Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.
Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.
Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10. Respect
Malam hari di kamar kosnya yang sederhana, Acha memilih untuk melepas penat setelah seharian bekerja di swalayan dengan menonton drama Korea favoritnya di Handphonenya.
Lampu kamar sengaja dia redupkan, menciptakan suasana hangat yang nyaman ditemani segelas teh hangat di atas meja nakas.
Di tengah adegan emosional yang sedang tayang di layar, ponsel di sampingnya tiba-tiba berdering nyaring, memecah keheningan malam. Acha melirik layar ponselnya dan melihat nama Ranti tertera di sana—sang mamah.
Acha segera menekan tombol jeda pada handphonenya, lalu mengangkat panggilan tersebut dengan suara yang dilembutkan.
"Halo, Mah?" sapa Acha lembut.
"Halo, Cha. Lagi apa? Ini Mamah baru sempat telepon karena seharian tadi lumayan repot di rumah," jawab suara Ranti di ujung sambungan, terdengar hangat dan penuh perhatian.
"Nggak apa-apa kok, Mah. Ini Acha baru saja selesai beres-beres, terus lagi santai sambil nonton film sebentar di kamar," balas Acha sambil menarik selimut tipis untuk menutupi kakinya.
Di seberang sana, Ranti menghela napas pelan, nada bicaranya berubah menjadi sedikit lebih cemas khas seorang ibu.
"Gimana keadaan kamu di kosan, Cha? Betah, kan? Makan kamu teratur nggak? Jangan keseringan kerja keras terus sampai lupa waktu, ya. Kalau ada apa-apa atau uang kiriman kurang, jangan sungkan bilang ke Mamah yah."
Mendengar perhatian dan suara lembut sang mamah, seketika pertahanan Acha melunak.
Kerinduan mendalam pada keluarganya berpadu dengan rasa lelah menghadapi hari-hari berat yang baru saja dia lewati, membuat dadanya terasa sedikit sesak.
Meski begitu, dia berusaha tersenyum agar mamahnya di seberang sana tidak ikut khawatir.
"Acha baik-baik aja kok, Mah. Kosannya nyaman, makannya juga teratur, nggak usah khawatir ya," jawab Acha berusaha menstabilkan suaranya yang nyaris bergetar karena menahan haru.
Di tengah kerasnya perjuangan hidup merantau dan sisa-sisa tekanan batin akibat pertemuannya dengan Suci di swalayan tadi siang, suara Ranti seolah menjadi obat penawar paling mujarab.
Mamahnya adalah tempat perlindungan paling aman bagi Acha untuk melepas lelah, meski jarak kini memisahkan mereka.
Setelah berbincang-bincang cukup lama menanyakan kabar dan aktivitas harian masing-masing, panggilan telepon itu akhirnya ditutup dengan pesan cinta dan doa dari sang mamah.
Acha meletakkan ponselnya kembali ke atas meja, menatap layar laptopnya yang masih menampilkan jeda adegan drama Korea. Namun, perhatiannya kini buyar.
Perbincangan hangat dengan mamahnya barusan berhasil mengisi kembali energi positif di dalam dirinya, membuat hatinya terasa jauh lebih ringan untuk menyambut hari esok.
Matahari siang bersinar terik, memantulkan panasnya ke kaca depan swalayan tempat Acha bekerja. Di dalam ruangan yang sejuk berkat pendingin udara, Acha sudah sibuk berkutat dengan papan clip board dan lembar inventaris barang.
Jam menunjukkan pukul satu siang, waktu yang tepat untuk melakukan rutinitas rutin mingguan memeriksa persediaan barang yang sudah menipis dan menyortir produk-produk yang mendekati tanggal kedaluwarsa.
Acha berjalan teliti menyusuri lorong demi lorong rak supermarket. Tangannya dengan sigap membalik kemasan demi kemasan makanan ringan, produk susu, hingga bumbu instan untuk melihat deretan angka tanggal kedaluwarsa yang tercetak di bagian bawah atau belakang kemasan.
Beberapa barang yang sudah melewati batas aman atau tinggal menghitung hari langsung dia pisahkan ke dalam keranjang khusus retur.
Sementara barang-barang yang stoknya mulai menipis dia catat dengan rapi di atas kertas agar bisa segera dilaporkan untuk pemesanan ulang.
Meski pekerjaannya menuntut ketelitian tinggi dan membuat matanya cepat lelah, Acha mengerjakannya dengan penuh fokus.
Di tengah kesibukannya itu, pikirannya sempat melintas pada kejadian kemarin—mulai dari sapaan hangat Nathan di sore hari hingga obrolan manisnya lewat telepon dengan sang mamah malam harinya.
Tanpa sadar, ingatan-ingatan itu memberikan suntikan semangat tersendiri, membuat tangannya bergerak lebih ringan menyelesaikan tugas demi tugas di swalayan tersebut.
Di tengah kesibukan Acha memeriksa deretan kaleng susu di rak paling atas, suara langkah kaki pelan mendekat dari arah lorong sebelah.
Acha tidak ambil pusing, mengira itu adalah pelanggan biasa atau Vika yang sedang bertugas di bagian kasir.
Namun, sebuah suara suara yang sudah sangat akrab di telinganya tiba-tiba menyapa lembut, "Butuh bantuan buat jangkau rak yang atas, Mbak Acha?"
Acha terlonjak kaget, spontan menoleh ke samping. Di sana, berdiri Nathan dengan senyum khasnya yang ramah, mengenakan kaus polos kasual yang pas di tubuhnya.
Pria itu tampak membawa sebuah keranjang belanja kecil, seolah memang berniat datang ke swalayan tersebut.
Rona merah langsung merayap di pipi Acha. Bayangan tentang Nathan yang baru saja mampir di pikirannya beberapa detik lalu seolah menjelma menjadi kenyataan.
"Eh... Nathan?" gumam Acha tanpa sadar, sedikit salah tingkah karena kepergok sedang melamunkan pria itu.
"Nggak usah, kok. Ini tinggal dikit lagi kelar."
Nathan tertawa kecil, suara baritonnya terdengar lembut menenangkan suasana. "Santai aja, kelihatannya kamu ribet banget bawa-bawa clip board sambil jinjit begitu. Biar saya bantu catat atau rapiin yang bawah, ya?"
Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Nathan langsung mengambil posisi di samping Acha, ikut membantu merapikan produk-produk di rak bawah dengan cekatan.
Kehadiran Nathan yang tiba-tiba di tengah rutinitas kerjanya yang melelahkan seketika membuat hari Acha yang panas di luar sana terasa jauh lebih menyejukkan.
Menjelang sore hari, suasana swalayan mulai lengang dari lalu-lalang pembeli. Acha kembali bertugas di balik meja kasir setelah selesai dengan urusan inventaris rak tadi.
Namun, lagi-lagi pikirannya melayang, teringat kejadian saat Nathan membantunya merapikan barang di lorong toko.
Bibirnya tanpa sadar mengukir senyum kecil sambil memainkan bolpoin di tangannya.
"Ehem! Hayo... melamun lagi. Mentang-mentang habis dibantuin pangerannya, kerjaannya senyam-senyum sendiri terus," goda Vika yang tiba-tiba muncul dari samping, membuat Acha terperanjat kaget dan buru-buru merapikan ekspresinya.
Belum sempat Acha membalas ledekan Vika, sebuah suara berat yang familiar menyela dari depan meja kasir.
"Lagi ngelamunin apa nih, Mbak Acha? Keliatannya seru banget sampai nggak sadar ada pelanggan mau bayar," ucap Nathan yang tiba-tiba sudah berdiri di sana sambil membawa satu botol air mineral dan sebungkus permen mint di tangannya.
Rona merah spontan merambat di pipi Acha, merasa tertangkap basah sedang melamunkan pria itu oleh orangnya langsung.
Vika yang melihat kesempatan emas langsung melengos pergi sambil terkekeh geli, meninggalkan mereka berdua.
Nathan meletakkan belanjaannya di atas meja kasir, lalu menatap Acha lekat-lekat dengan senyum tersungging di bibirnya.
Setelah Acha selesai memindai barang belanjaan tersebut dan menyebutkan total harganya, Nathan tidak langsung beranjak. Dia justru menatap Acha serius namun tetap santai.
"Oh ya, Acha... Boleh minta nomor telepon kamu gak? Supaya kalau saya mau mampir atau pas kamu butuh bantuan lagi, gampang ngabarin nya," pinta Nathan terus terang.
Mendengar permintaan itu, debaran di dada Acha mendadak melonjak. Meski dia sebenarnya memiliki ketertarikan pada Nathan, prinsip dan rasa khawatirnya jauh lebih besar.
Dia menggelengkan kepala pelan dengan ekspresi tegas namun tetap sopan.
"Maaf, Nathan... Aku nggak bisa kasih nomor aku sembarangan ke orang yang belum begitu aku kenal," jawab Acha jujur, menatap mata pria di depannya tanpa ragu.
Nathan sedikit tertegun, namun di detik berikutnya dia justru tersenyum lebar, tampak semakin kagum dengan prinsip dan ketegasan gadis di hadapannya itu.
Nathan menatap Acha sejenak, mencerna penolakan halus namun tegas itu. Alih-alih tersinggung atau kecewa, senyuman di wajah pria itu justru semakin melebar.
Di mata Nathan, sikap Acha yang tidak mudah luluh dan menjaga batasan diri justru menjadi nilai plus tersendiri.
Gadis di hadapannya ini bukan tipe yang gampang memberikan akses pada sembarang orang, dan itu membuatnya semakin terlihat menarik.
"Masuk akal sih," Ucap Nathan sambil mengangguk pelan, menerima kembalian uang dari tangan Acha.
"Justru bagus kalau kamu nggak gampang kasih nomor kepada cowok, walau pun cowok itu saya."
Acha mengerjap, sedikit salah tingkah mendengar balasan santai sekaligus penuh arti dari Nathan. Pipinya yang sudah merona kini semakin terasa panas.
"Makasih ya kembaliannya, Acha. Kalau gitu, saya duluan. Pelan-pelan ya kerjanya, jangan melamun terus," pamit Nathan dengan nada usil yang bersahabat, lalu berbalik dan melangkah santai keluar dari swalayan.
Acha menghela napas lega sekaligus gemas begitu punggung Nathan benar-benar menghilang di balik pintu kaca.
Dia merutuki debaran jantungnya sendiri yang tak kunjung tenang, sementara di sudut lain ruangan, Vika kembali muncul dengan cengiran lebar, siap memberondongnya dengan segudang pertanyaan baru.
Begitu jam operasional swalayan memasuki waktu istirahat sore, Vika langsung menarik tangan Acha menuju area gudang belakang yang sepi.
Tanpa basa-basi, Vika langsung melipat kedua tangannya di depan dada, menatap sahabatnya itu dengan tatapan tak percaya yang bercampur gemas.
"Acha! Kamu beneran waras nggak sih tadi?!" seru Vika dengan nada berbisik tapi tajam, tak bisa lagi menahan rasa penasarannya sejak insiden di kasir tadi.
Acha yang kaget langsung mengusap lengannya sendiri, memasang wajah defensif. "Apaan sih, Vik? Kaget, tahu!"
"Heh, kamu tuh ya, dikasih kesempatan emas malah dibuang begitu aja!" Vika menggelengkan kepalanya dramatis.
"Kamu tahu nggak sih, Nathan itu cowok ganteng, rajin, keliatan banget baiknya, dan fix pasti banyak cewek di luar sana yang ngantri pengen dideketin dia! Lah, ini malah ditolak mentah-mentah pas minta nomor HP. Kalau dia ilfil terus kapok datang lagi gimana?!"
Acha terdiam, menggigit bibir bawahnya pelan. Sebenarnya ada rasa penyesalan kecil yang tiba-tiba menyelinap di hatinya mendengar ucapan Vika, meski egonya masih berusaha menolak.
Melihat Acha yang hanya diam membisu, Vika menghela napas panjang, lalu mereda nada bicaranya. Dia maju beberapa langkah, memegang kedua pundak Acha dan menatap sahabatnya itu lekat-lekat.
"Cha, dengarin aku baik-baik. Jangan karena bayang-bayang masa lalu atau ketakutan nggak jelas kamu itu, kamu jadi nutup diri dari orang tulus yang datang ke kehidup kamu."
"Lagian ya Cha, jujur deh sama diri sendiri... Kamu tuh sebenarnya juga suka kan sama Nathan? Keliatan banget dari cara kamu senyam-senyum tiap dia datang, tapi kamu-nya aja yang gengsi setengah mati!" cecar Vika telak, membongkar seluruh pertahanan Acha tanpa sisa.
Pipi Acha seketika memanas hebat mendengar tebakan telak dari sahabatnya.
Dia ingin mengelak, tetapi debaran di dadanya dan bayangan senyuman Nathan barusan seolah menjadi bukti paling nyata bahwa Vika sama sekali tidak salah.
Acha menunduk dalam-dalam, menatap ujung sepatunya sendiri seolah benda itu adalah hal paling menarik di dunia saat ini.
Tangannya meremas ujung seragam kerjanya dengan gugup, sementara rona merah di pipinya semakin menjalar hingga ke leher.
"Bukan gitu, Vik..." cicit Acha pelan, suaranya hampir tak terdengar di antara deru suara kipas angin gudang.
"Bukannya aku nggak suka atau sengaja mau nyia-nyiain. Cuma... aku takut aja. Belakangan ini rasanya terlalu cepat buat nerima cowok baru di hidup aku, apalagi kita kan baru kenal."
Vika menghela napas, melonggarkan cengkeramannya di pundak Acha lalu tersenyum tipis. Nada bicaranya kini jauh lebih lembut.
"Aku ngerti, Cha. Wajar kalau kamu masih punya tembok pertahanan, apalagi setelah apa yang udah kamu lewatin dulu. Tapi ingat, nggak semua cowok itu sama. Kalau kamu nutup pintu terus cuma gara-gara takut terluka lagi, kamu malah bakal ngelewatin orang-orang tulus yang beneran peduli sama kamu," nasihat Vika tulus, menepuk pelan pundak sahabatnya itu.
Acha mengangkat wajahnya, menatap mata Vika yang memantulkan kehangatan dan kepedulian. Ada kebenaran telak dari setiap kata yang diucapkan sahabatnya.
Jauh di lubuk hatinya, dia memang merasakan getaran berbeda setiap kali berada dekat dengan Nathan—sesuatu yang sudah lama tidak dia rasakan.
"Terus... aku harus gimana dong?" tanya Acha pasrah, akhirnya mengakui kekalahan dari rasa gengsinya sendiri.
Vika langsung nyengir lebar, sebelah alisnya terangkat naik membentuk ekspresi penuh kemenangan.
"Ya gampang! Besok kalau dia datang lagi, jangan sok jual mahal. Kalau perlu, giliran kamu yang senyum duluan atau kasih sinyal kalau kamu sebenarnya nggak keberatan buat kenal dia lebih jauh!"
Mendengar saran usil dari Vika, Acha langsung mendengus pelan sambil melempar gulungan kertas kecil ke arah sahabatnya itu.
Meski tawanya akhirnya pecah bersama Vika di ruang gudang yang sempit, debaran di dada Acha justru semakin kencang, bersiap menyambut hari esok dengan lembaran perasaan yang perlahan mulai berubah.
Malam kembali merayap di kamar kos Acha. Lampu meja belajar menjadi satu-satunya sumber penerangan, memantulkan bayangan tubuhnya yang meringkuk di atas kasur dengan selimut menutupi setengah badan.
Di pangkuannya, ponsel tergeletak begitu saja dalam keadaan mati layar, namun pikirannya justru jauh lebih bising daripada suasana luar.
Ucapan Vika di gudang tadi sore terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. “Jangan nutup pintu terus cuma gara-gara takut terluka lagi...”
Acha menarik napas panjang, lalu menghempaskannya perlahan. Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri.
Setiap kali bayangan Nathan melintas—senyumnya yang tulus, caranya menghargai penolakan Acha tanpa merasa tersinggung, hingga debaran aneh yang selalu muncul di dadanya—semuanya adalah bukti nyata bahwa dia memang mulai membuka hatinya untuk pria itu.
Namun, tepat di detik yang sama, bayangan-bayangan masa lalu yang kelam mendadak ikut mencuat.
Rasa sakit akibat luka lama, kekecewaan, dan trauma tersakiti oleh orang yang dipercaya seolah menjelma menjadi benteng tinggi yang mencekiknya.
Ketakutan itu nyata. Acha sangat takut jika perasaan yang mulai tumbuh ini justru berujung pada kehancuran yang sama untuk kedua kalinya.
Dia memeluk lututnya erat-erat, menatap kosong ke dinding kamar dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Di satu sisi, dia ingin jujur pada perasaannya dan menerima kehadiran Nathan yang membawa kehangatan. Namun di sisi lain, keraguan dan rasa takut di dalam hatinya masih terlalu kuat untuk diredakan hanya dalam semalam.
Be to continued