Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Pernikahan
Rumah itu menyala terang ketika Lian pulang.
Terlalu terang untuk jam hampir tengah malam.
Terlalu sunyi untuk rumah yang seharusnya terasa aman.
Motor Lian berhenti di depan pagar. Ia duduk diam beberapa detik di atas jok, helm masih menutupi wajahnya. Tangannya gemetar kecil—bukan karena takut, tapi karena tubuhnya akhirnya kehabisan tenaga.
Ia pulang sendiri.
Tidak ada Haikal.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya dirinya dan segala konsekuensi yang sudah ia duga.
Pintu rumah terbuka.
Langkah Lian terdengar pelan di lantai. Hoodie-nya kotor, celananya berdebu, buku jarinya memerah, ada bekas darah kering di pergelangan tangannya.
Maya berdiri di ruang tamu.
Tidak duduk.
Tidak menangis.
Hanya berdiri—tegak, kaku, dengan wajah yang dingin oleh amarah yang terlalu lama ditahan.
“Kamu dari mana.”
Bukan tanya.
Itu pernyataan.
Lian melepas sepatu, meletakkannya rapi di rak. Ia tidak langsung menjawab. Bukan karena tidak tahu harus berkata apa—melainkan karena ia sudah tahu jawabannya tidak akan didengar.
“Jawab!” suara Maya meninggi. “Kamu dari mana?!”
Lian mengangkat wajahnya.
“Keluar.”
Satu kata.
Pelan.
Kosong.
Maya tertawa pendek—tajam dan pahit.
“Keluar?” ulangnya. “Keluar sampai polisi nelpon rumah sakit?! Sampai ada laporan?! Sampai nama kamu disebut-sebut lagi?!”
Lian menelan ludah.
Ia tahu.
Bunda sudah mendengar semuanya.
Dari polisi.
Dari orang-orang.
Dari versi yang selalu sama.
Anaknya nakal.
Anaknya rusuh.
Anaknya susah diatur.
“Bunda tahu apa yang kamu lakukan malam ini?” tanya Maya dengan suara bergetar.
Lian mengangguk pelan.
“Berantem lagi?” lanjut Maya. “Tawuran lagi?”
Lian tidak menjawab.
Bukan karena tidak bisa.
Tapi karena ia sudah terlalu sering bicara…
dan tidak pernah benar-benar didengar.
Plak!
Tamparan itu mendarat tepat di pipinya.
Suara kulit bertemu kulit menggema keras di ruang tamu.
Lian terhuyung setengah langkah.
Waktu seolah berhenti.
Mata Lian membelalak. Bukan karena sakit—
melainkan karena tidak percaya.
Tangannya menggantung di samping tubuh.
Dadanya terasa kosong.
Maya membeku.
Ia menatap tangannya sendiri, seolah baru sadar apa yang baru saja ia lakukan.
“Bunda—” suaranya tercekat.
Namun kemarahan yang sudah terlanjur meledak kembali mengambil alih.
“BUNDA CAPEK, LIAN!” teriak Maya, air matanya jatuh tanpa bisa dicegah. “Capek dengar alasan! Capek dengar pembelaan! Capek tiap orang datang cerita betapa rusaknya anak bunda!”
Lian menunduk.
Pipinya panas.
Matanya perih.
Tapi ia tidak menangis.
Ia hanya diam.
Bukan karena tidak ingin membela diri.
Melainkan karena setiap kali ia membuka mulut—
yang terjadi hanyalah luka baru.
“Kenapa kamu selalu diam?!” bentak Maya. “Kamu pikir diam bikin kamu terlihat benar?!”
Tidak, Bun.
Diam bikin aku bertahan.
Kalimat itu teriakan di dalam kepala Lian—
namun tak pernah keluar.
Karena Lian tahu…
bundanya tidak sedang ingin mendengar.
Bundanya hanya ingin anak yang patuh.
Bukan anak yang menjelaskan.
“Kamu tahu apa yang bunda dengar malam ini?” lanjut Maya dengan suara parau. “Kamu disebut pemicu. Kamu disebut biang masalah. Kamu disebut anak yang tidak tahu diri!”
Lian mengepalkan tangan.
Ia ingin berkata:
“Aku nolong nenek tua.”
“Aku berkelahi karena dia ditabrak dan ditinggal.”
“Aku bukan cuma berantem tanpa alasan.”
Tapi ia tidak berkata apa-apa.
Karena setiap kali ia bicara…
bundanya selalu memilih percaya orang lain.
Dan itu jauh lebih menyakitkan
daripada tamparan tadi.
“Kamu memang tidak pernah berubah,” ucap Maya lirih namun tajam. “Dari kecil sampai sekarang, selalu bikin masalah.”
Kata-kata itu seperti pisau.
Lian mengangkat wajahnya perlahan.
“Kalau bunda sudah yakin begitu,” katanya pelan, suaranya hampir tidak terdengar, “buat apa aku jelasin?”
Maya terdiam.
Namun hanya sesaat.
“Kamu masuk kamar,” perintahnya kaku. “Sekarang.”
Lian mengangguk kecil.
Tidak melawan.
Tidak membantah.
Ia melangkah pergi, punggungnya lurus, langkahnya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja ditampar untuk pertama kali oleh orang yang paling ia cintai.
Di kamar, Lian mengunci pintu.
Barulah tubuhnya melemah.
Ia duduk di lantai, bersandar ke ranjang, menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya bergetar—tanpa suara.
Tangis itu tidak keluar.
Karena ia sudah terlalu lelah untuk bahkan menangis.
Di ruang tamu, Maya terduduk di sofa, menutup mulutnya dengan tangan.
Tangannya masih gemetar.
“Astaghfirullah…” bisiknya. “Apa yang sudah bunda lakukan…”
Namun waktu tidak bisa diputar.
Dan malam itu, satu tamparan tidak hanya meninggalkan bekas di pipi Lian—
tetapi juga retakan yang jauh lebih dalam
di antara ibu dan anak.
Retakan yang kelak akan menentukan
apakah perjodohan ini menyelamatkan…
atau justru menghancurkan.
______
Setelah malam itu, Lian berubah.
Bukan menjadi lebih baik.
Bukan menjadi patuh.
Melainkan… menghilang dari dirinya sendiri.
Pagi datang seperti biasa. Matahari tetap terbit. Jam tetap berdetak. Namun Lian bangun tanpa ekspresi. Ia mandi tanpa bernyanyi, mengenakan pakaian sederhana tanpa protes, menyisir rambutnya rapi—hal yang jarang ia lakukan sebelumnya.
Ia turun ke dapur.
“Pagi, Bun,” ucapnya pelan.
Maya yang sedang menuang teh menoleh cepat. Ada sesuatu yang ingin ia katakan—permintaan maaf, mungkin—namun kata-kata itu terjebak di tenggorokan.
“Pagi,” jawab Maya kaku.
Lian duduk. Makan perlahan. Tidak mengeluh. Tidak bercanda. Tidak membantah.
Dan justru itulah yang membuat Maya merasa semakin sesak.
Hari-hari berikutnya berjalan sama.
Lian pulang tepat waktu.
Tidak keluar malam.
Tidak menyentuh motor selain untuk ke kampus.
Tidak ada suara. Tidak ada ledakan. Tidak ada tawa.
Seolah gadis yang dulu memenuhi rumah dengan kekacauan…
telah meninggalkannya.
Maya mencoba bicara.
“Lian… kamu kenapa akhir-akhir ini diam?”
Lian mengangkat wajahnya. Menatap sebentar. Lalu menunduk lagi.
“Enggak apa-apa, Bun.”
Selalu itu jawabannya.
Dan Maya mulai menyadari—
tamparan itu tidak menghentikan kenakalan.
Ia mematahkan sesuatu yang jauh lebih rapuh.
Haikal mengetahui semuanya dua hari kemudian.
Bukan dari Maya.
Bukan dari Lian.
Melainkan dari seorang tetangga yang tak sengaja berbicara terlalu banyak saat Haikal mengantar berkas pernikahan.
“…anaknya jadi pendiam banget sekarang,” kata wanita itu lirih. “Kasihan. Katanya sampai ditampar ibunya.”
Haikal berhenti berjalan.
“Apa?” tanyanya, suaranya turun satu oktaf.
Wanita itu tersadar telah bicara berlebihan.
“E-eh… saya kira—”
Haikal tidak mendengarkan sisanya.
Dadanya terasa mengeras.
Tamparan.
Itu bukan kata yang ringan.
Bukan untuk seseorang seperti Lian—yang keras di luar, tapi rapuh dalam diam.
Hari itu, Haikal datang ke rumah Maya.
Bukan sebagai calon suami.
Bukan sebagai tentara.
Melainkan sebagai seseorang yang mulai peduli.
Lian duduk di ruang tamu ketika Haikal masuk. Kemeja putih sederhana membalut tubuhnya. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya bersih—tanpa luka, tanpa ekspresi.
Ia berdiri saat melihat Haikal.
“Assalamu’alaikum.”
Nada suaranya sopan. Datar.
Haikal membalas salamnya.
Menatapnya lama.
Terlalu lama.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya akhirnya.
Lian mengangguk.
“Iya.”
Satu kata.
Tidak ada tatapan menantang.
Tidak ada sinis.
Tidak ada api.
Dan justru itu yang membuat Haikal gelisah.
Maya berdiri di dekat pintu, tangannya saling menggenggam.
“Haikal,” katanya lirih, “pernikahan kita percepat. Besok pagi.”
Lian tidak bereaksi.
Haikal menoleh cepat.
“Besok?”
“Lebih cepat lebih baik,” jawab Maya. “Saya tidak ingin… hal buruk terulang.”
Haikal menatap Lian lagi.
“Kamu setuju?” tanyanya langsung.
Lian mengangguk pelan.
“Setuju.”
Tidak ada nada.
Tidak ada ragu.
Dan Haikal sadar—
ini bukan persetujuan.
Ini penyerahan.
Pagi itu, rumah Maya terasa asing.
Tidak ada hiasan.
Tidak ada tamu.
Tidak ada senyum.
Hanya ruang tamu yang disulap seadanya. Meja kecil. Dua kursi. Al-Qur’an terbuka di atas kain putih.
Lian duduk mengenakan gamis polos warna krem. Wajahnya pucat namun tenang. Tangannya terlipat di pangkuan. Pandangannya lurus—tidak ke Haikal, tidak ke bundanya.
Haikal duduk di seberang. Kemeja putih, peci hitam. Wajahnya serius.
Pak penghulu datang bersama dua saksi.
Maya duduk sedikit di belakang Lian.
Tangannya gemetar.
Upacara dimulai.
Kata-kata ijab kabul mengalir formal. Jelas. Tegas.
Haikal mengucapkannya tanpa ragu.
Sah.
Satu kata itu jatuh di ruangan—
tanpa gema.
Tanpa haru.
Pak penghulu tersenyum tipis.
“Alhamdulillah. Sah.”
Tidak ada air mata bahagia.
Tidak ada pelukan.
Lian menunduk.
Haikal menoleh padanya.
“Lian,” ucapnya pelan.
Ia mengangkat wajahnya.
Untuk sesaat, mata mereka bertemu.
Dan Haikal melihatnya—
bukan istri.
Bukan pengantin.
Melainkan seorang gadis yang terlalu lelah untuk melawan.
Di situlah, untuk pertama kalinya, dada Haikal terasa sakit.
Bukan karena tanggung jawab.
Melainkan karena kesadaran:
Ia menikahi seseorang yang hatinya sedang terluka parah.
Dan luka itu…
bukan ia yang membuatnya.
Namun kini, ia yang harus menanggung akibatnya.
Ketika semua selesai, Lian berdiri.
“Kalau sudah, aku ke kamar,” katanya pelan.
Ia pergi tanpa menoleh.
Maya menutup wajahnya.
Tangisnya pecah.
Haikal berdiri lama di ruang tamu.
Dalam diam, ia bersumpah pada dirinya sendiri—
Ia mungkin tidak dipilih oleh Lian.
Ia mungkin hanya “Pria yang dipilih Maya”.
Namun mulai hari itu,
ia tidak akan membiarkan satu tamparan lagi—
dari siapa pun—
menghancurkan perempuan yang kini menjadi tanggung jawabnya.
Bahkan jika ia harus melawan dunia…
atau dirinya sendiri.