Emily tak menyangka bahwa dia masuk ke sebuah novel yang alurnya membuatnya harus menikah dengan seorang miliarder kaya.
Pernikahan absurd itu malah sangat menguntungkannya karna dia hanya perlu berdiam diri dan menerima gelar nyonya serta banyak harta lainnya.
Namun sayangnya, dalam cerita tersebut dia akan mati muda!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
《Chapter 11》
"Kakak ipar, aku benar-benar minta maaf, jangan marah ya.."
Kai berpindah tempat duduk di samping Emily, ia memasang wajah sedih lalu mengangkat tangan dan berkata, "Aku berjanji tidak akan mengulanginya di masa depan"
Emily tertawa dan menggangguk, ia tidak percaya bahwa orang di hadapannya itu adalah adik kandung dari Albert Juan, seorang pria yang sangat dingin dan cuek.
Emily melihat ponselnya yang jatuh lalu mengambilnya dan melihat bahwa permainan yang ia mainkan sudah berakhir.
"Kai, bagaimana kalau kita bermain," Emily menunjukkan aplikasi game yang ingin ia mainkan bersamanya.
"Boleh, tapi itu.." Kai terlihat ingin menyampaikan sesuatu namun ragu, sehingga membuat Emily berkata, "Bilang saja apa yang ingin kau katakan"
"Bisakah kakak tidak memberitahukan hal ini pada kak Albert? Aku takut ia akan memukuli aku sampai mati"
Melihat ekspresi Kai yang takut, Emily malah tertawa dan berkata, "Sepertinya kau sangat takut padanya, tenang saja, aku akan merahasiakan kejadian tadi"
"Wajar kalau aku takut padanya kak.. lihat saja wajahnya yang dingin dengan tatapannya yang menusuk itu, tadi malam saja aku begitu takut melihat perdebatannya dengan saudara kami yang lain"
Kali ini Emily menyetujui perkataan Kai, kadang Albert akan menunjukkan aura yang penuh dengan otoritas sehingga menakuti siapapun.
Namun Albert tidak pernah menunjukkan amarah ketika berada di dekatnya, meski faktanya mereka menikah karna sebuah kesepakatan, namun melihat bagaimana Albert begitu memperhatikannya membuat Emily agak merasa aneh.
"Kakak sudah berjanji akan merahasiakannya ya!," ucap Kai.
"Apa yang kalian rahasiakan?," bukan Emily yang menjawab pertanyaan Kai, ada suara dingin yang tiba-tiba terdengar dan membuat mereka menolehkan kepala ke arah pintu masuk.
Emily melihat beberapa butir salju yang jatuh di mantel Albert, ia tidak tau sejak kapan salju turun di Beijing, dari pagi ia hanya merasa udara memang cukup dingin namun pemanas ruangan selalu menyala karna memang ini sudah memasuki winter.
Albert membersihkan sedikit salju di mantel dan membukanya lalu menaruhnya di pinggir sofa, kini kedua kakak beradik itu duduk bersampingan.
Kai merasa canggung saat di tatap oleh kakaknya itu, ia takut jika ketauan baru membuat masalah.
Albert dengan cerdas mengamati ruangan dan melihat sebuah inhaeler yang masih ada di atas lemari dekat televisi, sepertinya Emily lupa memasukkannya dalam laci.
Albert menduga situasi yang mungkin baru terjadi dan menatap Emily memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja, kemudian ia mengalihkan pandangan pada Kai dengan wajah dingin.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada Emily?," tanya Albert dengan nada tajam, hal ini membuat Kai gugup dan menjawab, "Saya tidak melakukan apapun"
Albert menghela nafas dan menjelaskan, "Kau harus tau bahwa Emily menderita asma sehingga di masa depan hal ini tidak terjadi lagi"
Kai menundukkan kepala dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, dia tau hari ini ia sudah membuat kakak iparnya kambuh.
Di tengah ketegangan kedua saudara itu, Emily tersenyum pada Albert dan berkata, "Sudahlah, lihat.. saya baik-baik saja sekarang"
Ekspresi Albert sedikit tenang lalu berkata pada Emily, "Jika kau ingin menghukumnya, suruh dia membantu mu merawat kebun yang di belakang rumah, ia bisa berguna"
Semua orang di mansion sangat memperhatikan kebun yang di buat oleh Emily, sebenarnya ini juga karna rasa hormat mereka kepada orang yang mereka percayai menjadi Nyonya di sana.
Bibit yang di tanam sudah tumbuh dengan cepat, dan walau Albert sibuk bekerja, namun setiap ia kembali ke rumah, maka ia akan membuka jendela untuk melihat bagaimana perkembangan tanaman itu tumbuh.
Emily yang mendengar ide untuk menghukum Kai langsung tersenyum dengan mata yang bersinar, kemudian ia berkata, "Oke, kau bisa membantu merawat kebunku"
Emily tau bahwa kadang pelayan di mansion memiliki kesibukkannya sendiri sehingga kadang ia harus memberi pupuk dan menyirami tanaman itu sendiri, jadi kali ini ia bisa memanfaatkan tenaga gratis dari adik suaminya itu.
Tiba-tiba Emily merasa bahwa ia bisa menjadi bos yang baik pada karyawannya.
"Kakak ipar, apa aku bisa melihat kebunnya?," tanya Kai penasaran..
Emily berdiri, hendak menunjukkan arah kebun itu berada namun Albert memegang tangannya, menyuruhnya kembali duduk.
"Besok saja, ini sudah hampir malam dan salju baru saja turun, lagian kau tidak memakai pakaian yang tebal"
Kai melihat Emily dan menyetujui perkataan Albert, bagaimanapun ia juga tidak mau Kakak iparnya terkena angin dingin yang bisa menyebabkan penyakit asmanya kambuh.
"Kalau begitu aku akan pulang dan kembali besok, sampai jumpa kakak ipar!"
Kai berlari keluar dan pergi meninggalkan mereka berdua di sana.
Albert bergerak menuju dapur, hendak membuat kopi, Emily juga mengikutinya dari belakang.
"Apa kamu lelah?," tanya Emily, ia membayangkan bagaimana rutinitas kerja Albert yang begitu padat, apalagi saat pulang ia juga masih begadang mengerjakan beberapa dokumen di ruang kerja.
"Tidak, mengapa?," Albert meletakkan kopi di atas meja makan dan duduk di hadapan Emily.
"Aku dengar perusahaan mu akan melakukan peluncuran robot pintar yang bisa melakukan pekerjaan rumah seperti manusia," ia mendapat informasi itu dari televisi yang menyiarkan tentang perusahaan mereka.
Perusahaan yang Albert kelola sudah sangat di kenal masyarakat dan memiliki saham paling tinggi dari perusahaan lainnya sehingga banyak investor dan sponsor yang mendukung dalam pengelolaannya.
"Ya, hari ini aku baru menandatangani kontrak dengan investor baru," jawab Albert dengan jujur, Ia melihat reaksi Emily, ingin tau apakah ternyata gadis itu memiliki rencana lain.
"Kalau begitu, apa aku bisa minta satu robot?," Albert terkaget, gadis di hadapannya sedang memberikan ekspresi wajah yang imut, membuat dadanya berdetak lebih kencang.
Albert berusaha tenang dan berkata, "Baiklah, akan ku suruh mereka untuk mengirimnya ke sini"
Alasan Emily meminta robot sebenarnya hanya karna ia malas, jika mendapat robot maka ia berencana menjadikannya tukang pijat, tukang kebun, pokoknya menyuruh pekerjaan yang simple dan ia akan duduk bersantai di depan televisi.
"Aku akan pergi ke ruang kerja, jangan tidur terlalu larut malam," Albert meninggalkannya di sana.
Emily tak menyangka pria itu begitu mudah memberikan apa yang ia inginkan.
Ia menaiki tangga dan sampai di kamarnya lalu mengambil botol obat dan meminumnya, semenjak keluar dari rumah sakit, ia selalu mengikuti arahan dokter Grisel untuk meminum obat, dan memang ia menjadi jarang kambuh.
"Hmm, sekarang aku bisa minum obat yang mahal seperti ini, padahal dulu.."
Tak berhenti Emily membandingkan nasibnya dulu dengan yang sekarang, semua begitu cepat terjadi, bahkan ketika ia menutup mata malam itu, ia tidak menyangka akan menjadi Emily di tempat ini.
Mungkin ada dimensi waktu dan ruang yang membawanya kemari.