara. Cahaya obor yang bergoyang menciptakan bayangan panjang di wajahnya yang keras.
Pikiran Rangga Gading berkecamuk. Ia teringat bagaimana Satya bisa saja menghabisi nyawanya, namun justru memilih untuk memperingatkannya tentang pengkhianatan di balik kematian Ki Ageng Dharmasanya.
"Mengapa kau belum beristirahat, Kakang?" sebuah suara lembut memecah lamunan Rangga.
Rangga Gading menoleh. Di sana berdiri seorang wanita dengan wajah anggun namun memancarkan ketegasan. Ia adalah Nyi Ratna Kumala, istri dari sang Senopati, yang juga merupakan putri dari seorang mantan punggawa keraton.
"Aku sedang menimbang beratnya kebenaran, Nyai," jawab Rangga Gading perlahan.
Ratna Kumala duduk di samping suaminya, matanya tertuju pada kepingan logam matahari itu. "Itu lambang intelijen mendiang Ki Ageng Dharmasanya. Dari mana Kakang mendapatkannya? Bukankah semua jejak tentang beliau seharusnya sudah musnah terbakar?"
Rangga Gading menghela napas panjang, lalu menceritakan segalanya. Tentang pertarungannya dengan Satya Wanara, tentang Gada Kyai Guntur Geni yang dibuat bergetar oleh toya emas, dan terutama tentang kata-kata Satya yang menghunjam jantungnya lebih dalam dari senjata apa pun.
"Dia bilang, aku hanya menjalankan perintah yang salah. Dia menyebut-nyebut tentang sekte Gagak Hitam dan pengkhianatan di Trowulan," bisik Rangga Gading.
Ratna Kumala terdiam sejenak, wajahnya berubah pucat. "Kakang... jika apa yang dikatakan pemuda 'Sableng' itu benar, maka selama ini kita telah mengabdi pada bayangan. Ayahku pernah bercerita sebelum beliau wafat, bahwa Ki Ageng Dharmasanya dibunuh bukan oleh perampok, melainkan karena ia memegang daftar nama pejabat istana yang beraliansi dengan sekte terlarang itu."
Rangga Gading mengepalkan tinjunya hingga urat-uratnya menonjol. "Selama ini aku bangga menjadi tameng Majapahit, tapi bagaimana jika tameng ini justru melindungi para pengkhianat yang sedang menggerogoti pohon besar ini dari dalam?"
"Lalu apa yang akan Kakang lakukan?" tanya Ratna Kumala cemas.
Rangga Gading berdiri, matanya menatap tajam ke arah langit malam yang bertabur bintang. "Satya Wanara memberikan petunjuk ini bukan tanpa alasan. Jika dia yang dianggap musuh justru melindungi kehormatan Majapahit, maka akulah yang harus mencari tahu siapa sebenarnya yang duduk nyaman di balik pilar Trowulan sambil tertawa."
Ia menatap istrinya dengan sungguh-sungguh. "Besok, aku akan mulai menyelidiki gudang arsip lama. Jika benar ada pengkhianatan, aku tidak akan membiarkan Satya bertarung sendirian."