Seorang wanita bernama Eun Chae hampir memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang membosankan setelah mendapatkan diagnosa mengidap penyakit linglung atau amnesia di usianya yang baru 30 tahun. Terlebih parahnya, Eun Chae tidak ingat bagaimana dirinya telah kehilangan kedua orang tuanya setahun yang lalu, dalam sebuah kecelakaan saat berlibur ke luar negeri. Siapa sangka pria yang menolongnya ternyata seorang chef terkenal di media sosial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon originalbychani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 34 : Kenangan
(*Recap cerita sebelumnya*)
Belum lama setelah mendengar putusan finalis lomba, Chef Do mengajak Eun Chae berkunjung ke sebuah restoran seorang mentor terhormat demi perencanaan kerja sama dalam karirnya.
"Bagaimana rasanya?" tanya pria bernama Se Hun, yang tengah melayani Eun Chae secara eksklusif di La Parilla House.
"Enak sekali. Benarkah ini semua buatan Chef Do?" kata Eun Chae ceria, hingga matanya yang bulat berbinar seterang mentari.
"Yang saya dengar, Chef Do memang menciptakan menu santapan fine dining untuk hari ini. Beliau benar-benar seorang chef yang luar biasa, saya salah seorang penggemarnya," ungkap Se Hun, sembari tersenyum hormat.
"Oh, benarkah? Sebenarnya, saya penggemar beratnya. Senang bertemu dengan sesama penggemar Chef Do," bisik Eun Chae ramah.
"Saya tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Namun, masakan Chef Do benar-benar hangat dan menyegarkan, hingga tak jarang menyisakan kenangan bagi para konsumen," jelas Se Hun, lalu berbasa-basi singkat kepada Eun Chae, sebelum berlalu dan mengerjakan tugas lain.
Di sisi lain, Chef Ik Jun masih terkejut dengan hasil yang diperolehnya, serta berusaha menelaah kondisi yang sebenarnya.
"Yeoboseyo. Sae Mi-ya. Apa kau sedang sibuk?" panggil Chef Ik Jun kepada istrinya, melalui telepon.
"Tidak, aku baru saja meninggalkan kantor. Ada apa? Katakan saja," balas Sae Mi.
"Apa kau sudah mendengar berita hasil keputusan lomba?" selidik Chef Ik Jun.
"Ya, tentu saja. Selamat! Kau memang hebat," sanjung Sae Mi, diresponi dengan tawa puas Chef Ik Jun.
"Terima kasih. Hmm, Sae Mi-ya. Bisakah kau menceritakan padaku secara lengkap mengenai pria itu? Seperti, bagaimana kau mengenalnya atau apa saja yang kau ketahui tentangnya," pinta Chef Ik Jun, dengan sedikit berhati-hati.
"Pria itu? Siapa maksudmu?" ulang Sae Mi, lalu paham dalam dua detik berikutnya.
"Jika kau tidak keberatan," imbuh Chef Ik Jun.
(*Alur cerita mundur*)
Musim panas tahun 2009, di sebuah SMA swasta kota Seoul.
"Ah, aku hampir gila karena cuaca sepanas ini. Pergi ke mana Sae Mi? Apa dia sempat bilang pada kalian?" ucap Lee Seong Woon, yang saat itu berusia 16 tahun dan baru menduduki kelas 11.
"Tidak tahu, dia kan pacarmu. Mana mungkin kami berani mengurusinya?" sahut Han Gyul, salah satu teman nongkrong Seong Woon.
"Daripada membahas tentang wanitamu terus, coba lihat ini. Kudengar, dia pemecah rekor terbaru. Namanya Lee Ik Jun, kelas 10 dari SMA biasa," alih Se Dae, teman nongkrong yang satu lagi, seraya memperlihatkan video yang beredar di media sosial melalui ponselnya.
Bagi para remaja dari keluarga berada yang merasa selalu berada di puncak dan berkuasa seperti Seong Woon dan kawan-kawannya, pertarungan fisik yang disertai taruhan tinggi itu tidak bisa dilewatkan.
"Menurut kalian berdua, apa dia bisa menang melawanku?" uji Seong Woon kepada dua orang pengikut setianya.
Baik Han Gyul maupun Se Dae terdiam sejenak untuk berpikir dan memberikan jawaban terbaik mereka.
"Ei, pastinya itu tidak mungkin! Semua orang di sekolah ini-- Bukan, tidak hanya di sekolah ini. Setiap anak yang seusia kita, bahkan orang dewasa manapun tahu bahwa kau yang terhebat," kata Han Gyul.
"Benar. Mana mungkin jagoan baru sepertinya bisa dibandingkan denganmu!" imbuh Se Dae setuju.
"Tentu saja. Anak ini hanya rookie, dan aku sudah menduduki peringkat tertinggi dalam hal apa saja semenjak lahir," tegas Seong Woon percaya diri, hingga terkesan angkuh.
Kedua orang yang bersamanya hanya sering memposisikan diri di bawah Seong Woon dan berusaha menyenangkan hatinya melalui kata-kata atau tindakan yang terkadang berlebihan. Sedangkan, beberapa anak lain menggertakkan gigi karena tidak bisa menyamai level Seong Woon.
Siapapun ingin mendapatkan pengakuan dari Seong Woon. Bahkan, orang dewasa memuja dan mematuhinya bagaikan Raja. Siapa sangka, anak seperti Seong Woon akan tergila-gila pada seorang gadis yang nyaris tergolong kutu buku? Jika tidak berparas cantik dan anggun, Shin Sae Mi tidak akan pernah mendapatkan perhatian khususnya.
Semenjak Seong Woon menyatakan perasaan pada Sae Mi, kehidupan sederhana gadis itu berubah total.
"Hei, itu dia! Nampaknya, ada anak bodoh yang tidak tahu propertimu dan berusaha menggodanya," seru Se Dae, seraya menunjuk ke arah luar jendela koridor ruang-ruang kelas di lantai 2.
Menyaksikan kenekatan seorang anak lelaki yang sedang berbicara kepada Shin Sae Mi, raut wajah Seong Woon nampak dingin seolah dirinya siap menghisap darah manusia yang mengganggunya.
Dengan langkah yang cepat namun tidak terburu-buru, Seong Woon menuruni tangga dan langsung berdiri di hadapan dua orang yang belum menyadari kehadirannya.
Seketika menoleh, dengan lugunya anak lelaki asing itu berbicara kepada Seong Woon.
"Ada perlu apa? Atau kamu ingin berbicara dengan Sae Mi?" tanya anak itu.
Tanpa menjawab, Seong Woon melayangkan pandangan kepada Sae Mi yang nampak tenang seakan tidak terjadi apapun yang perlu dirisaukannya.
"Sae Mi-ya, ikut aku," suruhnya singkat, lalu berpaling.
Sae Mi pun menurut dan hendak beranjak, namun tiba-tiba dihentikan oleh sang lawan bicara.
"Tunggu dulu. Aku masih perlu berbicara dengan Sae Mi. Apa tindakanmu ini tidak kurang sopan?" sanggah anak lelaki itu, sambil memegang pergelangan tangan kiri Sae Mi.
Plaak!
Dalam hitungan detik dan nyaris kasat mata, sebuah tamparan keras pada wajah anak itu membuat tubuhnya condong ke tanah, lalu hilang keseimbangan dan terjatuh.
Belum cukup dibuat syok, Seong Woon meludahinya. Merasa jijik dengan noda pada pakaiannya, anak lelaki itu memelototi Seong Woon.
"Kurang ajar! Memangnya kau siapa? Kulihat penanda kelasmu, kau setahun di bawahku! Beraninya kau begini terhadap kakak kelasmu?" amuk anak lelaki yang terduduk di tanah itu.
Duaak!
Kali ini, sebuah tendangan membuat tubuh senior lelaki itu terpelanting jauh ke belakang.
"Siapa katamu? Rupanya, kau memang tidak layak kusebut kakak kelas karena tingkat kebodohanmu yang mengejutkan ini," hina Seong Woon, seraya menempelkan jari telunjuk tangan kanan pada pelipisnya.
"Kurang ajar! Mentang-mentang kau kuat, bukan berarti kau boleh seenaknya! Sebutkan namamu! Akan kuingat dan kubalas perbuatanmu hari ini!" gertak sang kakak kelas, belum memahami hirarki dalam realitas hidupnya saat itu.
"Lee Seong Woon. Cari tahu tentangku dan tantang aku lagi, jika kau berani. Tapi, harus ada taruhannya. Jika kau menang, aku akan membiarkanmu berbicara dengan pacarku sepuasmu," lontar Seong Woon, dengan suara lantang dan tanpa keraguan.
"Pa--Pacar katamu? Lalu, jika aku kalah apa yang akan kau lakukan terhadapku?" tanya anak itu, memberanikan diri walau sedikit bimbang.
"Jika aku menang, kau harus membotaki kepalamu dan menuliskan kata 'dungu' pada jidatmu. Atau kau harus datang ke sekolah telanjang selama 3 hari," ujar Seong Woon, sementara beberapa murid sekolah yang berlalu-lalang mulai mengamati situasi ramai itu.
Mendengar persyaratan sekejam iblis dari Seong Woon, lawan bicaranya membisu. Tak lama kemudian, anak malang itu menyadari sesuatu yang membuatnya gemetaran.
"Jangan-jangan, kau Lee Seong Woon jaebol yang terkenal itu? Tidak mungkin-- Katakan bukan, kumohon!" terka anak itu dengan memelas.
"Benar. Kau sedang berhadapan langsung denganku, Lee Seong Woon yang ditakuti semua orang. Apa kau mengakui kekalahanmu?" balas Seong Woon dingin dan remeh.
"A--Ampun! Aku tidak tahu, bahwa-- kau tertarik pada Shin Sae Mi.. Dia--," dalih anak itu, sembari bersungkur memohon kepada Seong Woon.
"Dia? Kau pikir kau sepadan dengannya?" desak Seong Woon garang.
"Bu--Bukan begitu! Tentu saja-- dia lebih cocok denganmu.. Benar, dia-- tidak mungkin sepadan denganku. Aku bukan siapa-siapa. Kumohon, ampuni aku!" isak anak lelaki yang nampak begitu rendah dan menjijikan bagi Seong Woon saat ini.
"Seong Woon-ah, lepaskan saja. Dia hanya bertanya padaku mengenai materi ujian nasional yang kudapatkan selama bimbingan belajar khusus. Kurasa, kau tahu bahwa aku takkan membohongimu. Kumohon," bujuk Sae Mi, karena tak tahan melihat perilaku keras Seong Woon.
Sayangnya, sebesar apapun kepedulian dan keistimewaan yang diberikan Seong Woon kepada Sae Mi, tidak ada hal dalam dunia Seong Woon yang berkedudukan melebihi dirinya sendiri.
Kejadian buruk, bahkan mengenaskan timbul secara beruntun selama Lee Seong Woon bersekolah, menjadi sarjana pada jenjang pendidikan tertinggi, hingga bertumbuh dewasa dan lingkup kekuasaannya semakin merajalela.
(*Alur cerita kembali ke situasi terkini*)
"Itulah yang kuingat tentang Lee Seong Woon. Tak kusangka, aku akan bertemu dengan klien yang mengaku sebagai asisten pribadinya," ulas Sae Mi apa adanya.
"Seperti yang kuduga, ternyata memang ada sejarah di antara kalian yang tidak kupertanyakan selama ini karena enggan padamu. Aku mempercayaimu, manul-ah," respon Chef Ik Jun.
"Aku juga. Sekalipun aku harus terlahir kembali, aku tetap akan memilihmu," ringkas Sae Mi.
"Wah, aku jadi terharu. Saranghae, manul-ah!" goda Chef Ik Jun mesra.
"Aku juga, chef tercintaku. Kuharap, kau berhasil dan membawa kabar terbaik saat kembali kepadaku dan anak kita," tawa Sae Mi, sembari mencurahkan dukungan penuhnya.
- Bersambung -