NovelToon NovelToon
Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."

Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.

"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."

Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.

---

Suara Nurani Halimah

Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.

"Suamiku... kau membunuh ayahku?"

Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:

"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"

Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.

"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 — SETELAH KEBON PALA

Tak ada yang mati di Kebon Pala.

Tapi luka-luka itu lebih berbahaya dari kematian: karena luka menyisakan dendam, dan dendam menyatukan yang tak pernah bisa dipisahkan.

---

Datuk Sulaiman datang menjelang senja.

Di kiri dan kanannya, dua petugas VOC berjalan tanpa bicara. Langkah mereka seragam—sepatu bot menghentak tanah berdebu, tangan kanan memegang gagang pedang. Mereka tidak melihat Sulaiman sebagai tamu. Matanya lurus ke depan, seperti mengantar seorang terdakwa ke pengadilan.

Pintu ruang rapat tertutup rapat dari dalam. Kayu jati tebal itu meredam hampir semua suara. Hanya samar terdengar derap langkah penjaga yang berganti shift. Sulaiman berdiri di tengah ruangan, tepat di bawah lampu gantung. Lampu itu bergoyang pelan, menggoyang-goyangkan bayangannya ke segala arah.

Van der Berg tidak mempersilakan duduk.

Ia duduk di kursinya sendiri, di balik meja panjang. Pena di tangannya masih menari di atas laporan, menyelesaikan satu paragraf sebelum akhirnya ia meletakkannya perlahan. Lalu ia mengangkat wajah.

Tatapan itu. Sulaiman mengenalnya. Bukan marah yang meledak-ledak. Tapi dingin yang membekukan tulang.

---

Van der Berg membuka map merah di depannya. Mengeluarkan selembar kertas. Membacanya tanpa ekspresi.

"Kebon Pala."

Suaranya datar. Seperti membaca daftar belanjaan.

"Geen doden. Maar..." (Tidak ada yang mati. Tapi...)

Ia menjeda. Matanya masih pada kertas. Tapi kali ini, alisnya naik sedikit. Sekejap. Lalu turun lagi.

"...twaalf gewonden. Drie ernstig." (...dua belas luka-luka. Tiga parah.)

Van der Berg mengangkat wajah. Menatap Sulaiman.

"Een oude man. Zijn hoofd gebroken op een steen." (Seorang tua. Kepalanya pecah kena batu.)

Sulaiman menelan ludah.

"Een jonge man. Bewusteloos geslagen met een stuk hout." (Seorang muda. Dipukul pingsan dengan kayu.)

Van der Berg berdiri. Kertas di tangannya digenggam.

"Vrouwen die gillen vanaf de zijkant." (Perempuan-perempuan menjerit dari pinggir.)

Ia berjalan mendekat. Satu langkah.

"Kinderen die rennen om hulp te halen." (Anak-anak berlari minta tolong.)

Langkah kedua. Kini ia hanya beberapa jengkal dari Sulaiman.

"En jouw mannen?" (Dan anak buahmu?)

Ia tertawa. Tawa dingin yang tidak sampai ke mata.

"Twee met gebroken neuzen. Een met blauw oog." (Dua dengan hidung patah. Satu dengan mata bengkak.)

Kertas itu dilempar ke meja. Suaranya memecah keheningan.

"Meer niet." (Tidak lebih.)

Van der Berg kembali ke kursinya. Duduk. Menyandarkan punggung. Matanya tidak lepas dari Sulaiman.

"Twaalf boeren. Tegen een handvol centeng." (Dua belas petani. Melawan beberapa centeng.)

Ia menjeda. Membiarkan kalimat itu menggantung.

"En de boeren die bijna winnen." (Dan para petani hampir menang.)

Sulaiman membuka mulut. "Tapi—"

"Stil." (Diam.)

Satu kata. Tapi cukup membuat Sulaiman membeku.

"En weet je wat het ergste is?" (Dan kau tahu apa yang terburuk dari semua ini?)

Van der Berg berdiri lagi. Berjalan ke peta di dinding. Jarinya menunjuk satu titik.

"Hier." (Di sini.)

Ia menepuk peta itu. Sekali. Keras.

"Vlak bij zijn pakhuis." (Dekat gudangnya.)

Telunjuknya menekan titik itu.

"Vlak bij zijn mensen." (Dekat orang-orangnya.)

Ia berbalik. Menatap Sulaiman.

"Vlak bij Maringgih." (Dekat Maringgih.)

Sulaiman mundur setengah langkah. Tanpa sadar.

"Hij zag alles." (Ia melihat semua.)

Van der Berg mendekat.

"Hij hoorde alles." (Ia mendengar semua.)

Langkah kaki Van der Berg berderap pelan di lantai kayu. Mendekat. Mendekat.

"En hij kwam." (Dan ia datang.)

Kini ia tepat di depan Sulaiman lagi. Wajahnya hanya beberapa inci. Napasnya—Sulaiman bisa merasakannya—dingin dan teratur.

"Met zijn koets." (Dengan keretanya.)

Van der Berg tersenyum. Senyum yang tidak ramah.

"Voor iedereen zichtbaar." (Terlihat oleh semua orang.)

Ia mundur satu langkah. Memberi sedikit ruang. Tapi tekanan tidak berkurang.

"Jij op je paard." (Kau di atas kudamu.)

Ia menunjuk Sulaiman dengan telunjuknya.

"Schreeuwend." (Berteriak.)

Telunjuknya menekuk, seperti cakar.

"Dreigend." (Mengancam.)

Ia menurunkan tangan. Berjalan mengelilingi Sulaiman. Perlahan. Seperti harimau mengitari mangsa.

"Hij uit zijn koets." (Dia turun dari keretanya.)

Suaranya datang dari belakang Sulaiman sekarang.

"Stil." (Diam.)

Dari samping kiri.

"Kalm." (Tenang.)

Dari samping kanan.

"Komend." (Datang.)

Van der Berg berhenti tepat di belakang Sulaiman. Sulaiman bisa merasakan kehadirannya di sana. Bulu kuduknya meremang.

"Jij maakte ze bang." (Kau membuat mereka takut.)

Bisikan itu persis di belakang telinganya.

"Hij maakte ze hoop." (Dia membuat mereka punya harapan.)

Van der Berg kembali ke depan. Kini ia duduk di pinggir meja, kaki menjuntai, seperti tidak peduli. Tapi matanya—matanya tidak pernah lepas.

"Jij sloeg ze." (Kau memukuli mereka.)

Ia menyilangkan tangan.

"Hij tilde ze op." (Dia mengangkat mereka.)

Senyum tipis muncul lagi.

"Jij noemde ze dieren." (Kau menyebut mereka binatang.)

Ia menjeda. Matanya menyipit.

"Hij noemde ze... mensen." (Dia menyebut mereka... manusia.)

Sunyi.

Hanya lampu minyak yang berderak.

Van der Berg turun dari meja. Berjalan ke jendela. Membukanya. Udara malam masuk. Dingin. Tapi tidak lebih dingin dari ruangan ini.

"Weet je wat er nu gebeurt?" (Kau tahu apa yang terjadi sekarang?)

Ia tidak menoleh. Masih memandang ke luar.

"De hele kampong praat erover." (Seluruh kampung membicarakan ini.)

Suaranya bergema di ruangan.

"Niet over de grond." (Bukan tentang tanah.)

Ia berbalik. Menatap Sulaiman.

"Niet over de wet." (Bukan tentang hukum.)

Ia mendekat lagi. Lambat.

"Maar over jou." (Tapi tentang kau.)

Jarak tinggal beberapa langkah.

"En over hem." (Dan tentang dia.)

Van der Berg mengambil pena dari meja. Memainkannya di antara jari.

"Ze noemen jou 'de man op het paard'." (Mereka panggil kau 'laki-laki di atas kuda'.)

Pena itu berputar di jarinya.

"De man die schold." (Laki-laki yang memaki.)

Putaran kedua.

"De man die dreigde hun huizen plat te branden." (Laki-laki yang mengancam mau bakar rumah mereka.)

Pena berhenti. Van der Berg menatapnya.

"En hem?" (Dan dia?)

Ia melempar pena ke meja. Pena itu menggelinding, jatuh ke lantai. Tidak ada yang mengambilnya.

"Ze noemen hem 'de redder'." (Mereka panggil dia 'penyelamat'.)

Van der Berg mendekat. Sekali lagi. Kini wajahnya hanya sejengkal.

"De man die kwam toen niemand anders kwam." (Laki-laki yang datang saat tidak ada orang lain yang datang.)

Ia menjeda. Matanya mencari sesuatu di wajah Sulaiman. Mencari... apa? Penyesalan? Rasa malu? Apa pun.

"Zie je het nu?" (Kau lihat sekarang?)

Sulaiman tidak menjawab. Wajahnya pucat.

"Jij hebt hem op een voetstuk gezet." (Kau menaikkannya ke atas mimbar.)

Van der Berg mundur. Menghela napas panjang.

"Jij." (Kau.)

Ia menunjuk dada Sulaiman.

"Met je paard. Met je geschreeuw. Met je dreigementen." (Dengan kudamu. Dengan teriakmu. Dengan ancamanmu.)

Ia menunjuk pintu.

"Hij hoefde alleen maar te komen." (Dia hanya perlu datang.)

Suaranya naik. Untuk pertama kalinya, nadanya meninggi.

"Alleen maar verdomde komen!" (Hanya perlu datang, sialan!)

Ia memukul meja. BUK!

Sulaiman tersentak.

Van der Berg menekan kedua telapak tangannya ke meja. Membungkuk. Kepalanya hampir sejajar dengan Sulaiman yang berdiri.

"Twaalf boeren." (Dua belas petani.)

Napasnya memburu.

"Twaalf boeren die bijna jouw mannen vermoordden." (Dua belas petani yang hampir membunuh anak buahmu.)

Matanya merah. Urat di lehernya menegang.

"En nu?" (Dan sekarang?)

Ia berdiri tegak. Menarik napas. Mencoba mengendalikan diri.

"Nu zijn ze helden." (Sekarang mereka pahlawan.)

Ia berjalan ke kursinya. Duduk. Diam beberapa saat. Tangannya sedikit gemetar—hanya sedikit, tapi Sulaiman melihatnya.

Van der Berg membuka laci. Mengambil sesuatu. Sebotol minuman. Ia menuang ke gelas kecil. Minum sekali teguk. Letakkan gelas. Tarik napas. Lalu tatap Sulaiman lagi. Kini matanya sudah kembali dingin. Terkendali. Tapi di balik itu, ada sesuatu yang baru—kekecewaan yang dalam.

"Ga zitten." (Duduk.)

Sulaiman terkejut. "Apa?"

"Ga zitten, Sulaiman. Je staat daar als een standbeeld." (Duduk, Sulaiman. Kau berdiri di sana seperti patung.)

Sulaiman duduk di kursi yang selama ini kosong. Untuk pertama kalinya, ia dipersilakan duduk.

Van der Berg menuang gelas kedua. Mendorongnya ke arah Sulaiman.

"Drink." (Minum.)

Sulaiman memegang gelas itu. Tangannya gemetar. Ia minum. Alkohol membakar tenggorokannya. Ia batuk.

Van der Berg tertawa. Tawa pendek, tanpa humor.

"Kijk naar jezelf." (Lihat dirimu.)

Ia menunjuk Sulaiman dengan dagu.

"Je trilt. Je bent bleek. Je durft me niet aan te kijken." (Kau gemetar. Kau pucat. Kau tidak berani menatapku.)

Ia menuang lagi untuk dirinya sendiri.

"En weet je wat het ergste is?" (Dan kau tahu apa yang terburuk?)

Sulaiman menatapnya. Menunggu.

"Ik heb je nodig." (Aku membutuhkanmu.)

Van der Berg tertawa lagi. Pahit.

"Godverdomme. Ik heb jou nodig." (Sialan. Aku membutuhkanmu.)

Ia minum sampai habis. Gelas diletakkan dengan bunyi keras.

"Dus luister goed." (Jadi dengar baik-baik.)

---

Van der Berg membuka laci meja. Mengeluarkan peta—bukan peta wilayah, tapi peta ekonomi. Di atasnya tertera angka-angka: harga lada, harga cengkih, harga beras, harga garam. Juga jalur-jalur perdagangan, kapasitas gudang, jadwal kapal dari Batavia.

Ia membentangkannya di atas meja. Tangannya merapikan lipatan dengan gerakan lambat, terkendali. Seolah kemarahan tadi tidak pernah terjadi.

"We gaan het anders doen." (Kita akan ubah cara.)

Sulaiman mencondongkan tubuh. Matanya mengikuti gerak jari Van der Berg.

"Geen vechtpartijen meer. Geen bedreigingen. Geen klappen." (Tidak ada perkelahian lagi. Tidak ada ancaman. Tidak ada pukulan.)

Van der Berg menekankan telunjuknya pada angka pertama.

"Eerste." (Pertama.)

Ia menatap Sulaiman.

"Verlaag de inkoopprijs van peper. Eenzijdig. Overal." (Turunkan harga beli lada. Sepihak. Di semua tempat.)

Sulaiman mengerutkan dahi. "Hoeveel?" (Berapa?)

"Met de helft." (Setengahnya.)

Sulaiman terkesiap. "Setengah? Tapi mereka akan—"

"Laat mij uitspreken." (Biar aku selesai bicara.)

Van der Berg menunjuk garis pelabuhan di peta.

"Tweede." (Kedua.)

"Geen ander schip mag kopen." (Tidak ada kapal lain yang boleh membeli.)

Sulaiman membuka mulut. "Tapi kapal dagang dari—"

"Geen. Enkel. Schip." (Tidak. Satu. Kapal pun.)

Van der Berg menekankan setiap kata.

"Alle export moet via ons. Havens bewaken. Controleren." (Semua ekspor harus lewat kita. Pelabuhan dijaga. Periksa.)

Jarinya bergerak ke gambar gudang.

"Derde." (Ketiga.)

"Pakhuizen controleren. Elke week. Elke dag." (Gudang-gudang diperiksa. Setiap minggu. Setiap hari.)

Sulaiman mencatat dalam hati. Berkali-kali ia membuka mulut, tapi Van der Berg selalu mendahului.

"Zoek fouten." (Cari kesalahan.)

Van der Berg menghitung dengan jarinya.

"Administratie niet klopt." (Administrasi tidak cocok.)

Jari kedua.

"Vergunning verlopen." (Izin kedaluwarsa.)

Jari ketiga.

"Weegschaal fout." (Timbangan salah.)

Jari keempat.

"Houd hun goederen vast." (Tahan barang mereka.)

Ia mengepalkan tangan.

"Laat ze verlies lijden." (Buat mereka rugi.)

Sulaiman mengangguk pelan. "En als ze klagen?" (Dan kalau mereka mengadu?)

Van der Berg tersenyum. Senyum dingin.

"Naar wie?" (Kepada siapa?)

Sulaiman diam.

"Precies." (Tepat.)

Van der Berg menunjuk baris ketiga di peta.

"Vierde." (Keempat.)

"Rijst. Zout. Basisbehoeften." (Beras. Garam. Kebutuhan pokok.)

Ia mencoret-coret angka di pinggir kertas.

"Wij verkopen goedkoop. Heel goedkoop. Tijdelijk." (Kita jual murah. Sangat murah. Sementara.)

Sulaiman mengerutkan dahi. "Goedkoop? Dat klinkt niet als straf." (Murah? Itu tidak terdengar seperti hukuman.)

Van der Berg meletakkan pena. Menatap Sulaiman dengan pandangan yang dalam.

"Luister goed." (Dengar baik-baik.)

Ia mencondongkan tubuh ke depan.

"We maken ze afhankelijk." (Kita buat mereka tergantung.)

"Eerst wennen ze aan onze prijzen." (Pertama mereka terbiasa dengan harga kita.)

"Dan aan onze rijst." (Lalu dengan beras kita.)

"Dan aan ons." (Lalu dengan kita.)

Ia bersandar di kursi.

"Een afhankelijk volk vecht niet." (Bangsa yang tergantung tidak melawan.)

Matanya menyipit.

"Want ze zijn bang voor honger." (Karena mereka takut lapar.)

"Bang voor morgen." (Takut esok hari.)

Sulaiman diam. Mencerna.

"En als ze afhankelijk zijn..." (Dan setelah mereka tergantung...)

Van der Berg mengambil pena lagi. Menulis angka di kertas.

"...verhogen we de prijs." (...kita naikkan harga.)

"Langzaam." (Perlahan.)

"Beetje bij beetje." (Sedikit demi sedikit.)

"Tot ze beseffen..." (Sampai mereka sadar...)

Ia menatap Sulaiman.

"...al hun geld is van ons." (...semua uang mereka milik kita.)

Ia menjeda. Membiarkan kalimat itu meresap.

"Hun leven is van ons." (Hidup mereka milik kita.)

Van der Berg meletakkan pena. Menyandarkan punggung di kursi.

"Dat is hoe de VOC werkt, Sulaiman." (Begitu cara VOC bekerja, Sulaiman.)

Ia tersenyum. Senyum tipis yang lebih menyeramkan dari cemberut.

"Niet met geweld. Maar met cijfers." (Bukan dengan kekerasan. Tapi dengan angka.)

---

Hening.

Lampu minyak di sudut ruangan berderak. Api kecil itu menari-nari, seperti nyawa yang hampir padam.

Van der Berg melipat peta ekonomi itu. Memasukkannya kembali ke laci. Lalu berdiri. Berjalan ke jendela lagi.

"Nog iets." (Ada satu hal lagi.)

Sulaiman menegang. Bahunya naik setengah senti.

"Houd bepaalde handelaren in de gaten." (Awasi pedagang-pedagang tertentu.)

Tak ada nama disebut keras. Tapi Sulaiman tahu siapa yang dimaksud. Hanya satu pedagang yang selama ini menjadi duri. Hanya satu nama yang selalu muncul.

Datuk Maringgih.

Van der Berg tidak menoleh. Punggungnya masih menghadap.

"Hun beweging is geboren uit economie." (Gerakan mereka lahir dari ekonomi.)

Ia berbalik. Wajahnya datar.

"Dus economie zal het ook doden." (Maka ekonomi juga yang akan membunuhnya.)

Ia berjalan mendekat. Berhenti di depan Sulaiman.

"Jij gaat dit doen." (Kau akan melakukan ini.)

Bukan pertanyaan. Pernyataan.

"Jij gaat elke dag naar die gudang." (Kau akan pergi ke gudang itu setiap hari.)

"Jij gaat elke karung controleren." (Kau akan periksa setiap karung.)

"Jij gaat elke weegschaal nazien." (Kau akan cek setiap timbangan.)

Ia mencondongkan tubuh. Wajahnya hanya sejengkal dari Sulaiman.

"En jij gaat ervoor zorgen dat Maringgih geen cent verdient." (Dan kau akan pastikan Maringgih tidak mendapat satu sen pun.)

Sulaiman menelan ludah. "En als hij—" (Dan kalau dia—)

"Als hij protesteert?" (Kalau dia protes?)

Van der Berg tersenyum.

"Dan stuur je hem naar mij." (Maka kau kirim dia ke sini.)

Ia mundur. Tertawa kecil.

"Ik wil hem zien. Ik wil zijn gezicht zien als hij beseft dat we hem langzaam wurgen." (Aku ingin melihatnya. Aku ingin melihat wajahnya saat dia sadar kita mencekiknya perlahan.)

Ia kembali ke kursi. Duduk. Menghela napas.

"En nog iets." (Dan satu hal lagi.)

Sulaiman menunggu.

"Wees waakzaam voor Maringgih. Houd zijn bewegingen in de gaten." (Waspadai Maringgih. Awasi gerak-geriknya.)

Van der Berg mengambil pena. Memainkannya di antara jari.

"Als nodig, plaats dan spionnen in zijn pakhuis." (Jika perlu, masukkan mata-mata ke gudangnya.)

Matanya dingin.

"Ik wil weten wat hij denkt. Ik wil weten wat hij van plan is. Ik wil weten wat hij eet, wat hij drinkt, met wie hij praat." (Aku ingin tahu apa yang dia pikirkan. Aku ingin tahu apa rencananya. Aku ingin tahu apa yang dia makan, apa yang dia minum, dengan siapa dia bicara.)

Ia meletakkan pena. Menatap Sulaiman.

"Kan je dat doen?" (Bisa kau lakukan itu?)

Sulaiman mengangguk. "Ja." (Ya.)

"Goed." (Bagus.)

Van der Berg menghela napas. Untuk pertama kalinya, ia terlihat lelah.

"Je mag gaan." (Kau boleh pergi.)

Sulaiman berdiri. Berjalan ke pintu. Tangannya meraih gagang.

"En Sulaiman." (Dan Sulaiman.)

Suara Van der Berg menghentikannya.

"Deze keer..." (Kali ini...)

Ia menjeda. Matanya dingin.

"...geen fouten." (...tidak boleh salah.)

---

Pintu terbuka. Sulaiman keluar.

Dua petugas di luar masih berdiri di tempat yang sama, seperti patung. Mereka tidak bicara. Hanya mengangguk, lalu pergi.

Sulaiman berjalan. Sepatu botnya menggemakan langkah di lantai kayu. Satu. Dua. Tiga. Setiap langkah seperti menghitung mundur sesuatu yang tidak ia ketahui.

Di dalam ruangan, Van der Berg kembali ke kursinya. Ia membuka laci lagi. Mengeluarkan satu lembar kertas—daftar nama. Nama pertama: Datuk Maringgih. Di sampingnya, sudah ada tanda silang kecil dari tinta merah.

Ia menatap nama itu lama. Lalu melipat kertas, menyimpannya kembali.

---

Di luar, senja hampir usai. Langit jingga perlahan berubah jadi kelabu. Lampu-lampu minyak mulai dinyalakan satu per satu.

Sulaiman berjalan keluar gedung. Udara malam menyambutnya. Dingin. Tapi tidak lebih dingin dari ruang rapat tadi.

Ia berdiri di tangga batu. Menarik napas dalam.

Di kepalanya, kata-kata Van der Berg berputar seperti kincir.

Twaalf boeren. Hampir menang.

Jij maakte ze bang. Hij maakte ze hoop.

Jij sloeg ze. Hij tilde ze op.

Jij noemde ze dieren. Hij noemde ze mensen.

Dan yang terakhir, yang paling berat:

Verlaag de prijs met de helft.

Geen ander schip mag kopen.

Pakhuizen controleren. Elke dag.

Zoek fouten. Tahan barang. Buat mereka rugi.

Rijst. Zout. Goedkoop. Maak ze afhankelijk.

Wees waakzaam voor Maringgih. Houd zijn bewegingen in de gaten.

Plaats spionnen in zijn pakhuis.

Perang berubah menjadi angka dan persediaan.

Dan ia, Datuk Sulaiman, adalah algojo yang ditugasi menjalankan semuanya.

Di kejauhan, di ujung jalan, lampu-lampu gudang Maringgih mulai menyala. Satu per satu. Terang. Tenang. Tidak tahu bahwa di ruang rapat tadi, sebuah perang baru telah dirancang untuk menghancurkannya. Tidak tahu bahwa mata-mata akan segera menyusup ke dalam. Tidak tahu bahwa orang yang dulu pernah ditolongnya kini sedang merencanakan kehancurannya.

Sulaiman memejamkan mata.

Kelopak matanya basah. Bukan air mata. Hanya embun malam. Atau mungkin sesuatu yang tidak ingin ia akui.

Ia membuka mata.

Lalu melangkah pulang, membawa beban yang tak pernah ia minta.

Di belakangnya, lampu-lampu kantor VOC mulai padam satu per satu. Tapi angka-angka itu tetap menyala di kepalanya. Terus berputar. Terus menghitung.

Perang baru telah dimulai.

Dan ia sudah berada di dalamnya, sebelum sempat memilih.

---

[Bersambung...]

1
Ayaelsa
/Smile//Silent//Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!