Padmini, mahasiswi kedokteran – dipaksa menikah oleh sang Bibi, di hadapan raga tak bernyawa kedua orang tuanya, dengan dalih amanah terakhir sebelum ayah dan ibunya meninggal dunia.
Banyak kejanggalan yang hinggap dihati Padmini, tapi demi menghargai orang tuanya, ia setuju menikah dengan pria berprofesi sebagai Mantri di puskesmas. Dia pun terpaksa melepaskan cintanya pergi begitu saja.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Benarkah orang tua Padmini memberikan amanah demikian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 : Dukun sakti mandraguna
“Apa tak sebaiknya dibuat cepat saja proses kematiannya, Padmi?” Igun bertanya dengan nada lirih.
Padmi menoleh menatap lekat netra Igun. “Kau takut? Timbul rasa empati? Kasihan dengannya? Tak sanggup melihatnya menanggung kesakitan?”
Sejenak Igun terdiam memilih kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan beruntun itu. “Bukan, cuma sedikit khawatir kalau aksimu ini mengundang kecurigaan berakhir kau dikejar-kejar bak buronan.”
“Padmi, berita tentang teror kampung Hulu sudah menyebar ke desa lain. Setiap kali aku mengantarkan penumpang warga kampung tetangga, pasti ditanya betul tidaknya rumor Kuntilanak biru yang menakuti masyarakat. Tak menutup kemungkinan, kabar itu nantinya membuat orang pintar atau pemuka agama penasaran dan mencoba untuk menghentikan dendammu,” sambungnya tenang.
Bukannya takut, Padmini malah terkekeh. “Sesungguhnya aku memang telah mati, tepatnya jiwaku yang kehilangan jati diri. Hidup maupun meninggal sama saja, waktu tak dapat diputar ulang – orang tuaku tidak dapat bangkit dari kuburnya, dan dia bakalan cacat seumur hidup. Lantas apa yang harus ditakuti?”
“Apa kau tak ingin mendengar kabar tentang kang Adi, Padmi?” dia mengalihkan pembicaraan. Percuma berbicara pada Padmini si keras kepala dan memang apa yang terjadi padanya benar-benar tindakan keji, tak termaafkan teruntuk para pelaku.
“Tidak!” otaknya mencoba memanipulasi keinginan hati.
Helaan napas Padmini memberat. Dia memandang pada tubuh tidak sadarkan diri, Mirna.
“Biarlah dia memulai hidup baru. Aku berharap dirinya hilang ingatan, agar melupakan kejadian menyakitkan itu. Kang Adi terlalu baik, bersih, tak patut diperlakukan keji. Semenjak ibunya meninggal dan setahun kemudian paman Ipul menikah dengan Nisda, dimulailah deritanya. Belasan tahun hidup dalam tekanan ibu dan saudara tiri, dia tetap tabah. Tak melawan, terus mengalah. Sudah waktunya dirinya bahagia, tanpa aku!”
“Aku tak yakin dia bisa melewati waktu barang semenit pun tanpa memikirkanmu, Padmi. Warga kampung Hulu tahu itu – Rahardi sangat mencintaimu, kisah asmara kalian banyak dielu-elukan sampai menciptakan kebencian manusia iri. Kalau kau mau, aku bersedia pergi ke kota mencari tahu tentangnya.”
“Jangan ikut campur perihal hubungan pribadi yang kuanggap sudah mati, Igun! Fokus saja dengan tugasmu!” nadanya tidak senang.
Igun tidak tersinggung, dia mendengarkan seksama tentang keinginan Padmini. Kemudian dirinya pamit pulang, kali ini sudah hafal jalan tak perlu diantar.
***
Tiga hari kemudian – dukun yang ditunggu-tunggu baru saja pulang dari perjalanan jauh luar pulau.
Sosoknya disambut hangat oleh Rido, Sarman yang datang ke hunian sang dukun. Mereka utusan dari warga kampung Hulu. Berniat menjemput pria berkisaran umur empat puluhan agar mau pindah ke wilayah mereka.
Pria berwajah sangar, gigi depan bagian atas dipasang gigi perak, melinting ujung kumis yang tumbuh rimbun. Mata tegas dengan sorot tajam itu menelisik dua pemuda, dia memicingkan netra menatap pemuda berambut gondrong. “Jiwamu sudah dikunci, dirimu telah ditandai dijadikan target tumbal selanjutnya.”
Seketika bulu kuduk Rido meremang, rona hangat hinggap dipipi menjalar keseluruh wajah hingga daun telinga. “Saya ki Demang?” Tunjuknya pada diri sendiri.
“Benar. Dia akan memburumu sampai dapat, menyiksa hingga kau sekarat tapi tidak diizinkan mati cepat! Dirinya ingin mempersembahkan rasa sakit teramat sangat agar dirimu pun merasakan hal sama sepertinya. Putus asa, menganggap mengakhiri hidup adalah jalan terbaik daripada menanggung derita,” setiap kalimat yang diucapkan penuh penekanan.
Rido dan Sarman sangat terkejut, dalam hati bertanya-tanya bagaimana bisa seseorang baru saja pulang dari luar daerah mengetahui kejadian yang sudah ditutup rapat agar tidak bocor ke kampung lain.
Ki Demang tertawa. “Jangan panggil saya dukun kalau membaca pikiran dan melihat masa silam saja tak mampu. Kejadian itu tersimpan dalam memori otak kalian, dan dari sanalah saya tahu.”
“Apa yang Padmini lakukan sebenarnya tidak salah. Dia membalas dendam kepada para tersangka pembunuh orang tuanya dan juga sang kekasih. Namun menghukum satu desa sampai membuat kampung itu layaknya pemakaman juga bukanlah tindakan yang patut dibenarkan. Terlebih kalian sanggup membayar mahal, maka saya bersedia menghentikan kejahatannya, bahkan membunuh raga yang nyaris kehilangan jiwa!”
Senyum terbit di bibir Sarman dan juga Rido. Tak sia-sia menunggu lama kalau dukun yang mereka nanti bukan karbitan tapi sakti mandraguna.
Kesepakatan sudah mencapai kata mufakat. Rido dan juga Sarman pamit pulang, dan Ki Demang esok hari baru akan tiba di kampung Hulu.
***
“Kalian tak lagi berbohong ‘kan? Betulan dia sehebat itu?” Bambang bertanya, rautnya berbinar seolah melihat masa depan yang cerah di depan mata.
Kondisi suaminya Sundari mulai membaik, tiga hari lagi dia sudah masuk kerja di puskesmas.
“Benar lah! Kalau kalian tak percaya, besok lihat sendiri seberapa saktinya ki Demang. Dia dapat membaca pikiran, dari sanalah dirinya tahu tentang kejahatan kita. Berjanji mau membantu dan membunuh Padmini!” ucap Rido menggebu-gebu.
“Dasar Sundal murahan!” Sundari mengepalkan tangan. “Sedari awal aku sudah menaruh curiga kalau ini semua ulah Padmini, tapi yang buat bingung dan rasanya tak masuk akal – darimana dia mendapatkan kesaktian sampai bisa membunuh orang?”
“Halla tak usah dipikirkan! Tak lama lagi dia juga mati!” timpal Sumi. Dia masih menaruh dendam dikarenakan merugi besar dan menanggung malu luar biasa.
Hunian juragan Pandu sudah bersih dari kekacauan yang kapan hari terjadi. Tenda pesta, pelaminan, dan lainnya telah diambil sang pemilik setelah mendapatkan ganti rugi.
“Semoga saja dia dapat menemukan keberadaan Mirna,” harap Sarman putus asa. Hingga kini sang kekasih masih belum ditemukan.
“Kecil kemungkinan dia masih hidup, Man. Lihat saja si Kirman baru hilang sehari besoknya sudah ditemukan dalam keadaan mati,” ujar Wandi.
“Sudahi kesedihanmu! Perempuan masih banyak, tinggal pilih. Apalagi sekarang kau seorang mandor di perkebunan tebu ayah mertuaku, siapa yang tak mau?” hibur Bambang, sama sekali tidak memiliki hati nurani padahal dia seorang tenaga medis.
Sarman masih tetap merasa kehilangan, dia tulus menyayangi Mirna.
***
Jarum jam berputar sampai menyentuh angka 01:00 dini hari.
Pada hunian yang katanya aman karena dipasangi jimat. Sesuatu licin, berwarna mengkilap merambat di langit-langit kamar yang belum di plafon.
Suara desisan membangunkan hewan peliharaannya. Membuat si empunya berteriak kesakitan, memukul-mukul kepalanya sampai membenturkan di dinding tembok kamar, terjatuh dari dipan, dan melangkah tidak tentu arah.
Dug!
Dug!
“Sakit! Akhh! Keluarkan dia dari telingaku!” Badannya menabrak meja rias hingga benda-benda di atasnya berjatuhan.
“Buk! Ibuk! Kang Juned kumat lagi!” Rinda berteriak memanggil ibunya, dia takut mendekati sang suami yang sempoyongan sambil memukul-mukul kepalanya.
Nisda terbangun, keluar dari dalam kamar dan masuk keruangan istirahat putri dan suaminya. Dirinya tak terkejut mendapati sang menantu seperti seseorang penderita penyakit ayan.
“Ambilkan daun kelor di dapur, Rin! Biar Ibuk bunuh si Keparat yang mencoba mengusik hidup kita!!”
.
.
Bersambung.
ngeri ngeri sedap 😁😁😁
thorr
sdh sembuh
apa masih sakit
di bawa ke dokter Korea aja thor.biar ganteng kembali sperti dlu
angkat 1 1
blm cukup sampai di situ bambangg
itu baru pembalasan Padmini
yg buat kang Adi mana padmi
ayok rapel sekalian hutang nya Bambang sdh banyak itu
bentar kita jait pakai benang knor yaa tapi jadi beda letak, ...
sabar bentar lagi kau jadi makhluk paling unik dan tiada dua nya....
pulang dari "KLINIK PADMINI" kau masih punya nafas hanya saja semua akan aneh dan raib keangkuhanmu ...
rasa percaya diri lenyap ...dan rupamu layaknya gelandangan compang camping ,dengan tangan kerinting gagal bonding