Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 11.
Rangga resmi jadi orang paling merepotkan dalam hidup Milea. Bukan karena menyusahkan, justru karena terlalu berusaha.
Pagi itu, Milea baru saja keluar kamar dengan wajah datar khas orang yang kurang tidur. Rambutnya masih terikat asal, kemeja belum disetrika sempurna. Ia hanya ingin satu hal, coklat hangat.
Namun yang ia temukan di meja makan bukan hanya coklat hangat, ada sarapan lengkap.
“Rangga,” panggil Milea datar.
“Iya?” sahut Rangga ceria dari dapur.
“Kamu ngapain?”
Rangga muncul sambil membawa piring. “Sarapan.”
“Ini bukan sarapan,” Milea menunjuk meja. “Ini jamuan syukuran.”
Rangga terkekeh. “Aku lagi bersemangat untuk menjalani hidup.”
Milea menatapnya tajam. “Bagaimana kepalamu?”
“Masih nempel.” Canda pria itu.
“Nggak lucu! Kamu udah minum obat?” Milea cemberut.
“Sudah.”
“Jam berapa?”
Rangga berpikir. “Tadi, sekitar… setelah subuh?”
Milea mendengus. “Ngaco.”
Namun Milea tetap duduk, dan Rangga duduk di seberangnya, menatap Milea. “Kamu mau makan apa?”
“Aku minum saja, cukup.”
“Telur orak-arikku enak.”
“Aku nggak nanya.”
Rangga tetap menyodorkan piring. “Cicipi.”
Milea menatap telur itu seolah sedang ditantang duel, akhirnya ia mengambil satu suapan.
Hening dua detik.
“Gimana?” tanya Rangga penuh harap.
“Lumayan, seenggaknya nggak gosong,” jawab Milea.
Rangga tertawa puas. “Berarti sukses.”
Milea menggeleng pelan. “Kamu semakin aneh.”
“Karena aku sedang jatuh cinta,” jawab Rangga santai.
Milea memutar bola matanya dengan wajah seperti bosan mendengarnya.
Tak lama Milea berdiri. “Aku kerja dulu.”
Rangga ikut berdiri. “Aku anter.”
“Nggak perlu.”
“Bagiku perlu.”
Dan entah kenapa, Milea tidak ingin menolak lagi. Di mobil, Rangga menyetir sambil bersenandung kecil. Lagu yang Milea kenal betul.
“Dulu kamu sering putar lagu ini,” gumam Milea tanpa sadar.
Rangga tersenyum. “Serius?”
“Iya.”
“Berarti dulu aku romantis dong.”
Milea mendengus.
Rangga tertawa lepas, dia sudah bertanya-tanya pada orang di sekitarnya bagaimana dia bersikap pada Milea selama pernikahan. Dia akhirnya tau, ia begitu dingin pada istrinya. Jadi wajar, jika Milea sekarang bersikap dingin padanya. Dan karena itu lah, sekarang dia tak ingin kembali pada dirinya yang dulu... versi sebelum dia hilang ingatan.
Saat mobil berhenti di depan kantor, Milea membuka sabuk pengaman.
“Aku pulang sore,” katanya.
“Aku jemput.”
“Nggak perlu."
“Tapi aku ngotot, udah kubilang... aku akan mencintaimu dengan Ugal-ugalan. Kau ingat?” jawab Rangga ringan.
Milea menutup pintu tanpa menjawab, namun sudut bibirnya terangkat sedikit. Masalahnya, Rangga tidak hanya ugal-ugalan di satu sisi, suaminya itu ugal-ugalan di semua lini.
Siang hari, Milea menerima kiriman makanan ke mejanya. Lengkap dengan catatan.
[Jangan makan pedas, katanya kamu punya maag.]
Milea menatap catatan itu lama.
“Dari suami kamu?” tanya rekan kerjanya bernama Lila sambil nyengir.
“Sayangnya iya,” jawab Milea.
“Sweet amat.”
“Malah ganggu,” bantah Milea.
Tapi anehnya, Milea memakannya dengan lahap sampai kotak makanannya kosong.
Melihat sikap Milea temannya terkekeh, karena tak sejalan dengan ucapannya. “Ngomong-ngomong, katanya suami kamu hilang ingatan?”
Milea mengangkat bahu. “Makanya dia jadi aneh, biasanya juga mana pernah dia perhatian begini.”
Belum sempat obrolan berlanjut, Kepala Divisi datang bersama seorang wanita. Mata Milea langsung membelalak saat mengenali wajah itu.
“Perkenalkan, ini Jenny. Mulai hari ini dia akan bekerja bersama kalian.”
“Halo, saya Jenny. Mohon kerja samanya,” ucap wanita itu ramah.
Perkenalan selesai, tetapi perasaan Milea justru tak nyaman. Ada kegelisahan yang sulit dijelaskan saat mengetahui mantan kekasih Rangga kini bekerja di perusahaan yang sama dengannya.
Tak lama kemudian, Milea menyerahkan dokumen pada Jenny.
“Ini dokumen yang kamu minta.”
Jenny masih menatap layar laptop, ia lalu mengangkat wajah dan menatap Milea dengan mata menyipit. “Apa kita pernah bertemu?”
Milea menelan ludah, tentu saja mereka pernah bertemu. Saat Jenny masih menjadi kekasih Rangga, di beberapa acara keluarga Jenny sering ikut.
“Entahlah.”
“Hm.” Jenny mengambil berkas itu. “Terima kasih.”
Milea mengangguk dan berbalik. Namun suara Jenny kembali membuat langkahnya terhenti.
“Bukannya kamu Milea? Anak dari temannya Tante Atalia, ibunya Rangga?”
Milea menarik napas, lalu berbalik lagi. “Iya.”
“Benar, kan! Hai, apa kabar? Rangga baik-baik saja? Sudah lama aku nggak dengar kabarnya sejak kami putus. Kami benar-benar nggak berhubungan lagi. Ngomong-ngomong, dia masih single?” Jenny terlihat antusias.
“Um, itu—”
“Mil! Bantu aku!” panggil Lila.
“Aku ke sana dulu,” Milea segera kabur.
Jenny hanya mengangkat bahu. Ia baru kembali dari luar kota setelah beberapa tahun bekerja di sana. Soal Rangga, dia merasa masih bisa mencari tahu nanti.
Sore hari, Milea berjalan menuju lobi untuk keluar dari gedung perusahaan. Jantungnya langsung berdegup saat melihat Rangga berdiri di sana, mengenakan pakaian kasual dengan rambut rapi yang membuatnya tampak lebih muda.
Namun detik berikutnya, dadanya mencelos. Jenny baru saja keluar dari lift.
Tidak! Kalau Jenny bertemu Rangga, dia bisa saja tanpa sengaja membicarakan kematian Radit. Aku harus mencegah mereka bertemu...
Dengan langkah cepat dan hampir berlari, Milea menghampiri Rangga lalu menarik tangan suaminya menjauh dari gedung.
Rangga menurut, meski wajahnya jelas kebingungan. “Ada apa?”
“Enggak apa-apa. Aku lapar, ayo pergi makan.” Jawab Milea cepat, dia tampak gugup.
Rangga justru tersenyum geli, Milea yang menggandeng lengannya dengan wajah tegang terlihat lucu di matanya.
Dari belakang, Jenny menatap punggung Rangga yang semakin menjauh.
“Kayak pernah lihat pria itu...” gumamnya.
*
*
*
Maaf ya, aku sibuk jadi baru UP🙏😭
Bersambung...
skrg dah terlambat untuk bersama Milea, tapi tuh Ethan terobsesi bgt sme Milea. semoga rencana Rangga berhasil.
apa gak seharusnya Milea dikasih tau ya, takutnya nanti bisa salah paham. apa orang tua Milea dikasih tau Rangga?
malah datang kayak maling, datang dengan cara tidak baik baik
Lebih baik kamu kasih tahu Rangga deh, biar Rangga yang urus semuanya... 😌