Mikael Wijaya, putra milyuner dari Surabaya Wijaya Agra mengalami kecelakaan di Dubai setelah memergoki calon istrinya berselingkuh. Kecelakaan fatal itu membuatnya hilang ingatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11 Pergi berdua
"Terima kasih, ya."
"Sama sama."
Kael tersenyum sambil menutup laptop. Sesungguhnya dia sudah hilang harap untuk bisa menemukan jati dirinya. Tapi kalo Artha Mahendra dan Airlangga mau colabs, harapannya jadi tumbuh lagi.
"Aku antar pulang?" tanya Kael.
"Ngga usah. Aku bawa mobil," geleng Adelia. Dia sudah bangun dari duduknya. Bermaksud buru buru pulang karena detak jantungnya sudah makin cepat.
Status Kael juga belum jelas, jadi Adelia takut menggantung harap.
"Jangan begitu. Aku merasa jadi laki laki ngga tau diri. Sudah dibantu tapi malah membiarkan kamu pulang sendiri," ucap Kael sambil berdiri dan mengambil kunci mobilnya.
"Tapi aku bawa mobil." Adelia tetap menolak.
"Aku yang nyetir mobilmu, boleh?" tawar Kael sambil mengulurkan tangannya. Sementara kunci mobilnya sudah dia simpan di saku jasnya.
Adelia jadi ragu ketika laki laki itu sudah berdiri di dekatnya.
"Ngga apa, kan. Kamu lapar, ngga? Aku lapar, kita makan dulu, ya," ucap Kael seolah ngga mau ditolak.
Adelia menahan nafas sesaat karena jarak mereka yang cukup dekat.
"Gimana?" tanya Kael lagi.
Adelia jadi teringat ucapan sepupunya tadi siang.
Awalnya lunch, setelah itu dinner.
"Emm.... Baiklah." Adelia memundurkan langkahnya karena Kael melangkah mendekat. Detak jantungnya makin cepat aja.
Kael tersenyum miring ketika melihat Adelia mundur sambil menyetujui keinginannya.
Saat ini dalam hati dia sangat berharap, kalo memang jati dirinya nanti terungkap, dia dalam status single.
*
*
*
Kael membawa Adelia menikmati makan malam di root top hotel bintang lima.
"Ngga apa, kan, makan di sini?"
Adelia tersenyum.
"Sebenarnya aku lebih suka sesekali diajak makan di pinggir jalan. Warung tenda juga banyak yang makanannya enak enak," senyum Adelia sambil menikmati nasi supnya.
"Oooh.... Kapan kapan. Aku juga suka makan di tempat seperti itu. Sorry, kirain kamu lebih suka makan di tempat tempat seperti ini," ucap Kael agak terkejut. Dia takut dikira ngga sopan kalo mengajak Adelia ke tempat seperti itu. Ternyata Adelia ngga ada masalah.
"Ada tempat makan murah tapi enak yang kamu suka?" tanya Adelia sambil menatap laki laki yang kini sedang tersenyum padanya.
"Ada. Aku tau tempat sate favorit."
"Sate kambing, sate taichan,sate padang, sate madura, sate maranggi atau sate lilit?"
Kael tertawa pelan. Dia merasa sejak mengenal Adelia, otot otot di rahangnya jadi lebih lentur.
'Pengetahuan kamu tentang sate lumayan juga."
Adelia jadi tertawa juga mendengarnya.
"Itu masih kurang. Ada sate kerang, sate telur puyuh, sate usus. Dikomplitin dengan nasi kucing."
Kael tambah tergelak.
"Aku tau angkringan yang nasi kucingnya top, begitu juga dengan sate usus, telur puyuh dan rempela atinya," sela Kael dalam deraian tawanya.
Adelia makin berderai tawanya. Air matanya hampir keluar karena menahan geli.
Serius dia mau ajak aku ke angkringan?
Mereka bahkan masih tertawa ketika meninggalkan root top.
Ketika pintu lift terbuka, beberapa orang perempuan muda masuk ke dalam lift tanpa memperhatikan orang orang yang sedang keluar.
"Eh, maaf," kaget seorang perempuan muda di dekatnya.
Tubuh Adelia terdorong dan Kael dengam sigap menarik tubuhnya yang hampir jatuh dalam pelukannya.
Adelia merasa dejavu. Teringat kejadian di bar. Jantungnya juga berdebar semakin cepat. Tangan Kael kokoh memeluknya.
"Eh, maaf, ya. Teman saya ngga sengaja."
"Kalian hati hati, dong." temannya yang lain memarahi temannya yang ceroboh.
"Loh, kakak yang kemarin, ya. Maaf, kak, ngga sengaja lagi teman saya."
Benar benar dejavu. Ternyata mereka adalah perempuan perempuan yang dulu menabraknya waktu di bar hingga bajunya basah oleh minuman salah satu dari diantaranya.
"Laen kali hati hati." Kael yamg menjawab sambil membawa Adelia pergi.
"Eh, iya, bang. Maaf."
Tapi salah satu perempuan muda di sana yang awalnya tidak terlalu memperhatikan karena bukan dia yang mencari masalah, menjadi pucat pasi mendengar suara bariton yang pernah dia.dengar dulu.
Dia menoleh dan sempat bertatapan dengan laki laki yang mengeluarkan suara dengan nada kesal.
Walau hanya sebentar, tapi dia sangat yakin dengan penglihatannya hingga kedua kakinya langsung lemas.
"Ka Kael....?" gumamnya dengan suara bergetar hebat.
Saking shock dan takutnya tubuh gadis itu bahkan terkulai setelah Kael dan gadis yang berada dalam pelukannya menjauh.
"Nafa?"
"Nafa?!"
"Nafa!"
Perempuan perempuan muda itu jadi panik melihat temannya yang mendadak pingsan.
*
*
*
Kael masih merangkul Adelia hingga mereka tiba di dekat mobil gadis itu.
"Ngga nyangka ketemu mereka lagi," ucap Adelia dengan perasaan yang masih bergemuruh di dalam dadanya. Rangkulan laki laki itu sudah dilepaskan. Baru saja. Untung kakinya masih diberi kekuatan untuk bisa berdiri tegak
"Kamu harus lebih hati hati" Sebenarnya bukan itu yang ingin Kael ucapkan.
Untung kamu bersama aku, batinnya. Tapi dia belum berani mengeluarkan kata kata itu secara gamblang. Dia belum tau bagaimana perasaan Adelia padanya.
"Iya." Jantung Adelia masih berlarian kencang.
"Kapan kapan aku akan bawa kamu ke tempat angkringan favoritku," janji Kael sambil membukakan pintu mobil untuk Adelia.
Adelia hanya mengangguk sebelum masuk ke dalam mobil. Dia sulit menghirup oksigen saat tidak berjarak dengan Kael.
*
*
*
Nafa membuka matanya perlahan. Dia mengerjap beberapa kali karena cahaya lampu kamar yang menyilaukannya.
"Syukurlah."
"Kamu ngga apa apa, Nafa?"
"Kamu bikin kita khawatir."
Teman temannya berseru lega.
Nafa masih memikirkan apa yqng sudah terjadi padanya.
"Aku kenapa?" Sekarang Nafa yakin dia sudah berada di dalam kamarnya.
Bukannya dia tadi berada di dalam lift? batinnya berusaha mengingat.
"Sekarang kamu di kamar."
"Tadi kamu pingsan."
Pigsan?
"Kenapa? Kamu sakit?"
"Ya, sudah, istirahat saja dulu."
Suara teman temannya saling sahut menyahut mengomentari keadaannya.
Dia pingsan. Nafa mengulang ulang dua kata itu.
"Tadi kamu nyebutin nama Kael? Maksudnya Kael yang tidak jadi menikahi kamu?"
DEG DEG DEG
Jantung Nafa seperti sedang dicengkeram dengan sangat kuat.
Kael....
Tadi itu Kael, kan?
Nafa yakin laki laki itu Kael. Wajah tampannya tidak berubah sama sekali.
Saking takutnya dia sampai sulit bernafas.
Kael di Jakarta?
Kael di Jakarta?
"Nafa....! Kamu kenapa?"
"Panggil dokter!"
Teman temannya tambah panik melihat kondisi Nafa yang tersengal sengal.
Kael!
Dia pasti masih marah...!
Dia akan meludahi aku lagi....!
Tidak. Aku tidak mau!
Bukan aku yang salah!
Arsa yang salah!
dijamin rencana nafa nggak bakal terlaksana,, apalagi kael di rawat di rs keluarga adelia
aku malahan nggak sabar menanti aksi mak tirinya kael,, biar cpt masuk penjara