"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.
BLAMM!!
Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.
"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.
Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.
Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.
Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?
Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melawan
Rama duduk di kursi kerjanya. Menatap pesan dari Alya, sambil sesekali menghela nafas.
[Rama, kenapa kamu tak menjawab telpon ku bahkan menonaktifkan ponselmu? ]
[Amel menangis lagi, meski aku sudah berusaha menenangkannya, membawanya jalan-jalan, belanja, dia tetap mencemaskan hubungan kalian. ]
[Lukanya terlalu dalam, Rama. Dia yang menemanimu saat kamu terpuruk. Sekarang kamu campakkan dia begitu saja? ]
[Bukannya selama ini kamu selalu percaya dengannya? kenapa kamu sekarang bahkan lebih mendengar perempuan pilihan orang tuamu yang baru kamu kenal beberapa bulan? ]
[Rama, aku akan berusaha menenangkannya lagi, tapi apa kamu bisa jamin akan menemuinya nanti??? Aku sendiri ragu. ]
Rama teringat perkataan Aya beberapa waktu lalu.
Aku berharap abang nggak goyah, tapi kalau akhirnya abang memutuskan untuk kembali padanya....ceraikan saja aku. Sampaikan pada papa dan mama. Aku tak mau jadi duri untuk kalian, dan bertahan sendiri itu.... melelahkan.
TOKTOKTOK
"Pak Rama, " panggil Swesti, asistennya.
Rama tersadar dari lamunannya.
"Ya? "
"Ditunggu di ruang rapat."
Rama mengangguk, meninggalkan ponselnya di meja dan berlalu menuju ruang rapat.
Saat keluar dari ruangan, beberapa pasang mata menatapnya.
"Sudah ada kabar dari Aya? " bisik Septi.
"Aku chat Karin katanya belum ada, " bisik Mira.
"Kayaknya pak Rama cukup hati-hati, nggak mau impulsif."
Septi mengangguk setuju.
"Septi, coba ke sini, " panggil Clara.
"Ya, bu."
Ponsel Mira bergetar, ada pesan masuk dari Karin.
[Aya akhirnya cerita kronologi di grup kantornya. Ia tak tahan karena di tuduh mendekati Rama. Bahkan sampai ada yang menjulukinya Cinderella Sawit]
^^^[Gila orang-orang itu, maunya apa sih? ]^^^
[Entah, mereka cuma cari penyakit sendiri karena hatinya yang busuk. Pak Rama bagaimana? apa ada tanda-tanda akan bergerak? ]
^^^[Belum, sekarang pak Rama ada rapat dengan direksi kata swesti .]^^^
[Semoga pak Rama tak diam saja. Kasihan Aya, dia yang jadi bulan-bulanan]
^^^[Aku harap juga begitu, Rin]^^^
***
Semenjak Aya sampai di kantor, bisik-bisik karyawan tak terelakkan. Ia merasa puas membungkam omongan orang-orang yang mencibirnya sejak kemarin. Setelah shalat subuh, ia sudah berhadapan dengan pesan-pesan masuk di ponselnya dari orang-orang yang tak dikenal.
[Ya, kamu yakin layak jadi suami pak Rama? bukannya kamu anak yatim miskin? mana cocok]
[Cewek centil, berbalut agamis. Kamu sama aja dengan yang ke buka. Bedanya kamu lebih VIP aja. ]
[Kamu nggak punya cermin di rumah? mau aku belikan? Biar kamu sadar, kamu nggak pantes masuk keluarganya pak dirut]
[Tau aja kamu ya, mana yang cocok untuk di dekatin. Hebat kamu!! bagi tips dong. sapa tau aku bisa deketin adiknya pak Rama. Masih single kan dia? ]
Belum lagi yang mengoceh di grup bayangan perusahaan. Mereka terang-terangan menjuluki Aya Cinderella sawit, punya amalan khusus buat pendekatan ke rama, dituduh hamil duluan dan banyak lagi. Sampai benar-benar membuat Aya sesak.
"Bang, aku benar-benar nggak tahan. Kalau abang nggak bertindak, aku yang bakal ceritakan semua."
"Oke, kamu ceritakan saja di grup kantormu. Mereka berani bersikap seperti itu, karena mereka tak sekantor denganku dan juga Papa. Kalau di kantor pusat, aku memang harus hati-hati. Kamu tahu kan aku harus menjaga reputasi Papa. Dan juga aku calon pengganti Papa. "
"Ya sudah, abang sudah ijinkan aku ya. Aku bakal share foto saat akad di grup kantor dan menceritakan semua. Ku pikir semua rencana bakal lancar, ternyata banyak yang sudah dapat bocoran."
Rama mengangguk, lalu mencium kening Aya dan memeluknya menguatkan.
TING
Pintu Lift terbuka, Aya tersadar dari lamunannya.
Ia berjalan menuju ruangan dengan langkah tegas. Yakin, bisa menghadapi semua celaan hari ini. Dan seterusnya sudah tak ada lagi yang mengatainya macam-macam.
Tak lama, Mila juga baru sampai di ruangan.
"Aya, ke ruangan saya."
"Baik Bu. "
Aya mengambil Ipad di laci, menyalakannya dan membuka file yang akan ia laporkan.
TOKTOKTOK
Pintu ruang kepala bidang keuangan dibuka, Aya masuk dengan tenang.
Staf keuangan saling menatap cemas, khawatir Mila akan marah besar dengan Aya. Mila paling tak suka kalau ada stafnya yang ikut komentar serius di grup tanpa diskusi dengannya.
"Kasihan Aya, sudah di omongin bakal dimarahin bu Mila juga, pasti ada yang lapor ke bu Mila soal sangkakan Aya di grup bayangan, " ujar Arga.
"Ya mau gimana lagi, kalau jadi Aya aku juga jengah dikatain macam-macam. Aku heran kok teman-teman bidang lain impulsif banget," sahut Sari.
"Ya, situasinya memang terlalu dramatis sih. Akhirnya jadi bahan buat di goreng, " timpal Tari.
Feni menghela nafas, ia ikut cemas tapi tak bisa berbuat apa-apa. Ia yakin Aya hanya ingin membela diri.
***
"Aya, saya dapat info kamu akhirnya menjelaskan kronologi pernikahanmu dengan pak Rama di sebuah grup. Apa itu atas ijin pak Rama dan keluarga nya? "
Aya mengangguk. "Saya sudah ijin dengan pak Rama Bu, tapi belum ijin pak Jaka."
Mila menghela nafas. "Aya, lain kali diskusi dulu dengan Saya. Saya tahu kamu ingin membela diri dari omongan negatif yang bertebaran. Tapi, ada kalanya tidak harus kita sendiri yang turun tangan. Kamu bagian dari keluarga pak Jaka sekarang, jadi.. setiap tindakanmu harus dipikir matang-matang."
"Maaf, Bu. Saya menjawab bukan atas nama keluarga mertua saya, tapi atas nama saya sendiri Cahaya Insaniah. Omongan yang beredar, menurut saya sudah kelewatan. Bahkan banyak pesan dari nomer yang tak dikenal seperti meneror saya."
" Teror?? Baiklah, Saya mengerti. Kali ini saya maklumi. Ke depan tolong diskusi dulu dengan Saya. Apa saya boleh tahu apa saja teror yang kamu maksud?? saya perlu alasan kalau di tanya pak Bayu. "
"Baik, Bu. Saya kirim screenshot pesannya ke nomer pribadi ibu."
"Oke, sekarang laporkan hasil temuanmu kemarin."
Mereka akhirnya membahas pekerjaan. Tiga puluh menit Aya di ruangan Mila, cukup membuat orang-orang diruang staf mengintip sesekali.
"Sepertinya tak terdengar suara bentakan atau pukulan meja sejak tadi? " ujar Tiara.
Staf yang lain ikut berdiri melihat dalam ruang kerja kepala bidang.
"Iya, mungkin bu Mila juga khawatir kalau menegur Aya berlebihan. Secara menantu dirut pusat. Pak Bayu kan sudah wanti-wanti jangan ganggu Aya sejak awal dia ke sini. Bu mila pasti takut juga kehilangan pekerjaan, " timpal Sari.
"Saya memang bicara begitu, tapi bukan berarti Aya akan semena- mena bersikap. Dia akan bekerja dan bersikap seperti kalian. Dia akan profesional. Saya jamin itu."
Staf keuangan yang ada di ruangan itu terhenyak, mendengar Bayu ikut menimpali percakapan mereka. Mereka tak sadar Bayu masuk ke ruangan mereka
"Maaf, pak Bayu. Bukan bermaksud membicarakan yang tidak-tidak soal Aya. Kami hanya peduli, " ujar Sari sambil berdiri dengan kepala menunduk.
Bayu tersenyum, lalu berjalan menuju ruangan Mila.
TOKTOKTOK
"Pagi, Bu Mila, " sapa Bayu.
Aya dan Mila spontan menoleh.
"Selamat Pagi, Pak. Ada apa Pak Bayu? seharusnya telpon saja biar saya yang ke ruangan, " sahut Mila.
"Tidak apa-apa saya kebetulan mau ke kantor pusat di panggil pak Jaka.. Bagaimana kinerja Aya? "
"Bagus, Pak. Aya sudah menemukan selisih transaksinya dan sudah ada laporan keuangan yang baru, " sahut Mila sambil menyodorkan map berisi laporan keuangan yang di cetak Aya.
Bayu menyambut laporan keuangan itu, membuka mapnya dan meneliti dengan seksama.
Ia mengangguk, "Bagus."
Lalu menandatangani laporan keuangan itu.
"Stempel, scan dan kirim file pdfnya ke email saya, " titahnya pada Aya.
"Baik, Pak, " sahut Aya menerima map itu.
"Maaf, pak Bayu. Boleh saya tahu, pak Bayu di panggil pak Jaka ke UTAMA JAYA apa ada kaitannya dengan saya? " tanya Aya sungkan.
"Emmmm... mungkin aja, " jawab Bayu dengan wajah serius.
Ekspresi Aya seketika menegang.
"Tenang, yang dipanggil bukan cuma saya. Kebetulan hari ini pak Jaka sudah masuk kerja, biasanya beliau akan panggil semua kepala kantor anak perusahaan untuk evaluasi."
Rama tersenyum melihat pundak Aya tiba-tiba turun dan merasa lega.
"Bu Mila, kalau begitu saya mohon ijin kembali ke meja."
Mila mengangguk, Aya berlalu pergi setelah mengangguk hormat pada Bayu yang hanya di sambut dengan senyuman.
Bayu duduk di kursi yang di tempati Aya tadi, lalu lanjut koordinasi dengan Mila.
***
Ruang rapat UTAMA JAYA diselimuti ketegangan. Sejak Rama masuk ke ruangan tadi, tatapan para direksi terlihat kurang bersahabat. Jaka memperhatikan semua itu, namun ia mencoba fokus membahas masalah perusahaan.
Setiap departemen menyampaikan laporan bergantian. Jaka dan yang lain menyimak setiap laporan dengan seksama. Rama bersikap biasa. Meski pikirannya kemana-mana, tapi dia berusaha untuk tetap fokus.
"Jadi, setelah saya sampaikan keputusan kita terkait sanksi yang akan kita berikan pada pengawas dan juga proses investigasi kita terkait masalah tersebut. Setelah tawaran bonus separuh gaji diluar hak yang memang harus mereka terima, Pihak Outsourcing akhirnya setuju untuk memberikan kita waktu satu bulan untuk penyelesaian upah."
"Bagus, Rama. Saya rasa ini win-win solution untuk perusahaan kita saat ini. Oke, saya rasa cukup. Setelah ini saya harap semua bisa menindaklanjuti keputusan dan arahan saya di rapat ini, " sahut Jaka.
"Pak Jaka, maaf jika sedikit lancang. Terkait masalah internal keluarga pak Jaka bagaimana? " tanya Abdul.
Jaka menatap Abdul dengan tatapan bingung. "Maksudnya Pak Abdul? "
"Soal, pernikahan Pak Rama dengan mantap staf keuangan Cahaya Insaniah."
"Ooh soal itu....Itu memang salah saya tidak mempersiapkan lebih awal. Anak-anak hanya mengalami imbas dari keputusan saya pribadi. "
Semua terhenyak dengan pernyataan itu, begitu juga dengan Rama.