Lana Croft, seorang mahasiswi biasa, tiba-tiba terbangun sebagai tokoh antagonis kaya raya dalam novel zombie apokaliptik yang baru dibacanya. Tak hanya mewarisi kekayaan dan wajah "Campus Goddess" yang mencolok, ia juga mewarisi takdir kematian mengerikan: dilempar ke gerombolan zombie oleh pemeran utama pria.
Karena itu dia membuat rencana menjauhi tokoh dalam novel. Namun, takdir mempermainkannya. Saat kabut virus menyelimuti dunia, Lana justru terjebak satu atap dengan pemeran utama pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YukiLuffy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Di dalam mobil, Lana menyentuh pinggangnya yang masih pegal. Ia mengaktifkan kemampuan Penyembuhan Luminous miliknya. Cahaya putih hangat menyelimuti area yang sakit. Seketika, semua ketidaknyamanan menghilang.
"Berhasil, Kakak! Lihat, bahkan nyeri ototku hilang!" seru Lana, terkejut dan senang.
Kael, yang mengemudi, melirik Lana, matanya dipenuhi kilatan gelap.
"Benar?" Kael menyeringai. "Berarti aku tidak perlu khawatir tentang batasan lagi, ya? Kau bisa sembuh secepat aku bisa menyerang." Suara Kael yang rendah dipenuhi janji mengerikan.
Lana terkesiap, wajahnya memerah karena horor yang menyenangkan. "Tidak! Kakak, kau harus tetap menahan diri! Aku akan mati karena serangan jantung!"
Kael tertawa, mengabaikan protes Lana.
South Peak Bistro adalah oase di tengah kiamat, sebuah restoran yang didanai oleh Enklave. Jalannya ramai, dipenuhi orang-orang yang ingin merasakan kemewahan sesaat.
Di dalam bistro, Chloe Vance duduk di bilik semi-tertutup. Caleb, rekan setimnya yang setia (dan diam-diam mencintainya), dengan cermat memotong dagingnya.
Chloe gelisah. Sejak kembali, Kael hanya mengabaikannya, dan Lilith yang dihukum berat membuatnya sadar bahwa Lana memiliki perlindungan absolut. Namun, Lana sudah mati di alur cerita yang asli. Mengapa Kael begitu terikat pada seorang antagonis?
Tepat saat itu, Kael dan Lana masuk. Kael memilih tempat duduk di bilik belakang Chloe (mereka tidak terlihat satu sama lain, hanya dipisahkan oleh sekat).
Kael menyerahkan menu pada Lana. "Pesan apa pun yang kau mau. Aku sangat senang melihatmu bahagia."
Lana memesan beberapa hidangan mewah. Lana kemudian bertanya, "Apakah ini baru, Kakak? Begitu ramai."
"Ini dibuat untuk menjaga moral," jawab Kael. "Tempat ini terasa lebih bermakna karena aku bisa membawamu ke sini."
Chloe dan Caleb selesai makan. Saat Chloe berjalan melewati bilik Kael, ia melihat punggung Kael. Dorongan untuk mendekat terlalu besar.
"Komandan Kael?" sapa Chloe, suaranya lembut.
Kael berbalik, mata dinginnya menatap Chloe tanpa ekspresi. "Ada apa?"
"Aku hanya... terkejut melihatmu di sini," kata Chloe, mencoba terlihat polos. Ia melihat Kael memalingkan wajahnya dan berbicara kepada seseorang yang terhalang dari pandangannya.
"Tidak masalah, Sayang. Habiskan makananmu," ujar Kael, nadanya berubah total menjadi kelembutan yang memabukkan.
Chloe cemburu, namun juga lega. Siapa pun wanita itu, dia adalah pengganti sementara.
"Kakak, aku tidak bisa menghabiskannya," Lana menolak suapan Kael.
Mendengar suara itu, Chloe langsung membeku. Itu suara Lana.
"Lana! Kau... kau tidak mati?!" Chloe menjerit, keterkejutan dan horornya nyata. Suara nyaring itu menarik perhatian seluruh restoran.
Lana dan Kael berdiri. Lana, dengan wajahnya yang sempurna dan tenang, menatap Chloe yang pucat.
"Mengapa, Nona Vance? Apakah kau begitu berharap aku mati?" tanya Lana, suaranya tenang.
Kael, yang telah siap melepaskan kemarahannya pada Chloe, tiba-tiba merasakan kehadiran lain.
JBRAAK!
Kursi di bilik sebelah dihancurkan saat Jax dan timnya berdiri.
"Tante Gede! Di sini kau rupanya!" teriak Jax, bergegas ke arah Lana.
Kael dan Lana menoleh, terkejut melihat Jax. Jax menatap Lana (yang kini tanpa riasan) dengan mata terbelalak. Ia terpana oleh kecantikannya.
"Kau... Kau sangat cantik!" Jax tercengang. "Dan kau Tante Gede?! Aku tidak percaya!"
Jax menyeringai, pandangannya beralih dari Lana ke Kael. "Aku tahu siapa kau, Kael Thorne. Dan sekarang aku tahu siapa yang kau lindungi. Dia sangat menarik. Aku ingin mencurinya darimu."
Ekspresi Kael berubah dari ketidakpedulian menjadi kemarahan yang dingin dan terkendali.
"Jax, dari Enklave Utara," desis Kael, menyebut nama penuh rival politiknya. "Aku tahu kau di sini. Dan aku sarankan kau segera kembali ke teritori sampahmu."
Ketegangan politik, yang tersembunyi, kini meledak di tengah bistro. Lana, yang ketakutan, menyadari bahwa ia kini menjadi inti dari perseteruan pribadi dan politik yang besar.