NovelToon NovelToon
SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:67.1k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.

Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.

Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.

Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.

Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.

Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.

Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zevan: Di Mana Sifat Lembutmu, Ray?

Pagi perlahan menyapa. Cahayanya masih tampak malu-malu di ufuk timur.

Raya duduk di atas sajadah yang membentang, dengan kakinya yang terlipat. Kedua tangannya terangkat sejajar dengan dadanya.

Sementara tatapannya, menatap ke arah atas dinding.

‘Ya Allah, apakah hamba sanggup tinggal satu atap dengan maduku yang merupakan adik hamba sendiri?’

Raya menundukkan kepala. Bahunya bergetar kecil.

‘Apa salah hamba?’

Ia menarik napas panjang, berusaha menahan air mata yang mengganjal di matanya..

Namun sayangnya, pertahanannya runtuh.

Setetes air mata jatuh membasahi pipi, disusul tetes berikutnya yang mengalir tanpa mampu ia bendung.

Raya segera mengusapnya dengan punggung tangan, tetapi semakin dihapus, semakin deras air mata itu jatuh.

“Ya Allah...” suaranya bergetar. “Berikan hamba jalan keluar dari masalah yang sedang hamba hadapi.”

“Seumur hidup, hamba nggak pernah rela dimadu.” Isaknya tertahan. “Hamba nggak pernah membayangkan harus berbagi suami dengan perempuan lain, apalagi dengan adik hamba sendiri.”

Matanya terpejam rapat.

“Kalau memang pernikahan ini sudah nggak bisa dipertahankan, tunjukkan hamba jalan yang terbaik.” Suaranya semakin lirih. “Jangan biarkan hamba terus hidup dalam keadaan yang membuat hati hamba setiap hari terluka.”

Raya mengusap pipinya yang basah. Ia lalu menoleh ke arah jendela yang menunjukkan keadaan luar rumah.

Perlahan ia berdiri lalu berjalan menuju jendela.

Kicauan burung terdengar dari pepohonan di sekitar rumah, berpadu dengan suara kendaraan yang mulai berlalu-lalang di jalan, dan angin pagi yang sejuk menyapu kulit wajahnya.

Tatapannya tak beralih sedikitpun ke arah langit yang kini mulai menampakkan sinar matahari.

Raya berdiri cukup lama di sana.

“Hari ini sepertinya aku libur kerja dulu. Aku ingin menenangkan diri di luar seharian ini.”

Setelah mengambil keputusan itu, Raya berbalik. Ia melangkah menuju kamar mandi untuk bersiap. Pagi ini, ia ingin memberikan sedikit waktu kepada dirinya sendiri untuk menerima keadaan yang sudah terjadi.

.

.

Lima belas menit kemudian.

Raya berdiri di depan cermin beberapa saat.

Terlihat matanya masih menyisakan sembap akibat tangis semalam, tetapi kali ini Raya tidak ingin memedulikannya.

Ia lalu berbalik dan melangkah keluar dari kamarnya sembari meraih tas yang selalu ia bawa kemana-mana.

. . .

Langkahnya kini membawa Raya menuju tangga. Ia menuruni anak tangga satu per satu dengan tenang, berniat keluar rumah sebelum bertemu dengan Zevan atau Rara.

Namun, baru beberapa langkah memasuki ruang tamu, langkah Raya mendadak terhenti.

Suara gaduh dari arah dapur menarik perhatiannya, di sertai suara tawa yang begitu dikenalnya.

Raya menoleh perlahan.

“Hentikan, Mas. Kamu, ih, nakal banget, deh,” terdengar suara Rara diselingi tawa kecil.

“Makanya, jangan nakal,” balas Zevan.

Raya membeku.

Ia tidak perlu melihat untuk mengetahui siapa yang berada di dapur. Namun, suara berikutnya membuat jemarinya perlahan mengepal.

“Jangan cium-cium, nanti Mbak Raya lihat bagaimana?” Rara terdengar tertawa kecil.

“Nggak akan,” jawab Zevan santai.

Lalu tak lama terdengar suara Rara yang semakin manja.

“Eungh... Mas Zevan, jangan di sini. Aku lagi masak.”

Tawa kecil kembali terdengar dari dapur.

Raya berjalan pelan mendekat, berusaha tak menimbulkan suara yang membuat mereka terusik.

Dan seketika langkahnya kini berhenti dua langkah dari tempatnya berdiri sebelumnya.

Di sana terlihat Zevan berdiri sedang berdiri seakan sedang menggurui Rara belajar memasak.

“Eugh… Mas. Geli banget.”

Raya segera memalingkan wajahnya ke arah lain

‘Bahkan pagi-pagi begini mereka masih bisa bermesraan tanpa memikirkan perasaanku.’

Tidak ada gunanya melihat lebih jauh. Ia sudah cukup menyaksikan pengkhianatan mereka melalui rekaman ulang CCTV.

Raya meraih tas yang tersampir di bahunya, lalu berjalan menuju pintu depan. Langkahnya tetap tenang meskipun jemarinya masih mengepal.

Tanpa menoleh ke belakang, Raya membuka pintu dan melangkah keluar.

Brak!

Suara pintu depan yang tertutup membuat tubuh Zevan menegang. Tawa yang beberapa detik lalu memenuhi dapur seketika lenyap.

“Mas Zevan...” Rara menatapnya dengan wajah cemas. “Apa Mbak Raya melihat kita?”

Zevan tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada pintu dapur yang terbuka. Perasaan tidak nyaman yang perlahan mengusik pikirannya seketika muncul tiba-tiba.

Zevan meletakkan sendok yang sejak tadi berada di tangannya, lalu melangkah meninggalkan dapur.

“Mas mau ke mana?” tanya Rara.

Zevan tidak menjawab. Langkahnya semakin cepat menuju ruang tamu.

Begitu sampai, pandangannya langsung tertuju pada pintu depan yang masih sedikit bergetar akibat baru saja ditutup.

Ia berjalan mendekat, lalu menyentuh gagangnya.

Namun, ia tidak langsung membukanya.

‘Bagaimana jika Raya tadi benar-benar melihat kami?’

Zevan menundukkan wajah.

‘Seharusnya aku lebih berhati-hati. Di rumah ini ada wanita yang menjadi tanggung jawabku, dan aku harus menjaga perasaan mereka.’

Zevan berdiri beberapa detik sebelum akhirnya ia membuka pintunya lebar.

Namun, langkahnya seketika terhenti saat sebuah mobil tak asing baru saja meninggalkan halaman rumah.

“Raya!” panggilnya dengan suaranya yang keras

Namun sayangnya mobil itu tak berhenti.

Tanpa berpikir panjang, Zevan langsung berlari menuruni teras. Napasnya memburu ketika melihat mobil itu semakin menjauh menuju gerbang.

“Raya, tunggu!”

Ia terus berlari, tetapi jarak di antara mereka semakin melebar. Zevan berusaha untuk mempercepat langkahnya, berharap menghentikan laju mobilnya.

Dan apa yang ia harapkan, mobil Raya berhenti. Melihat itu, Zevan segera menyusulnya.

Saat tiba di sisi mobil Raya. Zevan langsung menggedor kaca jendela beberapa kali. Ia kembali berharap Raya turun dari dalam

“Raya! Turun Ray. Mas mau ngomong sama kamu, ayo kita bicarakan ini baik-baik!”

Namun mobil itu kembali bergerak.

Zevan berlari di sampingnya sambil mengetuk kaca.

“Ray, dengarkan Mas dulu! Jangan ngambek dong.” katanya dengan napas tersengal. “Kamu salah paham. Kami cuma bercanda tadi di dapur.”

Mobil terus melaju.

“Ray!” panggil Zevan.

Zevan kembali menggedor kaca.

“Mas mohon, berhenti sebentar. Mas bisa jelaskan semuanya!”

Sayangnya Zevan tak bisa lagi menandingi laju mobil Raya.

Zevan akhirnya berhenti berlari ketika mobil Raya semakin jauh. Kedua tangannya bertumpu di pinggang, sementara dadanya naik turun akibat kelelahan.

Tatapannya mengikuti mobil Raya yang perlahan menjauh dari pandangan.

Zevan mengepalkan tangan. “Kenapa kamu sudah sekali Mas ajak bicara, Ray?”

Jemarinya mencengkeram kain kemeja di bagian dada.

“Di mana sifat lembutmu yang dulu selalu kamu berikan kepada Mas?”

Tidak ada jawaban.

Hanya angin pagi yang berembus melewati halaman, menggerakkan dedaunan di sekitar tempatnya berdiri.

Zevan menundukkan kepala. “Kenapa semuanya tiba-tiba lenyap?”

Bibirnya terkatup rapat. Tatapannya kembali tertuju pada jalan yang kini sudah kosong.

‘Apa karena aku sendiri yang menghancurkannya?’

Pertanyaan itu membuat Zevan terdiam cukup lama.

‘Tapi aku melakukan ini ada sebabnya.’

Ia mengembuskan napas panjang, kemudian menurunkan tangannya dari dada.

“Apa kita bisa kembali seperti dulu, Ray?”

{Revisi}

1
Herdian Arya
membesarkan anak ular.
sutiasih kasih
andai kansa & raya tau..
nyesel kalisn miara ank tak tau diri... yv justru sll mnyskiti ank kndung kalian....
Meee
tuhkan anak g tau diri dah fitnah buah g jatuh dari pohonnya,emaknya jahat ya anaknya juga g beda.
sutiasih kasih
udh tau kturunan dajjal.... knapa jga dipiara sih.....
mna kelakuan g ada baik"nya tuh ank dajjal....
bkal nyesel km raya & kansa.... merawat ank tak tau diri🙄🙄
sutiasih kasih
gila ya.... ank pungut tak tau diri🙄🙄
Yuni Ngsih
Authooor ceritramu bgs bangeeeet ku yg baca asyik ,membaca jln ceritra ,banyak fakta dlm kehidupan nyata Thor terutama Kaka mengurus adiknya ,Kakanya punya suami eh suaminya di embat ,....smg lanjutannya Raya bahagia sm Kansa selamanya ok ditunggu lanjutannya
Ma Em
Lagian Raya dan Kansa mau saja merawat anaknya Rara dan Zevan , apa bodoh atau gimana sih mereka berdua cuma bikin penyakit saja harusnya kalau Raya sdh lepas dgn Zevan Raya tdk usah pedulikan lagi dan mau saja mengurus anak Rara dan Zevan .
Elina thea
nanti kalo keluargamu hancur,salahkan dirimu sendiri,oke~~~
Elina thea
terserahmu raya~~~
stela aza
bibitnya y aja beda kelakuan tetep mengikuti ibu kandungnya walaupun dia udh di adopsi dari bayi ,,,🤦 loe j yg bodoh mau nampung bayinya orang yg udh pernah merusak rumah tangga kamu 🤦
sunaryati jarum
Anisa, berawal kau yang salah tapi kok dendam dengan Raya.Kau bekerja dengan tekun akan enak hidupmu
sunaryati jarum
Bebas umur berapa Zevan
sutiasih kasih
ambil saja zevan buat km ra... kekepe sana suami keru smpe km muntah"😅😅😅....
raya pasti ikhlas ngasih zevan buat km seorang.... tpj jgn mmpi km bisa kuasai rmh raya ya ra.....
sutiasih kasih
ya ampun.... keluarga.... suami.... mertua parasit kok ttp km prtahankan sih ray....🙄🙄
sutiasih kasih
bu riana matamu buta ya.... mna ada sejarahnya.... perempuan perebut laki orang... adalah perempuan baik"😂😂😂
sutiasih kasih
eeee dasar musang berbulu domba.... tdi kau bilang msak cm 2 porsi....
skrg bilang ke suamimu msak 3 porsi...
dasar gundik tak tau diri kau ra.... benalu... pelakor 🙄🙄
Meee
KLO bisa mah anak sirara g di urus sama raya dan Kanza,di taroh di panti asuhan ajalah,tkt jdi petaka buat anak raya nantinya.
sunaryati jarum
Jual diri dapat uang atau mati saja Rara 🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Anisa berani mengganggu bahkan menyakiti istri bosnya sendiri, tindakan konyol menggali lubang untuk kuburnya sendiri
sunaryati jarum
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!