Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.
Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.
Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.
Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 – Titik Pertemuan
Kabut di lembah semakin tebal, menelan pepohonan dan bebatuan seperti makhluk hidup yang bernapas pelan. Pandangan terbatas, suara teredam, dan tekanan Qi terasa tidak stabil. Ini bukan lagi ujian biasa— ini medan penyisihan.
Ren Tao berdiri di atas sebuah batu besar yang retak di sisinya. Napasnya berat, darah masih merembes dari luka lama, tapi sorot matanya tetap jernih dan tenang. Ia tahu satu hal dengan pasti.
Wei Kang tidak akan membiarkannya hidup bebas.
Dan benar saja.
Dari kejauhan, terdengar suara langkah berat menghantam tanah. Ritmenya stabil, penuh keyakinan. Lembah seolah bergetar ringan setiap kali kaki itu menapak. Kabut terbelah perlahan ketika sosok tinggi muncul dari balik bayangan.
Pengawal Wei Kang.
Pedang panjang terhunus, bilahnya memantulkan cahaya dingin. Tatapannya tajam, penuh perhitungan, jelas bukan murid luar biasa. Aura qi-nya stabil dan padat hasil latihan inti sekte.
“Ren Tao,” ucapnya dingin. “Akhirnya kau muncul.”
Ren Tao menurunkan bahunya sedikit, berpura-pura lelah. Bibirnya terangkat tipis. “Aku nggak berniat cari masalah,” katanya pelan. “Tapi sepertinya masalah itu lebih rajin dariku.”
Pengawal itu tidak tertawa.
Ia menyerang.
Dua tebasan cepat menghantam udara, membelah kabut dengan suara tajam. Ren Tao mundur tiga langkah, tubuhnya menunduk rendah, membiarkan bilah pedang melintas tipis di atas kepalanya. Angin tebasan menyayat kulit pipinya.
Sedikit saja terlambat, kepalanya sudah terpisah.
Sekarang, pikir Ren Tao. Atau tidak sama sekali.
Ia menginjak tanah dengan sudut tertentu, memperhatikan retakan halus yang ia hafal sebelumnya. Batu rapuh. Akar pohon tua. Sisa aliran qi yang tidak alami. Semua sudah ia perhitungkan sejak beberapa waktu lalu.
Ia sengaja terlihat ceroboh.
Pedang besi menghantam batang pohon. Ren Tao terpental ke samping, tubuhnya menghantam tanah, berguling dengan napas terputus. Tampak seperti kesalahan fatal.
Pengawal itu mendengus. “Gerakanmu kacau.”
Saat pengawal itu melangkah maju untuk serangan terakhir, Ren Tao bergerak menyamping dan menekan titik tertentu di tanah dengan telapak tangannya. Aliran qi kecil dilepaskan tidak kuat, tapi tepat.
Tanah di bawah kaki pengawal runtuh sedikit.
Cukup.
Keseimbangannya terganggu sepersekian detik.
Ren Tao masuk ke jarak dekat.
Pisau kecil meluncur dari balik lengannya. Satu tusukan ke arah samping tubuh. Pengawal berusaha menangkis, tapi tetap terlambat. Bilah itu menembus lengan bawahnya.
Bukan darah yang keluar.
Qi-nya bocor.
Pengawal terhuyung, matanya melebar. “Ini… tidak mungkin.”
Ren Tao berdiri tegak, wajahnya datar. “Ini bukan keberuntungan,” katanya pelan. “Ini perhitungan.”
Pengawal itu memaksa menyerang lagi, tapi sekarang ritmenya kacau. Ren Tao membaca setiap langkahnya. Setiap ayunan pedang diprediksi, setiap celah dimanfaatkan. Seperti permainan catur lambat, tapi mematikan.
Beberapa detik kemudian, tusukan terakhir Ren Tao menembus sisi tubuh pengawal. Qi hancur dari dalam. Tubuh itu jatuh berlutut, lalu ambruk tak bergerak.
Ren Tao mundur selangkah, napasnya tersengal. Ia mengambil token dari tangan pengawal dan menghilang ke dalam kabut.
Di kejauhan, Wei Kang berdiri di atas tebing, menatap cermin formasi. Matanya menyipit.
“Dia bukan sekadar beruntung,” gumamnya dingin. “Murid luar itu… berbahaya.”
Ren Tao duduk di balik batu besar, membalut lukanya seadanya. Ia menutup mata, merasakan qi mengalir stabil di tubuhnya.
Dunia ini keras.
Yang bertahan bukan yang paling kuat.
Tapi yang paling berpikir.
Ia membuka mata dan tersenyum tipis.
“Ujian belum selesai,” gumamnya. “Tapi sekarang… aku mulai menguasainya.”
Langit bergemuruh pelan.
Dan Ren Tao yang selama ini bersembunyi akhirnya benar-benar berdiri di garis depan.
semangat terus ya...