Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertolongan yang tak terduga
Pagi menjelang Kirana bangun ,ia tidak lekas bangun ,dia duduk disamping Gio yang sedang tertidur dengan lelapnya ,ia melirik ke ransel yang ada disampingnya ,ia mengambil tas tersebut dan membukanya berlahan ,hatinya sedih dan ia tidak bisa menutupinya ,ia menahan air mata. Ia tidak punya apa-apa selain pakaian lusuh, satu tas plastik berisi mainan Gio yang sudah compang-camping, dan uang receh yang bahkan tidak cukup untuk beli nasi bungkus dua hari
Kirana melihat kearah Gio yang sedang tertidur,mungkin ia masih kelelahan . Kirana duduk bersandar di dinding, memandangi wajah anaknya yang damai,dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa lega. Tapi lega itu hanya bertahan sampai pagi.
"Aku harus cari kerja." gumamnya
Tapi saat ini kirana sedang bingung Ia tidak punya ijazah formal. Pengalaman kerjanya cuma di dapur rumah mertua—membersihkan, memasak, melayani. Dan sekarang, Gio masih terlalu kecil untuk ditinggal sendirian. Kalau ia pergi bekerja, siapa yang menjaga anaknya?
Ia mencoba membayangkan skenario:
#Jualan gorengan di depan ruko? Tapi tidak ada modal.
#Buka warung nasi? Lagi-lagi, butuh uang.
#Kerja jadi pembantu rumah tangga?* Tidak mungkin—ia baru saja kabur dari hidup seperti itu.
Duduk di lantai dapur yang belum layak disebut dapur—cuma ada kompor gas kecil, panci bolong, dan talenan retak mungkin itu sisa penghuni sebelumnya ,melihat itu Kirana menunduk. Matanya berkaca-kaca, tapi ia menahan diri. Aku tidak boleh menangis di depan Gio. Aku harus kuat.
“Ma…” suara Gio memecah kesunyian. Anak itu berdiri di ambang pintu, rambutnya acak-acakan, matanya masih mengantuk. “Laper…”
Kirana langsung tersenyum, menghapus sisa air di pelupuk matanya. “Iya, Sayang. Mama masak nanti, ya. Tunggu sebentar.”
Ia membuka tas plastik, mengeluarkan segenggam beras yang tersisa—hasil sisiran dari gudang dapur mertua sebelum mereka pergi diam-diam. Airnya juga harus dihemat. Kompor nyala dengan suara mendesis pelan. Nasi itu tidak pulen, tapi cukup untuk mengganjal perut kecil Gio.
Sambil menyuapi anaknya, pikiran Kirana terus berputar.
("Aku bisa masak. Aku tahu rasanya enak atau tidak. Tapi… siapa yang mau percaya padaku?")
***
Hari kedua, Kirana mulai membersihkan ruko lebih serius. Ia menyapu, mengepel, bahkan mencuci tirai jendela yang sudah menguning. Ia ingin tempat ini terasa seperti rumah—bukan sekadar pelarian.
Tapi semakin bersih ruangan itu, semakin terasa kosongnya. Tidak ada meja makan. Tidak ada lemari. Bahkan kursi pun hanya satu, bekas dari pemilik sebelumnya yang entah kenapa ditinggalkan.
Gio bermain sendiri dengan mobil-mobilan kayu yang dibuatnya dari stik es krim. Kirana memperhatikan, hatinya remuk. ("Anakku layak punya lebih dari ini.")
Di tengah keputusasaan itu, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan ruko.
Kirana waspada. Jantungnya berdebar—jangan-jangan Aris sudah tahu tempat ini.
Tapi yang turun bukan Aris. Seorang perempuan paruh baya berkerudung turun dengan langkah tenang. Ia membawa tas anyaman besar dan senyum hangat.
“Assalamualaikum,” sapanya lembut.
“Waalaikumsalam,” jawab Kirana, ragu-ragu.
“Bagaimana ? kamu betah disini ?"
"Alhamdulillah,Bu ,terimakasih ibu sudah mau memberikan tempat tinggal ,silahkan masuk."
Kirana buru-buru membukakan pintu, mempersilakan tamu masuk sambil gelagapan. “Maaf, Bu… tempatnya masih berantakan…”
“Nggak apa-apa,” kata Bu Anita sambil melihat sekeliling. Matanya berhenti pada Gio yang sedang asyik bermain. “Ini Gio, ya?”
Kirana mengangguk, heran. “Iya, Bu..”
Bu Anita mendekati Gio, duduk di lantai, dan mulai mengobrol ringan dengannya. Gio, yang biasanya malu pada orang asing, malah tertawa kecil saat Bu Anita menirukan suara mobil balap.
Setelah beberapa menit, Bu Anita berdiri dan menoleh ke Kirana. “Kamu punya rencana ke depan?”
Pertanyaan itu menusuk. Kirana menelan ludah. “Saya… ingin kerja, Bu. Tapi saya tidak tahu harus mulai dari mana. Saya tidak punya modal. Dan saya tidak bisa tinggalkan Gio sendirian.”
Bu Anita diam sejenak, lalu membuka tas anyamannya. Ia mengeluarkan beberapa bungkus bumbu dapur, minyak goreng, telur, ayam potong, dan beras premium.
“Ini buat kamu. Mulai dari sini dulu.”
Kirana terdiam. Matanya langsung berkaca-kaca. “Bu… saya nggak bisa nerima ini. Saya nggak punya apa-apa buat balikin…”
“Siapa bilang kamu harus balikin?” Bu Anita tersenyum. “Aku lihat cara kamu masak waktu di rumah kemarin. Rasanya enak banget. Bahkan suamiku bilang, ‘Ini pertama kalinya aku makan ayam goreng mentega yang bumbunya beneran nempel di daging.’ Kamu punya bakat, Kirana.”
Kirana tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menunduk, menahan isak.
“Begini,” lanjut Bu Anita. “Aku punya usaha katering kecil-kecilan buat acara keluarga dan arisan. Tapi akhir-akhir ini, banyak pesanan dari kantor suami—terutama buat makan siang karyawan. Aku kewalahan. Mau bantu aku?”
Kirana mendongak, matanya berbinar. “Serius, Bu?”
“Serius. Kamu masak di sini, aku yang antar. Nanti kita bagi hasil. Dan soal Gio—dia boleh ikut. Di kantorku ada ruang kecil yang bisa jadi tempat dia main atau tidur siang. Aku juga punya asisten yang bisa temani dia kalau kamu sibuk.”
Kirana hampir tidak percaya. Ini terlalu baik untuk jadi kenyataan.
“Tapi… kenapa Bu Anita mau bantu saya? Kita kan nggak kenal…”
Bu Anita menatapnya dengan lembut. “Karena aku tahu rasanya jadi perempuan yang diremehkan. Aku dulu juga diminta berhenti kuliah karena ‘perempuan nggak perlu sekolah tinggi’. Tapi aku nekat. Dan sekarang, aku punya usaha sendiri. Aku nggak mau lihat orang lain menyerah hanya karena dunia bilang ‘kamu nggak bisa’.”
Kirana menangis. Bukan tangisan sedih, tapi lega. Seperti beban bertahun-tahun akhirnya diangkat.
“Terima kasih, Bu…” bisiknya.
“Jangan makasih dulu. Besok pagi, aku datang lagi. Bawa kotak makan. Kita mulai dengan sepuluh porsi. Untuk karyawan kantor suamiku. Siap?”
Kirana mengangguk mantap. “Siap, Bu.”
***
Malam itu, setelah Bu Anita pulang, Kirana duduk di lantai dapur lagi—tapi kali ini, suasana hatinya berbeda. Ia menata bahan-bahan yang diberikan Bu Anita dengan hati-hati, seolah-olah itu harta karun.
Ia memegang bawang merah, mengirisnya perlahan. Air mata mengalir—bukan karena pedas, tapi karena harapan.
“Mama akan bikin kamu bangga, Gio,” gumamnya sambil tersenyum.
Untuk pertama kalinya, ia merasa punya arah. Punya tujuan. Punya alasan untuk bangun pagi-pagi buta, meski tangannya masih lecet dan matanya masih bengkak karena kurang tidur.
Dan yang paling penting—ia tidak sendirian lagi.
Esok hari, Dapur Kirana lahir. Bukan dari modal besar atau restoran megah, tapi dari keberanian seorang ibu yang memilih melawan nasib dengan spatula di tangan dan doa di hati.