Xeline pergi hanya meninggalkan sebuah pesan di WA
Bhima
Terimalah perjodohan dari orang tuamu.
Benar kata ibuku
aku tidak se worth it itu untuk dimiliki oleh seseorang
Semoga selalu bahagia bersama seseorang yang mencintaimu.
by Xeline NH
Trauma masa lalu Xeline membuat ia begitu yakin hal itu akan menarik Bhima pada kehidupan yang begitu gelap dan berantakan. Xeline memutuskan menjauh dari Bhima sejauh mungkin dari segala kenangan yang pernah membuatnya merasa hidup sekaligus hancur.
Bhima tetap disana. Menunggu dalam diam. Bertahun-tahun. Ia mencintai Xeline bukan dalam waktu sebentar. Ia juga tidak memberikan setengah. Cintanya utuh, meski ia ditinggalkan karena keinsecuran Xeline.
"Aku butuh kamu Xeline. Bukan kamu yang sempurna. Tapi kamu yang beserta pecahanmu yang berantakan. Aku hanya ingin kamu tetap disisiku. Itu saja. Itu janjiku padamu."
Akankah takdir bisa menyatukan kembali cinta mereka?
Happy Reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DUOELFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Aku jatuh cinta tanpa suara
Menyebut namamu pelan di dada
Aku mencintaimu dalam diam
Tanpa mendesak alam semesta
Aku mencintaimu lama sekali
Dalam diam yang kujaga rapi
Aku mencintaimu lama sekali
Tanpa pamer, tanpa strategi
Aku mencintaimu tanpa janji
Tanpa keberanian berharap hati
Aku mencintaimu seperti orang belajar
Sabar, tak berisik ingin tahu
Aku belajar bahagia dari jauh
Cukup tahu kamu baik baik saja
Agar tidak mengganggu takdirmu
Hanya memastikan perasaanku rapi
Aku menyimpanmu seperti rahasia Ilahi
Kini bahagiaku tanpa alasan panjang
Cukup karena kau ada disini
Kau bukan lagi sekedar harap
Kini bahagiaku tak perlu teriak
Cukup duduk dan saling percaya
Kini bahagiaku tak berisik
Karena ia telah di sampingku
Indahnya ...
Cinta yang lahir dari diam panjang
Datangnya selalu dewasa
Cinta yang lama kupendam
Akhirnya boleh kuucap
Kamu milikku
Your are mine
Dua hari kemudian
"Ternyata rasanya seperti ini ya? Mendapatkan seseorang yang telah lama kita cintai dalam diam. Dari hanya seorang teman sekelas berubah menjadi lebih dari sekedar teman. Ada rasa canggung, tapi pengen deket. Saat dekat, hati rasanya dag dig dug nggak karuan. Aku rasanya senang sekali. Setelah dua tahun menanti, hanya mampu memendam rasa, akhirnya... kini aku bisa memilikinya. Xeline Nadira Hartanto, aku sangat mencintaimu cantik," ucap Bhima dengan lirih
Bhima tak sabar ingin segera berangkat ke sekolah. Diraihnya komik yang sempat dipesan oleh Xeline tempo hari dan memasukkannya ke tas ransel. Setelah semua siap, ia segera turun ke lantai satu untuk sarapan.
"Tumben sudah rapi pagi pagi. Mau berangkat sekarang?" sapa mama Bhima yang tengah duduk di meja makan.
"Iya maa."
"Sarapan dulu sayang. Semangat sekali hari ini. Ada apa gerangan?" selidik mama Bhima.
"Kapan kapan aja bhima ceritain," jelas Bhima sambil menyendokkan nasi ke piringnya.
"Lagi jatuh cinta ya?" tanya Mama lagi.
"Apaan sich maa," elak Bhima dengan senyum.
"Ihh, wajahmu nggak bisa bohong. Aku mamamu lho."
"Ahh mama. Kapan kapan saja aku ceritanya. Masih on process ini."
"Okeyy sayang. Mama tunggu kabar baiknya."
Setelah sarapan, Bhima tak lupa pamitan sama mamanya. Di depan rumah sudah ada pak Udin yang siap mengantarkan Bhima ke sekolah dengan motor supra. Mama Bhima tidak memperbolehkan putranya menaiki kendaraan sendiri saat sekolah. Baru saat dirumah, diperbolehkan naik motor. Itupun jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah.
"Pak, mampir dulu ke toko ya. penting," pinta Bhima.
"Iya mas."
Bhima segera turun dari motor menuju mini market. Ia masuk dan menuju rak permen. Diraihnya satu bungkus besar lolipop kaki kesukaan Xeline dan membayarnya ke kasir.
Sekolah masih sepi saat Bhima sampai sekolah. Hanya dua tiga orang yang sudah datang.
"Makasih pak."
"Sama-sama mas Bhima."
Bhima masuk ke kelas dan mendekati bangku Xeline. ia menaruh buku komik dan permen di laci bangku gadis yang telah berubah status menjadi pacarnya itu.
Xeline baru sampai kelas saat jam sudah mepet mau bel masuk. Bhima menghampiri Xeline dengan agak malu.
" Ada sesuatu buat kamu di laci," bisik Bhima.
Xeline melihat Bhima sesaat dan hanya mengangguk pelan Ia kembali berjalan ke arah bangkunya.
Selama di sekolah, Bhima dan Xeline berusaha untuk tidak bucin agar bisa tetap fokus pada pelajaran. Sebagai seseorang yang pernah aktif di OSIS, keduanya, Xeline dan Bhima, terutama Bhima yang seorang gamer, sangat bisa membedakan mana yang lebih penting dan kurang penting. Pikiran mereka, sekolah ya sekolah. Sekolah itu waktunya fokus ke pelajaran. Kalo mau bucin atau gamer, mending nggak usah sekolah. Di rumah aja. Jangan bawa bucin ke sekolah. Bisa panjang urusannya.
Bhima melihat dari bangkunya yang berjarak dua baris di belakang Xeline. Mood gadis itu kurang baik. Hari ini ia terlihat agak sedikit uring-uringan dengan teman sebangkunya, Rachel. Bhima melihat itu hanya dengan gelengan kepala.
"Dasar bocah lagi red day," batin Bhima.
Sesampainya dirumah, Bhima mengambil ponsel di nakas dekat tempat tidurnya. Ia berbaring sambil mengirim pesan ke Xeline.
Bhima: Kenapa mukanya bete banget hari ini
Xeline terlihat online dan tengah mengetik pesan.
Xeline : Kukira kau peka. ternyata nggak YTTA
Bhima: Apa itu YTTA?
Xeline: Yang Tau Tau Aja
Bhima: Ya peka lah. Makanya hari ini aku bawakan permen dan komik kesukaanmu
Xeline: Kamu tau?
Bhima: Iya. Hari ini is your red day
Xeline: Kok kamu tahu?
Bhima: Laki laki kalo sudah suka perempuan, ia akan menjadi seseorang dengan spek intel Xel. Tapi kalo kamu bilang aku nggak peka, nggak pa pa kok. Aku cowok jelek kaya tokek kok malah berani bersanding dengan tuan putri cantik kayak kamu.
Xeline : Heyy
Xeline : P
Xeline : Maksud
Xeline: Aku nggak mau ya kamu bawa bawa fisik. Apaan sich kamu Bhim. Aku nggak suka.
Bhima: Hmm, terus?
Xeline: Ya udah. Jangan kayak gitulah
Bhima: Okeyy Xel.
Xeline: Jangan diulangi
Bhima: Iyaa Cantik
Xeline: Sebel banget
Bhima: Kenapa
Xeline: Masih ada yang belum ngumpulin biodata. Mana hari ini terakhir. Tinggal satu orang yang belum ngumpulin. Susah banget dimintain biodata. Apa dia mengira aku mau nyantet kali ya? Takut banget biodatanya kubawa ke dukun kali ya? Ke dukun beranak.
Bhima tertawa lebar membaca chat dari Xeline.
"Dari dukun santet ganti ke dukun beranak? Mau nyantet apa mau lahiran? Ada ada aja ini bocah," batin Bhima.
Bhima: Xel, Xel, candamu garing banget. Renyah kayak krupuk habis dari penggorengan. Itu kamu mau nyantet, apa mau dia lahiran di dukun beranak? Candamu lucu banget. Hahaha
Xeline: Pusing nich aku mikirin satu anak itu.
Bhima: Betewe siapa sih dia? Sini gue yang mintain biodata. Pasti dia nurut sama aku.
Xeline: Nggak usahlah Bhim. Coba nanti malam terakhir aku minta data diri ke dia. Kalau dia tetep nggak mau, ya udah nggak pa pa. Aku tinggal bilang ke bu Nur kalo dia nggak mau ngasih biodata. Nanti biar bu Nur yang urus. Atau nanti gampang lah. Aku tinggal minta data diri ke TU atau ke guru waka kesiswaan.
Bhima: Okeyy. Kalo butuh apa apa, jangan lupa bilang ke aku ya. Nanti kubantu sebisaku
Xeline: Iyaa
Bhima: Jangan iyaa aja
Xeline: Ya aku takut ganggu kamu aja Bhim. Toh kamu pasti punya kegiatan yang lain kan?
Bhima: Aku free banget kok. Nanti kalo repot, aku kabarin
Xeline: Iyaa. Bhim
Bhima: Iyaa. Apa yank?
Xeline: Makasih permen dan komiknya. Nanti komiknya kukembalikan bila sudah selesai kubaca
Bhima: Nggak usah makasih. Cuma permen aja kok. Biasa aja Xel. Komiknya nggak usah dikembalikan. Nanti malah berdebu di kolong lemariku. Komiknya buat kamu aja. Kalo kamu mau, besok aku bawain.
Xeline: Nggak usah Bhim. Kapan-kapan aja. Makasih ya
Bhima: Iyaa sayank. Xel
Xeline: Hmm
Bhima: Kamu pernah main game?
Xeline: Pernah
Bhima: Game apa?
Xeline: ML (Mobile Legend)
Bhima: Kalo FF (Free Fire)?
Xeline: Pernah main. Tapi aku malamnya selalu panas
Bhima: Kenapa?
Xeline: Terlalu fight
Bhima: Ooo. Kapan kapan kita mabar gimana?
Xeline: Boleh.
Bhima: Okeyy
Xeline: Bhim, udah malam. Aku mau tidur. Bye
Bhima: Bye
Sejam berlalu. Bhima belum bisa tidur. Ia melihat ponsel dan Xeline statusnya masih online.
Bhima melihat status WA yang ternyata di pasang oleh ibunya Xeline. Status kalau Xeline baru saja dibully oleh teman sekelasnya yang belum menyerahkan biodata, yaitu Aldi.
Bhima memberanikan diri WA ke ibu Xeline malam itu juga.
Bhima : Selamat malam. Apa ini dengan ibunya Xeline? Saya ingin bertanya.