Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN III: KILAT DI PUNCAK KESUNYIAN (BAB 21 KEHENINGAN PALING SUNYI)
Di ketinggian ini, udara bukan lagi sekadar zat yang dihirup, ia adalah kristal yang mengiris paru-paru. Abimanyu berdiri di sebuah pelataran batu yang begitu luas dan datar, seolah-olah para dewa kuno pernah menggunakannya sebagai meja untuk menyusun peta bintang. Namun, tidak ada dewa di sini. Tidak ada pula hantu-hantu masa lalu dari Universitas yang biasanya membisikkan keraguan di telinganya. Yang ada hanyalah keheningan yang begitu padat, hingga Abimanyu merasa ia bisa menyentuhnya dengan ujung jari.
Ia menoleh ke samping, mencari siluet Elang yang selama ini menjadi kompas bagi kehendaknya. Namun, langit di atasnya kosong—biru yang begitu pekat hingga nyaris terlihat hitam. Ia menatap ke bawah, ke arah lekukan batu di mana Ular biasanya bergelung memberikan kebijaksanaan bumi. Kosong. Hanya ada debu kosmik dan bayangannya sendiri yang memanjang, distorsi hitam yang tampak asing di atas permukaan granit.
"Mereka pergi," bisiknya. Suaranya terdengar seperti retakan es di tengah padang salju. Tidak ada gema. Keheningan di tempat ini menelan suara sebelum sempat memantul.
Ini adalah momen yang telah diramalkan dalam draf-draf pemikirannya: Malam Gelap Jiwa. Di mana sang pendaki tidak lagi didampingi oleh simbol-simbol kekuatannya. Elang (keberanian) dan Ular (kecerdikan) telah menyelesaikan tugas mereka sebagai pengantar. Kini, Abimanyu harus membuktikan bahwa ia bukan sekadar pemakai simbol, melainkan sumber dari simbol itu sendiri.
Ia duduk bersila di tengah pelataran itu. Tanpa buku untuk dibaca, tanpa data untuk dianalisis, dan tanpa audiens untuk memuja. Inilah ujian bagi manusia yang selama ini mendefinisikan dirinya melalui "relasi dengan yang lain". Di lembah, ia adalah Profesor karena ada mahasiswa. Di lereng, ia adalah Pendaki karena ada gunung. Namun di sini, di titik nol ini, siapakah dia ketika "gunung" telah menjadi bagian dari dirinya dan "mahasiswa" telah menjadi abu sejarah?
Pikirannya mulai mencoba melakukan kebiasaan lamanya: mengkategorikan rasa sunyi ini. Apakah ini kesepian eksistensial ala Heidegger? Ataukah ini kekosongan nihilistik yang ditakuti para moralis?
Namun, Abimanyu segera menghentikan arus itu. "Diamlah, wahai Manusia Kertas," tegurnya pada dirinya sendiri. "Jangan bungkus kesunyian ini dengan istilah-istilah usang. Rasakan saja dinginnya. Rasakan saja ketidakadaan ini."
Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu yang mengerikan. Sebuah perasaan bahwa jantungnya berdetak terlalu keras. Dalam keheningan mutlak ini, fungsi biologisnya terdengar seperti mesin pabrik yang berisik. Dug-dag. Dug-dag. Setiap aliran darah di pelipisnya terdengar seperti menderu. Ia merasa malu pada alam semesta. Betapa berisiknya kehidupan ini ketika ia mencoba bertahan di hadapan keabadian yang diam.
Ia mulai merenungkan tentang Eternal Recurrence—Gagasan tentang Perulangan Abadi yang sempat ia baca sebagai konsep abstrak di perpustakaan ber-AC dulu. Sekarang, gagasan itu bukan lagi paragraf di halaman 342. Gagasan itu adalah pertanyaan yang menghantamnya seiring dengan setiap detak jantung:
"Jika keheningan ini, kesendirian yang menyiksa ini, dan dingin yang membekukan sumsum tulang ini harus kau jalani berulang-ulang, selamanya, tanpa henti, tanpa perubahan... sanggupkah kau mengatakan 'Ya'?"
Abimanyu memejamkan mata. Di kegelapan kelopak matanya, ia melihat bayangan wajah-wajah dari masa lalu. Rekan sejawatnya yang menertawakannya saat ia membakar buku. Istrinya yang menatapnya dengan ketakutan seolah ia telah gila. Mereka semua adalah bagian dari "perulangan" itu. Jika ia menerima hidupnya, ia harus menerima mereka juga. Ia harus menerima setiap hinaan, setiap kegagalan, dan setiap lembar kertas yang pernah ia sembah sebagai berhala.
Ia merasakan dorongan untuk berteriak, untuk memecah keheningan ini dengan sumpah serapah atau tangisan. Namun ia tahu, jika ia berteriak, itu berarti ia kalah. Itu berarti ia masih membutuhkan jawaban dari luar. Lalu, di tengah kepungan sunyi itu, sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya yang pecah-pecah. Bukan tawa histeris, melainkan tawa penemuan.
Ia menyadari bahwa Elang dan Ular tidak benar-benar meninggalkannya. Mereka telah masuk ke dalam. Elang telah menjadi matanya yang kini menatap tanpa kedip ke arah ketiadaan, dan Ular telah menjadi tulang punggungnya yang tetap tegak meski dihantam badai kesunyian.
"Aku adalah tempat di mana kesunyian ini bertemu dengan kesadaran," gumamnya.
Saat matahari mulai miring ke arah barat, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menyerupai jemari raksasa, sesosok pria duduk di hadapannya. Pria itu mengenakan kemeja flanel rapi, kacamata berbingkai tanduk, dan sebuah tas kulit penuh berisi naskah. Ia duduk di atas kursi kayu mahoni yang entah bagaimana muncul di tengah puncak gersang ini. Pria itu adalah Abimanyu—sang Profesor dari Lembah Nama.
"Kau terlihat mengerikan," ujar Sang Profesor dengan wibawa palsu. "Lihatlah tanganmu. Pecah-pecah, kotor oleh tanah. Apakah ini pencapaian intelektual? Menjadi gelandangan di atas cadas?"
Abimanyu asli tidak bergerak. "Kau hanyalah gema dari gua yang sudah aku tinggalkan," jawabnya tenang.
"Gema?" Sang Profesor tertawa. "Aku adalah fondasimu! Tanpa gelar dan reputasi yang aku bangun, kau hanyalah sebutir debu. Kembalilah. Aku sudah menyiapkan pidato pengakuan. Kita akan katakan ini adalah eksperimen sosial. Kau akan mendapatkan jabatan Dekan. Mengapa harus menderita demi kenyataan, jika kau bisa memilikinya dalam bentuk abstraksi yang nyaman?"
Abimanyu menatap mata bayangannya. "Itulah masalahmu. Kau ingin membotolkan badai agar bisa dipelajari di atas meja makan. Kau lebih mencintai 'teori' tentang kehendak daripada bertindak dengan kehendakmu sendiri."
Abimanyu berdiri, merasa tubuhnya jauh lebih nyata daripada bayangan itu. "Keamanan adalah peti mati bagi roh. Aku tidak mendaki untuk menulis buku baru. Aku mendaki untuk membakar penulisnya."
Sang Profesor memudar seperti asap. "Kau akan mati di sini! Kau akan dilupakan oleh sejarah!"
"Biarlah sejarah melupakan aku," teriak Abimanyu. "Karena aku tidak hidup di dalam sejarah. Aku hidup di dalam saat ini!"
Ia melangkah maju menembus kabut bayangan itu. Yang tersisa hanyalah keheningan dari sebuah ruangan yang baru saja dibersihkan dari sampah tua. Namun, keheningan itu segera berganti dengan tarikan kuat di dadanya—sebuah penglihatan tentang lingkaran setan yang tak berujung. Inilah ujian raksasa: Perulangan Abadi.
Abimanyu berjalan menuju altar alami—reruntuhan pilar granit yang terkikis angin hingga menyerupai tulang raksasa. Ia duduk bersila, memulai "Penghancuran Diri Secara Sadar".
Aku bukan lagi Abimanyu sang Profesor.Nama itu terlepas seperti sisik ular. Aku bukan lagi suami, bukan warga negara, bukan subjek hukum mana pun. Setiap identitas yang dilepaskan membuatnya lebih ringan namun rentan, seolah kulitnya sedang dikuliti oleh angin. Ia memejamkan mata, memutar film hidupnya sebagai penonton yang hendak membakar bioskopnya sendiri.
"Lapisan pertama: Gelar dan Otoritas." Ia melihat jubah akademiknya robek menjadi benang tak berarti. "Aku bukan suara yang bergema di ruang kuliah itu."
"Lapisan kedua: Nama dan Silsilah." Huruf-huruf namanya meleleh. Ia membayangkan akta kelahirannya menyatu dengan debu gunung. "Jika aku tidak memiliki nama, siapakah yang sedang kedinginan saat ini?"
"Lapisan ketiga: Kenangan dan Luka." Ia melihat wajah-wajah masa lalu dan kegagalannya, lalu menolak mengklaimnya sebagai milik. Ia melihat masa lalunya sebagai buku yang ditulis orang asing.
Tiba-tiba, ia merasa melayang—sensasi terjatuh ke jurang tanpa dasar di dalam diri sendiri. Inilah Kenosis, pengosongan total. Yang tersisa hanyalah "Akal Besar"—tubuh organiknya. Namun, bahkan tubuh ini pun ia pertanyakan: apakah ia pemiliknya, atau hanya penumpang sementara?
"Aku bukan lagi Manusia Kertas," bisiknya. "Tapi aku juga belum menjadi Manusia Baru. Aku adalah kekosongan yang menunggu diisi oleh Kehendak."
Matahari kini berada di titik nadir, menyerupai luka besar di perut langit yang menumpahkan warna merah darah. Bayangan pilar memanjang seperti monster kuno. Abimanyu membuka matanya pada dunia yang kontras antara cahaya emas yang pedih dan bayangan hitam absolut.
Angin mulai menderu. Logika siang hari digantikan hukum malam yang liar. Di ranselnya, ia memiliki korek api. Api akan memberinya keamanan semu, perisai peradaban untuk menjinakkan malam. Namun Abimanyu menatapnya dengan jijik.
"Jika aku menyalakan api, aku hanya akan menciptakan dinding cahaya yang memisahkanku dari kebenaran malam."
Ia melempar kotak korek itu ke jurang. Ia memilih membeku bersama malam.
Saat matahari hilang, kegelapan purba menekan dadanya. Ia mulai menggigil hebat, saraf-sarafnya mulai mati rasa. Di sinilah Eternal Recurrence menampakkan wajahnya. Sanggupkah ia mencintai kedinginan ini jika ia harus berulang selamanya tanpa henti?
Pikiran lamanya ingin menjerit memohon ampunan. Namun Abimanyu baru menarik napas dalam-dalam. "Ya," bisiknya pada langit hitam. "Aku tidak akan meminta satu detik pun diubah."
Sesuatu yang aneh terjadi. Rasa dingin itu tetap ada, namun tidak lagi menyiksa. Ia telah menjadi bagian dari batu dan angin. Ia tidak lagi menghadapi kegelapan, ia telah menjadi kegelapan. Kulitnya berubah kelabu selaras granit. Ia membuka kancing jaketnya, membiarkan dada telanjangnya beradu dengan napas malam yang membeku.
Rasa sakit radang dingin berubah menjadi pemahaman taktil. Ia merasakan denyut lambat mineral jutaan tahun. Tulang-tulangnya terasa seperti urat kuarsa yang menghujam ke inti bumi. Angin yang menderu terdengar seperti bahasa tanpa kata benda, hanya berisi kata kerja: bergerak, mengikis, melintasi.
Tubuhnya kini menjadi instrumen kosmik. Ia menatap bintang-bintang bukan sebagai hiasan, melainkan cermin kesunyiannya. Jika ia adalah batu, angin, dan bintang, maka ia tidak bisa mati. Alam semesta hanya mengenal perubahan bentuk.
Bayangannya tidak lagi berbentuk manusia bungkuk, melainkan siluet elang yang melipat sayap. Waktu tidak lagi mengejar kematian, melainkan menjadi lingkaran tenang. Di cakrawala batinnya, cahaya perak melingkar mulai muncul—gerbang menuju penglihatan yang lebih besar.
Abimanyu tersenyum—sebuah senyum yang mengubah kepahitan menjadi madu. Ia menutup mata, melihat dunia fisik larut menjadi kode cahaya yang berputar. Dan di tengah pusaran itu, sebuah roda raksasa mulai menampakkan dirinya.