NovelToon NovelToon
Istri Bayaran: Pernikahan Palsu, Rahasia Kelam

Istri Bayaran: Pernikahan Palsu, Rahasia Kelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nopani Dwi Ari

"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.

Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.

Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.11 Malam Pertama

Malam semakin larut, tetapi tamu undangan justru makin banyak berdatangan. Aylin memijat pelan kakinya yang pegal setelah berjam-jam berdiri, senyumnya sudah hampir kaku karena tak henti menyambut tamu.

“Tahu gini, mending acaranya sederhana saja…” gerutunya pelan.

“Aylin!” Suara Olivia terdengar lantang. Ia berlari kecil sambil mengangkat sedikit gaunnya agar tidak terseret.

“Akhirnya gue bisa nyamperin lo!” serunya heboh. Olivia langsung memeluk Aylin erat-erat, membuat Aylin terkekeh kecil. Aksara hanya melirik sekilas, namun ekspresinya berubah lembut melihat sahabat istrinya datang.

Di belakang Olivia, Iqbal berdiri sambil memegang tas kekasihnya, wajahnya tenang seperti biasa.

“Selamat ya! Lo sekarang resmi jadi istri orang,” ucap Olivia, matanya berkaca-kaca. Aylin tersenyum dan mengangguk, mencoba menahanan emosi yang tiba-tiba muncul.

Olivia kemudian beralih pada Aksara. Wajahnya berubah serius. “Selamat, Mas. Semoga kamu bisa jaga Aylin… dan bisa mencintainya juga,” ucap Olivia lirih.

Aksara terdiam. Dahi pria itu berkerut. “Maksudnya?” tanyanya heran.

“Liv!” sela Aylin cepat, sebelum Olivia sempat menjawab lebih jauh. Suaranya terdengar memohon. Olivia menghela napas dan memaksakan senyum.

“Gak ada apa-apa. Yuk, Yang… kita turun dulu.” Ia menggenggam tangan Iqbal dan menariknya pergi.

Begitu Olivia menjauh, Aksara menatap Aylin sambil mencondongkan tubuh sedikit.

“Apa yang kamu sembunyikan?” tanya Aksara curiga.

Aylin menggeleng cepat. “Gak ada kok, Mas. Beneran.”

Aksara ingin bertanya lagi, tapi beberapa tamu baru datang, membuat Aylin harus segera kembali memberi salam. Ia tersenyum, melangkah maju, sementara Aksara menatap punggungnya dengan rasa penasaran yang makin menguat. Tak lama kemudian, Anisa datang membawa nampan penuh makanan untuk Aylin dan Aksara sebelum sesi foto keluarga dimulai.

“Sayang sekali adik-adiknya Aksara tidak datang,” keluh Kakek Harsa, sedikit kecewa.

“Tidak apa-apa, Kek. Mungkin mereka sibuk,” balas Aylin dengan senyum menenangkan.

Harsa berdiri di tengah, diapit oleh Aksara dan Aylin. Di sisi Aylin berdiri Kirana, dan di sisi Aksara berdiri Abian. Mereka mengambil beberapa foto keluarga, lalu dilanjutkan sesi foto Aylin dan Aksara bersama Rosalind. Terakhir, bersama Olivia, Iqbal, Anisa, dan keluarga kecilnya.

Beberapa jam berlalu. Pesta resepsi resmi selesai. Di kamar pengantin—presidential suite yang dipesan khusus oleh Kakek Harsa—Aylin akhirnya bisa bernapas lega. Aroma aromaterapi lavender memenuhi ruangan, menenangkan tubuhnya yang letih.

Tapi Aksara? Entah di mana suaminya itu berada. Setelah Aylin masuk kamar, Aksara tak terlihat lagi. Jangan berharap ada adegan romantis-romantisan yaa. Aylin merebahkan tubuhnya di kasur empuk. Tanpa sadar, ia tertidur dengan masih mengenakan gaun pengantin, karena tubuhnya sudah benar-benar kelelahan.

Sementara itu, Aksara berada di sebuah klub tak jauh dari hotel. Ia duduk bersama teman-temannya, termasuk Arvano.

“Sa, lo kok di sini? Ini kan malam pertama lo!” goda Ervin, membuat meja itu pecah oleh tawa. Aksara hanya mengangkat bahu. Sementara Arvano, sejak tadi wajahnya masam. Setiap kali nama Aylin disebut, ekspresinya seperti semakin panas.

“Cih… Aksara gak suka kali sama cewek,” ceplos Arvano tiba-tiba. Tawa di meja langsung terhenti.

Aksara menoleh cepat dan menyenggol Arvano dengan keras. “Apa sih lo?”

“Maksudnya? Aksara… gay gitu?” tanya Zulfi, setengah bercanda setengah kaget.

“Ngaco. Gue bukan gay,” sahut Aksara, nada suaranya datar namun tegas.

“Van, jangan asal ngomong,” ujar Erik tajam.

Arvano hanya memutar bola mata. “Terserah mau percaya apa nggak.”

Obrolan mendadak jadi canggung. Mood Aksara turun drastis. Ia mengambil jasnya dan berdiri. “Gue balik duluan.”

“Nah, kan. Lo tuh, Van, ngomong suka ngasal,” sindir Ervin. Dia paling tahu sifat Arvano—termasuk fakta bahwa Arvano pernah menyatakan cinta padanya.

Tawaran itu ia tolak, dan sejak saat itu Ervin menjaga jarak. Satu per satu mereka bubar, menyisakan Arvano seorang diri. Ia meneguk minumannya perlahan, senyum sinis terukir di bibirnya.

“Jangan pernah mimpi dapatin Aksara…” gumamnya pelan. “…karena dia cuma buat gue.”

Aksara sendiri sudah sampai di kamar. "Astaga, dasar ceroboh. Bagaimana kalau ada yang masuk?" gumamnya pelan sambil menempelkan kartu pada pintu. Begitu pintu terbuka, langkahnya langsung terhenti.

Aylin tertidur pulas di atas kasur, masih dengan gaun pengantinnya. Riasannya mulai luntur, tapi wajahnya tampak sangat lelah. Aksara mendekat perlahan. Dia berjongkok di depan Aylin dan dengan hati-hati memegang pergelangan kakinya untuk melepaskan heels yang tampak menyakitkan. Namun baru satu sentuhan—

"Kamu! Mau ngapain?!" seru Aylin panik. Dia langsung tersentak bangun, menjauh, dan menarik selimut hingga menutupi tubuhnya seluruhnya.

Aksara terkejut ikut berdiri. "A-aku cuma mau lepasin heels kamu. Aylin, kamu kenapa?"

Wajah Aylin pucat. Dia berusaha menenangkan napasnya yang memburu.

"S-sorry… aku kaget," ujarnya pendek. Tanpa menunggu respon, dia bangkit dan masuk ke kamar mandi, menutup pintu perlahan tapi gemetar.

Aksara menghela napas panjang, tatapannya masih tertuju pada pintu kamar mandi.

“Ada apa sebenarnya dengan dia? Sentuhan kecil saja buat dia setakut itu…”

Di kamar mandi, Aylin berdiri di depan cermin. Riasannya mulai ia hapus—terlalu cepat, terlalu kasar. Air mata ikut turun, bercampur dengan sisa foundation di pipinya. Dia benci malam seperti ini. Benci momen sunyi yang selalu memancing bayang-bayang masa lalu.

“Tenang, Aylin. Kamu harus tenang…” bisiknya pada diri sendiri. “Tarik napas… buang…”

Setelah mandi, dia merasa sedikit lebih baik… sampai ia sadar satu hal. “Ya ampun…” Aylin memegang dahinya.

“Aku lupa bawa baju ganti.” Tak ada pilihan lain. Dia hanya mengenakan handuk tipis yang membungkus tubuhnya, dan itu pun terlalu pendek untuk membuatnya merasa aman.

Dengan jantung berdegup kencang, Aylin membuka pintu pelan. Hanya kepalanya yang mengintip terlebih dahulu. Dia memastikan Aksara tidak sedang menatap ke arah kamar mandi. Ketika yakin aman, barulah Aylin melangkah keluar—cepat namun canggung—sementara kedua tangannya sibuk menahan handuk agar tidak melorot.

Dengan tergesa dia membuka koper, namun Aylin terkejut dengan isinya. Dia melirik Aksara yang sedang di balkon kamar.

"Apa ini? Jaring." lirih Aylin. Terpaksa dia pun mengambil lingerie berwarna hitam menggoda. Entah siapa yang memasukkan lingerie tersebut ke sana.

Dengan cepat dia masuk kembali ke kamar mandi. Aksara yang mendengar pintu tertutup tersenyum tipis. Dia tahu Aylin tak memakai pakaian, makanya dia sengaja keluar ke balkon agar Aylin tak malu.

Aylin menatap lingerie yang dia pakai. "Ini sih gak usah pakai baju aja sekalian." desisnya. Bajunya sangat transparan dengan belahan dada rendah.

"Astaga, astaga. Mau pingsan rasanya," isak Aylin.

"Aylin sudah belum?" tanya Aksara sambil mengetuk pintu.

"Se-sebentar." Aylin mengambil jubah tipis untuk menutup tubuhnya. Aylin menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Jubah tipis itu sama sekali tidak membantu menutupi transparansi lingerie yang menempel pas di kulitnya.

"Percuma saja ditutup, sudahlah… Aksara kan nggak suka cewek," gumamnya, mencoba meyakinkan diri sendiri. Namun saat dia membuka pintu, dunia seperti terhenti bagi mereka berdua.

Aksara berdiri tepat di depan pintu. Aylin begitu cantik walau tanpa riasan. Rambutnya digerai sangat indah dan tatapan laki-laki itu langsung turun mengikuti garis jubah tipis yang nyaris tak menyembunyikan apa pun. Sekejap, rahang Aksara menegang.

Tatapannya berubah—gelap, tajam, dan jelas sekali bukan tatapan laki-laki yang tidak tertarik pada perempuan.

Aylin menelan ludah, dalam otaknya langsung berbunyi sinyal alarm berbahaya. Aksara yang katanya tidak suka cewek itu, kini terpaku seperti patung.

"Sudah…" suara Aksara serak, berat. "Aku… boleh lihat?"

"Hah? A-apa?" tanya Aylin gugup.

Aksara tak menjawab. Dia berhenti tepat di depannya, jarak mereka hanya beberapa sentimeter.

“Aylin,” suaranya turun menjadi lebih rendah.

"Kenapa suaranya begitu?" tanya Aylin dalam hati.

“Kalau aku benar nggak suka cewek…” Ia mendekat sedikit, hingga Aylin dapat merasakan napas hangatnya di pelipis.

“Kenapa sekarang aku kesulitan mengalihkan pandangan dari kamu?” bisiknya meniup telinga Aylin.

Membuat Aylin membeku. Dalam hati dia menjerit: Aksara bohong. Aksara bohong besar.

Bersambung ....

1
🌿
kalo nyesalnya duluan namanya pendaftaran Ay 🫠
jumirah slavina
Tuhan bikin orang² jahat itu kejang mendadak 🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻
jumirah slavina
Thorrrrrrr., suntik mati Vanuuuuuuu
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
🌿
nyebut kek Aksara, amit-amit gitu 🫠
jumirah slavina
deq²n Aku., gimana nasib Aay d'next bab
jumirah slavina
Thorrrrrrrrrrr.... kasih kalpanax nih penyakit kulit VANUan
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
jumirah slavina
Ay... Kamu bawa uang kan ?? tar cape² lari dari Aksa mo pulang sendiri., ekh balik lagi krn lupa bawa uang.,

😄😄
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 5 replies
jumirah slavina
Tuhan bikin Mata Vanu belekan soale dia menyebalkan


🤣
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Epi Widayanti
gak sadar diri 🙃
🌺🌺
stresss si Arvano
jumirah slavina
balas Ay., klo smp s' Aksa gak membela kamu., tinggalin Ay....
AriNovani: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
jumirah slavina
dasar Vanu.. kadas., kudis., kurap...
jumirah slavina: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
jumirah slavina
kau yang aneh., ambisi ko' merebut...
🌿
katakan prettttt 🫠
jumirah slavina
Kirana sm Emil., sama² menyebalkan Thor
jumirah slavina
dia bohongg
jumirah slavina
nih denger., yo mbok d'dukung klo Aay membuat Aksa lebih baik. jadi laki² normal, kan alamat punya cucu kalian.,
jumirah slavina: 😄🤣🤣🤣🤣🤣
total 5 replies
jumirah slavina
hati tersenyum... hhmmm...
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
AriNovani: wahh aku masih 1/4 sekarang gk tau belum periksa lagi 🤭
total 8 replies
Epi Widayanti
Gak ada yang nanya pula 🤣
Epi Widayanti
Gak tau malu ihh 🙃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!