NovelToon NovelToon
DI,BELAI SAHABAT SUAMIKU

DI,BELAI SAHABAT SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lorong dibalik rak buku

"Buka pintunya sekarang, Sora... atau kami bakar galeri ini bersama kamu di dalamnya!"

Ancaman itu menggema dingin dari balik pintu kayu ruang kerja Sora. Suara gedoran keras beradu dengan derit pintu yang mulai retak di area engsel.

Sora menggenggam ponselnya erat-erat, matanya menatap tajam pesan di layar:

Lari lewat lorong bawah tanah galeri sekarang! Aku menunggu di ujung gang bersama tim Kejaksaan!

Sora tidak punya waktu lagi untuk mempertanyakan siapa pengirim pesan itu. Bertahan di ruangan ini sama saja menyerahkan diri bulat-bulat pada anak buah Helena.

Sora merogoh kunci tembaga kuno milik ayahnya, merapatkannya ke dalam saku gaun, lalu berlari menuju rak buku jati yang berdiri anggun di sudut ruangan. Ia menggeser tombol rahasia berwujud ukiran kayu di samping rak.

Klek.

Rak buku besar itu bergeser perlahan, memperlihatkan sebuah tangga semen curam menuju lorong bawah tanah yang gelap dan berdebu.

PRANG!

Pintu ruang kerja hancur berantakan tepat saat Sora melompati ambang lorong rahasia.

"Dia lari ke lorong bawah!" teriak suara bariton dari dalam ruangan.

Sora menarik tuas penutup dari dalam, membuat rak buku kembali bergeser menutup celah. Tanpa membuang detik, ia berlari menuruni tangga semen dalam kegelapan, hanya mengandalkan cahaya dari layar ponselnya.

Lorong bawah tanah itu dingin, berbau tanah basah dan udara pengap. Langkah kaki bertelanjang kaki Sora menepuk genangan air tipis di lantai semen. Suara teriakan anak buah Helena di atas mulai terdengar samar-samar, menandakan mereka sedang berusaha membobol jalur rahasia tersebut.

Di ujung lorong, sebuah pintu besi tua berkarat yang terhubung langsung ke gang sempit di balik kompleks galeri terlihat.

Sora memutar kuncinya dengan terburu-buru, mendorong pintu besi itu sekuat tenaga hingga terbuka.

Udara malam yang segar mendadak menyapu wajahnya. Sora keluar ke gang sempit yang remang-remang. Rain gerimis mengguyur tubuhnya, membasahi gaun kremnya.

Sebuah mobil sedan hitam lain terparkir di ujung gang dengan lampu depan yang mati. Pintu belakang sedan itu mendadak terbuka dari dalam.

"Sora! Masuk sekarang!"

Sora tersentak. Di dalam mobil, seorang pria setengah baya berstelan jas rapi memanggilnya dengan nada mendesak. Di samping pria itu, Rian terbaring lemah dengan tangan terborgol dan wajah yang dipenuhi peluh.

Pria berjas itu menunjukkan lencana kejaksaan. "Saya Jaksa Pratama dari Tim Tindak Pidana Khusus! Masuk, Mbak Sora! Area ini tidak aman!"

Sora ragu sejenak, namun ketika mendengar suara pintu besi lorong digedor keras dari dalam, ia melompat masuk ke dalam sedan tersebut. Pintu tertutup rapat dan mobil langsung melaju kencang membelah kegelapan gang sempit menuju jalan raya.

Di dalam mobil, napas Sora memburu heboh. Ia menyandarkan punggungnya pada jok, memandangi Rian yang duduk terkulai di samping Jaksa Pratama.

"Kalian... bagaimana bisa tahu lokasi lorong bawah tanah itu?" tanya Sora dengan suara bergetar.

Jaksa Pratama merapikan dokumen di pangkuannya. "Rian yang menyerahkan denah rahasia kompleks galeri tersebut saat mengajukan diri sebagai saksi kunci siang tadi, Mbak Sora. Helena Kusuma sudah resmi masuk dalam daftar buronan internasional atas tuduhan tindak kejahatan finansial, pencucian uang, dan konspirasi pembunuhan."

Sora menoleh menatap Rian. Pria yang dulu begitu angkuh dan acuh tak acuh itu kini menatapnya dengan pandangan sayu yang penuh penyesalan.

"Maafkan aku, Ra..." cicit Rian pelan, suaranya parau. "Aku tahu aku tidak pantas diampuni... tapi aku tidak akan biarkan Helena menyakiti kamu seperti dia menghancurkan hidupku dan Aris."

Sora menelan saliva yang terasa pahit. "Kunci brankas Swiss ini... apa isinya, Rian?"

Rian memiringkan kepalanya sedikit, menatap kunci tembaga kuno yang dipegang Sora.

"Itu adalah bukti utuh konsorsium kotor Helena," jawab Rian jujur. "Bukan cuma transaksi dengan ayahmu, tapi seluruh rekening rahasia yang dipakai Helena untuk menyuap pejabat dan mengatur kebangkrutan puluhan perusahaan di Asia Tenggara. Kalau kunci itu sampai jatuh ke tangan Kejaksaan Agung, Helena tidak akan pernah bisa menyentuhmu atau siapapun lagi."

Pukul satu dini hari.

Mobil Kejaksaan bergerak menuju Gedung Bundar Kejaksaan Agung di pusat kota. Suasana jalanan Jakarta malam itu tampak lengang, diselimuti gerimis tipis.

Namun, saat mobil mereka baru saja melewati persimpangan jalan utama, dua unit SUV hitam tanpa pelat nomor mendadak muncul dari belokan samping dengan kecepatan tinggi!

BRAAKK!

Salah satu SUV menghantam bagian samping sedan Kejaksaan dengan hantaman yang luar biasa dahsyat!

Mobil sedan terpelanting, berputar dua kali di atas aspal licin sebelum menghantam pembatas jalan dengan benturan keras. Lampu jalanan berkedip-kedip sebelum padam total.

Suara sirine dan dengung di telinga Sora terdengar menyiksa. Kepala Sora menghantam kaca jendela, membuat darah segar mengalir hangat di pelipisnya. Pandangannya kabur dan tubuhnya terasa mati rasa.

Di dalam kesadarannya yang perlahan memudar, Sora melihat pintu sedan yang ringsek ditarik paksa dari luar.

Sepasang sepatu hak tinggi berwarna hitam melangkah anggun di atas aspal yang basah. Helena Kusuma berdiri di sana, terbalut mantel bulu gelap, menatap ke dalam mobil yang hancur dengan senyuman dingin tanpa ampun.

Dua anak buah Helena menyeret Rian dan Jaksa Pratama yang tidak sadarkan diri keluar dari mobil, sementara Helena sendiri membungkuk, merogoh saku gaun Sora dan mencabut kunci tembaga kuno itu dari genggaman jemari Sora yang lemas.

Helena menatap kunci di tangannya dengan binar mata yang penuh kemenangan. Ia lalu menundukkan kepala, membisikkan kalimat yang membuat seluruh darah di tubuh Sora membeku di ambang pingsan.

"Terima kasih atas kuncinya, Sora..." bisik Helena dengan suara bariton yang amat sangat dingin di samping telinga Sora.

"Sekarang... mari kita pastikan kamu menyusul Aris dan ayahmu malam ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!