NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kera Putih

Kebangkitan Kera Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MISI BERBURU DI NGARAI GAGAK

Angin utara meliuk tajam di antara dua tebing batu hitam yang menjulang tinggi, menciptakan suara siulan panjang menyerupai jeritan ribuan burung gagak. Ngarai Gagak—sebuah celah terjal sepanjang lima mil di perbatasan utara—berbau amis darah tua dan lumut beracun.

Dua kelompok prajurit melangkah memasuki celah ngarai dari arah pintu gerbang Tembok Besi.

Di sebelah kiri, Sepuluh anggota Unit 1 berjalan membusungkan dada dengan zirah perak yang mengilap di bawah terik matahari pucat. Sepatu bot baja mereka menghantam lantai batu dengan bising, sengaja menunjukkan dominasi. Sementara di sebelah kanan, empat anggota Unit 9 melangkah tanpa suara dalam formasi berlian yang rapat, bergerak lincah menyusuri bayangan tebing.

"Ambil jalur utama di bawah! Kepung celah tebing tempat sarang Serigala Duri!" Perintah Zhang Bao seraya mencabut pedang lebar bersepuh emas dari punggungnya, menunjuk ke arah bagian tengah ngarai yang luas.

Anak buah Unit 1 langsung melesat maju, menyebar untuk menutup akses ke area tengah ngarai yang dikenal sebagai lokasi perburuan paling subur.

"Mereka mencoba menutup akses kita ke bagian tengah ngarai," Ucap Lu Chen seraya memicingkan matanya, mengamati pergerakan Unit 1 yang sengaja memotong jalan mereka.

"Jalur utama terlalu ramai dan terbuka," Sahut Lin Yuan datar tanpa menghentikan langkahnya. "Kita ambil jalur atas melalui celah tebing sempit."

Shi Tou menengadah menatap jalan setapak di pinggir tebing yang curam dan licin. "Jalur atas? Tempat itu sangat sempit, Kapten. Kalau Serigala Duri menyerang dari dua sisi, kita tidak punya ruang untuk mundur."

"Kita tidak datang ke sini untuk mundur, Shi Tou," Balas Ah Xiu dingin, menyentuh panah di punggungnya.

Lin Yuan tidak menjawab lagi. Ia meloncat ringan ke atas batu raksasa di pangkal tebing, memimpin Unit 9 menaiki jalur atas yang berbahaya. Insting Kera Putih di dalam lautan jiwanya sudah merasakan getaran halus dari balik batu-batu tebing—getaran dari puluhan pasang cakar tajam yang sedang mengintai dari balik kegelapan.

GUK! GRAAR!

Dari arah jalur utama di bawah, suara pertempuran meletus. Unit 1 telah menemukan kawanan pertama Serigala Duri. Suara dentingan zirah baja dan teriakan penuh keangkuhan Zhang Bao menggema memantul di dinding ngarai.

"Lima ekor! Habisi mereka dengan cepat! Jangan biarkan Unit Sembilan mendapat bagian!" Teriak Zhang Bao seraya mengayunkan pedang leburnya, membelah dada seekor serigala berukuran sedang.

Sementara itu, di jalur atas yang sempit, suasana justru mendadak menjadi hening mencekam.

SREK... SREK...

Dari celah-celah batu tebing di atas kepala Unit 9, belasan siluet abu-abu meluncur turun tanpa suara. Serigala Duri—monster kelas dua yang terkenal dengan kecepatan tinggi dan duri-duri tulang tajam yang tumbuh menembus kulit mereka. Mata mereka berkilat hijau pekat, memancarkan lapar yang amat sangat.

"Delapan ekor di depan, empat dari belakang!" Teriak Ah Xiu memberi peringatan cepat seraya memutar badannya.

CTAK! SWUSH!

Anak panah Ah Xiu melesat dalam jarak dekat, menembus mata kiri serigala paling depan hingga monster itu melolong nyaring dan jatuh berguling di jalur sempit.

"Shi Tou, tahan belakang! Lu Chen, bersihkan sela batu!" Perintah Lin Yuan tajam.

"Serahkan padaku!" Raung Shi Tou seraya menghentakkan perisai besinya ke lantai tebing, menyumbat jalur sempit di belakang mereka dan menahan terjangan dua serigala sekaligus.

BAM!

Tiga ekor Serigala Duri melompat bersamaan ke arah Lin Yuan dari atas tebing, mengarahkan moncong berbisa dan duri-duri punggung mereka yang setajam jarum baja.

Lin Yuan tidak memutar badannya untuk menghindar. Ia menghentakkan tumitnya, melompat lurus menyambut ketiga monster itu di udara murni.

SREEEET!

Aura Kera Putih meledak dari dalam meridian Lin Yuan, melingkupi kedua tangannya dengan gelombang *qi* perak yang membara. Lin Yuan meraih rahang serigala pertama dengan tangan kosong, ignoring duri-duri tulang yang mencoba menggores telapak tangannya.

KRAK!

Dengan dorongan kekuatan fisik yang murni dan brutal, Lin Yuan mematahkan rahang serigala itu ke belakang secara paksa. Darah segar menyembur keras, membasahi wajah dan lengan Lin Yuan.

Pada detik cairan darah segar itu menyentuh kulitnya, *Qi* Darah dari monster yang sakaratul maut itu tersedot deras masuk ke dalam pori-pori Lin Yuan. Energi vital yang membara menyiram lautan jiwanya, membuat Kera Putih di dalam dadanya mendengkur puas dan memulihkan stamina fisiknya seketika.

"Lagi!" Desis Lin Yuan dengan mata hitamnya yang mulai berkilat emas tipis.

Lin Yuan memutar tubuhnya di udara, memanfaatkan bangkai serigala pertama sebagai tameng untuk menghantam serigala kedua hingga membentur dinding tebing dengan keras.

BLES!

Sebelum serigala ketiga sempat mendarat, Lin Yuan mencabut pedang pendek dari pinggangnya dan menancapkannya tepat di celah tengkorak kepala monster itu hingga tembus ke rahang bawah.

Seluruh gerakan itu terjadi hanya dalam hitungan tiga napas. Tiga ekor Serigala Duri kelas dua tewas mengenaskan di tangan Lin Yuan tanpa sempat mengeluarkan raungan penuh mereka.

Lu Chen yang bergerak lincah seperti bayangan di sisi tebing, mengiris urat leher dua serigala lainnya menggunakan belati kembar. Pemuda mantan bangsawan itu menyapu keringat di pelipisnya, menatap Lin Yuan dengan rasa takjub yang makin tebal.

"Cara berburumu... benar-benar seperti tidak membutuhkan energi sama sekali, Kapten," Ucap Lu Chen seraya mencungkil Inti Monster dari serigala yang baru saja ia bunuh. "Makin banyak yang kau bunuh, gerakanmu justru makin cepat."

"Monster-monster ini adalah nutrisi bagiku," Jawab Lin Yuan membumi, seraya mencabut pedang pendeknya dan menyerap sisa-sisa *Qi* Darah dari bangkai di bawah kakinya.

Di bawah jalur utama, Zhang Bao baru saja selesai memenggal kepala serigala kelimanya. Ia mengusap bercak darah di zirah peraknya dengan wajah penuh rasa bangga.

"Bagus! Lima Inti Monster kelas dua dalam waktu setengah jam!" Teriak Zhang Bao pada anak buahnya. "Lihat ke atas! Para buangan itu pasti sedang merangkak ketakutan karena..."

Kata-kata Zhang Bao terhenti seketika saat ia mendongak menatap jalur tebing atas.

Di atas sana, Lin Yuan berdiri di atas tumpukan delapan bangkai Serigala Duri yang bersimbah darah. Shi Tou dan Lu Chen dengan cepat membelah dada monster-monster itu, mengumpulkan Inti Monster berwarna abu-abu terang ke dalam kantong kain mereka dengan ketenangan yang luar biasa.

delapan Inti Monster. Dalam waktu yang jauh lebih singkat daripada Unit 1.

Anak buah Zhang Bao membelalakkan mata tak percaya. Suara keriuhan konyol dari Unit 1 mendadak senyap, tergantikan oleh rasa canggung yang berat.

"Bagaimana mungkin?!" Bisik salah satu anak buah Zhang Bao dengan bibir gemetar. "Mereka cuma berempat! Dan jalur atas itu sangat terjal!"

Wajah Zhang Bao merah padam menahan malu dan amarah yang membakar dadanya. Ia merasa seperti ditampar keras di hadapan seluruh anak buahnya. Pedang leburnya berguncang keras akibat genggaman tangannya yang membenci.

"Mereka cuma beruntung menemukan sarang kecil yang terpojok!" Bentak Zhang Bao seraya memutar badannya ke arah celah dalam ngarai. "Bergerak lebih dalam! Cari kawanan induk Serigala Duri! Kita harus mengumpulkan setidaknya dua puluh inti sebelum siang!"

Lin Yuan yang berdiri di atas tebing menatap pergerakan tergesa-gesa Unit 1 di bawah sana. Dari ketinggian ini, matanya yang tajam melihat sesuatu yang tidak disadari oleh Zhang Bao yang sedang kalap.

Di celah dalam ngarai yang dituju oleh Unit 1, kabut merah tipis mulai merayap dari balik celah batu. Bau darah di udara mendadak berubah menjadi sangat pekat dan amis.

"Kapten," Bisik Ah Xiu seraya merapatkan diri di samping Lin Yuan, jari-jarinya menunjuk ke celah dalam ngarai. "Lihat warna kabut itu. Itu bukan kabut biasa. Ada Serigala Duri Mutasi yang sedang berburu di area itu."

Lin Yuan memicingkan matanya. Di dalam lautan jiwanya, Roh Kera Putih berdiri tegak, memancarkan raungan peringatan yang tenang namun sarat dengan antisipasi pertumpahan darah.

"Zhang Bao dan orang-orangnya sedang berjalan lurus menuju mulut sarang induk," Ucap Lu Chen seraya menyarungkan belatinya, menatap Lin Yuan. "Apa kita perlu menghentikan mereka?"

Lin Yuan menatap kantong kain berisi delapan Inti Monster di tangan Shi Tou, lalu beralih menatap punggung Unit 1 yang mulai menghilang ditelan kabut merah Ngarai Gagak.

"Biarkan mereka berjalan lebih dulu," Jawab Lin Yuan datar dengan senyum dingin yang terukir di bibirnya. "Kita ikuti dari belakang. Jika induk monster itu muncul, perburuan kita baru saja benar-benar dimulai."

1
Fery Oktavian
🔥
Iskandar Muda
mantap
Fery Oktavian: semoga suka dengan ceritanya 👍🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!