NovelToon NovelToon
Mafioso Tercinta

Mafioso Tercinta

Status: tamat
Genre:Mafia / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Tamat
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: jojo0609

Satu malam. Satu keputusan nekat. Dan hidup Samara berubah selamanya.

Samara Navira hanyalah resepsionis hotel biasa—yatim piatu yang bertahan hidup dengan tenang, menjauh dari masalah. Sampai suatu malam seorang pria asing berlumur darah menggedor jendela mobilnya dan memaksanya menyetir menembus gelap. Pria itu adalah Adam Darmawan: dingin, mematikan, dan ditakuti seluruh dunia hitam. Seorang bos mafia yang baru saja dikhianati kekasihnya sendiri.

Seharusnya Samara pergi begitu saja. Tapi begitu ia menyelamatkan nyawa Adam, ia ikut terseret ke dunianya—dunia penuh senjata, dendam, pengkhianatan, dan kekuasaan yang tak mengenal ampun. Dunia tempat musuh-musuh Adam kini juga memburunya.

Adam tak pernah membiarkan siapa pun mendekat. Tapi perempuan keras kepala yang menolak tunduk padanya ini membangkitkan sesuatu yang ia kira sudah mati: keinginan untuk melindungi, untuk memiliki, untuk mencintai. Dan begitu sang mafioso menjatuhkan hatinya, ia takkan pernah melepaskannya.

Di antara peluru dan gairah, antara bahaya dan hasrat—apakah cinta bisa bertahan di dunia yang dibangun di atas darah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jojo0609, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman Pertama

Samara menelan ludah oleh godaan itu. Meski itu berhasil menggetarkannya, ia takkan menunjukkan bahwa ia menginginkannya, walau saat itu ia bertanya-tanya apakah Adam merasakan hal yang sama.

"Aku tak sedang melihatmu, aku melihat dapurnya, ini sangat indah," ujarnya, satu-satunya hal yang terlintas.

Adam tersenyum dan tak lagi menggodanya. Ia pandai membaca orang dan tahu saat itu Samara berbohong, bahwa sebenarnya gadis itu terangsang oleh kedekatan mereka dan oleh apa yang ia katakan.

"Baiklah, kamu boleh melihat sepuasmu, dan bebas menjelajahinya," ujarnya dengan senyum nakal.

Samara meraih piring di depannya, mulai menyantap roti isi buatan Adam. Adam kembali ke kulkas, menyimpan bahan-bahan yang tadi ia keluarkan, sekalian mengambil botol susu dan dua gelas lagi.

Adam menghangatkan kedua gelas susu itu di microwave, meletakkan satu di depan Samara dan satu di samping piringnya sendiri, lalu duduk di sisinya dan mulai makan.

Selagi keduanya menikmati camilan tengah malam itu, keadaan di pihak Oliver sama sekali tak nikmat. Dua pria yang ia kirim untuk merebut Samara sudah kembali, tapi dalam keadaan babak belur, dan pesan yang dikirim Adam telah sampai.

"Bajingan kurang ajar. Kalau kau kira ini akan berhenti di sini, kau salah besar. Akan kurebut gadis itu dari tanganmu, sama seperti aku merebut Sabrina, dan itu akan terjadi tepat di depan hidungmu. Akan kurenggut semua yang kaumiliki, Adam, sampai tak tersisa apa pun. Aku jamin kau bahkan akan memohon agar kubunuh," ujarnya geram.

Ia mencabut pistol yang ia bawa, menembak kepala dua pria yang ada di hadapannya. Mereka sudah lama bekerja untuk keluarganya, tapi hal itu tak menghalanginya mencabut nyawa mereka.

"Awasi rumah Adam. Begitu perempuan itu keluar dari sana, segera kabari aku. Kita lihat berapa lama kau bisa menahannya di dalam rumah itu."

Di dapur Adam, keduanya masih makan dalam diam. Adam ingin bicara lebih banyak, sebab jarang ada kesempatan mengenal Samara lebih dekat, maka ia memutuskan memecah keheningan.

"Bagaimana kepalamu? Masih nyeri benjolnya?"

"Sudah membaik, tapi kurasa besok pagi belum akan hilang," ujarnya sambil tersenyum.

"Kamu makin cantik kalau tersenyum. Kurasa ini senyum pertama yang kulihat di bibirmu," ujar Adam, mengamati wajahnya.

Senyum Samara menyempit sedikit, tapi ia tetap berterima kasih atas pujian itu. "Terima kasih," jawabnya, kembali menatap piring.

Samara meneruskan makan sambil memikirkan pujian yang ia terima. Ia bertanya-tanya apakah sebaiknya ia lebih sering tersenyum, tapi seketika ia menegur diri dalam hati, "Jangan tolol, dia cuma memuji. Dia pasti suka perempuan yang jauh berbeda darimu."

Keheningan kembali di antara mereka sampai mereka selesai. Samara membereskan piring dan gelas, membawanya ke bak cuci, dan saat hendak mencucinya, Adam bicara dari jarak sangat dekat.

"Biarkan saja di situ, besok ada yang mengerjakannya."

Samara berbalik, dan mereka kembali berdiri sangat dekat, ia bersandar pada meja dan Adam menatapnya lekat. Saat itu Samara merasakan hal yang sama seperti kali-kali sebelumnya, sensasi dikuasai oleh tatapan itu begitu kuat, dan ia kembali menggigit bibir, membuat perhatian Adam tertuju ke sana.

Adam memperhatikan cara Samara menggigit bibir dan berusaha keras menahan diri agar tak melakukan hal yang sama. Gadis itu tampak sangat seksi ketika melakukannya. Ia membawa jarinya ke bibir Samara, membuatnya melepaskan gigitan itu.

"Jangan menggigit bibirmu begitu, kamu tak tahu apa yang kurasakan saat kamu melakukannya," ujarnya sambil menahan dagu Samara.

Samara bernapas terengah oleh sentuhan itu. Mustahil Adam tak menyadari efek yang ia timbulkan pada gadis itu. Adam melepaskan dagu Samara dan menjauh sedikit. Bukan hanya ia yang membuat Samara seperti itu, Samara pun melakukan hal yang sama padanya; ketegangan seksual di antara mereka hampir bisa diraba.

"Mau naik sekarang?" tanya Adam, menjauh sedikit lagi.

"Ya, terima kasih untuk roti isinya."

Samara menjauh dari meja, mulai keluar dari dapur. Adam memadamkan lampu dan mengikutinya. Keduanya menaiki tangga dalam diam, sampai tiba di depan kamar Adam, yang berhenti di ambang pintu.

"Samara, kamu yakin dengan ini? Aku tak mau kita melakukan sesuatu yang nanti kausesali."

Samara menatap matanya dan mengangguk tanpa berkata apa-apa. Adam pun melanjutkan, menciumnya dengan lebih dalam, membawanya ke ambang batas kenikmatan. Akhirnya keduanya melepaskan diri, terengah-engah, dengan senyum tersungging di bibir.

"Itu luar biasa," ujar Adam, masih mengatur napas.

"Ya, memang," jawab Samara dengan senyum malu-malu.

Beberapa detik mereka terdiam lagi, menikmati momen itu, sampai Adam kembali bicara.

"Mau kubuatkan roti isi lagi?" tanyanya dengan senyum nakal.

Samara tertawa dan mengangguk, sementara Adam melangkah menuju dapur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!