Kenneth memutuskan untuk mengasuh Keyra ketika gadis kecil itu ditinggal wafat ayahnya.
Seiring waktu, Keyra pun tumbuh dewasa, kebersamaannya dengan Kenneth ternyata memiliki arti yang special bagi Keyra dewasa.
Kenneth sang duda mapan itupun menyayangi Keyra dengan sepenuh hatinya.
Yuk simak perjalanan romantis mereka🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YuKa Fortuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelampiasan
32
"A... Akuu..." Keyra tak mampu menjawab pertanyaan Ken karena terlalu panik.
Tatapan Ken melembut. Ia tidak tahu apa yang membuat gadisnya nampak gelisah. Ia juga tidak begitu ingin mengetahuinya. Karena fokusnya adalah bagaimana membuat gadisnya kembali tertidur dengan nyenyak.
“Kamu tidak tidur nyenyak,” ucap Ken lirih. “Ada apa?”
Keyra menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya. Ada terlalu banyak hal di kepalanya, terlalu banyak perasaan yang belum ia mengerti sendiri. Ia menggeleng pelan, menghindari tatapan Ken.
“Nggak apa-apa, Om.” jawabnya cepat. Terlalu cepat.
Ken menoleh, jelas tidak sepenuhnya percaya. “Kamu kayaknya gelisah. Kalau ada yang mengganggumu...”
“Aku cuma… kepikiran hal-hal bodoh,” potong Keyra, suaranya nyaris bergetar. “Mungkin karena capek.”
Ken memandangnya lama, lalu menghela napas pelan. Ia tidak mendesak. Hanya mengulurkan tangan, menyentuh punggung Keyra dengan cara yang menenangkan.
“Kalau belum siap bicara, nggak apa-apa,” katanya lembut. “Om selalu di sini.”
Keyra mengangguk, meski dadanya terasa sesak. Ada rasa bersalah yang menyelinap, bukan karena Ken tahu, melainkan karena ia berharap Ken tidak menyadari apa pun. Ada batas yang tadi malam terasa kabur di kepalanya, dan itu membuatnya takut.
Ia memejamkan mata, berusaha menenangkan pikiran.
Semoga ia tidak menyadarinya, batinnya.
Ken kembali merebahkan diri dan menarik Keyra ke dalam pelukan, hangat, aman, dan tetap terkendali. Namun di dalam hati Keyra, gelombang perasaan itu belum juga surut. Ia sadar, keinginannya semakin sulit disembunyikan, dan pertanyaan-pertanyaan itu akan kembali menghampirinya.
Bukan malam ini.
Tapi kelak.
Ken baru saja hendak mematikan lampu ketika Keyra bergerak pelan, seolah ragu antara bertahan atau kembali tenggelam dalam tidur. Nafasnya tidak setenang sebelumnya, ada kegelisahan kecil yang tak terucap.
Ken menyadarinya.
Ia mendekat, tidak bertanya, tidak mendesak. Hanya merapatkan jarak dengan hati-hati, seakan ingin memastikan kehadirannya benar-benar terasa. Ketika Keyra memalingkan wajah, Ken menunduk dan mengecup pundaknya, sekilas, ringan, penuh kehati-hatian.
Bukan ciuman yang menuntut.
Hanya sentuhan yang menenangkan.
Keyra terdiam. Jantungnya berdegup lebih cepat, namun tubuhnya justru melembut, seolah isyarat kecil itu berkata, aku di sini.
Ken menyusuri pundaknya dengan napas hangat, lalu sebuah kecupan mendarat di leher sebelah kanan gadisnya, lalu berhenti, menjaga jarak yang ia pilih dengan sadar.
Keyra dibuat merinding setengah mati. Tapi ketakutan itu tak mau pergi.
“Tidurlah,” bisiknya pelan. “Om di sini.”
Keyra mengangguk kecil. Ia menarik selimut, membiarkan kehangatan itu tinggal tanpa harus meminta lebih. Di balik kegelisahannya, ada rasa aman yang tak terbantahkan, bahwa ia dipeluk oleh seseorang yang tahu kapan harus mendekat, dan kapan harus menahan diri.
Malam pun kembali tenang.
Keintiman mereka tidak melangkah jauh...
namun cukup dekat untuk membuat hati merasa pulang.
**
Rafael berdiri di dekat jendela apartemennya, hiruk pikuk kesibukan lalu lintas kota terlihat jauh di bawah sana. Di tangannya, segelas wine digenggam terlalu erat, jemarinya memutih, rahangnya mengeras.
Cairan merah itu bergetar tipis, nyaris tumpah seiring napasnya yang tak beraturan.
Untuk pertama kalinya, kenangan tentang Keyra tidak datang sebagai rindu yang sunyi, melainkan sebagai amarah yang tak menemukan tempat.
Dadanya sesak. Ia memejamkan mata, mencoba menarik diri dari pusaran itu, namun gagal.
Bunyi pintu terbuka membuyarkan segalanya.
“Raf?” suara Rayya terdengar ragu, lalu melunak ketika melihat punggungnya yang tegang.
Rafael menoleh setengah. “Aku baik-baik aja,” katanya cepat,terlalu cepat untuk terdengar jujur.
Rayya tidak membantah. Ia mendekat perlahan, langkahnya hati-hati seperti mendekati api yang masih menyala. Matanya menangkap gelas di tangan Rafael yang bergetar.
“Sini duduk aja.” tawarnya lembut.
Rafael menghembuskan napas kasar. “Aku cuma… capek.”
Rayya mengulurkan tangan, menutup gelas itu dengan jemarinya sendiri, bukan merampas, hanya menahan. Sentuhan kecil itu cukup membuat Rafael mengendur. Ia menyerahkan gelas tanpa perlawanan. Bunyi kaca diletakkan di meja terdengar pelan, namun terasa seperti titik.
Rayya berdiri di depannya. “Kamu nggak harus kuat sendirian,” ucapnya, suara rendah dan mantap. “Aku di sini.”
Rafael tertawa kecil yang pahit. “Lucu ya… baru kali ini aku marah karena seseorang yang bahkan tidak pernah menjadi milikku.”
Rayya tidak menyela. Ia hanya mendengarkan, hadir sepenuhnya. Lalu, dengan keberanian yang tenang, ia meraih tangan Rafael dan menggenggamnya. Bukan untuk menuntut, bukan untuk mengklaim. Hanya untuk menenangkan.
“Marah itu boleh,” katanya pelan. “Asal kamu nggak melukai diri sendiri karenanya.”
Rafael menatap tangan mereka yang saling bertaut. Ada kehangatan yang nyata, berbeda dari kenangan yang menyakitkan. Bahunya perlahan turun, napasnya kembali menemukan ritme.
“Makasih, Ray,” gumamnya, hampir tak terdengar.
Rayya tersenyum tipis. “Kamu punya aku, terus kenapa kamu harus sedih.”
Di malam yang semula penuh gejolak itu, Rafael akhirnya duduk. Bukan karena lukanya sembuh, melainkan karena ada seseorang yang memilih datang tepat waktu dan tinggal, tanpa syarat.
"Bahkan kamu masih bertahan walaupun aku sering nggak anggap kamu..."
Rayya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mendekat, memeluk Rafael dengan keberanian yang selama ini ia simpan. Pelukan itu sederhana, namun penuh penerimaan. Rafael menghela napas panjang, lalu membalasnya perlahan, seolah takut semuanya akan menghilang jika ia bergerak terlalu cepat.
Kedekatan itu perlahan menenangkan.
Menghapus jarak.
Mengendurkan pertahanan.
Rafael menunduk, keningnya bersandar pada Rayya. Untuk sesaat, dunia di luar berhenti menuntut apa pun dari mereka. Yang ada hanya dua jiwa yang sama-sama lelah, saling menemukan tempat untuk beristirahat.
Rayya tersenyum kecil. “Kamu nggak sendirian.”
Dan kalimat itu cukup.
Malam menutup mereka dalam keheningan yang hangat. Tidak ada janji besar, tidak ada perbandingan dengan masa lalu. Hanya kehadiran yang dipilih dengan sadar, hingga keduanya tenggelam dalam kebersamaan yang tenang, saling memberi apa yang selama ini mereka butuhkan, diterima, tanpa syarat.
Rafael menindih tubuh Rayya di atas sofa. Tangannya perlahan menyusup ke balik mini dress yang Rayya kenakan. Sementara wajahnya jatuh di dada Rayya. Sesekali bibir mereka saling bertemu lalu Rafael kembali menumpahkan hasrat di dada Rayya yang bulat dan padat.
"Raaaf..." Rayya mendesah tak tahan ketika Rafael menghisap putingnya dengan gemas, sementara di bawah sana, dua jari Rafael sibuk keluar-masuk liang Rayya yang hangat.
"Percayalah Rafael, perbedaan itu cuma tentang wajah, untuk rasa, nggak akan ada bedanya. Anggap aja Rayya adalah Keyra..." Sambil menggenjot tubuh Rayya dari belakang, Rafael memberikan afirmasi kepada dirinya sendiri.
Sementara Rayya, begitu menikmati apa yang dilakukan kekasihnya. Ia tak peduli jika Rafael tak mau menatapnya terlalu lama hanya karena lelaki itu masih mencintai Keyra. Satu hal yang pasti, hanya dirinya saja yang bisa merasakan keperkasaan senjata Rafael. Artinya dirinya yang terpilih, bukan Keyra.
"Tenang, Rayya. Rafa udah jadi milikmu. Abaikan Keyra yang bodoh dan nggak tahu di untung. Rayya yang mendapatkan perjakanya Rafa, bukan Keyra. Ouch... Rafaa... Genjot terus sayaaang...." Rayya menyemangati dirinya sendiri.
"Key.... Achh... Keeyyy.... Ufff...aaaahhh...." gumaman itu kluar dari mulut Rafael meski telah berusaha ia tahan.
.
YuKa/ 251225
Enak ya ? Nikmat ya ?
Puas gak ?
Ngga dooong hihi , deudeuin klo basa sundana mah 😂