Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.
Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:
kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 22
Ruangan itu berada di lantai dua sayap barat kediaman Reynard—sebuah ruang kerja yang jarang digunakan, namun selalu terawat rapi. Dindingnya dilapisi kayu gelap, dengan jendela besar menghadap taman belakang yang kini tampak lengang. Tirai tipis berwarna gading tergantung setengah terbuka, membiarkan cahaya redup masuk dan jatuh miring ke lantai marmer.
Yurie berdiri di tengah ruangan itu, jemarinya saling menggenggam tanpa sadar. Ia tidak benar-benar tahu mengapa kakinya membawanya ke sini. Mungkin karena ruangan ini sunyi. Atau mungkin karena di tempat seperti inilah pikirannya bisa bernapas tanpa merasa diawasi.
Di atas meja kerja terdapat beberapa map cokelat tua, tersusun rapi seolah sengaja dibiarkan menunggu seseorang. Yurie mendekat perlahan, langkahnya hampir tak bersuara. Ia membuka salah satu map, lalu terdiam.
Isinya bukan dokumen resmi. Bukan pula laporan perusahaan.
Melainkan potongan berita lama.
Tangannya bergetar saat membaca judul-judul yang sudah menguning dimakan waktu—tentang kecelakaan, kehilangan, dan kematian yang tak pernah benar-benar dijelaskan secara utuh.
“Kenapa semuanya terasa… saling berkaitan?” gumamnya pelan.
Nama ibunya tidak tertulis di sana, tapi firasat itu muncul begitu saja—seperti benang halus yang ditarik dari ujung dadanya.
Pintu ruangan terbuka tanpa suara keras.
Yurie menoleh refleks.
Kaiden berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja gelap dengan lengan digulung hingga siku. Tatapannya langsung jatuh pada map di tangan Yurie, lalu beralih ke wajahnya yang tampak pucat.
“Kamu ke sini sendirian?” tanyanya, suaranya rendah.
Yurie mengangguk pelan. “Aku cuma… ingin mencari tempat yang sepi.”
Kaiden melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ruangan itu terasa semakin hening, seolah dunia di luar berhenti bergerak.
“Kamu nemu sesuatu?” tanya Kaiden lagi, lebih pelan.
Yurie ragu sejenak, lalu menggeser map itu ke tengah meja agar Kaiden bisa melihatnya. “Aku nggak tahu ini apa. Tapi… rasanya aneh.”
Kaiden mendekat. Matanya menyapu potongan-potongan kertas itu dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada sesuatu yang berubah di wajahnya—bukan kaget, bukan marah. Lebih seperti kewaspadaan yang sudah lama terpendam.
“Ini arsip lama,” katanya akhirnya. “Bukan semua orang tahu ruangan ini menyimpannya.”
“Kenapa aku merasa… semua yang buruk selalu disembunyikan?” tanya Yurie lirih.
Kaiden terdiam cukup lama sebelum menjawab. “Karena beberapa orang percaya, kebenaran itu lebih berbahaya daripada kebohongan.”
Yurie mengangkat wajahnya. “Kamu termasuk yang percaya itu?”
Kaiden menatapnya. Untuk sesaat, dinginnya kembali terlihat. Namun hanya sebentar.
“Dulu, mungkin,” jawabnya jujur. “Sekarang… aku nggak yakin.”
Yurie menutup map itu perlahan. Dadanya terasa sesak, bukan karena takut—melainkan karena semakin jelas bahwa hidupnya tidak pernah sesederhana yang ia kira.
“Aku capek selalu merasa jadi orang terakhir yang tahu,” katanya. “Tentang ibuku. Tentang hidupku sendiri.”
Kaiden menghela napas pelan. “Yurie…”
Ia mendekat satu langkah. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Yurie bisa merasakan kehangatan tubuh Kaiden, kontras dengan nada bicaranya yang biasanya dingin.
“Ada hal-hal yang belum waktunya kamu tahu,” lanjut Kaiden. “Bukan karena kamu lemah. Tapi karena kamu terlalu berharga untuk diseret ke dalamnya sekarang.”
Yurie tersenyum kecil, pahit. “Kamu bilang itu, tapi kenyataannya aku sudah ada di dalamnya.”
Kaiden tak langsung membantah.
Ia mengangkat tangannya, ragu sejenak, lalu menyentuh punggung tangan Yurie dengan ujung jarinya—sangat ringan, seolah memberi pilihan untuk menolak. Yurie tidak menarik tangannya.
“Kalau suatu hari nanti semuanya terbuka,” kata Kaiden pelan, “aku ingin kamu tahu satu hal.”
Yurie menatapnya.
“Aku nggak akan biarin kamu menghadapinya sendirian.”
Kata-kata itu sederhana. Tapi entah kenapa, Yurie merasa sesuatu di dadanya runtuh pelan—bukan hancur, melainkan terbuka.
“Kaiden,” bisiknya.
Kaiden menarik tangannya kembali, namun senyumnya samar. “Sekarang, tutup map itu. Ada orang yang terlalu suka kalau masa lalu digali tanpa izin.”
“Kamu tahu siapa?” tanya Yurie.
Kaiden menatap jendela, ke arah taman yang mulai gelap. “Aku belum bisa menyebut nama.”
Yurie mengangguk. Untuk pertama kalinya, ia tidak memaksa jawaban.
Mereka keluar dari ruangan itu bersama-sama. Namun di balik pintu kayu yang tertutup, rahasia tetap tertinggal—menunggu saat yang tepat untuk bangkit.
Dan di tempat lain, jauh dari kediaman Reynard, seseorang sedang membaca laporan yang sama… dengan senyum yang tidak pernah mencapai matanya.