Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Gerbang Menuju Ruko Impian
BAB 9: Gerbang Menuju Ruko Impian
Pencarian ruko tidak semudah membalikkan telapak tangan atau semudah menggoreng basreng. Kota di tahun 2026 sedang berkembang pesat, dan harga sewa properti komersial melambung tinggi, jauh melampaui perhitungan awal Nayla. Selama seminggu penuh, Nayla harus membagi waktunya antara mengawasi produksi di dapur sempitnya dan berkeliling kota dengan motor tuanya.
Setiap ruko yang ia kunjungi selalu memiliki kendala. Yang satu terlalu mahal sewanya, yang lain lokasinya terpencil di balik gudang busuk, dan yang lain lagi tidak memiliki saluran pembuangan limbah yang memadai untuk industri makanan.
"Sudahlah, Nay," kata ibunya suatu sore, melihat Nayla pulang dengan wajah lesu. "Mungkin memang kita harus tetap di sini saja dulu. Sabar."
Nayla menggeleng. "Tidak, Bu. Kalau di sini terus, kita akan kena masalah lingkungan. Kita juga nggak bisa beli mesin kalau nggak ada tempat yang layak. Kita harus pindah."
Suatu pagi, saat Nayla sedang menunggu pesanan mesin pemotong bakso otomatisnya datang, ia mendapat telepon dari Pak Mamat, pemasok bakso ikannya.
"Nay, ada info bagus nih. Ruko bekas toko elektronik di seberang pasar induk itu kosong. Pemiliknya butuh uang cepat. Mungkin kamu bisa negosiasi," ujar Pak Mamat.
Nayla langsung tancap gas. Ruko itu memang strategis. Tidak di area perumahan padat, tapi dekat dengan pasar induk (memudahkan pasokan bahan baku) dan memiliki akses jalan besar untuk pengiriman ekspedisi.
Nayla bertemu dengan pemilik ruko, seorang bapak paruh baya yang terlihat tertekan. Nayla memberanikan diri. "Pak, saya tahu sewanya tinggi. Tapi saya ini pengusaha UMKM yang sedang merintis. Bisnis saya makanan, dan saya butuh tempat ini untuk produksi yang bersih dan resmi."
Mereka bernegosiasi alot selama dua jam. Nayla mengeluarkan semua jurus rayuannya, menceritakan perjuangan keluarganya, hingga menunjukkan sampel Basreng Hijau Royo yang baru diluncurkan. Entah karena terharu atau karena basrengnya yang enak, pemilik ruko itu luluh. Mereka sepakat dengan harga sewa yang sedikit di bawah pasaran, dengan sistem pembayaran per enam bulan.
Nayla bersorak dalam hati. Ia langsung membayar uang muka dengan uang yang ia kumpulkan dari keuntungan penjualan varian rasa baru yang ternyata meledak di pasaran.
Tiga hari kemudian, hari H kepindahan tiba. Suasana haru dan semangat campur aduk di gang sempit itu. Para tetangga yang selama ini membantu Nayla berkumpul. Mereka membantu mengangkut wajan besar, kompor mawar, dan tumpukan kardus ke ruko baru.
"Selamat ya, Nayla. Jangan lupakan kita kalau sudah sukses nanti," ujar Bu RT tulus.
"Tidak akan, Bu. Justru saya berharap Ibu-ibu bisa ikut kerja di ruko nanti, jadi karyawan tetap," balas Nayla, membuat semua ibu-ibu tersenyum lebar.
Proses pindahan selesai menjelang sore. Di dalam ruko yang kosong, Nayla, ibu, dan ayahnya berdiri. Ruangan itu terasa sangat luas. Nayla menunjuk ke sudut kanan. "Itu tempat produksi higienis kita." Ia menunjuk ke sudut kiri. "Itu ruang pengemasan dan packaging."
Ayahnya memeluk Nayla. "Kamu sudah besar, Nak. Ayah bangga."
Keesokan harinya, Nayla dan tim kecilnya mulai bekerja di tempat baru. Suasana kerja jauh lebih efisien. Mesin pemotong bakso otomatis pertamanya tiba, menggantikan pekerjaan manual mengiris bakso yang melelahkan. Mesin itu bekerja cepat, menghasilkan irisan tipis yang seragam sempurna.
Produksi meningkat drastis. Dari 200 bungkus per hari, mereka bisa mencapai 500 bungkus per hari dengan kualitas yang tetap terjaga. Varian Basreng Hijau Royo ternyata menjadi hits baru, melampaui popularitas rasa originalnya. Aromanya yang khas dan rempahnya yang terasa nyata membuat pelanggan di Bandung pun ketagihan.
Di tengah kesibukan produksi, Nayla mendapat kabar gembira lagi. Pengajuan izin merek dagang "Basreng Matahari" telah diterima sementara dan sedang dalam proses publikasi. Artinya, Basreng Surya atau peniru lainnya tidak bisa lagi seenaknya menggunakan logo atau nama yang mirip. Nayla sudah memiliki perisai hukumnya.
Nayla melihat ibunya yang tersenyum saat mengawasi mesin sealer bekerja. Ia melihat ayahnya yang sibuk mencatat pesanan di buku besar. Di tahun 2026, di tengah ketidakpastian ekonomi, Nayla telah menemukan takdirnya: menjadi cahaya yang menerangi keluarganya melalui bisnis basreng.
"Gerbang ruko ini bukan hanya terbuat dari rolling door besi. Ia terbuat dari keringat, negosiasi, dan keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman. Takdir bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja; takdir adalah ruangan kosong yang kita isi dengan keputusan berani. Dan malam ini, ruangan ini sudah penuh dengan harapan."
Nayla mematikan lampu ruko. Cahaya bulan masuk lewat kaca jendela, menyinari tumpukan kardus basreng siap kirim.