NovelToon NovelToon
Abiyan; TUAN MUDA Terbuang

Abiyan; TUAN MUDA Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Kebangkitan pecundang / Persahabatan / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Moms TZ

Hidup bergelimang harta, tetapi tanpa kasih sayang seorang ibu, membuat Abiyan tumbuh menjadi sosok pemuda yang keras kepala dan pembangkang. Suatu hari dia melakukan kesalahan fatal dengan terlibat balapan liar yang mengakibatkan dirinya tertangkap polisi.

Akibat perbuatannya, Bastian sang ayah murka dan Abiyan harus menerima hukuman terberat: dia terbuang dari rumah yang selama ini menjadi istananya. Tanpa kemewahan, tanpa perlindungan, Abiyan terpaksa harus menghadapi dunia yang keras dan penuh tantangan seorang diri.

Mampukah Abiyan sang tuan muda yang terbuang, bertahan hidup dan belajar menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Atau justru dia akan semakin terpuruk dalam kesengsaraan?

Ikuti kisahnya hanya di sini:

"Abiyan, Tuan Muda Terbuang" karya Moms TZ, bukan yang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Tawaran menjadi asisten

Siang itu, Abiyan bersiap untuk berangkat bekerja. Aldo dan Benny telah kembali ke tempat kerja mereka beberapa saat yang lalu. Abiyan keluar dari kamarnya dan mengunci pintu. Akan tetapi, saat membalikkan badan dan melihat ke depan, dia sangat terkejut Naraya telah siap dan menunggunya di teras kamarnya.

Abiyan segera berjalan cepat menghampiri Naraya yang langsung berdiri saat dirinya mendekat. "Ra, kamu mau berangkat kerja juga? Kan, aku sudah bilang, kamu istirahat saja dulu minimal sehari lah. Emangnya kamu nggak kasihan sama bayimu?"

Naraya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala. "Nggak, Bi. Aku nggak boleh manja. Setidaknya dengan begitu aku mengajarkan anakku agar nantinya menjadi anak yang kuat dan tangguh."

"Tapi Ra, kondisi kamu kan, belum sepenuhnya pulih. Gimana nanti kalau terjadi apa-apa sama kamu, atau bayimu?" Abiyan menatap Naraya dengan cemas.

"Nggak akan terjadi apa-apa, Bi. Aku baik-baik saja, percayalah padaku," jawab Naraya, berusaha meyakinkan.

Ia merasa terharu dengan perhatian Abiyan, tetapi dirinya tidak ingin memanfaatkan kebaikan pemuda itu. "Lagipula, aku nggak mungkin bisa tenang kalau nggak kerja. Aku butuh makan, bayar kontrakan, dan lain sebagainya."

Abiyan menghela napas kasar. Rupanya Naraya adalah wanita yang keras kepala dan mandiri. Dia tidak mungkin bisa membujuknya untuk tinggal di rumah.

"Ra, mulai sekarang kamu bisa mengandalkan aku," kata Abiyan seraya menatap Naraya dengan serius.

Namun, Naraya justru tertawa lebar hingga airmatanya keluar. "Kamu ini lucu, Bi. Emang kamu siapanya aku, sehingga aku harus mengandalkan kamu?" Ia menatap Abiyan dengan tatapan mengejek, meskipun hatinya berdebar kencang.

Abiyan tertegun mendengar ucapan Naraya dan sedikit terluka dengan reaksi wanita itu. Namun, dia berusaha untuk tidak memperlihatkannya. Dia sadar memang bukan siapa-siapa baginya. Haruskah ada hubungan dulu baru bisa diandalkan? Dia bisa merasakan bahwa Naraya hanya berusaha untuk menjaga jarak dan tidak ingin merepotkannya.

Abiyan menggeleng pelan. "Ya sudah, kalau itu keputusanmu. Tapi, aku mohon, jangan terlalu memaksakan diri. Kalau merasa nggak enak badan, langsung bilang ke aku atau Pak Joni, ya?"

"Iya, Bi. Aku, janji," jawab Naraya, berusaha menenangkan Abiyan. "Kamu nggak usah khawatir. Aku akan baik-baik saja."

"Beneran?" tanya Abiyan, masih ragu.

Naraya mengangguk mantap. "Sekarang, lebih baik kita berangkat kerja. Jangan sampai kita dimarahi Pak Joni, gara-gara terlambat."

Abiyan tersenyum tipis. "Ya sudah, ayo!"

Naraya tersenyum, kemudian mereka berdua berjalan bersama menuju gang depan, lalu naik angkot tujuan ke kafe tempat mereka bekerja. Di dalam angkot, Abiyan terus memperhatikan Naraya dengan seksama. Meskipun wanita itu menolak untuk mengandalkan dirinya, tetapi dia tidak akan menyerah. Dia yakin, di balik sikapnya yang keras, Naraya adalah wanita yang rapuh dan membutuhkan dukungan.

.

Week end, kafe sangat ramai pengunjung. Abiyan bekerja dengan sangat profesional. Dia membantu teman-temannya yang kerepotan, sambil sesekali memperhatikan Naraya barangkali perempuan itu membutuhkan bantuan. Pak Joni yang kebetulan berada di kafe sore itu sangat mengapresiasi kinerja Abiyan.

Apalagi saat dirinya menggantikan petugas kasir yang kala itu sedang istirahat. Abiyan dengan mudah mengoperasikannya tanpa kesulitan, membuat Pak Joni terkesan sekaligus merasa penasaran.

Maka ketika petugas kasir telah kembali, dia pun memanggil Abiyan ke ruangannya.

"Maaf, Pak. Ada apa ya? Apa... saya melakukan kesalahan?" tanyanya kemudian dengan perasaan was-was.

"Tidak," jawab Pak Joni. "Saya justru sangat terkesan dengan kinerjamu. Kamu sangat rajin dan tidak segan membantu yang lain."

"Apa sebelum kerja di sini kamu sudah pernah bekerja di tempat lain, di minimarket misalnya?" tanya Pak Joni. Dia menatap Abiyan dengan serius.

"Maaf, Pak. Kalau saya boleh jujur, sebenarnya saya belum pernah bekerja, apalagi kerja di minimarket," jawab Abiyan sambil mengusap tengkuknya.

"Belum pernah kerja?" Pak Joni tampak mengernyit. "Tapi waktu itu...?"

"Sekali lagi saya minta maaf, Pak. Saya terpaksa melakukannya karena saya sangat membutuhkan pekerjaan. Dan ini adalah pekerjaan pertama saya," kata Abiyan seraya menundukkan kepala.

"Lalu, kamu belajar dari mana, cara mengoperasikan komputer? Saya melihat kamu mahir mengoperasikannya, tidak seorang yang amatiran. Atau... jangan-jangan...?" Pak Joni menatapnya dengan pandangan menyelidik.

Abiyan terdiam dan menunduk lebih dalam. Ada keraguan di matanya. Dia menggigit bibir bawahnya, seolah sedang menimbang sesuatu. Hingga akhirnya, dia menghela napas dalam-dalam dan berkata, "Sebenarnya... saya lulusan manajemen bisnis, Pak."

Pak Joni terkejut. "Apa...? Lalu, kenapa kamu malah melamar kerja di sini? Kenapa tidak mencari pekerjaan di perusahaan besar yang tentunya dengan gaji lebih besar."

"Saya... saya punya alasan tersendiri, Pak. Tapi yang jelas, saya butuh pekerjaan, dan kafe ini adalah tempat yang nyaman untuk saya saat ini," jawab Abiyan.

Pak Joni terdiam mencerna pengakuan Abiyan. Kemudian, dia tersenyum. "Baiklah, saya tahu ada yang kamu sembunyikan sejak awal kamu bekerja di sini. Tidak masalah, justru itu membuat saya semakin yakin. Saya salut sama kamu yang memiliki latar belakang kuat, tapi kamu tidak malu untuk bekerja keras dari bawah. Saya butuh orang seperti kamu untuk membantu saya mengembangkan kafe ini."

Abiyan mengangkat wajahnya, menatap Pak Joni dengan tatapan penuh tanya.

"Saya ingin menawarkan kamu posisi baru," kata Pak Joni dengan mantap. "Saya ingin kamu jadi asisten saya. Kamu akan membantu saya mengawasi operasional kafe, mengatur jadwal karyawan, dan menangani masalah-masalah kecil lainnya. Bagaimana, apa kamu tertarik?"

Abiyan terdiam, tampak berpikir keras. Tawaran ini sangat menarik, tetapi dia juga merasa ragu. Dia tidak yakin, apakah akan mampu mengemban tanggung jawab yang lebih besar.

"Saya... saya nggak yakin, Pak," kata Abiyan dengan ragu. "Saya takut nggak bisa."

Pak Joni tersenyum. "Saya percaya kamu bisa, Bi. Saya akan membimbing kamu. Kamu hanya perlu mencoba."

Bukankah ini sama saja artinya gue belajar mengelola perusahaan, tapi skala kecil?

Nggak apa-apa, bukankah segala sesuatu dimulai dari hal kecil, lalu berubah jadi besar?

Lagi pula, dengan gue menjadi asisten Pak Joni, gue bisa mengatur jadwal karyawan dan itu artinya gue bisa membuat jadwal shift Naraya menjadi pagi terus, biar dia nggak harus kerja di malam hari.

Abiyan tersenyum dan mengangguk dengan mantap. "Baik, Pak. Saya menerima tawaran Bapak. Saya akan mencobanya, mohon bimbingannya."

Pak Joni tersenyum penuh arti dan menjabat tangan Abiyan dengan erat.

.

Tolong, jangan menumpuk bab ya, gaes. please 🙏🙏🙏

1
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
itu karena Lo aslinya bego🤣
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
ngarang aja lo
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
keok dia. makanya jgn curang
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
tuh yg ditunggu² udah datang😄
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
ortu egois. kalau mau nikah lagi seharusnya cari laki² yg juga mau menerima putrimu
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
nungguin Abiyan ya🤭
Aditya hp/ bunda Lia
anak tiri emak durjana nya Naraya ....
Aditya hp/ bunda Lia: pasti 😂😂
total 2 replies
Cindy
lanjut
vj'z tri
waduh kalau Abi d tolak cewek terus apa kabar kalian 🤣🤣🤣🤣🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: ya udah terima nasib🤭
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
emang kemjamu semula bagaimana? bentuk kodok atau kadal? di cci kan biar bersih, 🤧
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 3 replies
Esther
siapa dia
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: entahlah🤭
total 1 replies
ora
Mamanya, kah/CoolGuy/
Terus pemuda itu anak tirinya. Nggak punya sopan santun banget ....
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: mungkin🤭
total 1 replies
ora
Haduhhh. Perkara kemeja aja jadi ngehina orang😒😒
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lha iyo
total 1 replies
Patrick Khan
wahhh anak manja kyk nya itu😒
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: masa????
total 1 replies
Tiara Bella
siapa lg nh perempuan ibunya kah.....
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: mungkin🤭
total 1 replies
Esther
Aku juga cinta kamu Abiyan.....kata Naraya🤭
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤭😍🫶🫰😂
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
pertanyaanmu terjawab setelah membuka tas bekalnya.
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nar Sih
ungkapan cinta keluar juga ,pasti nara menerima cinta mu abyan ,tpi kmu mesti sabar nunggu hinga nara sdh lahiran
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huumm
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
Waaw, ... Biyan 👍
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
sudah kuduga. ayo Biyan, tunjukkan kalau kamu tdk bisa dipandang remeh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!